Adab Menyikapi Perbedaan Ijtihadiyah dalam Harokah Islamiyah

share on:
Pemimpin

Istidlal.org – Banyak kaidah dalam Fikih Khilaf. Salah satu kaidah yang sangat penting untuk dipahami dan diamalkan, terutama oleh para aktivis harakah Islamiyah, adalah kaidah berbeda pendapat dalam Jamaah. Ini sangat penting dan mendasar karena berhubungan langsung dengan kesatuan jamaah. Tidak paham masalah ini bisa berujung pada pecahnya sebuah jamaah. Wal ‘iyadzu billah.

Dalam sebuah Jamaah, tentu ada pemimpin dan anggota. Ada hak dan kewajiban yang telah diatur dalam Islam tentang hubungan di antara keduanya. Ada adab yang harus ditegakkan dalam interaksi antara pemimpin dan anggotanya. Salah satu adab yang harus dijaga adalah adab berbeda pendapat dengan pimpinan dalam masalah ijtihadi.

Untuk memahami kaidah berbeda pendapat dengan pemimpin harokah, maka ada baiknya kita menyimak beberapa dalil di bawah:

  1. Di antara maqashid syar’iyyah terpenting adalah bersepakat dan tidak boleh berselisih.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah.” (QS. Ali Imran: 103)

Apa pun yang bisa menguatkan barisan kaum muslimin dan tidak mengakibatkan pelanggaran syariat maka hal itu harus dilakukan.

  1. Telah shahih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa dia menyalahkan Utsman radhiyallahu ‘anhu mengenai shalatnya di Mina empat rekaat, namun Ibnu Mas’ud tetap shalat bersamanya. Kemudian dia ditanya tentang sikapnya itu, maka dia menjawab, “khilaf (Menyelisihi) itu buruk.” (Al-Umm, 1/208)

Imam Abu Dawud menyebutkan sebuah atsar dimana ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu shalat di Mina empat rakaat dengan ijtihad beliau. Lalu Abdullah bin Mas’ud berkata, “Aku shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (di Mina) dua rakaat, dan bersama Abu Bakar dua rakaat, dan bersama Umar dua rakaat,” yaitu dengan mengqashar shalat empat rakaat.

Akan tetapi ketika beliau shalat di belakang ‘Utsman beliau shalat empat rakaat, maka beliau ditanya, kenapa melakukan demikian? Maka beliau menjawab, “Khilaf (menyelisihi) itu buruk.” (HR. Abu Dawud di dalam Sunannya, no: 1960, 1/602)

  1. Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Al-Fatawa Al-Kubra (2/182).

“Seseorang juga boleh meninggalkan perkara yang lebih utama dengan tujuan ta’liful qulub dan menyatukan pandangan kaum muslimin karena khawatir akan membuat mereka menjauh dari perkara yang bermanfaat, seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  meninggalkan pembangunan Ka’bah di atas pondasi Ibrahim karena orang-orang Quraisy belum lama masuk Islam, khawatir hal itu akan membuat mereka menjauh. Dan melihat bahwa maslahat persatuan dan kesatuan hati lebih diutamakan daripada masalah pembangunan di atas fondasi Ibrahim.

Ketika Ibnu Mas’ud shalat secara sempurna (tidak diqashar) di belakang Utsman kemudian dia mengingkari Utsman, maka ditanyakan kepadanya tentang hal itu, dia berkata, “Khilaf (menyelisihi) itu buruk.”

Oleh karena itu, para Imam seperti Ahmad dan yang lainnya telah menetapkan dengan dasar itu terhadap masalah basmalah, menyambung witir, dan perkara lainnya yang di dalamnya ada peralihan dari perkara yang lebih utama (afdhal) menuju perkara yang jaiz hukumnya namun kurang utama (al-jaiz al-mafdhul) demi menjaga kesatuan para makmum atau mengenalkan sunnah kepada mereka dan yang semisalnya.” (Al-Fatawa Al-Kubra, 2/182).

Ada sejumlah riwayat yang menjelaskan alasan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengambil kebijakan shalat secara sempurna di Mina pada waktu haji. Yang paling kuat menurut Ibnu Bathal adalah riwayat dari Ath-Thahawy dari Az-Zuhry yang berkata, “Utsman bin Affan melaksanakan shalat empat rakaat di Mina karena pada tahun itu orang-orang Arab Badui (pedalaman) semakin bertambah banyak dan Utsman ingin mengajarkan shalat yang empat rakaat.”

Muhammad bin Sirrin berkata, “Pada waktu itu, Utsman bin Affan adalah orang yang paling alim tentang manasik haji, kemudian Ibnu Umar. (Ath-Thabaqatul Kubra, Ibnu Sa’ad, 3/60 dengan sanad yang shahih. Lihat: Al-Bidayah wa Nihayah Masa Khulafaur Rasyidin Ibnu Katsir, Darul Haq, Februari 2004, Footnote no. 73 hal 353)

Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah memberikan ulasan yang menarik terkait sikap Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu di atas. Beliau berkata:

“Ibnu Mas’ud mengetahui bahwa yang disunnahkan adalah Qashar sedangkan itmam (menyempurnakan jumlah rakaat) hukumya diperbolehkan. Meski demikian ketika dia melihat Amirul Mukminin Utsman bin Affan melakukan shalat dengan sempurna maka  ia shalat secara sempurna bersamanya.

Ibnu mas’ud tidak menyingkir dari Amir, tidak menghasut manusia untuk menjauhi Utsman bahkan mengajak shalat di belakangnya dan menyempurnakan shalat bersamanya. Ini karena dia mengetahui bahaya menyelisihi waliyul amri dan kerusakan luas yang terjadi akibat menyelisihi waliyul amri…

Dia berpegang dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Siapa yang menaatiku maka sungguh telah menaati Allah. Siapa yang mendurhakaiku maka sungguh telah durhaka kepada Allah, siapa yang menaati amir sungguh ia telah menaatiku dan siapa yang durhaka kepada amir maka sungguh telah durhaka kepadaku.” (HR. Al-Bukhari & Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Nash-nash ini dan banyak yang lainnya menunjukkan atas wajibnya mendengar dan taat kepada waliyul amri dalam hal selain maksiat. Ini merupakan salah satu prinsip yang kokoh dalam akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Sebaliknya, nabi telah memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan, menghasut manusia dan melepas tangan ketaatan serta mengancam orang yang melakukan hal itu… (Majalatul Buhuts Al-Islamiyah, No. 69, Edisi Rabiul Awal-Jumada Tsaniyah 1424 H, Hal. 329-334)

Sebagian kalangan mungkin mengatakan bahwa hari ini tidak ada khilafah. Yang ada hanyalah Jamaah minal muslimin/Harakah Islamiyah. Mereka berpandangan bahwa menyelisihi kebijakan Amir Jamaah minal muslimin dalam masalah ijtihadi itu tidak ada masalah. Tidak menaati kebijakan Amir—dalam ranah ijtihadi—bukan tindakan tidak beradab kepada Amir. Ini jelas kesimpulan yang keliru. Menaati pilihan ijtihad yang menjadi kebijakan Imam kaum muslimin bahkan hingga imam shalat sekalipun, merupakan hal yang disyariatkan berdasarkan ijmak.

Imam Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafy rahimahullah dalam kitabnya Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah  berkata:

وقد دلت نصوص الكتاب والسنة وإجماع سلف الأمة أن ولي الأمر وإمام الصلاة والحاكم وأمير الحرب وعامل الصدقة يطاع في مواضع الاجتهاد وليس عليه أن يطيع أتباعه في موارد الاجتهاد بل عليهم طاعته في ذلك وترك رأيهم لرأيه فإن مصلحة الجماعة والائتلاف ومفسدة الفرقة والاختلاف أعظم من أمر المسائل الجزئية

“Sungguh dalil-dalil dari kitab dan sunnah serta ijmak para salaful ummah menunjukkan bahwa penguasa (waliyul amri), imam shalat, hakim, panglima perang dan pengurus zakat ditaati dalam perkara-perkara ijtihad. Mereka tidak berkewajiban menaati para pengikutnya dalam perkara-perkara ijtihad, tetapi para pengikutlah yang harus menaatinya dalam masalah-masalah tersebut dan mereka tinggalkan pendapatnya untuk mengikuti pendapat para pemimpin tersebut, karena maslahat jamaah dan persatuan serta bahayanya perpecahan dan ikhtilaf adalah lebih besar dari perkara masalah-masalah juz’iyyah.” (Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah, 422 di dalam Al-Mujaz fi Ahkamil Imarah, Syaikh Harits bin Ghazy An-Nazhary, 23).

Syaikh Harits bin Ghazy An Nazhary rahimahullah, menegaskan bahwa ketaatan kepada Imam Jamaatul Muslimin atau Khalifah dan kepada Amir Jamaah minal Muslimin/Harakah Islamiyah, itu tidak ada perbedaan, selama dalam hal makruf, termasuk di dalamnya masalah ijtihadi.

Dalam Bab Ahkamul Imarah al-Khashah (Imarah Jamaah-Jamaah Islam) , Syaikh Harits An Nazhary rahimahullah menerangkan tentang Bab Hak-Hak Pemimpin pada Sub Bab Mendengar dan Taat kepada Pemimpin Jamaah. Yang termasuk dalam ketaatan kepada Amir di antaranya adalah: Mengikuti pendapat Amir dalam perkara-perkara Ijtihadi. Seperti mengqashar shalat atau menyempurnakannya, menjamak shalat atau tidak, apabila Amir tidak menguasai fikih dalam perkara yang dia mengalami kesulitan maka dia harus bertanya kepada ahlul ilmi yang bersamanya yang paling utama.

Menurut Syaikh Harits An-Nazhary, dalil yang mengarahkan untuk merujuk kepada pendapat Amir dalam masalah ini adalah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil amri dari kalian…” (QS. An-Nisa: 59)

Kemudian Syaikh Harits An-Nazhary menyebutkan hadits shahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim tentang sikap Abdullah bin Mas’ud terhadap Utsman bin Affan dalam masalah shalat di Mina. Juga menukil perkataan Ibnu Hajar mengenai perkara tersebut. (Al-Mujaz fi Ahkamil Imarah, 44)

Ada sejumlah tugas utama  Amir sebuah Jamaah Islam. Salah satunya adalah menjaga kesatuan Jamaah. Ada lima hal yang perlu dilakukan oleh Amir Jamaah Islam untuk menjaga kesatuan jamaah (Al-Mujaz fi Ahkamil Imarah, 46). Salah satu di antaranya adalah perkara-perkara khilafiyah dikembalikan kepada Amir dan para ahli ilmu yang bersamanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)…” (QS. An Nisa’: 83).

Dari uraian di atas menjadi jelas hubungan antara kesatuan sebuah Jamaah dengan perlunya para anggota jamaah itu mengikuti kebijakan pimpinannya dalam masalah ijtihadi. Di masa ketika Khilafah Islamiyah tegak dan berkuasa di belahan bumi yang luas, memiliki kekuatan militer, dan ekonomi yang kuat, pengaruh politik yang besar sehingga Islam menjadi kekuatan yang memiliki hegemoni di dunia saat itu, semangat para shahabat  untuk menjaga persatuan sedemikian kuatnya.

Mereka menutup setiap celah perpecahan, walaupun kesannya ‘hanya’ berupa menyelisihi cara khalifah shalat di Mina waktu Haji. Namun jika itu dilakukan akan menimbulkan dampak yang besar bila diinisiasi oleh seorang tokoh sekaliber Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu Ini menjadi pelajaran besar bagi kita, terutama para aktivis gerakan Islam pada masa kini.

Kita hidup di masa ajaran Islam itu begitu asing di tengah umatnya, kaum muslimin tertindas di berbagai belahan dunia. Darah, harta dan nyawanya tidak berharga, tidak memiliki kekuatan yang memadai baik politik, ekonomi maupun militer untuk melindungi umatnya dan wilayahnya dari segala mara bahaya. Kaum muslimin disekat-sekat oleh garis perbatasan negara, dikotak-kotak oleh partai politik, jamaah dan organisasi dengan berbagai aliran pemahaman dan ideologi.

Dalam kondisi istidh’af semacam ini, mengambil sikap dan tindakan yang menimbulkan friksi internal di Jamaah Islam yang bercita-cita untuk mengembalikan Khilafah Islamiyah adalah tindakan yang kontra produktif. Di antara tindakan yang menimbulkan friksi internal dalam tubuh sebuah Jamaah adalah bila masing-masing anggota Jamaah, apalagi tokoh-tokohnya, merasa memiliki kebebasan yang sah secara syar’i untuk menyelisihi kebijakan pimpinannya dalam masalah ijtihadiyah. Friksi internal yang tajam dan terus berulang bisa mengantarkan kepada perpecahan Jamaah. Wal iyadzu billah.

Dalam konteks Jamaah minal muslimin, mengabaikan adab khilaf dalam kehidupan berjamaah hanya akan melemahkan langkah, menurunkan tsiqah anggota kepada pimpinannya, melemahkan soliditas Jamaah dan membuahkan ketidakstabilan pelaksanaan strategi perjuangan. Semua ini kontra produktif dengan upaya Jamaah Islam untuk menghilangkan kondisi Istidh’af dan mengembalikan kejayaan Islam dan kaum muslimin di muka bumi.

Marilah kita pegang teguh adab khilaf dalam kehidupan berjamaah demi terpeliharanya persatuan dalam Jamaah. Ini semua tentu berangkat dari kesadaran bahwa kita berada dalam kondisi Istidh’af. Kondisi istidh’af lebih menuntut kita untuk menutup setiap celah  perselisihan pandangan yang akan berujung kepada perpecahan. Sementara perpecahan itu hanya membuahkan kelemahan. Sekian. Semoga bermanfaat.

Apabila ada kebenaran, itu rahmat dari Allah ‘Azza wa Jalla semata. Bila ada kesalahan dan penyimpangan maka itu dari kami dan dari setan. Allah dan Rasul-Nya berlepas diri darinya. (Ibnu Ahmad/istidlal.org)

share on: