Pepesan Kosong Islam Nusantara

Pepesan Kosong Islam Nusantara

Pada notulensi Bahtsul Masail Maudhuiyah PWNU Jawa Timur tentang Islam Nusantara, 13 February 2016, disebutkan bahwa pada dasarnya belum ada definisi yang disepakati mengenai maksud dari Islam Nusantara. Secara umum, Islam Nusantara mengacu pada paham ahlus sunnah wal Jama’ah (dalam definisi NU tentunya) guna mengantisipasi paham radikalisme, liberalisme, syiah, wahabi, dan paham lain yang tidak sejalan dengan paham ahlus sunah wal jamaah.

Islam nusantara itu apa dan bagaimana? Jika berbeda dengan Islam Arab yang merupakan asalnya, dalam hal apa bedanya?

Memang repot kalau sudah berani merilis istilah tapi konsepnya belum jadi, bahkan sekadar definisi pun belum nemu. Mau diabaikan, sudah ada klaim, mau ditanggapi, masih kosong. Ibarat sebuah website, islam nusantara itu seperti orang yang sudah beli hosting dan domain, sudah online, dan sudah ngiklan ke mana-mana, tapi saat dikunjungi lamannya masih kosong. Padahal dalam iklan sudah diklaim bahwa website ini paling cocok buat orang Indonesia. Paling nyaman bagi warga kepulauan dengan ragam sukunya ini, baik dari segi user interface maupun user experience-nya. Tapi saat dikunjungi, tidak ada menu yang disajikan. Tidak ada laman yang secara nyata bisa diakses. Tidak bisa dipahami bagaimana kenyamanan user saat memakainya.

Mencermati beberapa penjelasan dari para penggagas, secara umum, teori-teori yang dijadikan landasan dalam “Islam Nusantara” seperti Islam yang santun, Islam yang mampu secara elegan mengakomodir budaya setempat, Islam yang dialogis, Islam yang damai dan rahmatan lil alamain, hanyalah aspek-aspek dasar Islam. Islam itu ya memang seperti itu. Islam Arab yang dibawa Nabi Muhammad juga seperti itu; santun, akomodatif dengan urf atau budaya di seluruh dunia, bahkan, dialogis dan toleran, membawa kedamaian dan rahmatan lil alamin. Tidak dinamai Islam nusantara, tidak dikonsep ulang pun, Islam sudah seperti itu. Kawit biyen.

Jika memang ingin membuat diferensiasi, mestinya rumusannya sampai pada penjelasan praksis, santunnya Islam Nusantara yang berbeda dari Islam Arab, Islam Asia dan Islam Amerika itu seperti apa?  Apakah dakwah santun itu adalah dakwah yang nada dan kontennya tenang dan yang damai-damai saja? Apa benar dakwah seperti itu cocok di nusantara?

Pengalaman penulis, orang-orang di daerah Sumbawa banyak yang lebih suka dengan dai yang orasinya penuh semangat dan konten materi yang ‘berani’. Misalnya soal konsekuensi tauhid dan pemberantasan kesyirikan. Apa yang seperti ini tidak bisa disebut santun? Ataukah santun itu yang tidak membid’ahkan dan mengkafirkan? Lha kalau memang bid’ah dan kekufuran, ya harus dijelaskan. Ataukah santun itu yang ikut arus masyarakat dan mengubah secara halus hingga tak terasa? Tidak mesti seperti itu juga. Ada kalanya masyarakat lebih butuh ketegasan dan kejelasan, bukan ikut arus yang malah rawan hanyut dan lupa tujuan asal.

Islam yang akomodatif dengan budaya setempat. Dalam Islam, urf atau budaya dan tradisi masyarakat yang tidak bertentangan dengan prinsip ajaran Islam diberi ruang untuk lestari. Dari dulu Islam seperti itu.

Batik misalnya. Ini budaya Nusantara. Sebagai sebuah seni ornamen, secara umum batik tidak dilarang oleh Islam. Orang shalat pakai batik, sah shalatnya. Pakai blangkon batik juga boleh. Pakai sarung dan jarik bathik untuk khutbah Jumat pun boleh. Bahkan kalau misalnya saking senengnya sama batik, seseorang minta dikafani dengan kain batik dibanding mori pun boleh meski kurang nyunah.

Budaya bahasa dan sastra, misalnya. Boleh saja berkhutbah dengan bahasa Jawa, atau melagukan qira’ah al-Quran dengan cengkok pun boleh asal tidak merusak tajwid dan makhraj.

Jika seperti itu sifat akomodatif Islam yang dimaksud, ya tanpa perlu diembeli Nusantara pun, Islam yang dibawa Nabi di Arab pun sudah seperti itu. Mengakomodir dan memberi ruang bagi budaya yang memang bermanfaat dan tidak bertentangan dengan syariat. Kalau Islam tidak akomodatif dengan budaya, mustahil akan diterima di berbagai belahan dunia.

Tapi kalau yang dimaksud adalah shalat menggunakan bahasa dan cara budaya setempat, lha ini masalah. Ini bukan mengakomodir tapi merusak batasan. Bahasa Arab yang dibawa Islam dalam ibadah dan al-Quran itu bukan budaya Arab yang diserap Islam hingga bisa ditinggalkan oleh muslim di negara lain.

Bahasa Arab dalam ibadah dan al Quran juga hadits itu bagian dari Islam itu sendiri. Shalat tidak pakai bahasa Arab tidak sah shalatnya. Baca al-Quran tidak pakai bahasa Arab, bukan baca Al-Quran namanya, baca terjemah. Ini sudah final dan jadi batasan syariat. Ini wajar.

Ahli pemrograman, meskipun dia orang Jawa, kalau nekat mengganti bahasa pemrograman dari Amerika dengan bahasa dan aksara Jawa, ya pantas kalau hasilnya tidak bisa terbaca. Tidak support. Ibadah ritual dalam Islam berupa shalat, baca quran, thawaf dan beberapa lainnya tidak suppot selain bahasa Arab. Kalau anda meruqyah orang kesurupan dengan terjemah ayat kursi dan ternyata kurang manjur, ya jangan bilang itu salah ayatnya.

Atau kalau yang dimaksud Islam akomodatif adalah membiarkan budaya-budaya yang mengandung kesyirikan dan syubhat dari agama lain, ini juga bukan akomodasi namanya. Syirik yang membudaya hingga menjadi budaya dan tradisi adalah sesuatu yang diberantas oleh Rasulullah dalam dakwahnya. Tradisi mengikuti nenek moyang berupa penyembahan berhala adalah budaya yang haram diakomodir bahkan untuk inilah Islam datang memberantas.

Islam nusantara adalah Islam yang toleran. Toleran dalam hal apa? Dari dulu, Islam di Arab (sekali lagi, karena memang Islam nabinya orang Arab), sudah seperti itu. Nabi tidak pernah memaksa orang agar beriman. Kalau dipaksa malah jadi munafik. Nabi juga menghormati, (lebih tepatnya membiarkan, bukan menghormati) peribadatan orang Nasrani dan Yahudi. Pada khilafah setelah itu pun demikian. Orang Nasrani yang tinggal di wilayah Islam, boleh beribadah sesuai ajaran mereka. Islam sudah toleran sejak semula.

Tapi jika yang dimaksud toleran adalah saling memberi selamat hari raya pada umat lain, lha ini ada pembahasan fikihnya. Ditimbang dulu boleh tidaknya. Atau kalau yang dimaksud toleran adalah membiarkan segala usaha kristenisasi dengan alasan toh kita sama-sama berdakwah, sini dakwah Islam, sana dakwah kristen, padahal masyarakatnya muslim, ya ini keliru. Masyarakat muslim awam objek kristenisasi harus disadarkan mengenai sesatnya agama kristen dan para pelaku kristenisasi harus diberi peringatan. Jangan karena alasan toleransi lantas membiarkan saja hal ini terjadi. Penjelasan tegas mengenai kesalahan akidah kristen bukanlah tindakan intoleransi. Kalau itu intoleransi, al-Quran bakal jadi kitab intoleran.

Islam yang damai. Dari dulu Islam itu agama damai. Islam yang dibawa Nabi Muhammad di Arab, dan juga Islam yang dibawa para khalifah Islam sepeninggal beliau pun adalah Islam yang damai. Jihad hakiki yang ada pada masa Rasulullah bahkan hingga kini itu tidak terjadi karena satu aspek berupa hasrat perang orang Islam karena membaca teks dalil. Lebih seringnya, jihad itu malah bersifat mauhib, pemberian dari Allah.

Konteks dan situasi yang ditakdirkan Allah membawa kaum muslimin pada peperangan dan jihad. Perang Badar itu kaum muslimin belum siap perang tapi kondisi dan kemudian didukung ijin dari Allah membawa mereka ke kancah jihad. Kaum muslimin yang dijajah Syiah (sebagai keyakinan yang juga diantisipasi Islam nusantara) dan juga amerika sang pengusung liberalisme, juga dibawa oleh kondisi menuju jihad. Apa itu berarti Islam bukan agama yang damai?

Islam tetap agama yang damai, jika lawannya mau berdamai. Kalau tidak, dalam al Quran ayat-ayat yang siap menjadi dalil pendukung jihad dan perlawanan atas kekufuran dan kezaliman jumlahnya “buwannyak”, kata orang Jawa Timuran. Ada ayat-ayat cinta, namun juga ada ayat-ayat benci. Benci kekufuran, kemaksiatan, pengkhinatan dan kemunafikan.

Islam adalah agama pembawa kedamaian dan rahmat bagi manusia, itu kalau Islam itu memang diletakkan sebagai pengatur kehidupan. Kalau diabaikan, aturan hidup dan undang-undang yang dipakai memilih peninggalan penjajah, ya bagaimana Islam bisa memberi rahmat? Enak saja minta rahmat tapi syariatnya tidak dipakai.

Jadi, untuk apa semua ketergesaan klaim dan rilisan istilah ini? Kenapa tidak pede saja dengan ahlus sunah wal jamaah yang sudah memasyarakat? Friksi yang diakibatkan ta’addudul jamaa’at (berbilangnya jamaah dan ormas Islam) saja sudah banyak, apa masih mau ditambah lagi dengan Islam nusantara dan Islam non-nusantara? Buat apa sih mengaku-aku paling nusantara? Wong kelak di akhirat kita tidak ditanya soal kebangsaan kita. (Muhammad D. Luffy/istidlal.org)