Dalil-Dalil Syar’i Tentang Wajibnya Mendirikan Khilafah

Ilustrasi

istidlal.org Khilafah adalah kepemimpinan tertinggi, yaitu kekuasaan yang berlaku umum atas seluruh individu umat Islam, mengurus dan menjalankan urusan-urusan umat Islam, dan melakukan segala hal yang merealisasikan kemaslahatan-kemaslahatan umat Islam sesuai dengan aturan yang telah diperintahkan oleh pembuat syariat (Allah SWT). (Riyasatud Daulah fil Fiqh Al-Islami, hal 27)

Dalam tulisan yang lalu sudah disinggung, bahwa pada hakikatnya khalifah, imam dan amir memiliki satu makna. Seringkali saat para ulama saat menyebut istilah, imam dalam bab siyasah (politik) maka yang dimaksud adalah khilafah, yaitu pimpinan tertinggi umat Islam yang mengatur urusan dunia dan akhirat umat Islam.

Mengangkat imam atau khilafah adalah kewajiban bagi umat Islam. Namun banyak dari umat Islam hari ini tidak memamahi bahwa menegakkan khilafah yang menjalan syariat Allah adalah sebuah kewajiban. oleh karena itu perlu bagi kita untuk mengetengahkan dalil-dalil berikut ini guna menyibak kabut terkait pemahaman terhadap khilafah. Kewajiban menegakkan khilafah  di dasarkan pada dalil-dalil dari Al-Qur’an, sunnah maupun Ijma’.

Dalil dari Al-Qur’an:

  1. Surat an-Nisa’ ayat 59:

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

 Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu.”

Ketika menyebutkan pendapat para mufassir tentang makna ulil amri, Imam ath-Thabari menyimpulkan, “Pendapat yang paling benar adalah pendapat, ‘Mereka adalah para penguasa yang menaati Allah dan mendatangkan maslahat bagi kaum muslimin.’” (Jami’ul Bayan, ath-Thabari: 8/502).

Wajhul istidlal dari ayat ini: Allah mewajibkan kepada kaum muslimin untuk menaati penguasa, dan perintah untuk taat menjadi dalil wajibnya mengangkat pemimpin. Karena Allah tidak memerintahkan ketaatan kepada orang yang tidak ada wujudnya.

  1. Surat al-Ma’idah ayat 49

Allah Ta’ala juga berfirman memerintahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam,

 وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللّهُ إِلَيْكَ

Artinya, “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu” (al-Ma’idah: 49).

Perintah Allah kepada Rasul-Nya agar memutuskan perkara berdasarkan syariat yang diturunkan Allah. Perintah kepada Rasul ini juga berlaku bagi umat beliau, sehingga mereka wajib untuk menegakkan hukum sesuai syariat yang diturunkan Allah, hingga hari kiamat. Penegakan hukum ini tidak mungkin bisa tegak kecuali dengan mengangkat pemimpin. Karena itu termasuk tugasnya. Dengan demikian, seluruh ayat yang memerintahkan untuk berhukum dengan apa yang diturunkan Allah menjadi dalil tentang wajibnya mengangkat pemimpin (imam).

  1. Surat al-Hadid ayat 25

Allah Ta’ala juga berfirman,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

Artinya,“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab, dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergunakan besi itu), dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya, padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (al-Hadid: 25).

Tugas para Rasul dan para pengikut mereka sepeninggalnya adalah menegakkan keadilan di antara manusia sesuai dengan apa yang ada di dalam al-Qur’an, dan menopangnya dengan kekuatan. Olehnya, pengikut para rasul harus mengangkat Imam yang menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka, dan mengatur para pasukan yang akan membelanya. Oleh karenanya, Ibnu Taimiyah berkata, “Agama yang haq (Islam) harus ditopang oleh al-Kitab yang memberi petunjuk, dan pedang yang menolong….. al-Kitab akan menjelaskan apa yang diperintah dan dilarang  oleh Allah, sedang pedang yang akan menolong dan menguatkannya.” (Minhajus Sunah an-Nabawiyah: 1/142).

Dalil dari Sunah Qauliyah:

Ada banyak hadits Nabi yang menunjukkan tentang kewajiban mengangkat seorang imam, di antaranya adalah:

  1. Hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَة مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّ

Artinya, “Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wasallam, “Barangsiapa yang mati, dan di lehernya tidak terdapat baiat, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” (HR. Muslim, nomor 1851).

Ini adalah dalil yang jelas tentang wajibnya mengangkat seorang imam, karena jika baiat itu diwajibkan atas setiap muslim, maka mengangkat imam itu juga wajib. Karena baiat tidak terjadi kecuali kepada imam.

  1. Hadits Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,

 إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤمِّرُوْا أَحَدَهُمْ

Artinya, “Jika ada tiga orang yang bepergian, maka hendaklah mereka menjadikan satu orang sebagai pemimpinnya.” (HR. Abu Dawud, nomor 2608).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Jika dalam komunitas yang paling sedikit, dan perkumpulan yang paling kecil diwajibkan untuk menjadikan salah satunya sebagai pemimpin, maka ini adalah penyerupaan tentang kewajiban untuk komunitas yang lebih besar dari itu.” (al-Hisbah, hal. 11).

Dalil dari Sunah Fi’liyah 

Perintah untuk mengangkat seorang imam atau khalifah itu tidak hanya berdasarkan hadits qauliyah saja, tetapi Nabi Shallallahu alaihi wasallam sendiri yang telah mempraktekkannya. Beliau mendirikan pemerintahan Islam di Madinah, dan beliau yang menjadi imam pertama terhadap pemerintahan tersebut. Setelah Allah telah mempersiapkan orang-orang yang menolong agama ini dan membela Rasul-Nya, beliau mulai membangun pondasi-pondasinya, beliau mempersatukan antara suku Aus dan Khazraj dan meredam permusuhan panjang di antar mereka, kemudian beliau mempersaudarakan antara orang-orang Anshar dan Muhajirin, mempersiapkan pasukan mujahid yang siap  menyebarkan agama ini dan melindunginya. Beliau juga mengutus para utusan yang berisi ajakan kepada segenap raja di negeri-negeri sekitar Madinah untuk masuk Islam, mengikat kesepakatan dan perjanjian dengan orang-orang Yahudi dan selain mereka, menjelaskan hukum-hukum tawanan dan yang terkait dengannya, menerangkan hukum-hukum perang dan ahli dzimah.

Beliau juga mengatur Baitul mal kaum muslimin dan membagikannya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, menunjuk para amir dan hakim untuk mengurusi urusan kaum muslimin, menegakkan hudud syar’iyah dan hukuman-hukuman…, dan urusan-urusan lain yang sudah semestinya dilakukan oleh seorang pimpinan Negara.

Imam asy-Syathibi Rahimahullah berkata, “Telah tsabit (tetap) bahwa Nabi Shallallahu alaihi wasallam tidak meninggal, hingga beliau telah menjelaskan seluruh urusan agama dan dunia yang dibutuhkan, dan ini tidak ada perselisihan di antara ahli sunah.” (al-I’tisham: 1/64).

Karena memang, kekhilafahan seperti yang dipraktekkan oleh Nabi sendiri  merupakan tuntutan dari agama Islam ini.

Perbuatan yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wasallam yang menjadi pemimpin dalam Negara Islam pertama menjadi dalil wajibnya kepemimpinan. Karena beliau telah menjelaskan hukum-hukum syar’i dengan perkataan, perbuatan dan penetapannya. Dan perbuatan beliau menuntut kewajiban. (lih. Tafshilul Mas’alah fi Syarhil Kaukab al-Munir: 2/189, Ibnu Najar).

Dalil dari Ijma’

Di antara dalil terpenting yang menunjukkan kewajiban mengangkat imam (khalifah) adalah ijma’ dari umat islam. Ijma’ tersebut pertama kali dilakukan oleh para sahabat ketika memutuskan siapa yang menjadi khalifatu Rasulillah (pengganti Nabi) sepeninggal beliau, bahkan sebelum proses pemandian dan penguburan beliau. (lih. Sirah Ibni Hisyam: 4/664 dan Subulus Salam: 2/111).

Di antara dalil yang menegaskan hal di atas adalah hadits yang dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya (nomor 3666-3667); kisah ringkasnya, setelah Nabi Muhammad Shallalahu alaihi wasallam meninggal dunia, manusia berduka. Mereka menangis. Sementara itu, orang-orang Anshar berkumpul menemui Sa’ad bin Ubadah di Saqifah Bani Sa’idah, mereka mengatakan, “Dari kami ada seorang pemimpin, dan dari kalian ada pemimpin.” Waktu itu, Abu Bakar, Umar dan Ubaidah bin Jarrah pergi menemui mereka. Umar ingin berbicara, tetapi ditahan oleh Abu Bakar. Lalu Abu Bakar yang berbicara dan berpesan, “Kami yang menjadi pemimpin, dan kalian menterinya.” Hubab bin Mundzir menyela, “Demi Allah, kami tidak akan melakukannya. Dari kami seorang pemimpin dan dari kalian seorang pemimpin.” Abu Bakar menegaskan lagi, “Tidak kami lah yang menjadi pemimpin, dan kalian menjadi menterinya.” Setelah itu orang-orang membaiat Umar dan Abu Ubaidah, tetapi kemudian Umar angkat bicara, “Tidak, bahkan kami-lah yang membaiat Anda, karena Anda adalah pemimpin kami dan orang terbaik kami, serta lebih dicintai oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Umar pun mengambil tangan Abu Bakar, lalu membaiatnya.

Di dalam hadits tersebut jelas bahwa setelah kabar kematian Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, para shahabat langsung bergegas untuk ikut berkumpul di Saqifah yang menjadi tempat pertemuan besar antara kaum Muhajirin dan Anshar. Mereka meninggalkan urusan penting pada saat itu, yaitu mengurusi jenazah beliau Shallallahu alaihi wasallam.

Dengan demikian, maka mengangkat kekhalifahan setelah meninggalnya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam merupakan ijma’ yang dilakukan oleh para shahabat.

Al-Haitsami berkata, “Ketahuilah bahwa para shahabat Ridhwanullah alaihi berijma’ bahwa mengangkat imam setelah usainya masa kenabian adalah wajib, bahkan mereka menjadikannya sebagai kewajiban yang paling penting. Buktinya, mereka sibuk mengangkat pemimpin daripada mengurus pemakaman Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.” (ash-Shawa’iq al-Muhriqah, hal. 7).

Di samping itu, Ijma’ untuk mengangkat seorang imam (khalifah) juga dinukil oleh sejumlah ulama. Mereka menegaskan bahwa semua sepakat (berijma’) tentang wajibnya mengangkat khalifah, di antaranya  Imam an-Nawawi, Ibnu Khaldun, Ibnu Hazm dan al-Qurthubi.

An-Nawawi misalnya mengatakan, “Mereka (para ulama) telah bersepakat bahwa kaum muslimin wajib mengangkat seorang khalifah.” (Syarh Shahih Muslim: 12/205).

Ibnu Khaldun juga berkata, “Mengangkat imam itu wajib. Kewajiban ini sudah diketahui dalam syariat berdasarkan ijma’ para shahabat dan tabi’in. Karena para shahabat langsung bergegas membaiat Abu Bakar dan menyerahkan mereka kepada beliau pada saat Nabi meninggal dunia. Ijma’ ini berlaku pada setiap masa. Dengan demikian, ini adalah ijma’ yang menunjukkan tentang kewajiban mengangkat seorang imam.” (Mukaddimah Ibni Khaldun, hal. 191).

Ibnu Hazm juga menyebutkan, “Seluruh ahlus sunah, murji’ah, syi’ah dan khawarij bersepakat tentang kewajiban mengangkat seorang imam, dan umat wajib tunduk kepada imam yang adil; yang menegakkan hukum-hukum Allah, dan memimpin mereka dengan hukum-hukum syariat yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Kecuali pendapat orang-orang Khawarij dari Najd.” (al-Fashl fil Milal wan Nihal: 4/87).

Al-Qurthubi juga berpendapat, “Tidak ada perbedaan pendapat tentang kewajiban (mengangkat khalifah) di antara umat, dan para imam, kecuali yang diriwayatkan dari al-Asham, di mana ia buta dari syariat.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an: 1/264).

Dalil-dalil di atas memberikan penegasan kepada kita bahwa sebagai umat Islam, kita dituntut memiliki sebuah sistem yang mengatur segala macam urusan umat ini, mulai dari ibadah, muamalah, politik,hukum dan seleuruh aspek kehidupan. Wallahu a’lam

Penulis : Ibnu

Editor : Ibnu Rodja