Hidup di Bawah Naungan Syariat, Sudah Siapkah Kita?

share on:
Hidup di Bawah Naungan Syariat Sudah Siapkah Kita-istidlal-org

Beberapa tahun lalu, Dr. Muhammad Mursi tampil sebagai sosok politikus muslim yang hampir—jika belum bisa dikatakan sudah—berhasil memperjuangkan penegakan syariat Islam dalam bentuk negara dengan mengikuti legal-formal sistem demokrasi. Namun, dalam waktu yang begitu singkat setelah terpilih menjadi presiden secara sah, Dr. Muhammad Mursi dilengserkan. Terjadi ketidakpuasan pada masyarakat seperti janji politik yang belum terpenuhi, seringnya terjadi pemadaman listrik, dan kurangnya bahan makanan dan bahan bakar kendaraan. Selain itu, sebagian Media Barat sekarang mengakui bahwa kekhawatiran ini secara artifisial diciptakan oleh oposisi dan dirancang untuk menjatuhkan Dr. Muhammad Mursi. (www.nytimes.com)

Penting untuk dimasukkan ke dalam konteks bahwa hal-hal yang ditawarkan untuk dicapai oleh Dr. Muhammad Mursi selama masa pemerintahannya adalah mempercepat implementasi Syariat. Dan ini adalah sesuatu yang tidak ditawarkan oleh pihak lain selama masa pemilihan umum terakhir.

Beberapa aktivis Muslim tetap turun ke jalan memprotes Dr. Muhammad Mursi (pada tahap awal pemerintahannya). Meskipun mereka mengaku shalat, membaca Al-Qur’an, mencintai Allah dan mencintai Rasul (Sallallahu’alaihi wasalam), tetapi protes mereka adalah seputar pemadaman listrik, kekurangan bahan bakar dan sebagainya.

Masalah-masalah dasar yang asli dan sangat nyata ini memberi kita sebuah pelajaran penting bahwa, dinamika cara kita dalam menyampaikan dakwah dan interaksi kita dengan massa hendaknya tidak terbatas pada ta’lim rutin dan ceramah, tetapi juga harus masuk pada tingkat yang lebih pribadi dan sosial.

 

Baca juga: Syariat Allah Tetap Lebih Agung dari Kidung dan Konde Sukmawati yang Tak Tahu Syariat Islam! 

 

Dengan kata lain, terlepas dari apa jenis sistem yang sedang dilaksanakan (kufur atau syariat), selama “kebutuhan dasar” terpenuhi, warga pun akan puas. Tentu saja, seseorang bisa berpendapat bahwa hampir tidak mungkin bagi Dr. Muhammad Mursi untuk menemukan cara meredakan kekhawatiran massa, karena banyaknya rintangan yang diciptakan oleh oposisi dan para “penjaga-tua”. Namun sebuah pelajaran yang penting di sini adalah bagaimana kita bisa memberi prioritas pada urusan dasar rakyat.

Namun demikian, keinginan seorang Muslim untuk menerapkan Syariat adalah aspek fundamental dari agama kita. Islam tidak hanya shalat, puasa dan membaca Al-Qur’an. Kita tidak dapat memilih jenis ibadah apa yang ingin kita lakukan dan yang bisa kita tinggalkan. Allah berfirman:

Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain?” (QS. Al-Baqarah: 85).

Sebaliknya, kita harus masuk Islam sepenuhnya, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan.” (QS. Al-Baqarah: 208)

Begitu pentingnya konsep-konsep ini yang dijabarkan dengan sangat rinci di awal Al-Quran (QS. Al-Baqarah). Meskipun ada beberapa keluhan yang tulus terhadap Dr. Muhammad Mursi, namun keluhan itu sah jika terkait masalah materi duniawi.

Sedihnya, sikap terhadap kepedulian duniawi seperti ini adalah jalur yang sangat berbahaya untuk ditempuh, karena jika kita tidak mampu bersabar dalam keadaan duniawi seperti ini, lalu bagaimana jadinya sikap kita saat Al-Mahdi datang?

 

Baca juga: Islam Sebagai Diin: Mindset Masyarakat Muslim yang Pudar di Era Negara-Bangsa 

 

Hidup di Bawah Naungan Syariat Sudah Siapkah Kita 2-istidlal-org

UJIAN MEMPERTAHANKAN SYARIAT DI ZAMAN DAJJAL

Nabi (Sallallahu’alaihi wasalam) bersabda bahwa sebelum munculnya Dajjal akan ada tiga musim kemarau. Dalam satu tahun langit akan menahan sepertiga hujannya, menyebabkan bumi menahan sepertiga hasil buminya.

Pada tahun kedua langit akan menahan dua pertiga hujannya, menyebabkan bumi menahan dua pertiga dari hasil panennya. Pada tahun ketiga, langit akan menahan semua airnya dan tidak akan ada panen tahun itu. Semua hewan akan mati.

Dajjal akan mendekati siapa pun dan bertanya: “Jika aku menghidupkan untamu, akankah kamu percaya bahwa aku adalah Tuhanmu?

Orang ini akan menjawab, “Tentu saja.” (HR. Ahmad)

Begitu dahsyatnya fitnah saat itu, sehingga kita yang Muslim dapat menjual akhirat untuk mendapat dunia kita. Dan untuk alasan ini, Nabi (Sallallahu ‘alaihi wasalam) melatih kita melawan godaan tersebut dengan membaca Surah Al-Kahfi setiap pekan pada hari Jumat. Semua ujian utama yang dihadapi dalam kehidupan dapat ditemukan dalam Surah ini.

Banyak Muslim berpikir bahwa begitu Syariat diterapkan, semua masalah kita akan terpecahkan. Ini tidak sepenuhnya benar karena ada saat-saat dimana para Shahabat Nabi pun mengalami kelaparan karena kekurangan makanan selama pemerintahan Nabi (Sallallahu’alaihi wasalam). Apakah kita mengatakan bahwa Nabi bukanlah seorang pemimpin yang baik? Na’udzuubillah!

Sebaliknya, penerapan hukum Allah terlepas dari apakah ia bisa dengan segera menyelesaikan masalah warga negara tidaklah menjadi tolok ukur, tetapi yang dicari adalah ridha Allah.

Shalat adalah kewajiban dan harus dilakukan terlepas dari apakah kita merasakan manfaatnya atau tidak. Ini bukanlah argumen andalan Syariat, tetapi akan ada saat-saat di mana pengorbanan dan kesulitan harus ditanggung dalam menjalankan Syariat.

 

MEMAHAMI GAMBARAN PALSU TENTANG SYARIAT

Jadi kenyamanan dan harapan kita akan hal-hal materialistik tidak boleh mengesampingkan hal yang jauh lebih penting. Apa yang terjadi di Mesir adalah gambaran nyata mengapa kita harus lebih banyak terlibat untuk memahamkan komunitas yang lebih luas termasuk Non-Muslim tentang penggambaran palsu terkait Syariat.

Fokusnya tidak hanya dengan mempertahankan aspek ‘kontroversial’ itu, melainkan kita memiliki narasi sendiri tentang Syariat di mana umat Islam, Yahudi dan Kristen bisa hidup dalam damai satu sama lain dan setiap komunitas bisa mendapatkan manfaat dari hukum Syariat yang ditawarkan.

 

Baca juga: Posisi Syariat dalam Koridor Negara Bangsa 

 

Surah Al-Baqarah adalah sebuah Surah penting yang berhubungan dengan banyak aspek Syariat. Dan penempatannya sebagai Surah kedua Al-Qur’an sangat menarik. Tidak hanya itu, Surah Madaniah (diturunkan di Madinah pasca hijrah) ini banyak berfokus pada hukum dan tidak begitu banyak membahas masalah keyakinan (seperti karakteristik dari Surah Makkiah) tetapi juga merupakan bab terpanjang di seluruh Al-Qur’an.

Allah menyebutkan beberapa hukum yang relatif ‘sulit’ pada posisi yang sangat awal dalam Kitab, apakah itu aspek perceraian, haji, jihad dan sebagainya. Seluruh Surat terkait dengan banyak aspek keimanan, terutama kepercayaan pada yang ghaib, termasuk juga beberapa hukum yang disebutkan di dalamnya.

Bahkan, kita dapat menemukan lima kisah tentang kehidupan setelah kematian dan pelajaran penting mengenai ketaatan penuh kepada Allah meskipun tidak mengetahui manfaat atau hikmah dari apa yang  Allah perintahkan.

Seperti yang Allah firmankan: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Dari perspektif ini, aspek paling mendasar dari Dien bisa ditemukan di bagian awal Al-Quran (hukum-hukum dalam Surah Al-Baqarah), di bagian akhir Al-Qur’an (masalah keimanan dalam Juz ‘Amma) dan juga di bagian tengah Al-Qur’an (bagaimana menghadapi ujian/cobaan dalam Surat Al-Kahfi).

Meskipun, kembali ke Surah Al-Baqarah, kita melihat keseimbangan yang indah antara Islam secara lahiriah dalam bentuk hukumnya dan secara batiniah dalam bentuk Iman. Artinya satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Untuk memiliki Iman, hukum syariat tertentu harus diterapkan.

Sebaliknya, pelaksanaan hukum-hukum syariat tersebut merupakan bukti keimanan. Dalam prinsip ini kita dapat melihat begitu banyak manfaat yang bisa dipetik dan bagaimana kita harus bertindak dan bereaksi di masa yang akan datang.

Suksesi atau pergantian (istikhlaaf) di muka bumi adalah salah satu tema utama Surah Al-Baqarah. Meskipun bisa diperdebatkan, menurut kami tema ini adalah tujuan dari Surah tersebut. Kita ditunjukkan contoh-contoh usaha yang gagal oleh rakyat Musa dan usaha yang berhasil oleh Ibrahim ‘alaihimusalam.

Dapat dilihat bahwa mengamankan basis adalah prasyarat untuk menegakkan hukum Allah. Dan hanya setelah berbicara tentang istikhlaaf ini di bagian awal dari Surat kemudian Allah baru menyebutkan hukum-hukum independen secara lebih rinci di paruh kedua.

Tema yang terdapat di seluruh Surah adalah tentang iman yang ghaib. Melalui keimanan ini seorang hamba dapat mencapai Tuhannya menembus batas pandangan manusia. Jadi jika kita membatasi keberhasilan dan kegagalan suatu negara hanya berdasarkan angka dan hasil, kita pasti akan kehilangan apa tujuan sebenarnya. Dan melalui keyakinan iman, konsep negara Islam yang sukses akan dilihat dari dimensi yang berbeda. Sehingga motivasi untuk melakukan perbuatan baik tidak semata-mata didasarkan pada hasil duniawi tetapi juga hasil secara spiritual.

Hari ini, keberhasilan partai yang dipilih secara demokratis sering dinilai dengan keberhasilan pencapaian ekonomi mereka dalam jangka waktu yang cepat—perspektif materialistis tentang kesuksesan adalah sesuatu yang harus kita hindari jika kita ingin sukses dalam arti yang sebenarnya.

 

Baca juga: Dalil-Dalil Syar’i Tentang Wajibnya Mendirikan Khilafah

 

KENALI SIAPA PENGHALANG PROSES IMPLEMENTASI SYARIAT

Lebih jauh lagi, untuk bisa mengetahui bagaimana negara Islam yang sukses semacam itu bisa didirikan, kita juga harus terbiasa mengetahui siapa yang menjadi penghalangnya. Oleh karena itu, orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik sering disebutkan dalam Surah ini.

Kehadiran orang-orang munafik hanya muncul ketika Islam telah berdiri tegak dan dengan demikian satu-satunya peran mereka adalah menyebabkan kekacauan di antara jajaran Muslim dan mengubah tujuan muslim dari mencapai jalan murni menuju Allah.

Orang-orang Yahudi tidak hanya disebutkan bahwa mereka aktif sebagai kekuatan eksternal untuk menghalangi tegaknya Negara Islam yang muncul di Madinah selama masa Nabi. Tetapi, mereka juga menyusup ke dalam kekuatan internal dalam bentuk pengikut Nabi.

Allah berfirman: “Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa suatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?” (QS. Al-Baqarah: 87)

Masalah yang kita hadapi bukan hanya persekongkolan pasukan musuh dari luar yang menghambat kemajuan umat Islam, tetapi juga musuh dari kalangan kita dan kesalahan diri kita sendiri yang juga sama menghambatnya.

Kita mungkin mengangguk setuju saat membaca beberapa poin yang dipaparkan di sini, tetapi apakah kita yakin bahwa kita tidak termasuk kategori “Muslim yang bersalah” karena tidak mau masuk ke dalam Islam secara sepenuhnya?

Berapa banyak Muslim yang kita tahu shalat 5 kali sehari, tetapi tidak memenuhi perintah yang lain dalam hal membagi warisan misalnya, sesuai apa yang diridhai Allah?

Kita tidak bisa memilih hanya menjalankan ibadah yang ‘mudah’ dan meninggalkan yang ‘sulit’.

Hal-hal yang diperintahkan bukanlah anjuran (mustahabbat), tetapi kewajiban. Jika kita tidak mau hidup di bawah hukum Allah, maka sama saja kita bersedia memiliki Tuhan selain Allah untuk memerintah kita—hal ini sepenuhnya bertentangan dengan ketaatan total kepada Allah.

Karena itu, daripada bertanya apakah kita siap hidup di bawah aturan Syariat. Pertanyaan yang lebih tepat mungkin: Apakah kita siap untuk masuk ke Jannah? [istidlal.org/diadaptasi dari islam21c.com] 

share on: