Atas Nama HTI, Identitas Umat Islam Dizalimi

share on:
Bendera Tauhid

Istidlal.org -Insiden pembakaran bendera tauhid oleh oknum Banser membuat umat Islam marah. Namun, alih-alih meminta maaf, Banser dan pemerintah sepakat mengatakan bahwa yang dibakar itu adalah bendera HTI. Dengan alasan melindungi NKRI. Padahal identitas tauhid, bukan hanya milik HTI semata, namun milik seluruh umat Islam dunia.

Menarik dengan apa yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani bahwa masalah perubahan warna bendera dan tulisan dalam riwayat adalah masalah hakekat ‘urfiyah yang maklum adanya.

Di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Royah dan liwa` secara ‘urf fungsi dan tujuannya hanya untuk perang, dan bukan menjadi simbol sacral identitas bangsa dan negara, maka warna dan tulisan di waktu itu bisa berubah-rubah seiring dengan kepentingan dan kebutuhan dalam perang.

Sementara ‘urf Royah (bendera) sekarang sudah sangat berbeda, fungsi bendera sudah berubah menjadi simbol sakral nasionalisme dan kebangsaan, dimana bentuk, lambang, warna, dan tulisan yang tertuang di dalamnya mengisyaratkan ideologi atau falsafah Negara yang harus dijunjung tinggi oleh bangsa itu sendiri.

Jika demikian, tentu masalah bagi identitas Islam itu sendiri. Karena Islam tidak menjadikan identitas dan loyalitas seseorang pada bangsa dan Negara di mana dia berada. Justru, identitas yang dibangun karena nasionalisme dan kebangsaan dapat mengaburkan banyak prinsip besar Islam. Seperti prinsip tauhid yang menjadikan Allah sebagai Ilah satu-satunya yang wajib diibadahi yang konsekuensinya menjadikan Syariat Allah dan Rasul-Nya sebagai sistem dan domain sentral yang mengatur tata kelola dunia,  kemudian mengkaburkan prinsip wala dan baro yang dibangun karena iman dan prinsip Islam sebagai umat yang satu tanpa mengenal suku dan tapal batas wilayah.

Selain daripada itu, jika umat Islam secara ‘urf sekarang harus memiliki bendera yang menunjukkan identitas dan loyalitasnya maka bendera yang bertuliskan “Laailaahaillallah dan Muhammadun Rasulullah” adalah bendera yang paling layak dijadikan sebagai identitas.

Alasannya, jika bendera dianggap sebagai ‘urf yang baru dilihat dari fungsi dan tujuannya sekarang, maka kita bisa memotret para Sahabat radhiyallahu anhum ajma’in ketika menyelesaikan permasalahan baru yang belum pernah terjadi di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Dan mencontoh Sahabat radhiyallahu anhum ajma’in adalah pilihan sikap yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيْغُ عَنْهَا بَعْدِيْ إِلَّا هَالِكٌ وَمَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرى اخْتِلَافًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِمَا عَرَفْتُمْ مِنْ سُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْن

“Aku sudah meninggalkan kalian di atas (petunjuk) sangat terang, malamnya seperti siangnya, tidak ada seorangpun yang melenceng darinya kecuali dia sendiri yang celaka dan siapa saja diantara kalian yang masih hidup (nanti) akan melihat banyak sekali perselisihan, maka hendaklah kalian berpegang dengan apa yang kalian ketahui dari sunnahku dan sunnah para khulafa’ rasyidin. [HR Ahmad, Musnad Ahmad 4/126 hadits, No.17182]

Di antara contoh amal Khulafa’ Rasyidin yang bisa kita ambil faedahnya dalam hal ini adalah cerita Ibnu Hajar Al-Asqalani tentang kronologi penanggalan Hijriyah, dia menyebutkan sebagai berikut:

أن أبا موسى كتب إلى عمر أنه يأتينا منك كتب ليس لها تاريخ فجمع عمر الناس فقال بعضهم ارخ بالمبعث وبعضهم ارخ بالهجرة فقال عمر الهجرة فرقت بين الحق والباطل فأرخوا بها وذلك سنة سبع عشرة فلما اتفقوا قال بعضهم ابدءوا برمضان فقال عمر بل بالمحرم فإنه منصرف الناس من حجهم فاتفقوا عليه

Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallallahu Anhu mengirimkan surat kepada Umar Radhiyallahu Anhu, (yang isinya): datang kepadaku surat darimu yang tidak ada penanggalannya, maka Umar Radhiyallahu Anhu mengumpulkan orang-orang (untuk musyawarah), ada yang berpendapat buatlah penanggalan dari sejak diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, adapula yang berpendapat; tetapkan dari sejak hijrahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Umar berkata: hijrah memisahkan antara haq dengan batil maka tetapkan penanggalan dengan hijriyah, dan itu pada tahun ke-17 hijriyah, dan ketika mereka sudah sepakat dengan hal itu, ada yang berpendapat, mulailah dari bulan Ramadhan, Umar berkata : justeru mulailah dari Muharram, karena itu adalah bulan orang-orang sudah selesai melaksanakan ibadah haji, akhirnya mereka sepakat [Fath Al-bari, 7/268]

Oleh karena itu disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ مَا عَدُّوا مِنْ مَبْعَثِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، وَلاَ مِنْ وَفَاتِهِ مَا عَدُّوا إِلاَّ مِنْ مَقْدَمِهِ الْمَدِينَة.

Dari Sahal bin Sa’ad berkata: mereka tidak menghitung (penanggalan Islam) dari diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak pula dari wafatnya, akan tetapi mereka menghitungnya dari kedatangan (hijrah) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah. [HR. Al-Bukhari, hadits, No. 3934]

Dari riwayat di atas, ketika para sahabat merumuskan kalender (penanggalan)—yang dianggap sebagai ‘urf baru di masa itu—mereka senantiasa mengoneksikan dengan prinsip Islam, sama halnya dengan bendera yang hari ini sudah dijadikan simbol penting akan sebuah identitas maka sudah seharusnya diconnectkan dengan ajaran Islam, karena Islam adalah identitas utama seorang muslim, maka bendera yang bertuliskan “Laailaaha illallah Muhammad Rasulullah” adalah bendera yang paling memenuhi standar untuk umat Islam.

Secara prinsip dua kalimat tersebut adalah kalimat yang membedakan antara Islam dengan selainnya, kalimat yang menjadi kunci surga, kalimat yang menjadi tolak ukur loyalitas dan antipati seseorang, kalimat yang menjadi tujuan kenapa manusia diciptakan, kalimat yang menyatukan kaum muslimin sebagai umat yang satu di bawah naungan syariat tanpa mengenal suku, ras, bangsa dan tapal batas wilayah.

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ (52)

Sesungguhnya (din Tauhid) inilah din kalian, din yang satu, dan hanya Akulah Rab kalian, maka bertakwalah kepadaku.” [QS. Al-Mukminun: 52]

إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ (92)

Sesungguhnya (din tauhid) inilah dinmu, din yang satu, dan hanya Akulah Rab-mu maka beribadalah kepadaku.” [QS. Al-Anbiya’: 92]

BENDERA JAHILIYAH VS BENDERA TAUHID

Identitas muslim ditunjukkan oleh Akidahnya, akidah Laailaaha illallah dan Muhammad Rasulullah, maka bendera yang layak dijadikan sebagai lambang kehidupan adalah bendera tauhid dan risalah, di bawah panji bendera tersebut seharusnya muslim bangga dan senang bukan dengan selainnya:

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidkupku dan matiku hanya untuk Allah Rab semesta alam (162) tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dengan itu aku diperintahkan, dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri kepadamu.” [QS. Al-An’am: 162-163]

Tujuan perjuangan muslim adalah untuk meninggikan laa ilaaha illallah, oleh karena itu predikat fie sabiilillah hanya disematkan untuk perjuangan muslim yang tujuannya menegakkan lailaahaillallah agar berkibar tinggi memimpin dunia, sebaliknya setiap perjuangan dengan motif selainnya apalagi tujuannya untuk memadamkan lailaahaillallah maka perjuangan tersebut dikatagorikan jahiliyyah apapun benderanya.

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ مَا الْقِتَالُ فِي سَبِيلِ اللهِ فَإِنَّ أَحَدَنَا يُقَاتِلُ غَضَبًا وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً فَرَفَعَ إِلَيْهِ رَأْسَهُ- قَالَ وَمَا رَفَعَ إِلَيْهِ رَأْسَهُ إِلاَّ أَنَّهُ كَانَ قَائِمًا – فَقَالَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Dari Abu Musa Al-Asy’ari berkata, ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: apa yang dimaksud dengan berperang fi sabiilillah, karena di antara kami ada yang berperang karena motif kemarahan (dendam), ada pula karena motif fanatisme, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kepalanya, -Abu Musa berkata beliau tidak mengangkat kepalanya kecuali berdiri- dan bersabda : barang siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi tegak tinggi maka disebut fi sabiilillah Azza Wajalla. [Shahih Al-bukhari, 1/43, hadits No.125]

Tidak disebut fi sabiilillah orang yang berjuang karena fanatisme berhala, baik berhala batu, ideology, kelompok, Negara, bangsa atau raja, semua perjuangan untuk membela semua berhala tersebut kematiannya adalah jahiliyyah.

 وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

“Dan barang siapa yang berperang di bawah bendera ‘Ummiyyah, marah karena fanitisme, atau mengajak kepada fanatisme, atau membela fanatisme lalu dia terbunuh maka kamatiannya adalah kematian jahiliyyah.” [Shahih Muslim, 6/20, hadits No.4892]

Imam An-Nawawi berkata: “Al-‘Immiyah artinya adalah urusan buta, yang tidak jelas arahnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ahmad bin Hanbal dan Jumhur, Ishaq bin Rahawaih berkata, itu maksudnya seperti kaum yang berperang karena fanitisme kebangsaannya.” [Al-Minhaj Fi Syarhi Shahih Muslim, 6/322]

As-Sindi berkata:

وَهِيَ الْأَمْر الَّذِي لَا يَسْتَبِين وَجْهه كَقَاتِلِ الْقَوْم عَصَبِيَّة وَقَوْله تَحْت رَايَة عِمِّيَّة كِنَايَة عَنْ جَمَاعَة مُجْتَمِعِينَ عَلَى أَمْر مَجْهُول لَا يُعْرَف أَنَّهُ حَقّ أَوْ بَاطِل فِيهِ أَنَّ مَنْ قَاتَلَ تَعَصُّبًا لَا لِإِظْهَارِ دِين وَلَا لِإِعْلَاءِ كَلِمَة اللَّه وَإِنْ كَانَ الْمَقْصُود لَهُ حَقًّا كَانَ عَلَى الْبَاطِل

“Maksudnya perkara yang tidak jelas wajahnya (arahnya), seperti kaum yang berperang karena fanatic kebangsaannya, dan sabda beliau, (tahta royah ‘immiyyah) adalah kiasan dari kelompok yang berkumpul untuk urusan yang tidak jelas haq dan bathil di dalamnya, bahwa barang siapa yang berperang karena fanatisme bukan untuk memenangkan dinul Islam, bukan pula untuk menegakkan kalimat Allah (Tauhid) meskipun maksudnya terlihat benar, maka dia tetap di atas kebatilan.” [Hasyiyat As-Sindi ‘ala Sunan Ibni Majah, 7/318]

Bahkan Muhajirin dan Anshar adalah sebutan yang dipuji oleh Allah dalam Al-Qur`an namun ketika sebutan tersebut disalah gunakan untuk fanitisme golongan, kelompok dan bangsa seseorang maka berubah menjadi arah jahiliyyah:

قَالَ عَمْرٌو : سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : كُنَّا فِي غَزَاةٍ- قَالَ سُفْيَانُ مَرَّةً فِي جَيْشٍ – فَكَسَعَ رَجُلٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ الأَنْصَارِيُّ يَا لَلأَنْصَارِ وَقَالَ الْمُهَاجِرِيُّ يَا لَلْمُهَاجِرِينَ فَسَمِعَ ذَاكَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ مَا بَالُ دَعْوَى جَاهِلِيَّةٍ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ كَسَعَ رَجُلٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ

Amru berkata, aku mendengar Jabir bin Abdillah Radhiyallahu Anhuma berkata, -kami ada dalam suatu peperangan –Sufyan berkata dengan lafazh “pasukan” –lalu ada seorang dari Muhajirin yang menyenggol seorang dari Anshar, maka si anshar berkata, hai orang Muhajirin, dan si Muhajirin berkata, hai orang Anshor, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar hal itu dan bersabda : “Ada apa dengan panggilan jahiliyah ini.” orang-orang berkata, wahai Rasulullah ada seorang dari Muhajirin yang menyenggol seorang Anshor, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “tinggalkan panggilan jahiliyah tersebut karena dia berbau busuk.” [Shahih al-Bukhari, 6/191, hadits No.4905]

Dahulu ketika orang-orang musyrik Quraisy mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersama kurang lebih 1400 sahabatnya hendak berangkat ke Makkah untuk melaksanakan umrah maka muncullah fanatisme jahiliyyah yang ada dalam semangat ideologi mereka, dimana fanatisme tersebut membuat mereka menghalangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Sahabatnya masuk ke baitullah al-haram sampai harus melakukan kesepakatan perjanjian yang dikenal dengan shulhul hudaibiyah.

Fanatisme itu pula yang membuat mereka menolak tulisan bismillahirrahmaanirrahim dan hanya mau tulisan bismillah saja dalam isi surat perjanjian yang dibuat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di Hudaibiyyah, sebagaimana mereka juga menolak tulisan Rasulullah setelah kata Muhammad dan hanya menerima tulisan Muhammad bin Abdillah saja tidak lebih, karena jika mereka mengakui kerasulan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam maka konsekuensinya mereka harus taat kepada Ilah yang Satu dan meninggalkan ilah-ilah yang lain, mereka harus tunduk dan hanya mengabdi kepada Allah Ta’ala dan meninggalkan semua pengabdian kepada selain-Nya, menundukkan semua tatanan yang ada hanya pada syariat Allah dan Rasul-Nya dan meninggalkan tatanan jahiliyyah, maka mereka menolak ini.

Allah berfirman:

إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنزلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Ketika orang-orang kafir menanamkan kesombongan di hati mereka, yakni kesombongan jahiliyyah, maka Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang beriman, Allah mewajibkan kepada mereka tetap taat kepada kalimat taqwa (tauhid), dan mereka lebih berhak dengan itu dan patut memilikinya, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. [Al-Fath, 26]

  قال مقاتل: قال أهل مكة: قد قتلوا أبناءنا وإخواننا ثم يدخلون علينا، [فتتحدث العرب أنهم دخلوا علينا] (1) على رغم أنفنا، واللات والعزى لا يدخلونها علينا، فهذه “حمية الجاهلية”، التي دخلت قلوبهم

Muqatil berkata, penduduk Makkah (orang-orang musyrik) mengatakan: “Mereka telah membunuh anak-anak dan saudara kita, lalu mereka mau memasuki kita? Orang-orang arab akan bilang mereka sudah memasuki kita dan kita menjadi rendah, demi Lata dan Uzza, mereka tidak boleh memasuki Makkah di atas (eksistensi) kita” inilah hamiyyah jahiliyyah yang masuk ke dalam hati mereka. [Tafsir Al-baghawi, 7/321]

Ternyata berhala Lata dan Uzza lebih tinggi di hati mereka daripada Laailaahaillallah dan Muhammadun Rasulullah, mereka malu dan gengsi jika muncul headline berita di media liga arab bahwa bendera tauhid berkibar lebih tinggi mengalahkan bendera jahiliyah.

وقال ابن بحر: حميتهم عصبيتهم لآلهتهم التي كانوا يعبدونها من دون الله تعالى، والأنفة من أن يعبدوا غيرها

Imam Al-Qurthubi dalam tafsir surat Al-Fath: 26, menukil perkataan Ibnu bahr, dia berkata: hamiyyah mereka (orang jahiliyah) maksudnya adalah ‘ashabiyah (fanatisme) kepada Ilah-Ilah yang mereka ibadahi selain Allah Ta’ala, dan mereka marah jika ada selain Ilah mereka yang diibadahi.”

Jadi mereka marah jika Allah dijadikan sebagai Ilah satu-satunya yang diibadahi, marah jika otoritas Allah dan Rasul-Nya menjadi satu-satunya otoritas yang paling tinggi, takut jika otoritas Allah dan Rasul-Nya merontokkan otoritas selain-Nya.

Semangat Rasulullah Shallalallahu Alaihi Wasallam sangat berlawanan dengan semangat Fir’aun dan Abu Jahal, semangat Fir’aun adalah menjadikan dirinya berdiri lebih tinggi daripada Allah dan Rasul-Nya dalam tata kelola dunia, bagi Fir’aun otoritas dirinya dalam mengatur dunia lebih tinggi daripada otoritas Syariat Allah dan Rasul-Nya, oleh karena itu Fir’aun berkata di hadapan Musa dan seluruh rakyatnya:

أنا ربكم الأعلى

Aku adalah Rabb kalian yang paling tinggi.”

Barang siapa yang menjadikan berhalanya baik berupa Negara, raja, ideologi, dan hawa nafsu manusia lebih tinggi daripada otoritas Allah dan Rasul-Nya maka dia telah meniru semangat Fir’aun, bagi mereka Allah dan Rasul-Nya hanya layak dipasung otoritasnya dalam wilayah religi, sementara otoritas sentral tata kelola hidup ada di tangan Negara. Rendahnya manusia yang menjadikan bendera Fir’aun lebih tinggi daripada bendera laa ilaha illallah, bendera nasionalisme lebih tinggi dari bendera tauhid, seakan menganggap Allah sebagai tuhan kecil sementara tuhan besarnya adalah Negara.

Berbeda dengan semangat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjadikan target perjuangannya adalah meninggikan lailaha illallah agar berdiri tinggi memimpin dunia meski orang-orang kafir tidak menyukainya :

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا (28)

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan din yang haq, agar dia memenangkannya di atas din yang lain, dan cukuplah Allah sebagai saksi.” [QS. Al-Fath: 28]

Pertanyaannya semangat siapa yang kita junjung? Semangat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam atau semangat Fir’aun? [Ibnu Khamis/istidlal.org]

 

share on: