Harokah Islamiyah, Sekoci Perjuangan Pasca Runtuhnya Khilafah

share on:
Sekoci (Ilustrasi)

Istidlal.org – Para ulama kontemporer menyatakan bahwa pasca runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada tanggal 27 Rajab 1342 H /3 Maret 1924 M, kaum muslimin hidup pada zaman mulkan jabbariyan. Era mulkan jabbariyan adalah zaman negeri-negeri Islam dikuasai oleh para rezim diktator, baik rezim yang mengambil bentuk pemerintahan kerajaan dan keamiran (monarki), maupun rezim yang mengambil bentuk pemerintahan republik demokrasi.

Rezim-rezim diktator tersebut mencampakkan syariat Islam dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai gantinya, mereka menerapkan sistem politik demokrasi Barat. Kehidupan berbangsa dan bernegara ditegakkan di atas pondasi sekulerme, yang menolak keterlibatan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW di dalamnya. Rezim-rezim diktator tersebut membenci, memusuhi dan memerangi setiap upaya umat Islam yang bertujuan untuk hidup di bawah naungan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW.

Dalam era sekulerisme tersebut, sejumlah ulama dan tokoh Islam tampil dalam kancah perjuangan Islam. Dalam upaya memperjuangkan tegaknya kembali supremasi syariat Allah di negeri-negeri Islam, mereka mendirikan berbagai jama’ah minal muslimin. Jama’ah-jama’ah minal muslimin tersebut, meminjam istilah ulama Mesir Dr. Shalah As-Shawi, berfungsi sebagai sekoci-sekoci darurat saat kapal besar kaum muslimin (yaitu institusi khilafah Islamiyah) telah runtuh.

Sekoci-sekoci, atau bahkan sampan-sampan kecil tersebut, harus berlayar di tengah gelombang samudra yang deras nan luas. Sekoci-sekoci, atau bahkan sampan-sampan kecil tersebut, bertujuan membawa penumpangnya menuju pantai keselamatan. Sebuah tugas, misi dan cita-cita yang sangat mulia, namun juga sangat berat dan penuh tantangan.

Dalam upayanya untuk menegakkan kembali supremasi syariat Allah di negeri-negeri Islam, beragam jama’ah minal muslimin tersebut memerlukan persatuan, persaudaraan, dan soliditas intern. Hubungan antara para pimpinan jama’ah minal muslimin dengan anggota-anggotanya harus kokoh, kuat, saling mencintai, saling mendukung dan saling menguatkan.

Loyalitas di antara mereka harus kuat. Pemimpin harus mencintai, menghargai dan menyayangi anggota-anggotanya. Anggota-anggotanya harus mencintai, menghormati, mempercayai dan menaati pemimpinnya. Loyalitas timbal-balik seperti itu berawal dari adanya kesamaan niat, tujuan, dan pemahaman di antara pemimpin dan anggota-anggotanya.

Loyalitas intern jama’ah minal muslimin tersebut berlandaskan kepada dalil-dalil umum dan dalil-dalil khusus tentang legalitas kelompok-kelompok Islam yang berjuang untuk menegakkan syariat Allah di negeri-negeri Islam. Berikut ini pemaparan singkat tentang dalil-dalil syar’i tersebut.

DALIL UMUM

Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59)

Saat menjelaskan Surat An-Nisa ayat 59, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah al-Harrani (wafat tahun 728 H) menulis,

وَأُولُو الْأَمْرِ أَصْحَابُ الْأَمْرِ وَذَوُوه ؛ وَهُمْ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ النَّاسَ ؛ وَذَلِكَ يَشْتَرِكُ فِيهِ أَهْلُ الْيَدِ وَالْقُدْرَةِ وَأَهْلُ الْعِلْمِ وَالْكَلَامِ ؛ فَلِهَذَا كَانَ أُولُوا الْأَمْرِ صِنْفَيْنِ : الْعُلَمَاءُ ؛ وَالْأُمَرَاءُ . فَإِذَا صَلَحُوا صَلَحَ النَّاسُ وَإِذَا فَسَدُوا فَسَدَ النَّاسُ ؛ كَمَا قَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ للأحمسية لَمَّا سَأَلَتْهُ : مَا بَقَاؤُنَا عَلَى هَذَا الْأَمْرِ ؟ قَالَ : مَا اسْتَقَامَتْ لَكُمْ أَئِمَّتُكُمْ .

Ulil Amri adalah orang-orang yang memiliki dan memegang urusan. Mereka adalah orang-orang yang memberikan perintah kepada masyarakat. Istilah ini, masuk di dalamnya orang-orang yang memiliki kekuasaan dan orang-orang yang berilmu. Oleh karena itu, Ulil Amri itu ada dua golongan; ulama dan umara’. Jika mereka baik, niscaya masyarakat akan baik dan jika mereka rusak niscaya masyarakat akan rusak. Saat seorang wanita Bani Ahmas bertanya kepada Abu Bakar As-Shiddiq RA ‘Apa yang menjamin kita tetap berada di atas kebaikan Islam ini?’ Maka Abu Bakar As-Shiddiq menjawab ‘Selama para pemimpin kalian tetap berlaku lurus.” (Majmu’ Fatawa, Juz XXVIII hlm. 170)

Lebih lanjut Ibnu Taimiyah al-Harrani menjelaskan bahwa Ulil Amri bukan hanya terbatas para kalangan ulama dan umara’ semata, melainkan semua tokoh muslim yang menjadi panutan kaum muslimin. Beliau menulis,

وَيَدْخُلُ فِيهِمْ الْمُلُوكُ وَالْمَشَايِخُ وَأَهْلُ الدِّيوَانِ ؛ وَكُلُّ مَنْ كَانَ مَتْبُوعًا فَإِنَّهُ مِنْ أُولِي الْأَمْرِ وَعَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ هَؤُلَاءِ أَنْ يَأْمُرَ بِمَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ وَيَنْهَى عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَعَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِمَّنْ عَلَيْهِ طَاعَتُهُ أَنْ يُطِيعَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ ؛ وَلَا يُطِيعُهُ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ

Termasuk juga di dalamnya adalah para raja, syaikh, pejabat diwan (kantor urusan / departemen tertentu), dan setiap orang (tokoh Islam) yang diikuti oleh masyarakat, maka mereka itu adalah Ulil Amri. Masing-masing orang (yang tergolong Ulil Amri tersebut) harus memerintahkan masyarakat sesuai perintah Allah dan melarang masyarakat sesuai larangan Allah. Setiap orang yang berada dalam wewenangnya wajib menaatinya dalam perkara ketaatan dan tidak boleh menaatinya dalam perkara kemaksiatan.” (Majmu’atu al-Fatawa, Juz XXVIII hlm. 170)

Ulama tafsir dari Tunisia, mantan Rektor Universitas Az-Zaitunah Tunisia dan mufti Madzhab Maliki Tunisia, Syaikh Muhammad Thahir bin Asyur At-Tunisi (wafat tahun 1393 H) menulis dalam kitab tafsirnya sebagai berikut,

وَقَوْلُهُ: وَأُولِي الْأَمْرِ يَعْنِي ذَوِيهِ وَهُمْ أَصْحَابُ الْأَمْرِ وَالْمُتَوَلُّونَ لَهُ. وَالْأَمْرُ هُوَ الشَّأْنُ، أَيْ مَا يُهْتَمُّ بِهِ من الْأَحْوَال والشؤون، فَأُولُو الْأَمْرِ مِنَ الْأُمَّةِ وَمِنَ الْقَوْمِ هُمُ الَّذِينَ يُسْنِدُ النَّاسُ إِلَيْهِم تَدْبِير شؤونهم وَيَعْتَمِدُونَ فِي ذَلِكَ عَلَيْهِمْ، فَيَصِيرُ الْأَمْرُ كَأَنَّهُ مِنْ خَصَائِصِهِمْ، فَلِذَلِكَ يُقَالُ لَهُمْ: ذَوُوُ الْأَمْرِ وَأُولُو الْأَمْرِ، وَيُقَالُ فِي ضِدِّ ذَلِكَ: لَيْسَ لَهُ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ.

Firman Allah ‘Ulil Amri’. Ulil Amri adalah orang-orang yang memegang urusan dan mengaturnya. Amri adalah perkara-perkara dan keadaan-keadaan yang penting. Maka Ulil Amri dari sebuah umat dan Ulil Amri dari sebuah kaum adalah orang-orang yang diserahi kepercayaan oleh masyarakat untuk mengatur urusan mereka dan menjadi tumpuan masyarakat dalam hal tersebut. Sehingga, pengaturan urusan masyarakat seakan-akan menjadi ciri khas mereka. Karena itu, mereka disebut Ulil Amri dan Dzawul Amri. Lawan katanya adalah laisa lahu minal amri syai’un, artinya ia tidak memegang urusan apapun.” (At-Tahrir wa At-Tanwir, Juz V hlm. 98)

وَلَمَّا أَمَرَ اللَّهُ بِطَاعَةِ أُولِي الْأَمْرِ عَلِمْنَا أَنَّ أُولِي الْأَمْرِ فِي نَظَرِ الشَّرِيعَةِ طَائِفَةٌ مُعَيَّنَةٌ، وَهُمْ قُدْوَةُ الْأُمَّةِ وَأُمَنَاؤُهَا، فَعَلِمْنَا أَنَّ تِلْكَ الصِّفَةَ تَثْبُتُ لَهُمْ بِطُرُقٍ شَرْعِيَّةٍ إِذْ أُمُورُ الْإِسْلَامِ لَا تَخْرُجُ عَنِ الدَّائِرَةِ الشَّرْعِيَّةِ،

قَالَ مَالِكٌ: «أُولُو الْأَمْرِ: أَهْلُ الْقُرْآنِ وَالْعِلْمِ» يَعْنِي أَهْلَ الْعِلْمِ بِالْقُرْآنِ وَالِاجْتِهَادِ، فَأُولُو الْأَمْرِ هُنَا هُمْ مَنْ عَدَا الرَّسُولِ مِنَ الْخَلِيفَةِ إِلَى وَالِي الْحِسْبَةِ، وَمِنْ قُوَّادِ الْجُيُوشِ وَمِنْ فُقَهَاءِ الصَّحَابَةِ وَالْمُجْتَهِدِينَ إِلَى أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الْأَزْمِنَةِ الْمُتَأَخِّرَةِ، وَأُولُو الْأَمْرِ هُمُ الَّذِينَ يُطْلَقُ عَلَيْهِمْ أَيْضًا أَهْلُ الْحَلِّ وَالْعَقْدِ.

Karena Allah SWT memerintahkan untuk taat kepada Ulil Amri, maka kita mengetahui bahwa Ulil Amri dalam pandangan syariat Islam adalah sebuah golongan tertentu. Mereka adalah tokoh-tokoh teladan umat dan orang-orang yang dipercayai oleh umat Islam. Maka kita mengetahui bahwa sifat (Ulil Amri) tersebut melekat pada diri mereka dengan cara-cara yang berdasarkan syariat, sebab urusan-urusan Islam itu tidak mungkin keluar dari lingkaran syariat.”

Beliau melanjutkan uraiannya dengan menulis,

وَطَرِيقُ ثُبُوتِ هَذِهِ الصِّفَةِ لَهُمْ إِمَّا الْوَلَايَةُ الْمُسْنَدَةُ إِلَيْهِمْ مِنَ الْخَلِيفَةِ وَنَحْوِهِ، أَوْ مِنْ جَمَاعَاتِ الْمُسْلِمِينَ إِذَا لَمْ يَكُنْ لَهُمْ سُلْطَانٌ، وَإِمَّا صِفَاتُ الْكَمَالِ الَّتِي تَجْعَلُهُمْ مَحَلَّ اقْتِدَاءِ الْأُمَّةِ بِهِمْ وَهِيَ الْإِسْلَامُ وَالْعِلْمُ وَالْعَدَالَةُ. فَأَهْلُ الْعِلْمِ الْعُدُولُ: مِنْ أُولِي الْأَمْرِ بِذَاتِهِمْ لِأَنَّ صِفَةَ الْعِلْمِ لَا تَحْتَاجُ إِلَى وِلَايَةٍ، بَلْ هِيَ صِفَةٌ قَائِمَةٌ بِأَرْبَابِهَا الَّذِينَ اشْتَهَرُوا بَيْنَ الْأُمَّةِ بِهَا، لِمَا جُرِّبَ مِنْ عِلْمِهِمْ وَإِتْقَانِهِمْ فِي الْفَتْوَى وَالتَّعْلِيمِ. قَالَ مَالِكٌ: «أُولُو الْأَمْرِ: أَهْلُ الْقُرْآنِ وَالْعِلْمِ» يَعْنِي أَهْلَ الْعِلْمِ بِالْقُرْآنِ وَالِاجْتِهَادِ

Cara melekatnya sifat ini kepada mereka adalah melalui salah satu cara berikut ini.

  1. Kekuasaan (wewenang) yang diberikan kepada mereka oleh khalifah atau semisalnya, atau diberikan kepada mereka oleh jama’ah-jama’ah kaum muslimin jika kaum muslimin tidak memiliki kekuasaan (khilafah).
  2. Atau karena mereka memiliki sifat-sifat kesempurnaan (keutamaan dan keunggulan) yang menjadikan mereka sebagai tokoh-tokoh yang diteladani oleh umat Islam. Sifat-sifat kesempurnaan tersebut adalah Islam, ilmu, dan ‘adalah (keshalihan).

Ulama yang ‘adil (shalih) secara otomatis adalah bagian dari Ulil Amri, sebab karakter ilmu itu sendiri tidak memerlukan wilayah (kewenangan) lagi. Hal itu dikarenakan ilmu adalah sifat yang melekat para orang-orang yang memilikinya, yang sudah dikenal luas di tengah umat, karena umat sudah mengakui kapasitas keilmuan dan kekokohan mereka dalam memberi fatwa dan memberikan pengajaran.

Imam Malik mengatakan, “Ulil Amri adalah orang-orang yang menguasai Al-Qur’an dan ilmu.” Maksudnya adalah orang-orang yang mengilmui Al-Qur’an dan memiliki kemampuan berijtihad.

فَأُولُو الْأَمْرِ هُنَا هُمْ مَنْ عَدَا الرَّسُولِ مِنَ الْخَلِيفَةِ إِلَى وَالِي الْحِسْبَةِ، وَمِنْ قُوَّادِ الْجُيُوشِ وَمِنْ فُقَهَاءِ الصَّحَابَةِ وَالْمُجْتَهِدِينَ إِلَى أَهْلِ الْعِلْمِ فِي الْأَزْمِنَةِ الْمُتَأَخِّرَةِ، وَأُولُو الْأَمْرِ هُمُ الَّذِينَ يُطْلَقُ عَلَيْهِمْ أَيْضًا أَهْلُ الْحَلِّ وَالْعَقْدِ.

Maka Ulil Amri dalam ayat ini adalah orang-orang selain Rasulullah SAW, meliputi dari khalifah sampai petugas hisbah, sejak dari para komandan pasukan sampai para ulama sahabat, sejak para ulama mujtahidin sampai para ulama abad-abad belakangan. Ulil Amri juga adalah orang-orang yang disebut Ahlul Halli wal Aqdi.” (At-Tahrir wa At-Tanwir, Juz V hlm. 98)

Dari penjelasan Ibnu Taimiyah dan Muhammad Thahir bin Asyur di atas, bisa disimpulkan bahwa para pemimpin jama’ah minal muslimin adalah Ulil Amri bagi anggota jama’ah mereka. Wallahu a’lam.

DALIL-DALIL KHUSUS

Rasulullah SAW menekankan urgensi kesatuan kelompok kaum muslimin, sejak dari kelompok terkecil sampai kelompok terbesar. Kelompok terkecil umat Islam adalah tiga orang muslim yang berkumpul pada suatu tempat tertentu, untuk satu rentang waktu tertentu, demi sebuah tujuan tertentu. Adapun kelompok terbesar umat Islam adalah seluruh kaum muslimin sedunia.

Semua kelompok umat Islam tersebut harus diikat oleh sebuah kepemimpinan yang mengatur urusan bersama di antara mereka. Sebuah kelompok tentu terdiri dari pemimpin, anggota-anggota dan sejumlah aturan yang harus ditaati bersama. Di antara dalil-dalil khusus tentang hal itu adalah hadits-hadits shahih berikut ini.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:… وَلَا يَحِلُّ لِثَلَاثَةِ نَفَرٍ يَكُونُونَ بِأَرْضِ فَلَاةٍ إِلَّا أَمَّرُوا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ…

Dari Abdullah bin Amru bin Ash RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “…Tidak halal bagi tiga orang yang berada di sebuah tanah terpencil (padang pasir) kecuali mereka harus mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pimpinan kelompok.” (HR. Ahmad no. 6647. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan hadits ini shahih li-ghairih)

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ « إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِى سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ »

Dari Abu Sa’id al-Khudri RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Jika tiga orang bersama-sama melakukan perjalanan jauh, maka mereka harus mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pimpinan kelompok.” (HR. Abu Daud no. 2608, Abu Ya’la, Abu ‘Awanah, At-Thahawi, At-Thabarani, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr dan Al-Baghawi)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ « إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِى سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ »

Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Jika tiga orang bersama-sama melakukan perjalanan jauh, maka mereka harus mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pimpinan kelompok.” (HR. Abu Daud no. 2609, Abu ‘Awanah, Al-Baihaqi dan Al-Baghawi)

Tiga orang muslim yang hidup di sebuah padang pasir, atau daerah terpencil wajib mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai Amir (pimpinan atau ketua). Tiga orang muslim yang melakukan perjalanan jauh untuk rentang waktu beberapa hari juga wajib mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai Amir. Demikian perintah Nabi Muhammad SAW.

Terlebih apabila orang-orang muslim tersebut berjumlah belasan orang, puluhan orang, ratusan orang, ribuan orang, atau bahkan jutaan orang. Terlebih apabila orang-orang muslim tersebut berkumpul dan hidup Bersama dalam waktu yang lebih lama; berpekan-pekan, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun.

Setelah menyebutkan hadits-hadits di atas, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah al-Harrani menulis,

فَإِذَا كَانَ قَدْ أَوْجَبَ فِي أَقَلِّ الْجَمَاعَاتِ وَأَقْصَرِ الِاجْتِمَاعَاتِ أَنْ يُوَلَّى أَحَدُهُمْ : كَانَ هَذَا تَنْبِيهًا عَلَى وُجُوبِ ذَلِكَ فِيمَا هُوَ أَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ

Jika Rasulullah SAW telah mewajibkan pengangkatan salah seorang sebagai pemimpin dalam sebuah kelompok yang paling kecil (tiga orang) dan dalam perkumpulan yang paling singkat waktunya (yaitu kepentingan safar), maka hal ini merupakan peringatan akan kewajiban mengangkat pemimpin untuk kelompok yang lebih banyak jumlah anggotanya (dan lebih lama durasi waktunya).” (Majmu’atu al-Fatawa, Juz XXVIII hlm. 65)

Imam Muhammad bin Ali asy-Syaukani (wafat tahun 1250 H) berkata:

وفيها دليل على أنه يشرع لكل عدد بلغ ثلاثة فصاعدا أن يؤمروا عليهم أحدهم لأن في ذلك السلامة من الخلاف الذي يؤدي إلى التلاف. فمع عدم التأمير يستبد كل واحد برأيه ويفعل ما يطابق هواه فيهلكون. ومع التأمير يقل الاختلاف وتجتمع الكلمة. وإذا شرع هذا لثلاثة يكونون في فلاة من الأرض أو يسافرون فشرعيته لعدد أكثر يسكنون القرى والأمصار ويحتاجون لدفع التظالم وفصل التخاصم أولى وأحرى.

Hadits-hadits ini menjadi dalil disyariatkannya bagi setiap perkumpulan yang terdiri dari tiga orang atau lebih untuk mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin kelompok. Dengan adanya pengangkatan pemimpin kelompok itu niscaya mereka akan selamat dari perselisihan yang dapat mengakibatkan kehancuran. Tanpa adanya pengangkatan pemimpin kelompok, masing-masing orang akan memaksakan pendapatnya sendiri dan bertindak sesuai kemauannya sendiri, sehingga mereka hancur.”

Dengan adanya pengangkatan pemimpin, niscaya perselisihan akan berkurang dan tercapai persatuan. Jika pengangkatan pemimpin itu disyariatkan untuk tiga orang yang hidup di sebuah padang pasir yang sepi, atau tiga orang yang sedang bepergian jauh, niscaya pengangkatan pemimpin itu lebih layak dan lebih wajib lagi untuk orang yang jumlahnya lebih besar, yang hidup menetap di desa-desa dan kota-kota, yang harus menolak kezaliman di antara mereka dan menyelesaikan perselisihan di antara mereka.” (Nailul Authar min Asrar Muntaqa al-Akhbar, Juz X hlm. 504)

Pemimpin kelompok kecil tersebut wajib ditaati oleh anggota-anggotanya, selama memerintahkan dalam perkara ketaatan dan dalam ruang lingkup kemampuan mereka untuk melakukannya. Pemimpin kelompok kecil tersebut, walaupun hidupnya dengan zaman Nabi SAW terpaut jarak seribu tahun lebih, namun statusnya adalah seperti pemimpin yang diangkat langsung oleh Nabi SAW. Sebab, pemimpin tersebut diangkat berdasarkan perintah Nabi SAW dalam ketiga hadits shahih di atas.

Hal itu sebagaimana ditegaskan oleh Umar bin Khatab RA dalam sebuah atsar yang shahih.

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّهُ قَالَ : إِذَا كُنْتُمْ ثَلاَثَةً فِي سَفَرٍ فَأَمِّرُوا عَلَيْكُمْ أَحَدَكُمْ ذَاكَ أَمِيرٌ أَمَّرَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Umar bin Khatab RA berkata, “Jika kalian berjumlah tiga orang sedang melakukan sebuah perjalanan jauh, maka kalian wajib mengangkat salah seorang di antara kalian sebagai pemimpin kelompok. Pemimpin kelompok tersebut adalah pemimpin yang diangkat oleh Rasulullah SAW.” (HR. Al-Hakim no. 1623 dan Al-Bazzar no. 329. Al-Hakim dan Adz-Dzahabi menyatakan atsar ini shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim. Asy-Syaukani menyatakan sanadnya shahih)

Jika status pemimpin kelompok tersebut sama halnya dengan pemimpin yang diangkat langsung oleh Rasulullah SAW, maka pemimpin tersebut berhak mendapat ketaatan dari anggota-anggotanya dalam ruang lingkup kewenangan kelompoknya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

«مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيرِي فَقَدْ عَصَانِي»

Barangsiapa menaatiku, niscaya ia telah menaati Allah dan barangsiapa membangkang kepadaku niscaya ia telah membangkang kepada Allah. Barangsiapa menaati pemimpin yang aku angkat, niscaya ia telah menaatiku dan barangsiapa membangkang kepada pemimpin yang aku angkat niscaya ia telah membangkang kepadaku.” (HR. Bukhari no. 7137 dan Muslim no. 1835)

Sudah tentu ruang lingkup ketaatan kepada pemimpin jama’ah minal muslim itu lebih sempit dan lebih kecil ruang lingkupnya dibandingkan ketaatan kepada seorang khalifah. Secara umum, hal ini sudah dipahami oleh berbagai jama’ah minal muslimin yang ada di tengah kaum muslimin. Hanya jama’ah-jama’ah yang terpapar paham ghuluw saja yang menyamakan ruang lingkup ketaatan kepada pimpinan jama’ah minal muslimin, dengan ketaatan kepada khalifah. Wallahu a’lam [Fadhlullah]

REFERENSI

Muhammad Thahir bin Asyur at-Tunisi, At-Tahrir wa At-Tanwir, Tunis: Ad-Dar at-Tunisiyah, cet. 1, 1984 M.

Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Qur’an al-Hakim (Tafsir al-Manar), Kairo: Mathba’ah al-Manar, cet. 1, 1328 H.

Ibnu Taimiyah al-Harrani, Majmu’atu al-Fatawa, Manshurah: Darul Wafa’, cet. 3, 1426 H.

Mahmud Syakir, At-Tarikh al-Islami XVII: At-Tarikh al-Mu’ashir Turkiya, Beirut: Al-Maktab Al-Islami, cet. 2, 1417 H.

Shalah as-Shawi, Jama’at al-Muslimin Mafhumuha wa Kaifiyatu Luzumiha fi Waqi’ina al-Mu’ashir, Kairo: Dar as-Shafwah, cet. 1, t.t.

Manna’ bin Khalil al-Qathan, Mu’awwiqat Tatbiq asy-Syari’ah al-Islamiyah, Kairo: Maktabah Wahbah, cet. 1, 1411 H.

Hisyam bin Abdil Karim al-Badrani, An-Nizham as-Siyasi Ba’da Hadmi Daulat al-Khilafah, Mosul: Mathba’ah Az-Zahra’, cet. 1, t.t.

Muhammad bin Ali asy-Syaukani, Nailul Authar min Asrar Muntaqa al-Akhbar, Riyadh: Dar Ibnil Qayyim, cet. 1, 1426 H.

Ahmad bin Amru al-Bazzar, Musnad al-Bazzar, Beirut: Muassasah Ulum al-Qur’an, cet. 1, 1409 H.

Muhammad bin Abdillah al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala as-Shahihain, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cet. 2, 1422 H.

share on: