Khutbah Jumat: Tunduk dan Taat Kepada Allah Secara Total

Khutbah Jumat Tunduk dan Taat Kepada Allah Secara Total-istidlalOrg

Tunduk dan Taat Kepada Allah Secara Total

Oleh: Ibnu Rodja

 

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَصْلَحَ الضَّمَائِرَ، وَنَقَّى السَّرَائِرَ، فَهَدَى الْقَلْبَ الْحَائِرَ إِلَى طَرِيْقِ أُوْلِي الْبَصَائِرِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، أَنْقَى الْعَالَمِيْنَ سَرِيْرَةً وَأَزْكَاهُمْ سَيْرَةً، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى هَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِه،ِ قَالَ اللهُ تَعَالَى

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 

Kaum Muslimin sidang jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Kita adalah umat Islam, Islam adalah diin kita. Islam artinya ketundukan dan kepatuhan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Jika kita mampu mewujudkan hal ini, niscaya kita akan menjadi penduduk bumi yang mulia.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لله وَهُوَ مُحْسِنٌ

Artinya, “Siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah. Sedangkan dia mengerjakan kebaikan dan mengikuti ajaran Ibrahim yang lurus?” (QS. An-Nisa’: 125)

Ibrahim adalah sosok teladan dalam ketundukan dan kepatuhan terhadap Allah ‘Azza wa Jalla. Adalah Ibrahim, ketika itu sudah berumur 80 tahun, namun belum dikaruniai anak. Beliau terus berdoa kepada Allah. Hingga Allah mewahyukan kepada Ibrahim bahwa dirinya akan dikaruniai seorang anak. Bahkan Hajar ketika itu serasa tidak percaya, dengan berkata,

Apakah saya bisa melahirkan padahal saya sudah tua.” (QS. Hud: 72).

Dengan kebesaran dan keagungan Allah, lahirlah dari rahim Hajar seorang bayi yang bernama Ismail.

Ketika Ismail kecil sudah lahir ke dunia, Allah memerintahkan Ibrahim untuk membawa anak dan istrinya ke sebuah lembah yang tak berpenghuni dan tak bertanaman. Namun, karena ini perintah Allah, Ibrahim tidak mengingkari dan menyangkalnya. Ibrahim percaya bahwa setiap perintah Allah pasti ada kebaikan di dalamnya.

Perkataan Ibrahim ketika melepas anak dan istrinya diabadikan di dalam Al-Quran. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

Artinya, “Wahai Rabb kami, sesungguhnya saya menempatkan sebagian keturunan saya di lembah yang tidak ada tanaman, di dekat rumah-Mu yang dhormati. Waha Rabb kami, yang demikian itu agar mereka melaksanakan shalat..” (QS. Ibrahim: 37)

Belum hilang pelajaran yang kita ambil dari Ibrahim tentang ketundukan dan kepasrahan terhadap perintah Allah, sekali lagi beliau dengan keluarganya yang mulia membuat kita kembali terperangah.

Kali ini Allah memerintahkan kepada Ibrahim untuk menyembelih Ismail yang baru beranjak remaja. Sebuah perintah yang sangat tidak logis. Namun, di sini keimanan yang berbicara. Keimanan Ibrahim menuntunnya untuk menyelenggarakan perintah tersebut.

Dan alangkah mengejutkannya jawaban Ismail ketika mendengar perintah Allah tersebut.

Wahai bapakku lakukanlah apa yang diperintahkan Allah dan engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shafat: 102)

Sebuah jawaban yang menggambarkan keberhasilan seorang Ibrahim dalam mendidik anaknya sikap ketundukan dan kepasrahan kepada perintah Allah. Ketundukan anak dan bapak ini Allah abadikan di dalam Al-Quran,

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

Artinya, “Ketika keduanya berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya di atas pelipisnya.” (QS. Ash-Shafat: 3)

Sebuah pemandangan mengharukan yang wajib menjadi teladan bagi kita dan membuat kita bertanya kepada diri sendiri, sudahkah kita tunduk dan patuh kepada Allah? Seberapa tunduk dan patuh kita ketika peritah Allah bertentangan dengan hawa nafsu kita? Ketika larangan berlawanan dengan keinginan kita apa yang kita perbuat?

 

Sidang jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Ketundukan inilah yang diwujudkan oleh para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketundukan yang mereka pelajari dari nabi Ibrahim. Kita bisa lihat ketundukan ini ketika Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat larangan Khamr, maka langsung ketika itu mereka pecahkan kendi-kendi penyimpanan khamr, mereka buang persediaan khamr ke parit-parit Madinah.

Hal yang sama juga bisa kita lihat ketika diturunkannya ayat hijab, di mana Allah mewajibkan kepada para muslimah untuk menggunakan hijab, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلى جُيُوبِهِنَّ

Artinya, “Dan hendaklah mereka menutup kerudung mereka di atas dada mereka.” (QS. An-Nur: 31)

Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa wanita-wanita Anshar, ketika suami-suami mereka pulang dan menyampaikan ayat di atas, mereka bersegera mengambil kain gordyn untuk dijadikan hijab.

Mereka tidak menunda-nunda untuk melaksanakan ayat tersebut. Mereka tidak beralasan dengan berkata, “Hati saya belum berhijab.” Mereka tidak berkata, “Saya menunggu hidayah dulu untuk berhijab.”, mereka juga tidak berkata, “Nanti dulu, saya belum beli jilbab.” “Saya mau menjahitkan hijabnya dulu.”

Ketika mendengar ayat hijab yang terpikir oleh mereka adalah bagaimana sesegera mungkin mewujudkan perintah Allah, dan kita lihat mereka mengambil kain apapun untuk dijadikan hijab, ada yang mengambil gordyn rumah, ada pula yang membagi sarungnya menjadi dua bagian untuk diajdikan hijab. Inilah potret ketundukan, sebuah pemandangan ketaatan dan sebuah realisasi perintah Allah.

Ketika mendengar perintah Allah maka yang meliputi dada mereka adalah bagaimana bisa sesegera mungkin mewujudkan perintah Allah.

Inilah Abdullah bin Ummi Maktum, seorang yang tua, buta, dan tidak ada yang menuntunnya ke masjid. Semua kondisi tersebut beliau sampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar diijinkan untuk tidak berjamaah di masjid.

Setelah Rasulullah mendengar alasannya, Rasul hanya bertanya, “Apakah kamu mendengar adzan?

Abdullah bin Ummi Maktum menjawab, “Iya.”

Rasul berkata, “Kalau begitu, datangi seruan adzan tersebut.”

Abdullah bin Ummi Maktum menerima perintah itu dengan ketundukan dan ketaatan. Beliau tidak protes atau mengajukan alasan-alasan lain kepada Rasul agar beliau diberi dispensasi untuk tidak ikut shalat di masjid.

Bentuk ketundukan para sahabat radhiyallahu anhum kepada Allah adalah dengan senantiasa mengikuti dan meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pernah suatu ketika Rasul melepas sendalnya ketika shalat, sontak saja para sahabat beramai-ramai melepaskan sendalnya. Khawatir kalau mereka tidak mengikutinya mereka menyelisihi Nabi.

Selesai shalat, Rasul bertanya kepada mereka alasan mereka melepas sandal mereka. Para sahabat menjawab, “Tidaklah kami melakukannya, melainkan karena melihat engkau melepas sandal wahai Rasulullah.”

Kemudian Nabi menjelaskan bahwa di tengah-tengah shalat Jibril mengingatkan beliau bahwa di sandal beliau ada najis.

Ibnu Mas’ud pernah berkata,

إِذَا سَمِعْتَ اللهَ يَقُوْلُ: {يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا} فَأَرْعَهَا سَمْعَكَ. يَعْنِي اِسْتَمِعْ لَهَا.؛ فَإِنَّهُ خَيْرٌ يُأْمَرُ بِهِ، أَوْ شَرٌّ يُنْهَى عَنْهُ

Artinya, “Jika engkau mendengar Allah mengatakan “Hai orang-orang yang beriman, maka pasanglah pendengaranmu karena seruan itu berisi kebaikan yang diperintahkan atau keburukan yang dilarang.”

Sebuah pesan dari Ibnu Mas’ud kepada kita agar senantiasa tunduk kepada perintah dan aturan Allah, yang itu dimulai dengan serius mendengarkan, memperhatikan dan pada akhirnya mewujudkan perintah-perintah Allah atau menjauhi larangan-larangannya sebagai bentuk ketundudkan hakik kepada Rabbul ‘Alamin.

Sudahkah ketundukan ini hadir dalam diri kita?

Sudahkah ketika turun perintah Allah untuk menjauhi riba, misalnya, hati kita tergerak dan berupaya sekuat tenaga melepaskan diri dari jerat-jerat riba?

Sudahkah ketika ada perintah untuk peduli kepada kaum muslimin yan tertindas dan terzalimi hati kita langsung memikirkan sgala cara agar membantu mereka, atau malah berkata, ‘Mereka kan bukan orang Indonesia, buat apa saya peduli dengan mereka’?

Dari sini, hendaknya lahir sebuah sikap mengagungkan setiap perintah Allah, setiap aturan-aturan kehidupan yang telah Allah gariskan dan aturkan di dalam Al-Quran dan Sunnah, karena inti dari ketundukan itu adalah kerelaan hati, jiwa dan raga untuk diatur dengan aturan Allah ‘Azza wa Jalla.

وَالْعَصْرِ () إِنَّ الْإِنْسانَ لَفِي خُسْرٍ () إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحاتِ وَتَواصَوْا بِالْحَقِّ وَتَواصَوْا بِالصَّبْرِ ()

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمِّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛ عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Jamaah Jumat yang mulia, di khutbah kedua ini, marilah kita berdoa agar Allah selalu memupuk keyakinan kita, sehingga kita menjadi orang yang tunduk hati ketika mendengar perintah Allah, dan selanjutnya rela berkorban demi melaksanakan perintah itu.

 

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعاً مَرْحُوْماً، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقاً مَعْصُوْماً، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْماً.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَاناً صَادِقاً ذَاكِراً، وَقَلْباً خَاشِعاً مُنِيْباً، وَعَمَلاً صَالِحاً زَاكِياً، وَعِلْماً نَافِعاً رَافِعاً، وَإِيْمَاناً رَاسِخاً ثَابِتاً، وَيَقِيْناً صَادِقاً خَالِصاً، وَرِزْقاً حَلاَلاً طَيِّباً وَاسِعاً، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجمع كلمتهم عَلَى الحق، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظالمين، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعَبادك أجمعين.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ : إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ