Materi Khutbah Jumat: Beramal Shalih di Bulan Dzulhijjah

materi khutbah jumat beramal shalih di bulan dzulhijjah-istidlal.org

Beramal Shalih di Bulan Dzulhijjah

Oleh: Mursi

 

 

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

قال تعالى:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

وقال رسول الله:

اتَّقِ اللهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَ يَرَاهُ

ثُمَّ أَمَّا بَعْدُ:

Maasyiral Muslimin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Tak terasa kita akan dipertemukan kembali dengan tamu agung bagi umat islam yang kedua setelah Ramadhan kemarin. Di sela-sela kesedihan yang melanda bangsa ini, dengan adanya gempa bumi beberapa saat yang lalu. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Tahun berputar, semenjak Allah menciptakan langit & bumi. Satu tahun itu (terdiri dari) dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan yang disucikan. Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram dan (satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban”. (HR. Bukhari (3197) dan Muslim (1679)).

Jika Ramadhan mulia karena di dalamnya al-Quran diturunkan, di wajibkan shiyam di bulan itu, dan seabrek keutamaan yang lain. Maka demikian juga halnya bulan dzulhijjah, dia memiliki keutamaan, kemuliaan dan tidak seyogyanya seorang muslim melalaikannya. Diantara keutamaannya adalah ia merupakan bulan yang disucikan. Bulan yang penuh kenangan dengan dihidupkannya sunah Nabi Ibrahim Alaihis salam.

Beberapa hari lagi, yang dapat kita hitung dengan jari-jemari tangan kita, umat islam akan menjumpai bulan dengan hari-hari yang penuh dengan keutamaan, 10 hari yang penuh keberkahan dan kebaikan, dan hari-hari yang paling mulia dan agung. Allah menjadikannya mulia dan melebihkan hari-hari tersebut dibanding hari lainnya. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

 

وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Demi waktu fajar dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2).

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma dan selainnya mengatakan yang dimaksud 10 malam itu adalah 10 hari awal di bulan Dzul Hijjah. Jika boleh dibandingkan, manakah yang lebih utama? 10 hari awal di bulan Dzul Hijjah atau 10 hari terakhir di bulan Ramadhan

Para ulama berbeda pendapat pendapat tentang hal ini. Ibnu Qayim al-jauziyah menuturkan, bahwa hari yang terbaik adalah 10 hari awal di bulan Dzul Hijjah dan 10 malam yang terbaik adalah 10 malam di bulan Ramadhan.

Di sisi lain, pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan terdapat 1 malam yang paling baik dari malam-malam yang lain, yakni malam lailatul qadr. Adapun pada 10 hari di awal bulan Dzul Hijjah terdapat siang yang paling utama, yakni siang hari Arafah.

 

Maasyiral Muslimin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Sebagai Seorang muslim hendaknya bersemangat, memacu dirinya, untuk melakukan amal shaleh di 10 hari awal bulan Dzul Hijjah. Mengagungkan perintah-perintah Allah dan menjaganya dengan perhatian yang penuh. Jangan sampai ia lewatkan masa-masa utama dan penuh berkah ini berlalu sia-sia begitu saja.

Ada sebuah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memotivasi kita untuk giat beramal shaleh di 10 hari awal bulan Dzul Hijjah ini. Dalam hadits tersebut beliau menjelaskan tentang betapa besarnya pahala yang dilakukan di saat-saat tersebut. Dari Abdullah bin Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ – يَعْنِي الْعَشْرِ الأول من ذي الحجة – قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

 

Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu: Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya: Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?. Beliau menjawab: Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”. (HR. Abu Daud: 2438 dan Ibnu Majah: 1727).

Dalam hadits ini Rasulullah menjelaskan, bahwa amalan apapun itu yang dilakukan di awal bulan dzulhijjah lebih dicintai oleh Allah Ta’ala. Bahkan karena herannya ada sahabat yang menegaskan dengan pertanyaan yang membandingkan dengan pahala berjihad di jalan Allah. Rasulullah pun menjawab, hal tersebut dapat tertandingi jika seseorang berjihad kemudian tidak kembali ke rumah kecuali namanya. Artinya dia gugur menemui kesyahidan di jalan Allah.

 

Maasyiral Muslimin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi, “Tidak ada hari dimana amal shalih” sifatnya umum mencakup seluruh amalan shaleh apa saja. Tidak ada penekanan amalan tertentu. Karena itu, seorang hamba hendaknya perhatian terhadap 10 hari ini, mengisinya dengan amalan apa saja yang bisa mensucikan dirinya dan merupakan ketaatan kepada Allah. Baik berupa amalan yang bersifat pribadi atau pun amalan yang bersifat sosial.

Amalan yang bersifat pribadi misalkan dengan menjaga bentuk amalah fardhu yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala bagi hamba-hambaNya. Bukankah itu amalan yang lebih dicintai oleh Allah Ta’ala. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,

 

مَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

 

Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal shaleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam), dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal tambahan (yang dianjurkan dalam Islam) sehingga Aku-pun mencintainya. Lalu jika Aku telah mencintai seorang hamba-Ku, maka Aku akan selalu membimbingnya dalam pendengarannya, membimbingnya dalam penglihatannya, menuntunnya dalam perbuatan tangannya dan meluruskannya dalam langkah kakinya. Jika dia memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan berikan perlindungan kepadanya.” (HR. Bukhari).

Satu hal penting yang patut diperhatikan dari hadits qudsi ini, bahwa amalan-amalan sunnah yang dilakukan oleh seorang muslim, itu akan memiliki nilai lebih sehingga mampu mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala, menjadikannya sebagai hamba yang dicintai oleh Allah Ta’ala ketika amalan-amalan fardhu yang ada sudah dia kerjakan. Kalau boleh diibaratkan amalan wajib itu seperti kapak, dan amalan sunah itu seperti jarum. Jangan sampai seseorang sibuk mencari jarum, sementara kapak dia telantarkan. Jangan sampai disibukkan dengan amalan sunah, sementara yang wajib dia sia-siakan.

 

Maasyiral Muslimin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Bentuk amal yang bersifat pribadi lainnya adalah bersegera dan bersemangat datang ke masjid menjawab panggilan adzan. Dengan berwudhu sebelum ke masjid, menunggu waktu shalat sembari membaca quran dan berzikir. Barang kali bisa kita target dalam 10 hari di awal bulan dzulhijjah nanti dapat mengkhatamkan minimal 1 kali, kalau bisa lebih dari itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan hal ini dengan sabdanya yang diriwayatkan dari Ibnu Umar,

فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

Perbanyaklah dengan ucapan tahlil, takbir, dan tahmid di hari-hari tersebut.” (HR. Ahmad, 5446).

Amalan pribadi lain yang seyogyanya dilakukan guna memenuhi hari-hari tersebut dengan amalah shalih adalah dengan berpuasa. Artinya tidak hanya mengkhususkan pada tanggal 9 dzulhijjah saja. Barangkali ada yang berpendapat bahwa yang disunahkan adalah pada tanggal 9 dzulhijjah saja, karena ada hadits dari Aisyah bahwa beliau tidak melihat Rasulullah Shiyam pada 10 awal bulan dzulhijjah.

Yang benar, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi hadits tersebut tidak mengandung larangan, justru shiyam pada hari-hari sebelum hari arafah itu disunahkan. Sedangkan hadits tersebut maksudnya adalah ketika Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam sedang ada uzur. Dan selain itu, tidak ada nash yang menunjukkan larangan berpuasa di 10 awal bulan dzulhijjah. Dipertegas juga dengan hadits lain tentang keutamaan berpuasa, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili Radhiallahu ‘anhu,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِى بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِى الْجَنَّةَ. قَال: عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لاَ مِثْلَ لَهُ

Aku bertanya, Ya Rasulullah, perintahkan kepadaku suatu perintah yang dengannya Allah memberiku manfaat, Jawab beliau, “Hendaknya engkau berpuasa, karena tidak ada yang semisal dengannya.” (HR. An-Nasai, 2221).

Shiyam adalah ibadah yang sangat privasi, sehingga Allah Ta’ala sendiri yang akan memberi pahalanya. Dengannya kejujuran seseorang teruji, dengannya kepedulian kepada yang lain terasah dan dengannya keimanan seorang hamba terbukti.

 

Maasyiral Muslimin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Bentuk amal shalih berikutnya adalah yang bersifat sosial. Bukankah Islam mengajarkan kepada tiap muslim untuk menyambung silaturahim, birrul walidain, amar ma’ruf nahi munkar, bershadaqah dan seabrek amalan shalih yang bersifat sosial lainnya.

Dari sekian banyak amal salih yang bersifat sosial, barangkali saat ini yang paling banyak dibutuhkan adalah shadaqah. Apalagi beberapa saat yang lalu ada sebagian saudara-saudara kita yang terkena musibah gempa bumi. Bantuan dari kita sangat dibutuhkan, baik berupa sandang, pangan, papan, obat-obatan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Minimal jika kita belum diberi keluasan rizki untuk berbagi harta paling tidak kita mendoakan mereka agar diberi ketabahan, kemudahan dan jalan keluar dari kesulitan yang sedang dihadapi.

 

Maasyiral Muslimin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Amalan lain yang bersifat sosial, yang bisa kita lakukan, bahkan inilah ibadah utama di bulan dzulhijjah, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam,

مَا عَمِلَ آدَمِىٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا

“Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (udhiyah), ia (hewan udhiyah itu) akan datang dihari kiamat dengan tanduk, rambut dan kuku-kukunya (HR. Tirmidzi, 1493. Dan haditnya dhaif menurut syaikh Albani).

Hadits ini menunjukkan diantara keutamaan dari berudhiyah. Terlepas dari kedhaifan hadits tersebut, kerelaan untuk berudhiyah menunjukkan kecintaan seorang muslim kepada Rabbnya, meskipun dengan berudhiyah itu dia harus berhutang. Tentunya dengan keyakinan dapat mengembalikan utangnya, sebagaimana diungkapkan oleh para ahli fiqih dari madzhab hambali.

Selain itu, dengan berudhiyah seseorang telah menyemarakkan syiar islam, menunjukkan kepedulian kepada sesama, menepis sifat keegosian dalam diri dan meneladani Nabi Ibrahim Alaihis Salam. Dan bagi mereka yang hendak berudhiyah, jangan sampai lupa dengn tuntunan dari Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

Jika kalian melihat hilal Dzulhijjah (masuk tanggal 1 Dzulhijjah) dan kalian ingin berqurban, maka janganlah memotong rambut dan kuku.” (HR. Muslim, 1977).

Ada riwayat yang lafalnya disampaikan dalam bentuk menahan diri, ada juga yang bentuknya larangan memotong rambut dan kuku. Sebuah larangan dapat dipahami maknanya menunjukkan keharaman dan sebuah perintah menunjukkan kewajiban. Karena itu, barangsiapa yang ingin menyembelih hewan kurban, tidak boleh baginya memotong rambut dan kuku ketika sudah masuk bulan DzulHijjah hingga hari kesepuluh.

Hukum ini khusus bagi mereka yang hendak berkurban saja. Adapun istri dan anak-anaknya atau orang-orang yang ia tanggung dan dimasukkan dalam kurban, maka tidak terkena kewajiban demikian. Para ulama mengatakan tentang hikmah dari syariat ini. Bagi kaum muslimin yang berhaji maupun yang tidak, tetap dalam keadaan senantiasa mengagungkan syiar-syiar Allah yang direfleksikan melalui ketaatan kepada Allah Ta’ala. Sambil berharap pahala yang ada di sisi-Nya dan takut akan adzab-Nya,

ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32).

Semoga Allah memudahkan kita untuk mengisi hari-hari di awal bulan dhulhijah dengan amal shalih, dan melonggarkan rizki kita dan hati kita untuk bisa berudhiyah tahun ini.

 

بَارَكَ اللهُ لِي وَ لَكُمْ فِي القُرْآنِ الكَرِيْمِ وَنَفَعْنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ. أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

 

Maasyiral Muslimin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Barang kali diantara kita pernah mendengar, ada yang berpendapat bahwa ibadah udhiyah itu kejam, karena membantai makhluk hidup secara serempak di seluruh dunia. Sehingga menimbulkan anggapan bahwa umat islam itu kejam.

Perlu kita pahami, bahwa berdasarkan nash syar’i, Allah Ta’ala telah memerintahkan umat islam untuk memakan yang baik dan halal. Termasuk diantaranya adalah hewan, yang dicipta untuk dimanfaatkan manusia. Diantara ayat yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah Ta’ala dalam surat Al-maidah ayat 1

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya“.

Selanjutnya perlu diketahui, bahwa daging hewan udhiyah yang disembelih dalam rangka bertaqarub kepada Allah, akan dimanfaatkan oleh shahibul udhiyah. Baik dia mengambil sebagian untuk dirinya dan keluarganya, atau dia sedekahkan semuanya untuk orang lain. Artinya hewan itu tidak disia-siakan, tetapi dimanfaatkan.

Kemudian, maslahat yang timbul dari penyembelihan hewan udhiyah lebih banyak dari madharatnya. Madharat bagi shahibul udhiyah adalah kehilangan harta. Namun dengan itu, ia mendapat maslahat di akhirat begitu juga di dunia dengan protein hewani yang dia konsumsi.

Maslahat yang lain adalah manfaat yang dirasakan oleh masyarakat yang tidak setiap waktu dapat merasakan nikmatnya daging sapi atau kambing. Yang pasti maslahat akhirat itulah tujuan utama seorang muslim, sementara maslahat di dunia hanyalah tambahan yang tak selalu ada.

Berikutnya, dari tinjauan logika. Di dalam daging terdapat vitamin dan protein lengkap yang hanya terdapat pada daging. Dan tubuh manusia membutuhkan 23 asam amino esensial yang tidak semua dihasilkan tubuh, tetapi terdapat pada daging.

Lebih lanjut lagi, bentuk gigi hewan ada yang rata semua termasuk herbivora, atau runcing semua yang menunjukkan bahwa hewan itu termasuk karnivora. Sementara manusia adalah omnivora yang memiliki gigi rata dan runcing, perpaduan antara herbivora dan karnivora.

 

Maasyiral Muslimin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Pertanyaan yang timbul, jika Allah Ta’ala menghendaki kita makan sayuran saja kenapa kita diberi gigi taring? jika Allah Ta’ala menghendaki kita makan daging saja kenapa kita diberi gigi yang rata? pasti ada maksudnya disana.

Mungkin bisa kita bandingkan, Jika membunuh hewan adalah dosa maka membunuh tumbuhan juga dosa. Jika alasannya karena tumbuhan tidak merasakan sakit, itu menurut indera kita. Padahal sebenarnya tumbuhan itu juga merasa sakit.

Perbandingan yang lain, membunuh manusia yang inderanya kurang mungkin dianggap tidak manusiawi karena kekurangan inderanya. Tentunya membunuh tumbuhan lebih kejam dari pada membunuh hewan karena indera tumbuhan tak selengkap indera hewan. Maka tidak selayaknya berudhiyah dianggap sebagai pembantaian atau ibadah yang kejam.

Semoga Allah Ta’ala selalu menuntun kita untuk bisa memahami dan mengamalkan syariat Islam dengan baik dan benar sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Marilah kita tutup dengan doa,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا))

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّيْنِ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُوْرِهِمْ. اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ وَأَعِنْهُ عَلَى طَاعَتِكَ وَارْزُقْهُ البِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِكُلِّ قَوْلٍ سَدِيْدٍ وَعَمَلٍ رَشِيْدٍ.

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، اَللَّهُمَّ اهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا وَأَمْوَالِنَا وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مُوْجَبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَشُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْباً سَلِيْماً وَلِسَاناً صَادِقاً، وَنَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَنَسْتَغْفِرُكَ اللَّهُمَّ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الغُيُوْبِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ وَأَنْعَمَ عَلَى عَبْدِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ