Materi Khutbah Jumat: Islam radikal? Bukan Islam yang Radikal!

Materi Khutbah Jumat Islam Radikal Bukan Islam yang Radikal-istidlal.org

Islam Radikal? Bukan Islam yang Radikal!

Oleh: Ibnu Khamis

 

 

Download versi PDF Materi Khutbah Jumat DI SINI

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَصْلَحَ الضَّمَائِرَ، وَنَقَّى السَّرَائِرَ، فَهَدَى الْقَلْبَ الْحَائِرَ إِلَى طَرِيْقِ أُوْلِي الْبَصَائِرِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، أَنْقَى الْعَالَمِيْنَ سَرِيْرَةً وَأَزْكَاهُمْ سَيْرَةً، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى هَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِه،ِ قَالَ اللهُ تَعَالَى

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 

Saudaraku kaum muslimin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,

Hari ini Islam dan kaum muslimin yang bercita-cita menjadikan Islam sebagai jalan hidupnya selalu mendapatkan tudingan negatif dan miring, mereka sering disebut Islam ekstrim, Islam radikal dsb… Pertanyaannya adalah, Apa yang dimaksud dengan radikal?

Dalam kamus Cambridge Dictionary, kata radikal (radical) berarti keyakinan atau ekspresi bahwa perlu ada perubahan besar dari tatanan sosial atau politik saat ini.

Jika memang definisi ini benar, maka radikal adalah kata netral yang bisa berarti positif atau negatif tergantung dari mana perubahan itu datang.

Jika ditarik ke konteks sejarah para Nabi ‘alaihimussalam, maka mereka bersifat radikal positif karena mereka membawa amanat dari Allah yang ingin mengubah tatanan Jahiliyah menjadi tatanan tauhid.

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menginjak usia 40 tahun, melalui segala perenungan yang beliau lakukan terhadap fenomena dan kondisi kehidupan Jahiliyah di sekitarnya yang jauh dengan naluri sehat yang beliau miliki, maka beliau mengambil keputusan untuk melakukan tindakan khalwat (menyendiri) beribadah dengan berbekal makanan Sawiq dan air, beliau mengucilkan diri mendaki ke tepian gunung Nur dan berdiam diri di gua Hira yang terletak sekitar dua mil dari Makkah.

Dalam kesendiriannya, beliau mencoba melakukan tafakkur (perenungan) dengan beribadah dan berharap mendapatkan solusi perubahan yang datang membawa cahaya terang atas sistem kehidupan Jahiliyah yang gelap gulita.

Pilihan ‘uzlah yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sikap resistansi yang ditunjukkan atas ketidakrelaan beliau akan fenomena kaumnya yang rusak, sementara beliau yang berjiwa bersih, hidup di tengah-tengah mereka namun belum memiliki daya dan bekal perubahan.

Di sisi lain, semua yang beliau lakukan sudah berada dalam skenario Rabbani sebagai bentuk persiapan sebelum menerima tugas risalah yang amat berat.

 

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ‘azza wajalla,

Maka, untuk mengetahui itu marilah kita mendengar penuturan kekasih beliau Ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘anha yang meriwayatkan kisah kejadian tersebut, yang menjadi titik awal kenabian, awal dari sebuah perubahan besar yang membuka pekatnya hegemoni dan dominasi sistem kekufuran dan kesesatan, mengubah lajur kehidupan dan menggeser peta sejarah.

Ibunda Aisyah bercerita, awal wahyu datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa mimpi yang nyata, beliau melihat mimpi tersebut seperti falak subuh (cahaya subuh yang terang).

Setelah itu beliau suka menyendiri, dan beliau mengasingkan diri di gua Hira melakukan tahannuts (ibadah) selama beberapa malam sebelum pulang ke keluarganya dan membawa perbekalan.

Sampai kemudian beliau pulang lagi ke ibunda Khadijah untuk mengambil perbekalan, hingga akhirnya Al-Haq datang kepada beliau saat beliau berada dalam gua Hira.

 

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ‘azza wajalla,

Pada saat itu, Malaikat datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,

Iqra!” (bacalah!),

Beliau berkata, “Aku tidak dapat membaca!

Rasulullah bercerita, “Maka Malaikat mendekapku hingga tenagaku terkuras, lalu dia melepasku dan berkata,

Bacalah!

Aku berkata, ‘Aku tidak bisa membaca!’”

Beliau bercerita, “Malaikat itu mendekapku kembali sampai terkuras tenagaku lalu melepasku dan bekata,

Bacalah!

Aku berkata, ‘Aku tidak bisa membaca!

Lalu Malaikat mendekapku untuk ketiga kalinya hingga kemudian melepasku, dan berkata,

 اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

 

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ‘azza wajalla,

Lihatlah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan wahyu kenabian. Sebuah tugas besar dengan tantangan yang sangat besar; mengubah peta kehidupan hanya menuju Allah secara total yang itu berseberangan dengan sistem Jahiliyah kaumnya yang sudah mengakar.

Maka, wajar jika beliau berkata “Maa ana biqaari!” (aku tidak bisa membaca) ketika diperintah iqra’ (bacalah) oleh Malaikat.

Selain memang beliau Nabi yang ummi (tidak bisa membaca), perintah iqra’ adalah perintah untuk amanat perubahan besar yang harus beliau pikul dengan risiko tantangan yang besar.

Maka pikiran manusiawi tentu akan berkata “aku tidak bisa.” Namun bimbingan Rabbani menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu karena Allah ‘azza wajalla akan selalu bersamanya, Dzat Maha pencipta yang menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada, Dzat Pemurah yang mengajarkan manusia dari tidak tahu menjadi tahu.

Oleh karena itu, beliau pulang dalam keadaan gemetar hingga akhirnya ibunda Khadijah Radhiyallahu ‘anha menyelimuti beliau. Setelah bangun, beliau berkata,

لَقَدْ خَشِيْتُ عَلَى نَفْسِيْ

Sungguh aku takut terhadap diriku.”

 

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ‘azza wajalla,

Setelah peristiwa di gua Hira malam itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tahu betapa beratnya tugas yang akan beliau hadapi di hari-hari berikutnya.

Maka ibunda Khadijah menghibur sang suami tercinta dengan berkata,

Demi Allah, Allah tidak akan menelantarkanmu sama sekali, karena kamu adalah seorang yang suka menyambung hubungan Rahim, membantu orang yang lemah, menolong orang yang sengsara, menghormati tamu dan membela orang yang berdiri di atas kebenaran.”

Sebuah hiburan hangat dan supportif agar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak perlu takut dan khawatir karena beliau sudah memiliki modal akhlak yang beliau tanam di benak kaumnya.

Dan ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibawa Khadijah Radhiyallahu ‘anha kepada Waraqah bin Naufal, yakni seorang alim yang masih sanak saudara istrinya yang paham Taurat guna menjelaskan kejadian yang belau alami.

Waraqah pun terkejut, “Ini adalah wahyu kenabian yang juga pernah turun kepada Musa ‘alaihissalam, aduhai jika aku masih muda dan aku hidup saat kaummu mengusirmu.”

Mendengar penjelasan itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun akhirnya bertanya, “Apa mereka akan mengusirku?

Waraqah menjawab, “Iya, tidak ada seorang pun yang membawa ajaran seperti yang kamu bawa, pasti dia akan dimusuhi, jika aku masih mendapati umur saat kamu mendapatkan itu aku pasti akan menolongmu….

Sebuah berita besar tentang kenabian yang membawa amanat perubahan besar terhadap tatanan Jahiliyah menjadi tatanan tauhid, namun berita tersebut disertai dengan berita sunnatullah para pembawa gerakan perubahan tauhid bahwa mereka akan mendapatkan respon keras atas gerakannya.

 

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ‘azza wajalla,

Ketika Ibrahim ‘alaihissalam melihat fenomena masyarakat Paganis, fenomena Namrud yang mengklaim kedaulatannya di dunia di atas kedaulatan Allah, fenomena banyaknya sesembahan selain Allah yang diibadahi di waktu masing-masing, maka beliau ‘alaihissalam datang atas perintah Allah untuk mengubah semua tatanan rusak tersebut agar menjadi tatanan masyarakat yang bertauhid ,meski gerakan perubahan yang dibawanya menuai penolakan keras yang mengancam dirinya.

Ketika Musa ‘alaihissalam melihat fenomena kekuasaan politik Firaun, Haman, dan Qarun yang merendahkan kedaulatan Allah di dunia hanya sebatas dalam urusan religi saja, sementara kedaulatan dunia baik politik, sosial, ekonomi, industri, teknologi, militer, dan seterusnya, Rabbnya (penguasanya) dan Ilahnya (yang ditaati secara mutlak) adalah Firaun yang dibantu kroni dan sekutunya, maka Allah perintahkan Musa untuk membawa gerakan perubahan yang merubah masyarakat dari sistem Thaghut Firaun dan kroninya menjadi masyarakat yang bertauhid.

Saudaraku, sikap tidak rela jika sistem Jahiliyah berkuasa adalah sikap dan karakter warisan para nabi. Oleh sebab itu, wujud nyata jika warisan nabi tersebut ada pada diri kita adalah munculnya keinginan untuk bergerak ikut andil dalam gerakan perubahan yang mengubah kondisi fitnah Jahiliyah menuju ketundukan kepada Islam dan bertauhid.

 

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ‘azza wajalla,

Radikal adalah istilah netral untuk setiap gerakan perubahan terhadap sebuah tatanan sosial dan politik. Jika Nabi dan pewarisnya dianggap radikal, maka itu adalah radikal yang positif karena mengubah yang buruk menjadi baik.

Namun, istilah radikal yang semestinya netral saat ini arah definisinya telah dibongkar dan dirusak oleh penguasa Jahiliyah. Istilah radikal saat ini telah menjadi dominan kepada makna negatif seperti kekerasan, brutal, ekstrem, dan semisalnya, kemudian istilah itu digunakan untuk mendefinisikan perjuangan umat Islam yang memiliki misi dakwah menegakkan syariat Allah.

Bukankah itu sebuah revolusi pembodohan mental umat?

 

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ‘azza wajalla,

Mari kita lihat kembali, sejarah mencatat dengan begitu jelas bahwa Firaun lebih keras dan brutal dari pada nabi Musa ‘alaihissalam. Sejarah mencatat, Firaun pernah melakukan pembunuhan masal terhadap banyak bayi laki-laki Bani Israil, tapi pada akhirnya justru tudingan penyebab kekacauan  justru diarahkan kepada Musa ‘alaihissalam.

Fakta sejarah lain, Abu Jahal dan seluruh fraksi di Darun Nadwah terbukti melakukan kekerasan dan tindakan radikal yang tak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka menyiksa Yasir, ayah Ammar radhiyallahu anhu, setelah enggan memenuhi tawaran untuk kembali kepada agama berhala Quraisy. Apa tindakan radikalisme yang Yasir dapatkan? Dia sisi tubuhnya ditarik dengan dua kuda berlawanan arah hingga  tubuh Yasir terpotong menjadi dua bagian dan akhirnya dengan itu Allah ‘azza wajalla mencatatnya sebagai syahid.

Tak cukup sampai di situ, istrinya Yasir, Sumayyah radhiyallahu ‘anha, dipaksa untuk kembali menyembah berhala. Karena menolak, maka ia disiksa dengan ditusuk tombak dari bawah hingga ke ujung kepala.

 

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ‘azza wajalla,

Mari kita lihat, siapa dan pihak mana yang sebenarnya melakukan aksi radikalisme dan kekerasan selama ini?

Kita tarik lebih dekat menuju catatan sejarah bangsa kita. Kolonial belanda juga tercatat sebagai penjajah yang keras dan ekstrim terhadap rakyat pribumi kita. Mereka menerapkan sistem tanam paksa kepada rakyat, sementara hasilnya mereka keruk habis.

Namun, ketika sosok putra negeri ini, pangeran Diponegoro, yang tidak rela akan keadaan tersebut lalu mencoba melakukan gerakan perubahan berbasis Islam, justru dituding sebagai pemberontak, teroris, radikalis, dan label-label negatif lainnya.

Sekarang kita lihat catatan yang lebih dekat dengan zaman kita hidup.

Amerika, sebuah negara adidaya yang habis-habisan memoles eksistensinya dengan kisah-kisah heroik dan kepahlawanan dalam ratusan film yang diputar di bioskop-bioskop, dan mudah kita unduh di internet, ternyata memiliki wajah asli yang lebih kejam daripada tampilan tokoh Film Kapten Amerika, The Avengers, atau Rambo.

Berapa ratus ribu rakyat muslim Afghanistan yang meninggal karena serangan bom pesawat Amerika?

Berapa ratus ribu rakyat muslim Irak yang telah meninggal akibat serangan darat dan udara pasukan Amerika yang katanya memburu senjata kimia buatan Saddam Husein yang nyata-nyata hingga saat ini isu itu tak terbukti?

Para orang tua, lansia, laki-laki, perempuan, pemuda, gadis, anak-anak, bahkan bayi yang baru lahir harus meninggal dengan mengenaskan akibat aksi radikal, penuh kekerasan, bahkan sama sekali tidak manusiawi yang telah dilakukan oleh penjahat pemerintah Amerika.

Namun, sungguh ironis, saudara-saudara muslim kita justru menutup mata dari itu semua. Sembari tetap menyanjung dan bertepuk tangan atas aksi-aksi heroik palsu yang tampak di film-film buatan Amerika, sehingga terbentuk kesan bahwa Amerika adalah pahlawan dunia, Amerika adalah penyelamat dunia, Amerika adalah Super Hero.

Di sisi lain, mayoritas saudara muslim kita begitu mudahnya disesatkan dengan slogan-slogan barat yang mengampanyekan: Islam adalah teroris, Islam adalah radikal, hentikan gerakan penerapan syariat Islam, tangkap aktivis Islam, dan semisalnya, dan semisalnya.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمِّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛ عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

 

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ‘azza wajalla,

Sepertinya memang sudah menjadi sunnatullah bahwa salah satu agenda orang-orang kafir adalah mengubah definisi sesuai dengan kehendak dan kemauannya  guna memperburuk citra para pejuang tauhid.

Maka, kaum muslimin jangan sampai latah terbawa arus pola pikir dan cara bicara mereka, karena sikap tersebut adalah tanda dari kefasikan dan kehinaan.

Mari kita renungi firman Allah dalam surat Az-Zukhruf ini,

وَنَادَى فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَذِهِ الأَنْهَارُ تَجْرِي مِن تَحْتِي أَفَلا تُبْصِرُونَ

Dan Firaun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)?

 

أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِّنْ هَذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلا يَكَادُ يُبِينُ

Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?

 

فَلَوْلا أُلْقِيَ عَلَيْهِ أَسْوِرَةٌ مِّن ذَهَبٍ أَوْ جَاء مَعَهُ الْمَلائِكَةُ مُقْتَرِنِينَ

Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?

 

فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ (54)

Maka Firaun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (QS. Az-Zukhruf: 51-54)

 

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ‘azza wajalla,

Mayoritas rakyat Firaun yang sudah melihat bukti kebenaran Musa ‘alaihissalam bukan beriman dan membela, tapi justru rela dengan pola pikir Firaun dan ikut latah bersama Firaun mendelegetimasi Musa ‘alaihissalam.

Maka, Allah hukum mereka dengan ayat ke-54, “fastakhaffa Qaumahu” (Firaun membuat rakyatnya rendah (hina). Kata  istakhaffa berasal dari khaffa yang artinya ringan/rendah. Dari kata itu pula keluar kata khuff (sandal/sepatu) yang artinya menjadi rendah karena tempatnya di kaki dan diinjak.

Artinya, mereka menjadi rendah bak alas kesetnya Firaun yang tidak ada nilainya karena tidak merdeka dengan pikiran sehatnya dan lebih menuruti pikiran Firaun serta latah mengikuti kata-katanya. Selain itu, Allah juga menghukumi mereka dengan “innahum kaanuu qauman faasiqiin”: mereka adalah orang-orang fasiq.

 

Saudaraku yang dirahmati Allah ‘azza wajalla,

Janganlah kita menjadi rendah dan hina seperti hinanya rakyat Firaun dengan mengikuti pola pikir barat dalam mendefinisikan Islam dan pejuang Islam. Tapi jadilah umat yang bermartabat yang memperjuangkan Islam sebagai jalan kehidupan.

Semoga Allah ‘azza wajalla memudahkan langkah generasi umat ini untuk terus berusaha berdakwah dan melangkah membumikan syariat Allah ‘azza wajalla yang sangat mulia ini.

اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِي يَاَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ.

اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ. وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بَلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنَسْتَهْدِيكَ وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ وَنُثْنِي عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ

نَشْكُرَكَ وَلَا نَكْفُرُكَ وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ

اللَّهُمَّ إيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَك نُصَلِّي وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ

نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُو رَحْمَتَك وَنَخْشَى عَذَابَكَ إنَّ عَذَابَك الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحَقٌ

اَللّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اَللّهُمَّ أَنْجِ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي الْغَوْطَةَ خَاصَّةً، وَفِي أَنْحَاءِ بِلَادِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَامَّةً،

اَللّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى الْكُفَّارِ وَالْمُحَارِبِيْنَ وَشُرَكَاؤَهُمْ، وَاشْطِطْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ،

اَللّهُمَّ اهْزِمْ وَزَلْزِلْهُمْ!

رَبّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

 

 

Download versi PDF Materi Khutbah Jumat DI SINI

 

 

Materi Khutbah Jumat Lainnya: