Demokrasi, Wadah Ternyaman bagi Liberalisasi

share on:
Demokrasi, Wadah Ternyaman bagi Liberalisasi-istidlal.org

Di awal, gerakan liberalisme ingin bebas dari kekangan aturan agama. Maka jika sebuah Negara telah bersistem anti ke-Tuhanan (sekuler) atau demokrasi, ini menjadi tempat terbaik bagi orang liberal untuk semakin memuaskan nafsu kebebasannya. Dan tentunya, ketika telah ada sistem yang memayungi gerakan kebebasan, yang menjadi anti-agama bukan hanya sistem pemerintahan, tapi juga sosial, kultur dan pendidikan. Semua orang boleh berkomentar dengan berlandas kebebasannya. Maka komentarnya tidak lagi, “Jangan bawa agama di ruang politik”, tapi juga ujaran, “Kita lagi mempelajari biologi bukan agama”. Jadilah agama di kebiri di Negara yang bersistem mendewakan kebebasan.

Istilah liberalisme tidak bisa terlepas dari gerakan liberalisasi. Liberalisasi yang merupakan gerakan masyarakat Barat yang terjadi setelah hegemoni agama Kristen yang otoriter. Dimana masyarakat diatur dengan aturan agama yang lebih diwarnai oleh hegemoni dan otoritasi para pendeta yang mengaku sebagai wakil Tuhan di dunia.

Kekangan aturan itu terlihat jelas dengan labelisasi pihak gereja bagi para penentangnya. Para penentang gereja dilabeli dengan istilah heretics. Dan disiapkan pula berbagai macam hukuman bagi para penentang gereja dengan mendirikan sebuah institusi bernama inquisisi. Inquisisi yang menjadi intitusi gereja dalam menumpas para heretics pun berlepas tangan dari tindakan penyiksaan.

Baca juga: Agama Mayoritas Bukan Manath Status Suatu Negeri (3/Tamat)

Father gam, tokoh Kristen berkata, “Inquisisi adalah satu intitusi di mana gereja tidak memiliki tanggung jawab atasnya” (the Inquisition is an institution for which the church has no responsibility). (Adian Husaini, Wajah peradaban Barat, Jakarta: Gema Insani, 2005 hlm. 36) Dari situlah muncul traumatic terhadap agama di masyarakat Barat.

Dari traumatic terhadap agama dan aturannya yang membelenggu tersebut, gerakan liberalisasi Barat semakin intens. Dan puncaknya adalah revolusi Perancis, mengusung tiga semboyan, egalite, liberte, dan fraternite. Yang sebelumnya, revolusi ini sudah ada mukaddimahnya berupa renaissance. Mereka menamakan renaissance karena berarti rebirth, lahir kembali. Gerakan dengan spirit mengembalikan Barat lahir kembali seperti saat Yunani berada di titik kulminasi ilmu pengetahuan. Didukung pula dengan buku-buku ilmuwan muslim yang diterjemahan ke dalam bahasa mereka. (Hamid Fahmi Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam, Gerakan bersama missionaris, kolonialis dan Orientalis, Ponorogo: CIOS, 2010), hlm. 5) Akhirnya, Barat memutuskan untuk memisahkan agama dan menolaknya dari kehidupan mereka.

Motif dari gerakan liberalisasi ini adalah kebebasan. Bebas dengan makna freedom dan liberty, sesuai dengan sejarahnya mereka ingin bebas dari aturan agama yang membelenggu. Seperti pekikan seorang filosof, Paul Startre, “The ideas of God Negates our Freedom.  Jadi, bebas yang mereka inginkan adalah bebas dari Tuhan. (Adian Husaini, Kebebasan: Muslim atau Liberal, dalam Islam Versus Liberal, Dewan Dakwah Islam Indonesia, 2010, hlm. 31)

Baca juga: Negeri Islam Atau Negeri Kafir? (1)

Secara konsekuensi logis, Liberal akan bergandengan tangan dengan sekularisme dan pluralisme.  Karena gerakan liberal meniscayakan sekularisasi. Dimana tatanan politik, alam dan ilmu pengetahuan serta dari nilai dipisah dari agama yang kebenarannya bersifat absolut. (Syukri Ismail, Kritik terhadap sekularisme, hlm. vi)

Maka, buah dari gerakan liberalisasi ini adalah politik yang tak beragama, ilmu pengetahuan yang bebas nilai dan menjadi relatifnya nilai kebenaran. Dan juga dampak liberalisme adalah pluralisme, karena pada dasarnya kebebasan akan menimbulkan benturan dengan kebebasan orang atau kelompok lain. akan tetapi pada dasarnya dari ketiganya ingin bebas dari aturan yang absolut.

Sebagai gerakan yang lahir di Barat, liberal bukanlah gerakan universal. Ia tidak bisa diterima oleh seluruh bangsa. Ia merupakan sifat dari peradaban Barat saat ini, yang Peradaban Barat saat ini merupakan hasil perkawinan dari pengembangan peradaban Yunani kuno dan peradaban Romawi, dan disesuaikan dengan elemen-elemen kebudayaan bangsa Eropa, terutamanya Jerman, Inggris dan Perancis (Hamid Fahmi, Liberalisasi pemikiran Islam, Ponorogo: CIOS, 2010, hlm. 4). Sedangkan masyarakat dari negara-negara di dunia selain barat, tidak mengalami hal serupa yang terjadi di Barat. Maka, akan terjadi kerancuan jika gerakan kebebasan (liberal) ini diaplikasikan (dipaksakan) ke seluruh negeri di Dunia.

Baca juga: Kenapa Harus Bersyariat Dalam Lingkup Negara?

Akan tetapi, melalui sebuah gerakan kolonialisme, Barat yang sebelumnya menyebarkan ideology Kristen melalui titah sang Paus, dengan mission sacre. Ketika mereka berubah menjadi liberal, secular dan pluralis, maka isme-isme itulah yang turut mereka sebarkan. Karena gerakan kolonial ini juga sebagai gerakan politik yang memiliki tujuan dan progam ingin menyebarkan kultur dan pemikiran barat ke negeri-negeri jajahan. Yang tujuan akhirnya adalah mampu mengendalikan Negara-negara jajahan di bawah kendali mereka. Tak terkecuali Negara Islam.

 

Demokrasi Tempat Ternyaman bagi Liberal

Di awal gerakan liberalisme ingin bebas dari kekangan aturan agama. Maka jika sebuah Negara telah bersistem anti ke-Tuhanan (sekuler) atau demokrasi, ini menjadi tempat terbaik bagi orang liberal untuk semakin memuaskan nafsu kebebasannya. Dan tentunya, ketika telah ada sistem yang memayungi gerakan kebebasan, yang menjadi anti-agama bukan hanya sistem pemerintahan, tapi juga sosial, kultur dan pendidikan. Semua orang boleh berkomentar dengan berlandas kebebasannya. Maka komentarnya tidak lagi, “Jangan bawa agama di ruang politik”, tapi juga ujaran, “Kita lagi mempelajari biologi bukan agama”. Jadilah agama di kebiri di Negara yang bersistem mendewakan kebebasan.

Demokrasi yang diterapkan di banyak Negara, adalah salah satu agenda barat. Menjadikan Negara-negara merdeka, dengan catatan jauh dari agama dan menjadikan manusia sebagai penentu hukum, suara rakyat adalah suara Tuhan. Hasilnya adalah Negara berhukum sesuai dengan HAM (hak asasi manusia). Di sini kerancuan akan terjadi, karena standar nilai menjadi relative, orang berbuat apapun yang penting atas nama HAM, dan akan dilindungi oleh konstitusi Negara yang berhukum Demokrasi. Maka tak heran jika ada Negara yang mengaku bebas criminal (zero crime), karena perbuatan amoral seperti zina, LGBT dan perselingkuhan, oleh negara tidak dihitung sebagai sebuah kejahatan. Semua bebas berkehendak dengan mengusung kebebasan dalam aturan HAM. Dan kebebasan itulah ide yang diusung dari gerakan Liberal.

Salah seorang tokoh liberal menuliskan, “Demokrasi tidak akan berdiri tegak tanpa disangga dengan sekularisme termasuk pluralisme dan liberalisme. Bahkan khusus sekularisme – Yaitu pemisahan secara relative agama dan Negara—adalah salah satu faktor terpenting dalam membangun demokrasi dan civil society yang kuat”. (Dinukil dari tulisan Adian Husaini, Adian Husaini, Kebebasan: Muslim atau Liberal, dalam Islam Versus Liberal, (Dewan Dakwah Islam Indonesia, 2010), hlm. 23)

Baca juga: Prinsip Politik Islam : Pertama, Kedaulatan di Tangan Allah

Inilah mengapa demokrasi termasuk dari agenda Barat untuk disebar ke seluruh Dunia. Dan demokrasilah yang kini tampak berhasil, melalui demokrasi, isme-isme seakan mendapat wadah untuk berkembang biak. Karena menyebarkan ide, lebih efektif jika menguasai sistem terlebih dahulu.

Tetapi, sebetulnya gerakan yang Barat usung dengan konsep sekuler dan pluralisme ini hanya kan menjadi senjata makan tuan. Bagaimana tidak? ketika mereka memberikan keluasan dalam berpendapat bagi setiap individu, maka semua orang berhak berkomentar dan menyuarakan aspirasi dan pandangannya, tidak terkecuali yang berkomentar dalam masalah agama pun juga harus dilindungi oleh konstitusi, meski hal itu menyerang sistem pemerintahan Barat. Maka, mereka tidak hanya dilema, tapi memang sejak mendeklarasikan kebebasan, sejak itulah mereka menghitung mundur tanggal kematian mereka.

Karena bagaimanapun manusia butuh diatur dengan standar kebenaran yang absolut. Kalau sistem demokrasi yang katanya bebas pun ada aturan dan undang-undangnya, sejatinya manusia tidak bisa dibebaskan bertindak dengan sebebas-bebasnya. Dan sebagaimana kebebasan yang mereka usung adalah kebebasan dalam segala hal. Disitulah diperlukan nilai standar atau kebenaran yang absolut untuk dapat melanggengkan sebuah peradaban atau sistem pemerintahan. Dan nilai standar yang absolut, yang mampu mengatur semua lini kehidupan itu adalah agama Islam.

 

Demokrasi Adalah Tantangan Islam di Abad 21

Pada tahun 1985, presiden Amerika, Nixon menyatakan, “Rusia dan Amerika harus mengadakan kerja sama yang efektif untuk memukul fundamentalis Islam”. (Lathifah Ibrahim Khaidar, Islam fi al-Fikri al-Gharby, terj. Abdul Hayyie al-Kattani, Jakarta: Gema Insani, 2005, hlm. 117)

Barat yang liberal telah berkoalisi dengan bangsa lain untuk meruntuhkan Fundamentalis Islam. Karena setelah pernyataan Nixon, dan setelah runtuhnya Uni Soviet, menteri pertahanan Prancis dan pemimpin-peminpi barat lainnya serta Rusia segera mengadakan koalisi untuk menghadapi Islam, dibawah bendera “memberantas terorisme”. Apalagi pasca terjadinya 11 September 2001, Barat mendapatkan aksentuasi yang tepat. Goerge Bush pun mendeklarasikan perang salib baru di abad 21. Dan anehnya, sekalipun tidak ada bukti-bukti yang menunjukkan siapa terroris, Barat telah telah memastikan bahwa pelakunya adalah Islam. (Ibid. hlm. 122)

Dengan segera setelah memastikan pelaku terroris, dibawah komando Amerika, negeri Islam Afghanistan diinvasi, dengan tetap membiarkan kebiadaban Israel di tanah Palestina. Tentu ini bukan hanya karena peristiwa 11 september 2001, jauh sebelum itu, tahun 1990 surat kabar Inggris Sunday telegraph memasang artikel utama dengan judul, “Apakah Islam akan mengubur kita?” dan lagi di surat kabar Inggris yang lain, the Independent, pada 7 september 1991 juga memuat sebuah laporan bahwa Fundamentalis Islam akan menggantikan republik-republik Islam.

Juga sebelum jatuhnya Uni Soviet, sudah ada seruan juga untuk memerangi Islam, hal ini diserukan oleh Claus Newman, panglima angkatan bersenjata Jerman. Karena melihat Islam bakal menjadi penghalang ideologis bagi sekularisme. (Ibid. 191) Hal ini menegaskan akan bahaya Islam yang tengah tersebar di darata Eropa. Mereka takut kalau Islam akan merampas peradaban liberal yang telah mereka bangun.

Ketakutan orang Barat yang berkoalisi dengan bangsa lain juga tampak pada pernyataan salah satu pemikir Barat, Francis Fukuyama, dia adalah orang jepang yang tinggal di Amerika. Dia menyatakan,

“Islam adalah sistem Ideologi yang kokoh, punya sistem moral serta berhasil mengalahkan Liberalisme Barat di banyak Negara di dunia Islam. Meskipun Islam tidak berhasil melakukannya di Barat. Sebab jika jauh dari negeri-negeri Islam, seorang individu mungkin lebih sering terkena pengaruh Liberalisme Barat, yang secara riil telah berhasil mempengaruhi banya orang di dunia Islam. Barangkali mereka pulalah yang menjadi ancaman bagi masyarakat Islam sendiri”.

Baca juga: Ukhuwah Islamiyah, Syarat Eksistensi Umat

Tetapi meski mengakui Islam adalah ideologi yang kokoh, dengan arogannya, Fukuyama menyatakan bahwa peradaban Barat adalah peradaban terakhir. Peradaban Barat yang berasas liberalisme demokrasi telah menyebar dan merata di seluruh Dunia. Di sinilah, Ketakutan Fukuyama tampak terselip di pernyataannya. Karena di balik itu, data penyebaran Islam di Eropa sangat mengejutkan. Islam selalu bertambah pemeluknya di Barat.

Teori yang menyerukan kebebasan yang absolut dan menyerukan nilai relativitas ini secara tidak langsung menyimpan rasa takut mereka akan Islam. Dan karena teori inilah yang melatarbelakangi makar dan konspirasi mereka terhadap Islam. Membatasi ruang gerak agama Islam di mana pun, baik di Negara yang mayoritas muslim ataupun yang minoritas. Mendistorsi sejarah Islam. Menginvasi Negara-negara Islam, seperti Afghanistan, Irak, Bosnia, Chechnya, dan Kosovo.

Mereka melakukan pembantaian karena takut kalau Islam akan bangkit dan meruntuhkan peradaban mereka yang dibanggakan ini. Seperti ujaran Goerge W Bush, “Dunia Islam seluruhnya merupakan sumber kejahatan. Selama masih ada Negara yang tidak tunduk kepada pemerintahan Amerika, maka Amerika serikat sendiri yang akan menghajarnya”. (Lathifah, Islam fi al-Fikri al-Gharby, terj. Abdul Hayyie al-Kattani,….. hlm. 203)

Jadi ketakutan mereka itu bukan karena Islam melakukan islamisasi SDM atau progam pendidikan semata, tapi ketakutan itu tampak dimana Barat langsung turun tangan ketika Islam bangkit dengan sistem pemerintahan Islam dan mencoba menggeser sistem demokrasi.

Perlu diketahui bahwa semua aspek pengelolaan masyarakat bangsa-negara seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, ketertiban (poleksosbudhankam) sudah ditetapkan aturannya dalam Islam (Ainul Yakin, Menolak Liberalisme Islam, catatan atas berbagai Wacana dan Isu kontemporer, Indonesia: Majlis Ulama Indonesia provinsi Jawa Timur, 2012), hlm. 11).

Baca juga: Kebutuhan Umat Kepada Al-Quran Al-Karim

Sumber acuannya adalah al-Qur’an dan as-Sunnah, yang sangat berbeda dengan tatacara pengelolaan masyarakat-bangsa-negara yang non-Islami (sekuler). Disinilah sumber masalah dari semua masalah penentangan dan gangguan pada agama Islam.

Maka, Tantangan umat Islam hari ini adalah bagaimana mengembalikan syareat Islam sebagai asas untuk melakukan perubahan. Dengan mempersiapkan para rijal tamkin untuk mengubah poleksosbudhankam berdasar syariat Islam, dan kemudian dengan sistem yang telah terbentuk oleh para rijal tamkin, dapat mengubah kehidupan masyarakat menjadi lebih baik, sesuai dengan fitrah mereka sebagai manusia.

Karena mengubah manusia dengan melalui memperbaiki sistem terlebih dahulu, lebih efesien dan efektif, dari pada fokus mengubah manusia menjadi baik tapi masih bersistem yang non-Islami, dalam hal ini adalah sistem keperintahan. Hal ini perlu disadari mengingat Barat beserta koalisinya, yang saat ini eksis sebagai sebuah peradaban, telah memastikan bahwa Islam adalah musuh dan ancaman terhadap mereka. (Ibid. hlm 119)

Melihat dari kenyataan sejarah dan realita yang ada hari ini, membuat Umat Islam dilemma antara impian dan harapan akan kejayaan. Sekarang Islam memiliki predikat sebagai terroris dan common enemy bagi bangsa-bangsa dunia. Tapi Nubuwat Nabi mengatakan Islam akan kembali jaya. Maka sungguh kuat bashiroh penulis kitab al-Mustaqbal li hadza ad-Dien (masa depan milik agama ini, Islam), Sayyid Quthub, padahal Islam secara lahir tampak dimusuhi semua Bangsa. Barakallahu fie ulama’ina. [Van Beck/istidlal.org]

share on: