Bolehkah Membela Tanah Air yang Menolak Syariat Allah?

share on:
Cinta Tanah Air

Istidlal –  Bagi seorang muslim yang hakiki, tanah airnya adalah Negeri Islam walaupun jaraknya jauh dan negeri yang paling dia cintai adalah negeri yang paling dicintai oleh Allah ta’ala dan Rasulnya. Oleh karena itu ketika Tsumamah bin Utsal masuk Islam, dia menemui Nabi di dalam masjid berkata :

أشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. يا محمد، والله، ما كان على الأرض وجه أبغض إلي من وجهك، فقد أصبح وجهك أحب الوجوه كلها إلي. والله، ما كان من دين أبغض إلي من دينك، فأصبح دينك أحب الدين كله إلي. والله، ما كان من بلد أبغض إلي من بلدك، فأصبح بلدك أحب البلاد كلها إلي  (رواه البخاري ومسلم)

Aku bersaksi tiada ilah yang berhak diibadahi selain Allah saja dan aku bersaksi bahwa Muhammad hambanya dan rasulnya, Wahai Muhammad demi Allah tidaklah sebelumnya ada wajah yang paling kubenci di muka bumi ini kecuali wajahmu, dan sekarang telah menjadi wajah yang paling aku cintai dari yang lain. Demi Allah tidaklah sebelumnya ada agama yang paling kubenci selain agamamu, dan sekarang agamamu menjadi agama yang paling kucintai. Demi Allah tidaklah sebelumnya ada negeri yang paling kubenci selain negerimu, dan sekarang negerimu menjadi negeri yang paling kucintai.” (HR Bukhari Muslim).

Kecintaan sahabat Tsumamah Radhiyallahu ‘anhu terhadap kota Madinah muncul karena  kecintaannya kepada Allah dan RasulNya yang bisa mengalahkan segala cinta selainnya, beliau telah merasakan lezatnya iman setelah masuk islam, di dalam sebuah hadist Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu barangsiapa yang Allâh dan Rasûl-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allâh, Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allâh menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam Neraka.” (HR Al Bukhari : 16 )

Begitu pula Nabi –Shallahu ‘alaihi wasallam– mencintai Mekkah dan Madinah, adalah cinta yang dilandasi iman, cinta karena Allah, bukan sekedar cinta belaka atau mengikuti hawa nafsu. Lagi pula, walaupun beliau tanah airnya (tanah kelahirannya) adalah Mekkah, namun beliau mencintai Madinah bahkan lebih daripada Mekkah, juga sering menyebut-nyebut keutamaan negeri negeri yang lain seperti Syam, Yaman dalam banyak hadits beliau.

Beliau pernah berdoa dan bermunajat kepada Allah ta’ala :

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا المَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Mekkah atau lebih lagi.” (HR. al Bukhari).

Di dalam Sahih al-Bukhari no. 2081, Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu mengkisahkan :

كانَ رسولُ الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم إذَا قدِمَ مِنْ سَفَرٍ فأبْصَرَ دَرَجَاتِ المَدِينَةِ أوْضَعَ ناقَتَهُ وإنْ كانَتْ دَابَّةً حرَّكَهَا

Ketika Rasulullah datang dari suatu perjalanan, lalu melihat pepohonan sekitar kota Madinah, beliau mempercepat untanya, bila kendaraan beliau hewan, maka beliau memacunya.

Dalam riwayat lain dijelaskan alasan beliau –Shallahu ‘alaihi wasallam memacu kendaraannya,

أَن النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ الْمَدِينَة أَوْضَعَ نَاقَتَهُ، وَإِن كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا

Bahwa ketika Nabi  -Shallahu ‘alaihi wasallam- datang dari suatu perjalanan, lalu melihat tembok Madinah, beliau mempercepat untanya, jika beliau menaiki hewan kendaraan, beliau memacu karena kecintaan beliau kepada kota Madinah.”

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani di dalam kitab Fathul Bari Syarah Sahih al-Bukhari mengatakan,

وفي الْحديث دلالة على فضل المدينة وعلى مشروعية حب الوطن والحنين إليه

Dalam hadis ini terdapat dalil keutamaan kota Madinah, dalil pensyariatan mencintai tanah air dan anjuran merindukannya.” (Fathul Bari Syarah Sahih al-Bukhari 3/621).

Imam Badruddin al-Aini juga mengomentari hadist di atas dengan

وفيه دلالة على فضل المدينة وعلى مشروعية حب الوطن والحنة إليه

Dalam hadis ini terdapat dalil keutamaan kota Madinah, dalil pensyariatan mencintai tanah air dan anjuran merindukannya.” (Umdatul Qari Syarah Shahih al-Bukhari 10/135).

Kecintaan Beliau terhadap Madinah dan Mekkah ini adalah kecintaan yang fitrah atau kecintaan yang dilandasi keimanan, dalil bahwa Beliau mencintai Mekkah karena Allah, bukan karena nafsu, adalah ketika Mekkah diliputi kedzaliman dan kekufuran, beliau tidak berdiam diri, Beliau justru berusaha untuk merubahnya, bahkan ketika Beliau mendapatkan kekuasaan yang syar’i di Madinah, beliau mengerakkan pasukan untuk melakukan penaklukan kota Mekkah dan menghilangkan berhala dan sesembahan nenek moyangnya.

Dalam pandangan penduduk Mekkah saat itu, tentu sikap  Rasulullah ini akan dianggap mengkhianati tanah kelahirannya sendiri, sebagaimana orang-orang sekuler yang memiliki paham Nasionalisme akan menganggap perjuangan untuk menyelamatkan negeri ini dengan menerapkan hukum-hukum Allah sebagai bentuk pengkhianatan terhadap negeri ini, hanya karena Islam tidak diturunkan di negeri ini.

Hadist-hadist dan perkataan ulama diatas bukan termasuk dalil yang menunjukkan kepada cinta terhadap nasionalisme, tetapi hal itu merupakan dalil atas cinta terhadap Mekkah atau Madinah, karena Mekkah dan Madinah merupakan negeri yang paling dicintai oleh Allah, maka dari itu setiap muslim mencintai Mekkah sebelum tempat manapun di atas muka bumi, begitu pula Al-Madinah An-Nabawiyyah dan Baitul Maqdis yang sekelilingnya diberkahi oleh Allah; maka kecintaan kita terhadap sebidang tanah yang  Allah telah pilih lalu diberkahi sekelilingnya dan mencintainya melebihi cinta kita terhadap tanah air, tempat kita kanak-kanak dan tempat beranjak dewasa.

Kemudian selain negeri-negeri yang suci ini maka sesungguhnya Islam adalah negeri kita, keluarga serta sanak kerabat kita; dan dimana syariat Islam ditegakkan dan kalimat Allah dijunjung tinggi, maka di sanalah negeri kita yang kita cintai, dimana kita korbankan untuknya nyawa dan harta kita yang berharga.

Jika seseorang benar-benar mencintai tanah airnya karena keimanan, seyogyanya dia berusaha untuk menyebar kebaikan diatasnya, menegakkan syariat Allah –Subhanahu wa ta’ala– bukan malah membiarkan sistem yang merusak tanah airnya, kekayaan alamnya dibiarkan dijarah asing, budayanya ditulari budaya yang rusak, apa yang diwajibkan Allah agar diterapkan di negerinya tidak dihiraukan, inilah cinta yang dilandasi dengan hawa nafsu dan kepentingan dunianya.

Kecintaan yang seperti itu dilarang oleh Islam, kecintaan karena fanatik, hawa nafsu dan tersebarnya kedholiman di atas tanah ainya,

Rasulullah –Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَمَنْ قَاتَل تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِل فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

Dan barangsiapa mati di bawah bendera kefanatikan, dia marah karena fanatik kesukuan atau menyeru kepada kefanatikan atau menolong (berperang) karena kefanatikan kemudian dia terbunuh, maka matinya seperti mati jahiliyah.” (HR. Muslim).

Dari Abu Musa, ia berkata :

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ الرَّجُلُ يُقَاتِلُ حَمِيَّةً وَيُقَاتِلُ شَجَاعَةً وَيُقَاتِلُ رِيَاءً ، فَأَي ذَلِكَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ (مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِىَ الْعُلْيَا ، فَهْوَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ )

Ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia berkata, ada seseorang yang berperang (berjihad) untuk membela sukunya (tanah airnya); ada pula yang berperang supaya disebut pemberani (pahlawan); ada pula yang berperang dalam rangka riya’ (cari pujian), lalu manakah yang disebut jihad di jalan Allah? Beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Siapa yang berperang supaya kalimat Allah itu mulia (tinggi) itulah yang disebut jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari no. 7458).

Bintu Watsilah Ibnul Asqa’ pernah mendengar Bapaknya bertanya kepada Rasulullah:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْعَصَبِيَّةُ ؟ قَالَ: أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ

Wahai Rasulullah, Ashabiyah (fanatik kesukuan) itu apa ?” beliau menjawab: “Engkau tolong kaummu dalam kezaliman.” (HR. Abu Daud : 5119).

Perilaku dan pemikiran seperti ini, yaitu berlebihan dalam membela tanah air tanpa melihat benar dan salahnya dalam timbangan ajaran Islam, baik pemikiran ini mau disebut fanatisme, ashobiyyah, maupun mau disebut nasionalisme, jika isinya memang seperti ini, maka ini adalah kebusukan yang harus ditinggalkan, Rasulullah katakan:

دَعُوْهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ

Tinggalkanlah itu, karena dia itu busuk.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wallahu a’lamu bissowab.

Penulis: Putra Hanafi
Editor: Romidina

share on: