Khutbah Idul Fitri 1439H: Penuhilah Seruan Allah dan Rasul-Nya Menuju Kehidupan yang Lebih Hidup

Khutbah Idul Fitri 1439H Penuhilah Seruan Allah dan Rasul-Nya Menuju Kehidupan yang Lebih Hidup-istidlal.org

Penuhilah Seruan Allah dan Rasul-Nya Menuju Kehidupan yang Lebih Hidup

Naskah oleh: Muslim Jatmiko
Editor: Musa

 

 

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَأَفْضَلُ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ r وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd.

 

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Alhamdulillahi rabbil alamin. Kita bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita. Setelah nikmat iman, nikmat terbesar yang kita terima adalah terhindar dari fitnah dan gangguan orang-orang zalim. Jika kita ingin merasakan nikmat ini, bayangkanlah seakan-akan kita berada dalam kondisi perang seperti yang dialami saudara-saudara muslim di negeri lain. Suasana mencekam, tidak ada rasa aman karena maut bisa menyambar kapan saja, makanan dan bahan pokok sulit didapat, demikian pula tenaga medis.

Dan lebih membuat nelangsa lagi, kita tidak tahu, kapan semua itu akan berakhir. Sekadar membayangkan saja, semestinya sudah cukup membuat kita bersyukur sedalam-dalamnya atas nikmat Allah yang kita terima saat ini. Kita berada dalam kedamaian dan keselamatan. Semua itu adalah nikmat yang luar biasa dari Allah yang harus kita syukuri.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Generasi awal yang telah terkuras keringat dan darahnya untuk memperjuangkan dien dan risalah ini hingga akhirnya bisa kita nikmati sampai saat ini.

Entah bagaimana jadinya jika mereka menyerah di awal perjuangan. Bilal memilih patung batu Hubal daripada batu di dadanya, Ammar benar-benar terpaksa memilih kekafiran demi nyawa ibu bapaknya, dan Nabi kita memilih berhenti berdakwah semata agar tidak dikatakan gila dan agar pengikutnya tidak diperlakukan semena-mena.

Subhanallah, dari mana kita akan mengenal Allah dan kampung akhirat tanpa adanya pelita wahyu karena pembawanya sudah membiarkannya padam sejak mula?

 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Pada kesempatan kali ini, marilah kita selami makna dari ayat 24 surat Al-Anfal, bunyinya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا للهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (QS. Al-Anfal:24)

Membaca ayat ini kita pasti penasaran, apa yang bisa menghidupkan kita? Sesuatu apa yang bisa memberi kehidupan pada seorang mukmin? Bukankah ayat ini juga berbicara kepada orang hidup, kenapa masih menyeru kepada sesuatu yang bisa membuat orang hidup menjadi hidup? Apakah menurut Allah kehidupan kita ini bukanlah kehidupan hakiki hingga Allah menyeru kita kepada sesuatu yang bisa lebih menghidupkan kita?

 

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Jika hanya membaca terjemahnya saja, kita hanya akan menebak-nebak maknanya. Oh, mungkin Allah menyuruh kita agar bekerja keras mencari penghasilan. Bukankah penghasilan itulah yang selama ini kita sebut sebagai “penghidupan”?

Atau, kita menebak bahwa sesuatu yang menghidupkan itu adalah menjaga kesehatan. Bukankah sakit adalah gerbang kematian? Menjaga kesehatan berarti menjaga kehidupan. Satu saja organ tidak sehat, kematian mengintai.

Namun, semua ini hanyalah tebakan, hanya dugaan, dan dugaan tidak akan membawa kita pada kebenaran.

 

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Agar tidak sekadar menebak, marilah kita baca tafsir dari para ulama mengenai maksud ayat di atas. Ibnul Qayim al-Jauziyah merangkum dengan apik penafsiran para ulama tentang ayat ini dalam Kitab Fawaidul Fawaid. Jika dikategorikan ada dua klasifikasi penafsiran.

Pertama, makna general. Para ulama seperti Imam Mujahid, Imam Qatadah dan Imam as-Suddi menafsirkan sesuatu yang menghidupkan itu adalah al-Haq, al-Quran dan Islam.

Ketiga makna ini saling mencakup. Al-Quran adalah inti Islam dan merupakan kebenaran (al-Haq) itu sendiri. Sesuatu yang bisa membuat kita hidup adalah Islam. Dengan islam-lah kehidupan kita menjadi berarti. Islam dan al-Quran juga merupakan sumber hidupnya hati.

Dengan mengamalkan Islam, manusia bisa hidup dalam derajat manusia yang sebenarnya bahkan bisa lebih tinggi lagi. Dan tanpa Islam, manusia tidak akan lebih berharga di hadapan Allah daripada binatang ternak. Maka Allah menyeru agar kita berislam dan mengamalkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan, bukan ideologi lain, bukan ajaran lain.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

 

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Yang menarik adalah penafsiran kedua. Ibnu Ishaq dan Urwah bin Zubair menafsirkan, sesuatu yang bisa menghidupkan tersebut adalah al-Harbu, perang. Tentu bukan sembarang perang melainkan perang dalam rangka membela dien dan kehormatan Islam, yaitu al-Jihad fi sabilillah. Perang dan perlawanan yang dengannya Allah memuliakan umat Islam setelah tertindas, menguatkan mereka setelah sebelumnya lemah, dan mencegah musuh-musuh Islam menzalimi lagi.

Pendapat senada diutarakan Imam al-Wahidi dan al-Farra’, bahwa maksud “sesuatu yang menghidupkan kalian” adalah al-Jihad. Maka, makna ayat tersebut menjadi, “Jawablah seruan Allah dan Rasul-Nya jika keduanya memanggil kalian untuk berjihad melawan orang-orang yang memusuhi Islam. Jika kalian meninggalkan jihad, kalian akan jadi lemah dan musuh kalian akan semena-mena kepada kalian.”

 

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Penafsiran ini menarik karena para ulama justru menjelaskan arti dari sesuatu yang menghidupkan kita adalah sesuatu yang paling mendekatkan kita pada kematian. Jihad adalah dzirwatu sanamil Islam, puncak amal tertinggi dalam Islam. Di sinilah puncak pertarungan antara al-Haq dan al-Bathil. Ketika dakwah telah benar dan berdampak besar, maka kebathilan tidak akan rela kemudian memberi tekanan, lalu al-Haq akan melakukan pembelaan.

Saat Rasulullah dan sahabat dalam kondisi lemah, jihad belum disyariatkan hingga mereka harus bersabar melawan penindasan. Setelah di Madinah dan menjadi kuat, jihad diserukan dan itu bukanlah jihad melawan hawa nafsu, melainkan perang, melawan segala bentuk penindasan dan tekanan kaum musyrik demi tegaknya Islam.

Apa risiko perang? Mati. Tapi kenapa hal ini justru disebut sebagai sesuatu yang bisa menghidupkan kaum beriman?

Ibnu Qayyim menjelaskan, Jihad memang merupakan perkara yang bisa menghidupkan umat Islam bahkan dalam tiga alam: dunia, barzakh, dan akhirat. Di dunia, kekuatan dan kendali umat Islam atas musuh-musuhnya ada pada jihad. Di alam barzakh, Allah berfirman, “Dan janganlah kalian mengira orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, tetapi mereka hidup, di sisi Rabb mereka mendapat rezeki.” (Ali Imran 169). Dan di akhirat, para mujahid dan syuhada memiliki hak hidup dan nikmat surga lebih besar daripada yang lain. (Fawaidul Fawaid, 129).

 

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Di dunia, jihad adalah kunci kehidupan umat Islam. Lihatlah sejarah Rasulullah, 13 tahun setelah hijrah, sejarah Nabi dan sahabat penuh sesak dengan agenda perang dan jihad.

Apa jadinya jika saat di medan Badar mereka enggan berperang dan memilih mundur ke Madinah hingga tak ada riwayat perang Badar? Dan apa jadinya jika mereka tetap diam tak melawan saat Musyrikin dan Yahudi Madinah mulai gerah dengan eksistensi mereka dan mulai memberikan tekanan? Islam akan pupus sebelum bertumbuh.

Islam bisa hidup, survive menghadapi segala tantangan dan konflik selama beberapa abad ini karena Islam memiliki syariat jihad. Jihad adalah imunitas umat saat ideologi lain memberi ancaman.

Tak perlu merunut sejarah jauh ke belakang. Kita bisa menemukan jejak jihad, bahkan di negeri kita. Perlawanan santri yang dipimpin para Kyai melawan penjajah juga merupakan jihad melawan kezaliman dan kekufuran. Tokoh-tokoh seperti pangeran Diponegoro, Jendral Sudirman, dan Teuku Umar adalah para pahlawan yang melandasi semangat juangnya dengan Islam dan melawan kezaliman. Apa jadinya jika mereka dahulu berhenti melawan penjajahan? Akankah kita bisa merasakan kemerdekaan seperti yang kita rasakan kini?

 

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Anehnya, dengan keutamaan sebesar ini, syariat jihad di masa ini justru sering jadi bahan nyinyiran dan ejekan. Umat seperti ngilu saat mendengar kata jihad. Seakan persepsi mereka sudah demikian akut terpapar pelabelan negatif atas jihad, yaitu bahwa jihad adalah teror bom sembarang tempat, jihad adalah asal bunuh dengan sembarang korban.

Ini memprihatinkan.

Jihad merupakan syariat yang sudah mapan dalam syariat Islam. Pembahsan jihad bukanlah pembahasan tabu dan radikal. Pembahasan Jihad ada, dan secara jelas diajarkan oleh Islam dan termaktub dalam semua kitab fikih di semua mazhab. Ada definisinya, ada hukumnya, ada tata caranya, ada adabnya, dan jelas ada tujuannya yaitu meninggikan kalimat Allah. Hanya saja, bagaimana aplikasinya, inilah yang harus dikaji dengan benar, baik, dan bijaksana.

Jangan sampai kita terperosok pada dua sisi pemahaman ekstrem yang merusak jihad.

Pertama, pemahaman yang mendangkalkan makna jihad hanya sebatas melawan hawa nafsu saja sedangkan jihad dalam segala cakupan maknanya berupa perjuangan menegakkan Islam sudah tidak relevan dengan jaman ini. Dampak buruk dari pemahaman ini adalah hilangnya imunitas umat saat menghadapi kezhaliman dan tekanan dari musuh-musuh Islam hingga akhirnya tertindas. Islam pun mati karena umatnya tak memiliki spirit juang membela Islam.

Ingatlah, Firaun dahulu berhasil memperbudak Bani Israel berabad-abad lamanya karena Firaun senantiasa membunuh semangat juang dan keperwiraan Bani Israel. Inilah yang disebut dengan istilah istikhfaf.

فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (QS. Az-Zukhruf: 54)

Kedua, pemahaman ekstrem yang melakukan kejahatan dengan mengatasnamakan jihad. Praktik-praktik jihad yang lepas dari aturan syariat hingga malah membuat syariat jihad terstigma buruk di kalangan umat Islam sendiri.

Tidak sedikit yang terjebak pada pemahaman jihad yang ekstrem semacam ini. Memaknai jihad tidak lebih dari membunuh orang kafir. Biasanya, orang-orang semacam ini hanya jadi alat musuh-musuh Islam untuk merusak citra Islam dan mencari keuntungan pribadi. Jika begini, jihad tidak lagi menjadi sesuatu yang menghidupkan tapi malah mematikan Islam dan umatnya.

 

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Marilah kita gunakan momen Iedul Fitri ini, bukan hanya sebagai momen yang mengakhiri ibadah puasa, tapi juga mengawali semangat baru dalam berislam. Kita jadikan hari ini sebagai titik tolak membangun semangat mempelajari Islam dan semua syariat yang terkandung di dalamnya dengan baik, benar, dan tepat. Lalu berusaha mengamalkan dan menegakkannya dalam segala sendi kehidupan. Memperjuangkan eksistensinya dengan segala yang kita punya dan melawan segala bentuk kezaliman dan beragam tindakan yang berusaha memadamkan cahaya Islam.

Kita memang tidak berada dalam kondisi jihad dalam arti perang seperti yang dialami saudara-saudara kita di Palestina atau Suriah, namun bukan berarti kita tidak bisa berjihad memperjuangkan tegaknya Islam. Ada banyak cara untuk memperjuangkan dan membela dien ini. Inilah semangat jihad yang tidak boleh padam dari dalam sanubari kita. Dan inilah yang bisa menghidupkan kita.

Demikianlah khutbah yang kami sampaikan. Semoga Allah senantiasa membimbing langkah kita agar jangan sampai keluar dari rel kebenaran.

Dan akhirnya, kami berucap:

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم

عِيْدُكُمْ مُبَارَكٌ وَعَسَاكُمْ مِنَ العَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ

كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan Anda sekalian.

Semoga Iedul Fitri Anda sekalian diberkahi dan semoga kita menjadi orang yang kembali dengan membawa kemenangan. Semoga Anda dalam kebaikan sepanjang tahun.

Sebagai penutup marilah kita berdoa kepada Allah:

 

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ الْمَظْلُوْمِيْنَ، اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

وآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Download Naskah Khutbah Idul Fitri 1439H klik DI SINI

 

www.istidlal.org

Istidlal.org bersifat objektif mengajak kepada umat Islam kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai parameter dalam menimbang dan mengukur segala persoalan karena itulah kunci keselamatan dunia dan akhirat. Kami meyakini bahwa kebenaran itu ada, akan senantiasa hadir dan pengusungnya akan selalu eksis hingga hari kiamat. Mereka bisa dikenali karena kebenaran bersifat objektif dan bisa dilihat dari manhaj (metode) dalam istidlal (berdalil).