Belajar Teguh di Zaman Fitnah dari Abdullah bin Hudzafah

share on:
Abdullah bin Hudzafah

Istidlal.org – Perjuangan Islam di akhir zaman akan mendapat berbagai ujian. Baik ujian yan bersifat materi, maupun bersifat intimidasi. Tak jarang jiwa yang lemah tergoda dengan materi dan meninggalkan jalan perjuangan. dan seringkali intimidasi membuat seorang pegiat perjuangan berbalik arah. Namun tidak dengan satu shabat Rasul ini. ujian materi dan intimidasi dilewati beliau dengan penuh keteguhan dan keyakinan akan tauhid dan Islam.

Abdullah bin Hudzafah, begitu sahabat ini dipanggil. Beliau adalah salah satu sahabat yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW untuk menyampaikan surat Rasulullah SAW kepada para raja di tanah Arab. Misi tersebut dilaksanakan pada tahun ke enam Hijriah. Sahabat yang mulia ini diminta oleh Rasulullah SAW untuk menyampaikan surat kepada Kisra, raja Persia.

Setelah mendapat tugas mulia dari Rasulullah SAW, Abdullah bin Huzafah mempersiapkan perbekalan dan menyampaikan salam perpisahan kepada istri dan anak-anaknya. Beliau menempuh perjalan ke Persia seorang diri, hanya Allah bersamanya. Ketika sampai di tanah Persia beliau meminta izin untuk bertemu dengan sang raja.

Para pengawalpun mengabarkan kepada raja perihal surat yang dibawa oleh Abdullah bin Huzafah. Mendengar itu raja Persia mengupulkan penasehatnya untuk mendengarkan pesan dari Rasulullah SAW. Setelah semua pembesar Persia berkumpul, maka dipersilahkan kepada Abdullah bin Huzafah untuk masuk.

Maka Abdullah bin Huzafah masuk dengan menggunakan pakaian yang cukup sederhana sebagaimana pakaian orang Arab pada umumnya, sedangkan pembesar-pembesar Persia menggunakan baju kebesaran mereka. Namun meskipun begitu, beliau jalan dengan kepaa tegak, dengan izzah islam dan kemuliaan iman. ketika melihat itu, Kisra mmberi isyarat kepada pasukannya untuk mengambil surat dari tangan beliau. Akan tetapi Abdullah bin Huzafah enggan dan berkata, “Saya diperintahkan oleh Rasulullah untuk menyerahkannya kepadamu secara langsung dan saya tidak akan menyelisihi perinth Rasulullah.”

Kemudian Kisra berkata kepada pasukannya, “Biarkan dia mendekat kepadaku.” Abdullah bin Huzafah pun mendekat dan menyerahkan surat kepad Kisra. Kisra meminta kepada pensehatnya yang mampu berbasaha Arab untuk membacakan surat tersebut di hadapannya. Surat itu berisi, “Bismillahirrahmanirrahim, Surat dari Muhammad kepada Kisra raja Persia. Keselamatan kepada mereka yang mengikuti petunjuk..”

Ketika mendengar potongan surat tersebut, Kisra langsung tersulut kemarahannya, matanya memerah sembari berteriak, “Bisa-bisanya dia (Muhammad) lebih mendahulukan namanya dari namaku, padahal dia adalah budakku..” Kemudian Abdullah bin Huzafah disuruh keluar.

Abdullah bin Huzafah keluar dari majlisnya Kisra, tanpa dia mengetahui apa takdir yang Allah tentukan untuknya, apakah akan dibunuh atau dibiarkan bebas. Namun beliau berkata, “Saya tidak peduli yang terjadi kepada diri saya setelah saya menyampaikan suratdari rasulullah SAW (kepada Kisra).” Kemudian beliau memacu kendaraanya. Setelah sampai di Madinah beliau menceritakan perbuatan Kisra terhadap surat yang rasulullah SAW kirimkan. Mendengar itu Rasulullah SAW berkata, “Semoga Allah mencabik-cabik kerajaannya.”

Membebaskan Tawanan kaum Muslimin

Suatu ketika Umar bin Khotob memberangkat pasukan menuju Romawi. Di antara pasukan tersebut terdapat Abdullah bi Huzafah. Namun Abdullah bin Huzafah tertangkap oleh pasukan Romawi beserta pasukan lainnya. Pasukan yang menangkap Abdullah bib Huzafah berkata kepada rajanya, “Ini adalah sahabat Muhammad SAW.”

Raja Romawi tadi berkata kepada Abdullah bin Huzafah, “Apakah kamu mau memeluk agama Nasrani, maka saya akan berikan separuh kekuasaanku kepadamu.?”

Abdullah bin Huzafah menjawab, “Bahkan jika kau berikan kepadaku semua yang engkau miliki, semua yang engkau miliki dan semua yang dimiliki raja-raja Arab, maka saya tidak akan beranjak dari agamanya Muhammad sedikitpun.”

Raja Romawi, “Kalau begitu saya akan membunuhmu.”

Abdullah bin Huzafah, “Silahkan!!”

Raja Romawi tadi memerintahkan kepada pasukannya untuk memasung Abdullah bin Huzafah di tiang salib. Kemudian dia berkata, “Panahlah dia, di sekitar badannya.” Setelah itu dilakukan, raja Romawi kembali menawarkan kepada Abdullah bin Huzafah, namun beliau masih teguh di dalam Islam.

Abdullah bin Huzafah diturunkan dari tiang salib dan si raja memerintahkan kepada pasukannya untuk mempersiapkan kuali besar, air dipanaskan. Setelah dipanaskan, maka dipanggillah dua tawanan kaum muslimin, salah satu di antara mereka dilemparkan ke dalam kuali. Setelah itu si rajakembali menawarkan kepada Abdullah bin Huzafah untuk memeluk agama Nasrani. Namun beliau tetap enggan.

Tak lama kemudian Abdullah bin Huzafah menangis. Maka disampaikan kepada sang raja bahwa Abdullah bin Huzafah menangis, raja mengira bahwa Abdullah bin Huzafah telah goyah keyakinannya. Raja berkata kepada pasukannya, “Bawa dia kemari.”

Raja bertanya kepada Abdullah bin Huzafah, “Apa yang membuatmu menangis?”

Abdullah bin Huzafah berkata, “Yang membuatku menangis adalah saya hanya memiliki satu nyawa yang apabila dilemparkan (ke dalam kuali) maka nyawa tersebut hilang. Saya berharap saya memiliki nyawa sebanyak jumlah rambutku yang semuanya dilemparkan ke api di jalan Allah.”

Raja kemudian berkata, “Maukah engkau mencium kepalaku dan engkau akan aku bebaskan?”

Abdullah bin Huzafah berkata, “Saya mau melakukannya, dengan syarat engkau membebaskan seluruh tawanan kaum muslimin.”

Raja, “Baik kalau begitu.”

Kemudian para tawanan ini datang kepada Umar dan mereka menceritakan kisah Abdullah bin Huzafah yang menjadi sebab bebasnya mereka, maka Umar berkata, “Wajib bagi seluruh muslim untuk mencium kepala Abdullah bin Huzafah, dan saya yang akan memulainya.” Kemudian Umar pun mencium kepala Abdullah bin Huzafah. Wallahu a’lam bissowab

Penulis: Ibnu Rodja

share on: