Hijrah, Jalan Perjuangan para Ulama Salaf

share on:
Hijrah, Jalan Perjuangan para Ulama Salaf-istidlal.org

Hijrah, Jalan Perjuangan para Ulama Salaf — Al-Quran mengisahkan jalan yang dilalui para Nabi dalam mempertahankan agamanya. Berbagai tekanan, ancaman, dan intimidasi mereka terima. Al-Quran merekam kejadian tersebut, lewat percakapan para Nabi dengan kaum musyrikin, dan hampir bahkan tiap Nabi mengalami kondisi yang sama. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا

Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami’.” (QS. Ibrahim: 13) 

Dalam ayat ini, sebagaimana disebutkan oleh Fakhrudin Ar-Razi, orang-orang musyrik mengancam para nabi dengan dua pilihan, mengikuti kepercayaan musyrikin atau diusir dari tempat mereka. Hal ini dapat terjadi, karena jumlah mereka yang lebih banyak, sehingga menjadi lebih kuat pengaruhnya. Mereka saling mendukung dan membantu.

Baca juga: Perusak Fitrah Suci #1: Tatanan Kehidupan Jahiliyah

Menurut ar-Razi, termasuk dalam makna mengikuti kepercayaan musyrikin adalah berdiam diri tidak mendakwahkan risalah dan berhenti menjelaskan keburukan keyakinan orang-orang musyrik tersebut. (Fakhrudin Ar-Razi, Mafatihul Ghaib, (Beirut: Darul Ihyait Turats al-Araby, Cet-3, 1420 H), 19/76-77)

Ancaman itu bukan hanya ditujukan kepada para Nabi saja, bahkan juga berlaku bagi para pengikutnya. Hal ini terjadi kepada Nabi Syuaib dan para pengikutnya, Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَاشُعَيْبُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا

Para pemuka dari kaum Syu’aib yang sombong berkata: Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami.” (QS. Al-A’raf: 88)

Mereka manfaatkan dominasi kesukuan sebagai alat untuk melawan kebenaran. Agama, tanggung jawab serta kebenaran diabaikan. Mereka turuti hawa nafsu dan akal bodohnya, sehingga keluar dari mulutnya perkataan yang kotor dan merusak (As-sa’di, Taisirul Karimir Rahman Fi tafsiri Kalamil Manan, Tahqiq: Abdurahman bin Mu’alla, (Muassasatur Risalah, Cet-1, 1420 H), 296).

Baca juga: Mungkinkah Terjadi Jahiliyah Pada Era Milenial?

Setiap Nabi di sepanjang masa menerima ancaman-ancaman tersebut, mengikuti kemusyrikan atau diusir sehingga mereka harus hijrah. Al-Quran mengisahkan, sebagian Rasul akhirnya berhijrah. Sebagaimana kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, bahkan ancaman yang beliau terima berasal dari bapaknya sendiri, berupa ancaman bunuh dan diminta untuk pergi,

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَاإِبْرَاهِيمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا

“Berkata bapaknya: ‘Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam (dilempari batu hingga mati), dan tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama’.” (QS. Maryam: 46) 

Lantas Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berhijrah bersama saudaranya Luth yang mengimani apa yang dibawa Nabi Ibrahim. Sementara dakwah beliau ditolak oleh kaumnya secara umum.

Baca juga: Materi Khutbah Jumat – Bal’am bin Ba’ura: Menjual Agama demi Dunia

فَآمَنَ لَهُ لُوطٌ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَى رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Maka Luth membenarkan (kenabian)nya. Dan berkatalah Ibrahim: ‘Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Rabbku (kepadaku); sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana’.” (QS. Al-Ankabut: 26) 

Selanjutnya Nabi Luth menetap di Sodom, mendakwahi kaumnya kepada tauhid dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan. Dan akhirnya ancaman pun datang dari mereka, seraya mengatakan bahwa mereka akan mengusirnya. Nabi Luth tetap kukuh dalam dakwahnya dan tidak menggubris ancaman mereka. Melihat langkah yang diambil Nabi Luth, maka mereka sepakat untuk merealisasikan ancamannya,

فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوا آلَ لُوطٍ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ

Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: ‘Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (menda’wakan dirinya) bersih’.” (QS. Maryam: 56)

Selanjutnya datanglah perintah dari Allah Ta’ala kepada Nabi Luth ‘alaihissalam  untuk berhijrah dan meninggalkan kampong tersebut,

فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَاتَّبِعْ أَدْبَارَهُمْ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ

Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutlah mereka dari belakang dan janganlah seorangpun di antara kamu menoleh kebelakang.” (QS. Al-Hijr: 65) 

Perjalanan hijrah juga dialami oleh Nabi Musa ‘alaihissalam. Sebagaimana disebutkan Allah Ta’ala dalam firmanNya,

وَإِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ أَنْ تَرْجُمُونِ # وَإِنْ لَمْ تُؤْمِنُوا لِي فَاعْتَزِلُونِ # فَدَعَا رَبَّهُ أَنَّ هَؤُلَاءِ قَوْمٌ مُجْرِمُونَ # فَأَسْرِ بِعِبَادِي لَيْلًا إِنَّكُمْ مُتَّبَعُونَ

“Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu, dari keinginanmu merajamku # dan jika kamu tidak beriman kepadaku maka biarkanlah aku (memimpin Bani Israil) # Kemudian Musa berdoa kepada Tuhannya: “Sesungguhnya mereka ini adalah kaum yang berdosa (segerakanlah azab kepada mereka).” # (Allah berfirman): “Maka berjalanlah kamu dengan membawa hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar.” (QS. Ad-Dukhan: 20-23) 

Perjalanan hijrah para Nabi menyiratkan semangat dan keteguhan mereka dalam iqamatudin. Satu persoalan yang seyogyanya dan bahkan seharusnya dimiliki oleh setiap muslim. Mengingat bahwa keimanan itu harus selalu dijaga, syariat Islam itu harus dibela dan dipertahankan. Pengorbanan apapun harus dilakukan, dan hijrah merupakan bentuk pengorbanan yang besar dan berat bagi hamba Allah. Bagaimana tidak, sebab dengan itu dia harus meninggalkan bagian hidup yang dicintainya.

Baca juga: Demokrasi, Wadah Ternyaman bagi Liberalisasi

Hijrah yang dilakukan para salaf merupakan bentuk loyalitas mereka terhadap Islam. Keharusan bagi seorang muslim untuk memberikan loyalitas, kecintaan, keberpihakan hanya kepada Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman. Dan sebaliknya kebencian, permusuhan, pengingkaran kepada kekufuran dan antek-anteknya. Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256) 

Dan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan,

أَوثَقُ عُرَى الإِيمَانِ المُوَالَاةُ فِي اللّهِ وَالمُعَادَاةُ فِي اللّهِ، وَالحُبُّ فِي اللّهِ وَالبُغْضُ فِي اللّهِ

Ikatan keimanan yang paling kuat terwujud di dalam memberikan loyalitas dan menyatakan permusuhan karena Allah, serta mencintai dan membenci karena Allah.” (HR. Ahmad no. 18547 dan Thabrani no. 4479)

Loyalitas ini dapat tergerus dari diri seorang mukmin. Sehingga membuatnya enggan untuk berhijrah, merasa berat meninggalkan yang dicintai. Salah satu faktornya adalah nasionalisme, yang mampu mengalihkan bahkan merebut loyalitas mukmin terhadap agamanya.

 

NASIONALISME PENGHALANG HIJRAH

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam mengingatkan umatnya,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

“Bukan termasuk golongan kami yang menyerukan fanatisme, berperang karena fanatisme dan mati karena fanatisme.” (HR. Abu Daud No: 5121).

Dalam riwayat yang lain juga disebutkan,

مَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ، يَدْعُو عَصَبِيَّةً، أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً، فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

Dan barangsiapa mati di bawah bendera kefanatikan disaat menyerukan fanatik kesukuan atau karena ingin menolong kebangsaan, maka matinya seperti mati jahiliyah” (HR. Muslim No: 57/1850).

Kedua hadits di atas mengingatkan umat Islam agar waspada terhadap fanatisme. Entah itu fanatisme kesukuan, kelompok, golongan, kebangsaan dan semisalnya. Sebab fanatisme seperti itu, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi, dapat mendorong seseorang untuk bertindak mengikut hawa nafsunya yang termotivasi oleh rasa kesatuan suku, kelompok, bangsa dan semisalnya. Bahkan peringatan tersebut ditegaskan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam, kematian pelakunya berbanding lurus dengan kematian dalam kejahiliyahan. (An-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, (Beirut: Dar Ihyaut Turats, Cet-2, 1392 H), 12/237-238)

Salah satu bentuk nyata dari fanatisme adalah paham nasionalisme. Nasionalisme adalah suatu konsep yang menjadikan hasrat penganutnya bergerak atas dasar perpaduan antara sentimen kebudayaan dan loyalitas kebangsaan yang terwujud dalam bingkai politik yang termanifestasikan dalam negara (Scott John Hammond, Political Theory an Encyclopedia of Contemporary and Classic Terms, (London: Greenwood Press, 2009), 221). Pembatasan loyalitas yang dibatasi atas kesamaan suku, bangsa, dan budaya menjadi ciri yang membedakan Nasionalisme dengan Islam.

Baca juga: Islam, Ideologi Pemersatu Suku dan Bangsa

Loyalitas dalam Islam terhimpun dalam bingkai agama karena Allah. Kecintaan, kebencian, persahabatan, permusuhan dilakukan atas dasar karena Allah. Tanpa melihat pada sekat suku, warna kulit, ras, kelompok, keturunan, bangsa dan semisalnya. Tentunya beda dengan prinsip yang terkandung dalam Nasionalisme. Artinya, antara islam dan Nasionalisme adalah dua hal yang berbeda, dan tidak mungkin dipadukan.

Dalam hal ini, Islam bertujuan membentuk masyarakat dalam sekup yang luas, merobohkan sekat-sekat nasionalisme dan menghancurkan belenggu fanatisme. Sebagaimana dijelaskan oleh Al-Maududi, di dalam salah satu karya tulisnya, beliau menolak perpaduan antara Islam dengan faham Nasionalisme. Dalam artian beliau tidak menyetujui seseorang yang mengatakan muslim nasionalis, karena kedua-duanya tidak bisa bertemu. (Abul A’la Al-Maududi, Al-Ummah Al-Islamiyah wa Qadhiyatul Qaumiyah, (Kairo: Darul Anshar, 1951), 154 dan 174)

Melihat perbedaan yang begitu kentara antara Nasionalisme dan loyalitas dalam Islam. Sangat memungkinkan hijrah itu akan sulit dilakukan jika masih bercokol dalam diri seorang muslim rasa Nasionalisme. Oleh itu, sejak dini perlu disadari betul perihal urgensinya menjaga diri dari rasa nasionalisme yang merusak loyalitas diri dalam berislam. Sebab bisa jadi rasa Nasionalime itu tumbuh dari sesuatu yang tidak disadari.

Ada suatu ungkapan yang layak direnungkan dari seorang misionaris Kristen, ia mengatkan, “Kami di setiap negara Islam ketika sudah memasukinya, akan kami lakukan penggalian tanah, guna memburu peninggalan kebudayaan kuno sebelum datangnya Islam. Kami tidak meyakini bahwa hal ini akan berefek bagi mereka sehingga meninggalkan agamanya. Namun, paling tidak  hal tersebut dapat membingungkan loyalitas mereka antara agama dan budaya. (Shalah Ash-Shawi, Ath-Thatharruf ad-Diini ar-Ra’yu al-Aakhar, (Al-Aafaq Ad-Dauliyah, TT), 266)

Jangan sampai loyalitas kita kepada agama tergerus, sehingga semangat iqamatudin semakin pudar. Hingga akhirnya disaat Islam butuh pembelaan kita tidak merasa terpanggil, disaat Islam direndahkan kita merasa santai, dan disaat panggilan hijrah datang kita merasa berat. Wallahu A’lam Bisshawab. [El-Mursi/istidlal.org]

share on: