Hubbul Wathon, Hadits Palsu yang Diselewengkan Maknanya

share on:
Hubbul Wathon

Istidlal – Kecintaan kepada tanah air (tanah kelahiran) itu merupakan tabiat dan fitrah manusia,  perihal ini sama halnya dengan cinta terhadap jiwa,harta dan keluarga, Seluruh manusia sama dalam kecintaan ini, baik dia kafir maupun mukmin, Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ أَوِاخْرُجُوا مِن دِيَارِكُم مَّافَعَلُوهُ إِلاَّ قَلِيلُُ مِّنْهُمْ….

Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka:”Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka.” (QS. An-Nisa’: 66).

Ayat ini dalil bahwa mereka mencintai negeri mereka padahal mereka tidak memiliki iman. Karena yang dimaksud “mereka” dalam ayat ini adalah orang-orang munafik atau orang-orang yang tidak taat kepada Rabb-Nya (orang kafir) , karena  orang yang benar-benar beriman kepada Allah ta’ala akan selalu berusaha mengerjakan  syariat Allah ta’ala.

Oleh karena itu mencintai tanah air bukan bagian dari tuntutan iman atau konsekuensi keimanan, Bukankah anda melihat bahwa semua manusia memiliki sifat ini? Baik yang muslim maupun yang kafir, baik orang yang bertakwa ataupun orang yang fasiq, baik orang yang mukmin maupun orang munafiq tanpa terkecuali, padahal Allah –Subhanahu wa ta’ala– membedakan kedudukan orang mukmin dengan orang kafir, sebagaimana dalam firmannya :

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ، مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)?, Atau adakah kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan? ”  ( QS. Al Qalam : 35-36 ).

Sebagian kelompok Islam, kaum sekuler dan kaum nasionalisme telah menjadikan sebuah syiar “Hubbul Wathon Minal Iman” yang artinya “Cinta tanah air sebagian dari iman” dalam syiar kebangsaan,  Bahkan banyak kalangan yang menganggap itu adalah Hadits Nabi –Shallallahu ‘alahi wa Sallam-, yang lebih parah lagi ungkapan ini sering dipakai mereka sebagai alat untuk melawan perjuangan umat dalam menegakkan syariat Allah ta’ala di atas muka bumi.

Baca juga : Membersihkan Dakwah dari Orientasi Duniawi

Kalau ungkapan ini disebut hadist maka beberapa ulama ada yang menghukuminya sebagai  hadist maudhu’ (palsu), sebagaimana diungkapkan oleh Muhammad Duraisy Al Huut As Syafie dalam kitabnya :

وقال صاحب [ أسنى المطالب في أحاديث مختلفة المراتب ص 123]: حديث: “حب الوطن من الإيمان”  حديث موضوع

Pemilik Kitab Asna Al Mathalib Fi Ahaditsin Mukhtalifatil Maratibi di halaman 123 berkomentar bahwasanya hadist ini palsu.

Imam As-Shoghoni juga  berkata: “ (Hadits hubbul wathon minal iman) Termasuk hadits-hadits yang palsu”. (lihat Kitab Kasyfu Al Khofa Wa Muziil Al Ilbas ‘Amma Isytahara minna Al Ahaadisti ‘Ala Alsinati An Nass 2/345)

Dalam kitab Tahdzirul Muslimin karya Syaikh Al-Azhari Asy-Syafi’i hal. 133 tersebut diterangkan, bahwa hadits “hubbul wathon minal iman” adalah maudhu` (palsu).

Beberapa ulama lain menjelaskan bahwa pernyataan itu bukan hadits. Namun memiliki pengertian yang cocok sesuai syariat yang dibawa Nabi Muhammad –shalllahu ‘alaihi wasallam, seperti Imam As-Sakhawi berkata di dalam kitabnya  :

حديث ” حب الوطن من الإيمان “، لم أقف عليه، ومعناه صحِيح

Hadits hubbul wathan minal iman, saya belum menemukan sumbernya, tetapi makna pernyataan tersebut sahih.

Komentar yang hampir sama dikatakan Imam Jalaluddin As-Suyuthi di dalam kitabnya menyebutkan,

– حديث “حب الوطن من الإيمان” لم أقف عليه

Artinya, “Hadis hubbul wathan minal iman, saya belum menemukan sumber yang valid tentangnya.”

Penilaian hadits tersebut  dapat dirujuk pada referensi-referensi sebagai berikut :

  1. Ad-Durar Al-Muntatsirah fi al-Ahadits al-Masyhurah, karya Imam Suyuthi, hal. 152.
  2. At-Tadzkirah fi al-Ahadits al-Musytaharah, karya Imam Az-Zarkasyi , hal. 11.
  3. al-Maqashid al-Hasanah fi Bayani Katsirin min al-Ahadits al-Musytaharah ‘ala Alsinah, karya Imam Syakhowi, hal 115 dan kitab-kitab lainnya.

Baca juga : Kisah Bani Israel, Saat Berhala Terlihat Indah

Kalau memang maknanya  shahih, maka maknanya bukan seperti yang dipahami oleh orang-orang yang menolak syari’at Allah, Imam Mulla Ali Al-Qari dalam Asrorul Marfû’ah Fi Akhbaril Maudhû’ah, hal 101 menyatakan:

ثُم الأَظْهر في معنى الحديث إِن صح مبناه أَن يحمل على أَن المراد بالوطن الجنة فإِنّها المسكن الأَول لأَبينا آدم على خلاف أنه خلق فيه أو دخل بعدما تكمل وأتم، أَو المراد به مكة فإِنها أُم القرى وقبلة العالم، أَو الرجوع إلى الله تعالى على طريقة الصوفيين فإنه المبدأُ والمعاد كما يشير قوله تعالى : (وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الْمُنْتَهَىٰ ) أو المراد به الوطن المتعارف لكن بشرط أَنْ يكون سبب حبه صلة أَرحامه وإحسانه إلى أهل بلده من فقرائه وأَيتامه

“Kemudian yang lebih benar tentang makna hadits tersebut– jika shahih – mengandung pengertian bahwa yang dimaksud dengan al wathan (tanah air) itu adalah surga, karena surga adalah tempat tinggal (tanah air) pertama bapak moyang kita, yakni Adam. Ada perbedaan ulama tentang diciptakannya di dalam surga atau dimasukkan ke dalam surga setelah selesai dan sempurna penciptaannya, atau yang dimaksud al wathan itu adalah Mekkah, karena Mekkah adalah Ummul Quro dan kiblat dunia, atau yang dimaksud al wathan itu merujuk kepada Allah menurut metode (pemahaman) para sufi, karena Allahlah asal segala sesuatu dan tempat kembalinya sebagaimana firmanNya: ”Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu)”, atau yang dimaksud adalah al wathan (tanah air) pada umumnya, akan tetapi dengan syarat bahwa sebab kecintaannya itu adalah karena silaturahmi, berbuat baik kepada penduduknya yang faqir dan anak-anak yatim”.

Di  dalam kitabnya yang lain Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih beliau mengatakan hal yang sama :

وأما حديث حب الوطن من الإيمان فموضوع، وإن كان معناه صحيحا لا سيما إذا حمل على أن المراد بالوطن الجنة فإنها المسكن الأول

“Dan hadist cinta tanah air sebagian dari Iman adalah hadist yang palsu walaupun maknanya shahih (benar) apalagi jika dipahami bahwa wathan atau tanah air adalah surga, karena sesungguhnya surga tempat tinggal yang pertama untuk Nabi Adam ‘alahissalam” (Lihat Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih : 4/63 )

Imam Muhammad bin ‘Ali Al Makky, dalam Dalilul Falihin Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan,

والوطن الحقيقي هو الدار الآخرة التي لا نهاية لآخرها بإرادة الله تعالى وقدرته كما جاء في الحديث «يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُوْدٌ بِلَا مَوْتٍ وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُوْدٌ بِلَا مَوْتٍ» . قال بعضهم: هذا هو المراد من حديث «حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الإِيْمَانِ» أَي: فينبغي لكامل الإيمان أن يعمر وطنه بالعمل الصالح والإحسان

Tanah air hakiki adalah tanah akhirat yang tiada punya akhir – Atas kehendak dan kuasa Allah, sebagaimana dijelaskan dalam hadis, “Wahai penghuni surga, kalian akan abadi tanpa kematian. Wahai penghuni neraka, kalian akan abadi tanpa kematian.” Sebagian ulama mengatakan, inilah yang dimaksud dari hadits hubbul wathan minal iman; artinya, seyogyanya orang yang sempurna imannya memakmurkan negeri akhiratnya dengan amal yang baik dan berbuat baik kepada sesama. (Dalilul Falihin Syarah Riyadhus Shalihin, 1/14).

Baca juga : Ulama itu Dimuliakan, Bukan Dipersekusi dan Dikriminalisasi

Dari penjelasan ulama diatas kita simpulkan kata “Al-wathan” bisa dibenarkan jika kita artikan sebagai surga (al-jannah). Artinya mencintai surga adalah bagian dari iman, dengan demikian arti hubbul wathan minal iman adalah mencintai surga tanda keimanan. Dalam pengertian semacam ini, cinta tanah air dapat berarti tanda keimanan.

Yang kedua bermakna kembali kepada Allah (al-ruju’ ila allah) sebagaimana pemahaman para ahli tasawuf (thariqati shufiyyah). Artinya senang kembali kepada Allah dengan cara bertaubat atau menjalankan perintah Allah, adalah tanda keimanan. Pengertian semacam ini tidak menyimpan kesalahan.

Atau yang ketiga bermakna negeri yang baik, di mana kita bisa menyambung tali silaturahim dan berbagi kepada mereka. Dalam konteks ini, cinta tanah air artinya, senang menyambung tali silaturahim atau senang berbagi dengan sesama yang kurang mampu (membutuhkan bantuan).

oleh karena itu, penggunaan hadits hubbul wathon minal iman untuk menjustifikasi pemahaman Nasionalisme buta tidaklah tepat. Pertama karena hadits tersebut adalah hadits palsu, bukanlah sebuah hadits sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. Kedua, jika kita anggap hadits itu shohih, maka wathon yang dimaksud bukanlah membela tanah air yang menolak syariat Allah, bukanlah tanah air yang mendukung kezaliman, bukan pula tanah air yang berkolaborasi dengan musuh Allah memerangi wali-wali Allah. Akan tetapi wathon yang seharusnya dicintai adalah kampung akhirat, atau Allah sebagai tempat kembali, atau tanah air yang tegak syariat dan hukum Allah di dalamnya. Wallahu a’lamu bissowab

Penulis: Putra Hanafi
Editor: Romidina

share on: