Nyinyir Terhadap Syariat Islam, Narasi Ketakutan yang Sengaja Dipromosikan

Nyinyir Terhadap Syariat Islam, Narasi Ketakutan yang Sengaja Dipromosikan-istidlal-org

Setiap kali dakwah Islam sampai pada level seruan penerapan dan implementasi syariat dalam arti seluas-luasnya dan secara utuh, pasti selalu muncul narasi-narasi tong kosong yang nyinyir terhadap syariat.

“Memangnya syariat Islam bisa mengatur tatanan Dunia Modern?”

“Syariat Islam itu sudah basi, jadul, anti modernitas!”

“Khilafah No, Demokrasi Yes!”

“Demokrasi Yes, Syariat Islam No!”

“Khilafah Islamiyah itu bukan syariat Islam, ngapain diperjuangkan?”

“Sistem Khilafah adalah kemunduran zaman!”

“Di era Khilafah saja masih terjadi peperangan dan pertumpahan darah, berarti Khilafah itu nggak mungkin termasuk bagian dari syariat Islam!”

“Itu, baca.. ada Khalifah yang suka mabuk-mabukan, yakin khilafah mau ditegakkan?”

“Sistem demokrasi itu lebih baik dari Khilafah, pakai demokrasi saja lah..”

Dan masih banyak lagi narasi-narasi murahan yang nyinyir terhadap syariat yang sejatinya itu bersumber dari rasa kebencian jika syariat Allah ‘azza wajalla mendominasi muka bumi ini.

Tak jarang narasi-narasi tersebut disusun berdasar informasi-informasi hoaks dan argumentasi menyesatkan atau menukil sepotong-sepotong dari peristiwa utuh yang tercatat dalam sejarah Islam untuk diolah dan dinarasikan ulang secara keji dan biadab.

Selama ada data tidak utuh dari sejarah kelam Islam maka akan disunat lalu dipotret sebagai topik untuk mencederai narasi penegakan syariat dan Islam kaffah.

Logika yang dipromosikan oleh kalangan yang nyinyir terhadap syariat semacam ini seakan membuat orang lupa bahwa Allah ‘azza wajalla bersih dari segala cela, aib, kesalahan dan kekurangan, sehingga konsekuensi logisnya, syariat yang datang dari Allah tentu dan sudah pasti bersih dari aib, cela, kesalahan dan kekurangan.

لا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنزيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Al-Quran tidak pernah disentuh oleh kebatilan baik dari depan atau belakang (masa lalu atau yang akan datang), ia turun dari (Allah) yang Maha bijaksana dan terpuji.” (QS. Fushilat: 42)

Jika Anda termasuk orang yang termakan oleh narasi yang nyinyir terhadap syariat, perlu Anda renungkan, sebenarnya yang cacat dan tidak luput dari aib itu konten syariat Islamnya, atau orang/oknum yang mempraktikkan syariat Islamnya?

Jadi, syariat jangan dilegitimasi atas kesalahan orangnya karena mendelegitimasi syariat sama dengan mendelegetimasi Allah Ta’ala, sebab syariat Islam itu sumbernya dari Allah ‘azza wajalla langsung, bukan buatan manusia.

Selain itu, syariat tidak punya tanggung jawab atas kesalahan dan pelanggaran mukallaf (orang yang memraktikkan syariat) terhadapnya, akan tetapi justru mukallaf yang kelak akan bertanggung jawab atas pelanggaran syariat.

Sedangkan syariat Islam itu selalu positif karena sejatinya ini bagian dari bentuk kasih sayang Allah ‘azza wajalla kepada hamba-Nya, Allah ‘azza wajalla melazimkan para hamba-Nya untuk tunduk dan patuh kepada-Nya, maka penegakan syariat adalah bentuk tanggung jawab iman, atau dengan bahasa lain, tanggung jawab moral hamba kepada Rabbnya.

Lucunya sikap nyinyir atau sentimen terhadap penegakan syariat sebagai sistem kehidupan, Islam kaffah, khilafah atau Al-Imamatul ‘Uzhma yang dilakukan oleh sebagian kalangan tidak proporsional dibanding dengan sikap anti-kritis terhadap segudang kekurangan atau bahkan seluruh kebatilan sistem yang bersumber dari selain Allah Ta’ala.

Baca juga: Memahami Makna Khilafah, Imamah dan Imaroh

Sikap kritis mereka seolah-olah mati jika dihadapkan dengan segudang persoalan akibat buruk dari penerapan sistem tatanan selain syariat Allah ‘azza wajalla yang secara nyata itu adalah sistem batil.

Kenapa pikiran mereka tidak lebih jeli untuk mengoreksi kerusakan demokrasi yang berasal dari orang-orang yang punya sejarah penyimpangan seksual dan moral semisal Socrates, Plato, dan semisalnya, atau Caligula (Gaius Caesar) seorang Kaisar Romawi yang memperkosa banyak kaum hawa dari bangsanya sendiri, atau Nero yang membakar kotanya sendiri, atau fakta kerusakan  negara-negara modern yang memaksakan sistemnya di berbagai negeri dengan cara genosida penduduknya dan menjajah negeri muslim dengan mengeruk kekayaan buminya serta merusak struktur alamnya dan banyak kerusakan lainnya?

Atau, mereka berkilah itu potret cara berdemokrasi yang buruk yang diperankan oleh aktor yang buruk, itu oknum, dan lupakan masa lalu.

Jika demikian maka pertanyaannya, bisa dibalik kalau mereka tidak berani mengoreksi sistem demokrasi yang jelas-jelas rusak sumber, tatanan dan praktiknya, dan menisbatkan kesalahan pada pelaku sejarahnya, lalu kenapa mereka sembrono mengkoreksi sistem Islam kaffah, khilafah, Al-Imamatul Uzhma dan syariat yang jelas sumbernya dari Allah Azza Wajalla?

Kenapa jika ada tragedi dan penyimpangan dalam sejarah Islam, mereka jadikan itu sebagai amunisi untuk menyerang sistem syariat, bukan mengambil hikmah bahwa terjadinya masalah berawal dari adanya praktik pelanggaran terhadap norma-norma syariat, dan di atas semua itu kita tetap berkewajiban membela, menerapkan, dan menjaga syariat sebagai bentuk konsekuensi dari iman?

Jika digambarkan, sikap nyinyir dan sentimen terhadap penegakan syariat atau narasi-narasi perjuangan penegakan Islam kaffah, ibarat perilaku anjing yang otaknya sudah disetting untuk menggonggong kepada satu orang saja tapi bungkam untuk yang lainnya. Namun apa boleh buat, dalam perjuangan memang selalu ditemukan sunnah (potret) anjing menggonggong sementara kafilah perjuangan tetap berlalu.

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكافِرِينَ يُجاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَخافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ ذلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشاءُ وَاللَّهُ واسِعٌ عَلِيمٌ (54)

Wahai orang-orang beriman barang siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya, bersikap lembut terhadap orang-orang beriman dan keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan tiada takut akan celaan orang-orang yang mencela, itulah karunia yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, Allah Maha luas pemberiannya dan Maha mengetahui.” (QS. Al-Maidah: 54)

Dari Tsauban Radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang menegakkan Al-Haq, mereka tidak merasa surut akan celaan orang-orang yang mencela sampai datang keputusan Allah dan mereka tetap seperti itu.” (HR. Muslim: 5050)

Sikap nyinyir terhadap syariat yang artinya nyinyir terhadap Allah, namun sebaliknya senang dan bangga dengan sistem batil demokrasi yang berasal dari selain Allah yang haq persis dengan apa yang Allah gambarkan tentang orang-orang kafir dahulu dalam firman-Nya:

وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

Dan jika disebut nama Allah hanya satu-satunya (Dzat yang wajib diibadahi), maka kesal sekali hati orang-orang yang tidak beriman kepada Akhirat, namun jika disebutkan nama sesembahan selain-Nya ternyata mereka bergembira.” [QS. Az-Zumar: 45]

Perhatikan, “Mereka selalu menantang agar menampilkan bukti masyarakat ideal tanpa cela di bawah tatanan syariat, Jika tidak berarti tatanan hidup dibawah totalitas syariat tidak relevan untuk masyarakat kekinian.”

Baca juga: Syariat Allah Tetap Lebih Agung dari Kidung dan Konde Sukmawati yang Tak Tahu Syariat Islam!

Tidak cukup idealkah kepemimpinan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Khulafaur Rasyidin sebagai potret?!

Jika Allah adalah Raja diraja yang kekuasaannya tidak terbatas oleh ruang dan waktu, lalu kenapa syariat-Nya hanya dibatasi kelayakannya di satu zaman namun tidak di zaman yang lain, layak di ruang masjid namun tidak layak di ruang politik dan tata kelola dunia?

Jawabannya adalah iman. Hati yang beriman sangat mudah memahami dan merespon pesan Allah dan Rasul-Nya walau hanya dengan satu atau dua kali sentuhan, sementara hati yang bias atau luntur keimanannya akan selalu menampik sejuta bukti dan alasan, illa maa syaa’a Rabbuka, sebagaimana sikap Yahudi terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Musa ‘alaihissalam yang menuntut bukti demi bukti:

يَسْأَلُكَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَنْ تُنزلَ عَلَيْهِمْ كِتَابًا مِنَ السَّمَاءِ فَقَدْ سَأَلُوا مُوسَى أَكْبَرَ مِنْ ذَلِكَ فَقَالُوا أَرِنَا اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ بِظُلْمِهِمْ

Orang-orang Ahlu kitab menuntutmu untuk turun kepadamu kitab yang langsung turun dari langit, sungguh mereka juga pernah menuntut yang lebih besar daripada itu, mereka pernah mengatakan perlihatkan Allah kepada kami secara jelas sehingga mereka disambar petir karena kezalimannya.” [QS. An-Nisa’: 153]

Kurang apa jelasnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan mereka seperti mengenal anak sendiri?!

Kurang apa mukjizat Nabi Musa Alaihissalam?!

Kurang apa jelasnya Syariat sehingga harus ditolak untuk ditegakkan dengan jutaan alasan?!

Bukan syariat yang tidak jelas, tapi mungkin iman dan laa ilaaha illallah di hati yang bias. Sungguh beruntung orang-orang yang memiliki akal dan iman yang masih sehat. Wallahu a’lam [Ibnu Khamis/istidlal.org]