Iqamatuddin dan Tantangan Praktik Hijrah di Era Pemerintahan Nation State

share on:
Iqamatuddin dan Tantangan Praktik Hijrah di Era Pemerintahan Nation State-istidlal.org

Iqamatuddin, istilah yang erat hubungannya dengan keteguhan dalam menjalankan syariat Islam. Dalam firmanNya, Allah Ta’ala menyebutkan,

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah din dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya (QS. Asy-Syura: 13) 

Imam Ath-Thabari menjelaskan, makna ayat ini adalah bahwa menegakkan -mengamalkan- din merupakan perkara yang disyariatkan oleh Allah Ta’ala (Tafsir Ath-Thabari, 21/153). Allah Ta’ala memerintahkan hal tersebut, sehingga menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk menjalankannya.

Terkait iqamatudin, banyak teladan yang bisa kita gali dari kisah para nabi dan para salaf terdahulu. Tugas dakwah yang diemban, berikut ketegaran dalam menjalankan syariat harus senantiasa dijaga.

Sementara terpaan badai cemoohan, hujatan, siksaan bahkan sampai pembunuhan terus datang secara bertubi-tubi. Ingin hati tetap bertahan di tempat yang menjadi naungan sejak kecil, kecintaan pada negeri terasa membuat kaki berat untuk meninggalkan. Tetapi demi iqamatudin, mereka rela meninggalkan tempat tinggal dengan berhijrah mempertahankan keyakinannya.

Baca juga: Syariat Islam Yes, Hukum Jahiliyah No

Ternyata terpaan badai itu bukan hanya dialami oleh para salaf terdahulu. Cina, yang kita kenal sebagai negara dengan pemasok berbagai produk kebutuhan masyarakat. Dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit dan berat. Produk cina lebih murah, meskipun murah kualitasnya masih banyak dipercaya oleh orang Indonesia.

Namun percayakah anda, mereka dengan paham komunisnya melakukan genosida besar-besaran terhadap komunitas muslim Uyghur. Pemerintah Komunis dan Fasis Cina memaksa suku bangsa Uyghur untuk menjadi komunis dan ateis.

Anak-anak Uyghur dipaksa untuk berbicara bahasa Cina, berpakaian pakaian tradisional Tiongkok, mengkonsumsi makanan haram, beribadah dan sujud ke patung Confucius, menghafal arti bendera Komunis, dan akhirnya menjadi 100% berasimilasi.

Lebih dari 2 juta Muslim Uyghur dikurung di kamp konsentrasi mirip dengan gaya Nazi, di mana mereka dipaksa untuk mengutuk agama mereka dan makan daging babi, dengan dalih “memerangi ekstremisme”.

Baca juga: Kenapa Harus Bersyariat Dalam Lingkup Negara?

Dari 24.000 masjid di seluruh Turkistan Timur, lebih dari 20.000 di antaranya telah dihancurkan, diubah menjadi kantor-kantor pemerintah, diberikan kepada pebisnis Cina, dan berubah menjadi pusat propaganda. Lebih dari 60.000 guru agama, dan ulama telah dibuang ke penjara dengan dalih “memerangi ekstremisme”. Ulama besar Muhammad Salih terbunuh di penjara, dan imam terkenal lainnya seperti Abdushukur Haji telah dijatuhi hukuman 20 tahun penjara.

Lebih dari 200.000 anak-anak termasuk bayi yang orangtuanya dikurung di kamp-kamp konsentrasi juga telah dikirim ke kamp konsentrasi remaja. Orang Cina telah menempatkan kamera keamanan pengenal wajah di setiap sudut jalan di Turkistan Timur, lebih jauh lagi mereka mengumpulkan sampel DNA, pemindaian retina, dan sampel suara jutaan orang Uyghur.

Pejabat Cina menggunakan data untuk mengambil organ dari Uyghur untuk digunakan oleh orang-orang China dan pejabat yang kaya. Puluhan ribu mayat pemuda Uyghur yang menghilang telah ditemukan, dan organ mereka telah diambil untuk digunakan oleh orang Cina.

Semua paspor Uyghurs telah dicabut, internet dan telekomunikasi dengan dunia luar telah dihambat. Setiap orang Uyghur yang telah mengunjungi Arab Saudi, Mesir, Turki, dan Pakistan atau memiliki anggota keluarga yang tinggal di negara-negara ini, semuanya telah dijatuhi hukuman lebih dari 10 tahun penjara.

Baca juga: Demokrasi, Wadah Ternyaman bagi Liberalisasi

Pemerintah Cina menyuruh Mesir mendeportasi ribuan mahasiswa Uyghur yang baru belajar Islam, banyak yang dieksekusi ketika tiba di Turkistan Timur. China mengumpulkan informasi dari ribuan orang Uyghur dan menekan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Pakistan untuk mendeportasi semua orang Uyghur.

Cina memaksa keturunan uyghur di luar negeri untuk menjadi mata-mata mereka. Semua pejabat, para intelektual, penulis, artis, aktor, penyanyi, dan pengusaha Uyghur telah dikumpulkan dan dikirim ke kamp-kamp konsentrasi dengan dalih bersaksi palsu.

Semua tanah milik orang-orang Uyghur, rumah, bisnis, dan properti pribadi telah disita dan diberikan kepada pemukim Cina (kolonis), memaksa orang-orang Uyghur jatuh miskin. Cina menduduki negeri yang kaya sumber daya, Turkistan Timur, dan Uyghur telah melakukan perlawanan terhadap China, sehingga China sedang melakukan genosida rahasia dan asimilasi yang jelas dari pemilik sah Turkistan Timur.

Baca juga: Hidup di Bawah Naungan Syariat, Sudah Siapkah Kita?

Tekanan yang menimpa muslim Uyghur setidaknya memberikan gambaran, bahwa hingga saat ini upaya iqamatudin masih ada yang berat untuk menjalankannya. Hijrah dengan artian perpindahan dari satu tempat ke tempat lain menurut etimologi (Lisanul Arab, 5/250) mungkin bisa menjadi solusi.

Persoalan berikutnya bukan hanya daerah mana yang akan menjadi destinasi hijrah tersebut. Tapi juga siapakah yang bersedia menerima dan memenuhi kebutuhan mereka di tempat hijrah nantinya. Sebagaimana halnya para anshar, dengan tangan terbuka penuh suka cita mereka sambut kedatangan para muhajirin. Bukan hanya sekedar berbagi tempat tinggal dan harta, bahkan ada yang berbagi pasangan hidup untuk saudaranya. [El-Mursi/istidlal.org]

share on: