Tanggung Jawab Ulama di Era Kezaliman Penguasa Menurut Ulama Saudi

Tanggung Jawab Ulama di Era Kezaliman Penguasa Menurut Ulama Saudه-istidlal.org

Tanggung Jawab Ulama di Era Kezaliman Penguasa Menurut Ulama Saudi — Ulama, juru dakwah, dan mantan Ketua Jurusan Akidah dan Madzhab-Madzhab Kontemporer Universitas Ummul Qura Makkah, Syaikh Dr. Safar bin Abdurrahman Al-Hawali kembali ditangkap oleh rezim Arab Saudi untuk ketiga kalinya pada Kamis, 12 Juli 2018 M lalu. Tiga orang anaknya yaitu Ibrahim, Abdurrahman, dan Abdullah juga ikut ditangkap, demikian dilansir oleh aljazeera.net.

Penangkapan Syaikh Safar Al-Hawali erat kaitannya dengan “kritikan-kritikan” beliau kepada kebijakan rezim Arab Saudi yang sangat pro-Amerika Serikat. Rezim Arab Saudi berang atas kritikan-kritikan terbaru beliau, yang dituangkan dalam sebuah buku setebal 3059 halaman. Buku yang mengguncang rezim Arab Saudi tersebut berjudul Al-Muslimun wa Al-Hadharah Al-Gharbiyah” (Kaum Muslimin dan Peradaban Barat).

Dalam buku tebal tersebut, Syaikh Safar Al-Hawali mengungkapkan bukti-bukti kebijakan rezim Arab Saudi yang sangat pro-Amerika dan merugikan kaum muslimin. Beliau juga memaparkan kebijakan-kebijakan luar negeri Amerika yang penuh kezaliman terhadap kaum muslimin di berbagai penjuru dunia.

Sebagai seorang ulama dan juru dakwah, berbagai tindak kezaliman dan kemungkaran yang luar biasa besar tersebut tentu tidak bisa didiamkan begitu saja. Ulama dan juru dakwah tidak boleh menutup mata, pura-pura tidak melihat dan mendengar, segala kemungkaran dan kezaliman yang terjadi di depan mata mereka. Mereka harus meneladani sikap para nabi, rasul, dan ulama salaf yang bekerja tanpa kenal lelah dalam mengupayaan kebaikan dan perbaikan.

Dalam bukunya tersebut, Syaikh Safar Al-Hawali mengingatkan bahwa orang-orang yang menginginkan ridha Allah ‘Azza wa Jalla dan surga-Nya memiliki sejumlah tanggung jawab berat dalam suasana maraknya kemungkaran dan kezaliman saat ini. Tanggung jawab tersebut adalah sebagai berikut.

 

Tanggung Jawab Ulama: Menyuarakan kebenaran dengan lantang.

Kebenaran harus disampaikan kepada umat Islam, baik rakyat maupun pejabat, apa adanya, tanpa ditambah-tambahi atau dikurang-kurangi. Kebenaran harus disuarakan, diajarkan, dan disebar luaskan meskipun bertolak belakang dengan hawa nafsu sebagian manusia. Dan menyerukan kebenaran dengan lantang menuntut modal ilmu dan keberanian mental para ulama dan juru dakwah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik!” (QS. Al-Hijr [15]: 94)

 

Tanggung Jawab Ulama: Memberikan nasehat kepada kaumnya.

Kata nasehat (an-Nashihah) dalam bahasa Arab memiliki makna harfiah ketulusan. Para ulama dan juru dakwah harus tulus dan jujur dalam mengupayakan kebaikan dan kemaslahatan bagi kaumnya. Hal itu sebagaimana ayat-ayat Al-Qur’an selalu mengisahkan ketulusan para nabi dan rasul terhadap kaum mereka.

 

Tanggung Jawab Ulama: Bersabar dalam menanggung segala gangguan dan rintangan di atas jalan kebenaran

Menyuarakan kebenaran dan mencegah kemungkaran tentu mengandung risiko. Para pelaku kebatilan dan kemungkaran boleh jadi menimpakan caci makian, hinaan, pelecehan, pencemaran nama baik, pemboikotan, pengasingan, pemburuan, penangkapan, pemenjaraan, hingga pembunuhan terhadap pejuang kebenaran.

Terkadang, gangguan tersebut berupa bujuk rayu yang menyenangkan hawa nafsu. Para pelaku kebatilan mungkin juga menawarkan harta, wanita, dan jabatan kepada para ulama dan juru dakwah, asalkan mereka mau diam dan tidak mengusik kebatilan. Kenikmatan hidup duniawi ditawarkan oleh para pengusung kebatilan sebagai ganti dari kebenaran yang disimpan dan disembunyikan oleh pengusung kebenaran.

Dalam kondisi apapun, para ulama dan juru dakwah pengusung suara kebenaran harus bersabar menghadapi semua ujian, cobaan, rintangan, dan gangguan tersebut. Mereka tidak boleh tertipu dan terbujuk oleh tipu daya para pengusung kebatilan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَى مَا آذَيْتُمُونَا

“…dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kalian lakukan kepada kami.(QS. Ibrahim [14]: 12)

 

Tanggung Jawab Ulama: Meneladani suri teladan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ucapan, perbuatan, dan kebijakannya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’” (QS. Ali Imran [3]: 31)

 

Tanggung Jawab Ulama: Siap mengorbankan jiwanya untuk menegakkan agama Allah ‘Azza wa Jalla.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka”. (QS. At-Taubah [9]: 111)

 

Tanggung Jawab Ulama: Senantiasa bersikap adil. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl [16]: 90)

Inilah sebagian tanggung jawab para ulama dan juru dakwah, yang dipaparkan oleh Syaikh Safar Al-Hawali, berkaitan dengan kezaliman dan kemungkaran yang saat ini merajalela di depan mata. Wallahu a’lam bish-shawab [Fadhlullah/dakwah.id]

 

 

Download kitab Al-Muslimun wa Al-Hadharah Al-Gharbiyah karya Syaikh Safar al-Hawali DI SINI atau DI SINI