Akhir Nasib Penguasa Tiran Sungguh Mengenaskan!

share on:
Akhir Nasib Penguasa Tiran Sungguh Mengenaskan-istdlal.org

Penguasa tiran. Dahulu, dalam mitologi Yunani, kata tiran adalah kata yang positif. Sekarang kata ini dikaitkan dengan penguasa tunggal yang memerintah secara brutal dan menempatkan diri dan golongannya di atas kepentingan rakyat banyak.Wikipedia

Sunnah Allah Ta’ala di dunia ini tidak bisa dihentikan atau diganti oleh siapa pun. Sekuat apa pun seseorang tidak akan mampu mengubah ketentuan dan ketetapan Rabb semesta alam.

سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

“Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.” (QS. Al-Ahzab: 62)

Salah satu sunah-Nya adalah membalas segala kebaikan dengan kebaikan yang serupa, dan membalas segala keburukan dengan keburukan yang setara.

AlJaza’ min jinsil ‘amal, balasan sesuai jenis perbuatan.

Dan ini berlaku untuk semua makhluknya, termasuk manusia-manusia yang menjadi penguasa di muka bumi.

 

Penguasa Tiran Membuat Rakyat Resah dan Tidak Tenteram

Kekuasaan merupakan amanah yang besar. Ketika seorang penguasa berbuat zalim dan berbuat tiran, semena-mena kepada rakyatnya, sunnah Allah ‘Azza wa Jalla pasti akan berlaku padanya.

Tidak seorang rakyat pun merasa tenteram di bawah kekuasaan seorang penguasa tiran. Penguasa tiran adalah penguasa yang lalim dan sewenang-wenang (biasanya memperoleh kekuasaan dengan jalan kekerasan).

Merujuk pada keterangan al-Quran, setiap orang yang melakukan tindakan tiran dan zalim akan disiksa dengan siksaan yang pedih.

إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya, dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak, mereka itu mendapat azab yang pedih.” (QS. Asy-Syura: 42)

Baca juga: Ngaji Demokrasi dari Definisi Hingga Posisi

Dalam hadits ditegaskan bahwa para penguasa zalim dan para penguasa tiran yang menipu rakyat dengan janji-janji palsunya, diharamkan baginya surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنِ اسْتَرْعَاهُ اللهُ رَعِيَّةً ثُمَّ لَمْ يُحِطْهَا بِنُصْحٍ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الجَنَّةَ. متفق عليه. وفي لفظ: يَمُوتُ حِينَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاسِ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ.

Barang siapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam lafal yang lain disebutkan, “Ia mati di mana ketika matinya itu ia dalam keadaan menipu rakyatnya, maka Allah haramkan baginya surga.”

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kesusahan bagi para penguasa zalim dan penguasa tiran penindas rakyat.

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ هَذِهِ أُمَّتِي شَيْئاً فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ. وَمَنْ شَقَّ عَلَيْهَا فَاشْفُقْ عَلَيْهِ

Ya Allah, siapa saja yang mengurus urusan umatku ini, yang kemudian ia menyayangi mereka, maka sayangilah ia. Dan siapa saja yang menyusahkan mereka, maka susahkanlah ia.” (HR. Muslim)

 

Akhir Nasib Firaun, si Penguasa Tiran nan Zalim

Selain itu, di dalam al-Quran kita bisa menemukan bagaimana akhir seorang penguasa tiran dengan peradaban yang megah dan kekuasaan besar, Firaun. Kekejaman Firaun mungkin bila dirasakan di waktu sekarang sangat lah mengerikan.

Demi menjaga kekuasaannya, dia tega membantai bayi laki-laki bani Israil hanya karena sebuah ramalan. Ramalan yang menyatakan bahwa akan ada anak bani Israil yang menggulingkan kekuasaannya.

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

“Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashas: 4)

Baca juga: Sunnatullah Para Pengusa Kebatilan dan Tiran

Firaun juga memperbudak bani Israil, menuhankan dirinya, melestarikan sihir dan perdukunan juga ragam kemaksiatan lain. Dan kejahatan terbesarnya adalah menolak mentah-mentah ajaran Nabi Musa ‘alaihissalam.

Bahkan, dia berani mempermainkan Nabi Musa dengan menyatakan akan beriman jika azab-azab Allah ‘Azza wa Jalla berupa munculnya wabah dan hewan-hewan dihilangkan. Namun tatkala wabah tersebut hilang, dia tak memenuhi janjinya.

Dan akhirnya, saat Nabi Musa membawa pergi bani Israil dari Mesir, Firaun mengejar dan akhirnya ditenggelamkan di laut merah beserta bala tentaranya.

Saat maut mendekat, Firaun mencoba bertobat dan berkata bahwa dia beriman. Namun keadilan Allah membuat tobatnya tak diterima. Tobat yang terlambat dari seorang penguasa tiran, penguasa zalim, karena maut telah sampai di tenggorokan.

 

آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ، فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ، وَلَقَدْ بَوَّأْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ مُبَوَّأَ صِدْقٍ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ فَمَا اخْتَلَفُوا حَتَّىٰ جَاءَهُمُ الْعِلْمُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan, Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudah kamu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami, Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus dan kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat). Sesungguhnya Tuhan kamu akan memutuskan antara mereka di hari kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan itu.” (QS. Yunus: 91-93)

Itulah akhir dari seorang penguasa tiran. Nasibnya sama dengan umat-umat lainnya yang ingkar kepada Allah:

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَعَادٌ وَفِرْعَوْنُ ذُو الْأَوْتَادِ، وَثَمُودُ وَقَوْمُ لُوطٍ وَأَصْحَابُ الْأَيْكَةِ ۚ أُولَٰئِكَ الْأَحْزَابُ، إِنْ كُلٌّ إِلَّا كَذَّبَ الرُّسُلَ فَحَقَّ عِقَابِ

Telah mendustakan (rasul-rasul pula) sebelum mereka itu kaum Nuh, ‘Aad, Firaun yang mempunyai tentara yang banyak, dan Tsamud, kaum Luth dan penduduk Aikah. Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu (menentang rasul-rasul). Semua mereka itu tidak lain hanyalah mendustakan rasul-rasul, maka pastilah (bagi mereka) azab-Ku. (QS. Shad: 12-14)

Baca juga: Kenapa Harus Bersyariat Dalam Lingkup Negara?

Sungguh suatu peringatan yang nyata bagi seorang pemimpin dan penguasa. Wahai para penguasa tiran, wahai para pemimpin  zalim, apakah engkau baru akan tobat ketika azab sudah di depan mata?

Apakah engkau baru akan menyesali semuanya ketika malaikat maut telah berdiri di hadapanmu?

Padahal saat itu, tidak akan berguna segala bentuk penyesalan.

Renungkanlah wahai para pemimpin, janganlah sampai engkau menyesal nanti! (Hanafi/istidlal.org)

share on: