Imam Al-Auza’i, Sebuah Pelajaran Ketegasan di Hadapan Penguasa

share on:
Kalimat Haq

Istidlal.org – Tatkala Abdullah bin Ali Al-‘Abbasi menaklukkan Damaskus, dia membunuh penduduknya dengan keji, menumpahkan darah, dan merampas banyak harta. Lalu dia bertanya kepada para menteri dan orang-orang yang ada di sekelilingnya, “Apakah ada orang yang berani menentangku?”

Mereka menjawab, “Tidak ada, kecuali Imam Al-‘Auza’i.”

Lantas Abdullah bin Ali Al-‘Abbasi segera memanggil Al-‘Auza’i dan Al-Auza’i pun menjawab panggilannya.

Al-‘Auza’i bersiap. Sang imam ini memakai kain kafan di balik bajunya setelah mandi terlebih dahulu dan meyakini bahwa kematian akan menjemputnya. Sembari memegang tongkatnya, dia mendatangi Abdullah bin Ali Al-‘Abbasi si penguasa.

Tiba-tiba pemandangan terlihat mencekam. Para penjaga menghunus pedang mereka dan kematian pun menari-nari di atas kepala manusia.

Abdullah bin Ali berkata kepada Al-‘Auza’i, “Apa pendapatmu mengenai darah yang telah kami tumpahkan?”

Al-‘Auza’i menjawab dengan tegas dan penuh keteguhan, “Telah bercerita kepada kami fulan dari fulan dari Abdullah bin Mas’ud, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:

«لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِىءٍ مُسْلِمٍ، يَشْهَدُ أَنْ لاَ إلٰهَ إلاَّ اللّهُ، وَأَنِّي رَسُولُ اللّهِ، إلاَّ بِإِحدَىٰ ثَلاَثٍ: الثَّيِّبُ الزَّانِ، وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ، وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ، الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ».

“Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan aku adalah Rasulullah, kecuali dengan salah satu dari tiga sebab berikut: seorang yang muhshan berzina, jiwa diqishash dengan jiwa dan orang yang meninggalkan agamanya, yang memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitâbud Diyât, Bab Qaulillâhi Ta’ala (Al-Mâidah [5]: 45), No. 6878. dan Muslim dalam Kitâbul Qasâmah, Bab Mâ Yubâhu bihi Damul Muslim, No. 1676, 25)

Lantas Abdullah bin Ali marah, lalu menggoreskan tongkat rotannya di tanah dan keringat keluar membasahi keningnya.

Al-‘Auza’i berkata, “Ketika itu aku merasa yakin akan dibunuh. Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya. Di mataku dia tampak seperti seekor lalat.”

Para menteri Abdullah bin Ali kemudian menyingkapkan baju mereka bersiap agar tidak terkena darah Al-‘Auza’i.

Kemudian Abdullah bertanya kepada Al-‘Auza’i tentang harta yang telah dia rampas. Al-‘Auza’i menjawab, “Jika harta itu halal, maka akan dihisab; dan jika haram, maka akan mendapatkan siksa.”

Abdullah berkata, “Keluarlah!”

Tatkala Al-‘Auza’i hendak keluar, Abdullah memberinya sekantung uang. Uang itu diambilnya dan dibagikannya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya, kemudian dia keluar. Setelah peristiwa itu, jadilah dia seorang imam yang sangat dihormati.

Allah SWT berfirman, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah [32]: 24).

Allah AWT juga berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.” (Al-Ahzâb [33]: 39).

Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik jihad ialah berkata yang benar di hadapan penguasa yang zalim.” (Hadits sahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad: 3/19. dan Abu Dawud dalam Kitâbul Malâhim, Bab Al- Amri Wan Nahyi, No. 4344.) [Ibnu Rodja]

share on: