Islam, Ideologi Pemersatu Suku dan Bangsa

share on:
Islam Pemersatu

Istidlal.org – Para pakar sejarah menyebutkan bahwa suku Aus dan suku Khazraj berasal dari nenek moyang yang sama. Kedua suku itu sebenarnya saudara seayah dan seibu. Keduanya adalah keturunan dari Tsa’labah bin Amru dari suku besar Azd, keturunan Kahlan bin Saba’ dari anak-cucu bangsa Arab Qahthaniyah. Kedua suku itu juga menetap di tanah air yang sama, kota Yatsrib. Namun siapa menyangka, karena satu kasus belaka, kedua suku tersebut terlibat peperangan saudara yang berlangsung selama 120 tahun.

Kasus tersebut adalah tatkala seorang anggota suku Aus membunuh Al-Hurr bin Sumair bin Zaid Al-Muzani, salah seorang budak yang telah dimerdekakan oleh Malik bin Ijlan, seorang anggota suku Khazraj. Sebagai mawla, yaitu budak yang telah dimerdekakan oleh orang dari suku Khazraj, secara otomatis Al-Hurr bin Sumair adalah sekutu suku Khazraj. Pembunuhan itu menimbulkan konflik kesukuan yang berujung pada peperangan turun-temurun selama 120 tahun, dan baru berhenti ketika suku Aus dan Khazraj memeluk Islam. (Ath-Thabari, Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ayyil Qur’an, juz V hlm. 656-657)

Imam Ibnu Ishaq berkata, “Peperangan antara suku Aus dan suku Khazraj berlangsung selama 120 tahun. Tatkala Islam datang, mereka masih berada dalam keadaan seperti itu. Peperangan berkecamuk di antara mereka, padahal mereka adalah saudara seayah dan seibu. Belum pernah dalam sejarah terdengar ada permusuhan dan peperangan yang lebih mengakar daripada konflik di antara mereka. Kemudian Allah memadamkan peperangan di antara mereka dengan agama Islam, dan Allah menyatukan mereka dengan rasul-Nya, Muhammad SAW.” (Ath-Thabari, ibid, juz V hlm. 651)

Peperangan saudara tersebut telah memakan banyak korban dari kedua belah pihak. Banyak tetua suku dan anggota suku mereka terbunuh. Banyak wanita yang menjanda dan anak-anak yang menjadi yatim piatu. Kerugian harta benda tidak bisa dihitung lagi, akibat lamanya peperangan itu berkecamuk. Dendam, kebencian, dan permusuhan menyelimuti dada setiap laki-laki dewasa dalam lingkungan kedua suku tersebut. Bahkan dendam, kebencian, dan permusuhan itu diwariskan kepada anak-cucu mereka.

Allah SWT yang Maha Penyayang berkehendak untuk menghentikan perang saudara yang tidak ada manfaatnya tersebut. Maka Allah SWT mengutus Rasulullah SAW ke tengah mereka sebagai tokoh pemersatu. Rasulullah SAW mempersatukan mereka dengan satu ikatan: Islam. Setelah mereka masuk Islam, mereka pun dipersaudarakan. Bukan hanya persaudaraan antara kaum Khazraj dan Aus sebagai sesame penduduk pribumi Madinah. Lebih dari itu adalah persaudaraan antara kaum Muhajirin dari Makkah dengan kaum Anshar pribumi Madinah. Persaudaraan tersebut meluas antara sesama muslim, tanpa membeda-bedakan antara marga, suku, dan daerah asal.

Inilah indahnya Islam. Inilah indahnya ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Islam menanamkan persaudaraan antara sesama pemeluknya. Islam merangkul mereka semua dalam satu ikatan agama Allah. Islam menyejajarkan kedudukan, hak, dan kewajiban mereka. Islam menghilangkan segala sekat pemecah belah di antara mereka.

Allah SWT mengingatkan betapa agungnya nikmat ukhuwah Islamiyah tersebut dengan firman-Nya:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kalian kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (pada masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu karena nikmat Allah, kalian menjadi orang-orang yang bersaudara. Dan kalian dahulu (pada masa jahiliyah) telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran [3]: 10)

Saat menjelaskan makna ayat ini, Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At-Thabari berkata, “Dan ingat-ingatlah wahai orang-orang yang beriman, nikmat Allah yang telah dikaruniakan-Nya kepada kalian, ketika dahulu kalian satu sama lain saling bermusuhan, karena kesyirikan kalian. Sebagian kalian membunuh sebagian lainnya karena fanatisme kelompok, bukan karena ketaatan kepada Allah dan bukan pula karena ketaatan kepada Rasul-Nya. Kemudian Allah menyatukan hati kalian dengan agama Islam, sehingga Allah menjadikan sebagian kalian saudara bagi sebagian lainnya, padahal sebelum itu mereka saling bermusuhan. Atas dasar persatuan Islam, kalian saling menyambung hubungan dan bersatu.” (Ath-Thabari, Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wili Ayyil Qur’an, juz V hlm. 649-650)

Imam Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi menulis, “Allah mewajibkan kepada kita untuk berpegang teguh dengan kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya, dan kembali kepada keduanya ketika terjadi perselisihan. Allah juga mewajibkan kita untuk bersatu di atas prinsip berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah baik secara akidah maupun amalan. Hal itu merupakan sebab tercapainya persatuan dan tertatanya urusan kaum muslimin yang tercerai-berai. Dengannya maslahat-maslahat dunia dan agama akan tercapai, dan dengannya umat akan selamat dari perpecahan.” (Al-Qurthubi, Al-Jaami’ li-Ahkam Al-Qur’an, juz V hlm. 251)

Ayat yang mulia ini menyebutkan beberapa perintah dan larangan. Pertama, perintah untuk berpegang teguh kepada tali Allah, yaitu agama Islam, kitab Allah dan Sunnah Rasulullah SAW. Tali Allah inilah sarana yang dapat mempersatukan kaum muslimin.

Kedua, larangan untuk berpecah belah. Perpecahan adalah dampak negatif dari jauh dan renggangnya pegangan erat kaum muslimin terhadap tali Allah. Semakin lemah kaum muslimin memegangi dan mengamalkan tali Allah, niscaya perpecahan dan perselisihan di antara mereka akan semakin tajam.

Ketiga, perintah untuk mengingat-ingat dan mensyukuri nikmat agung ukhuwah Islamiyah. Orang-orang yang pada masa jahiliyah saling bermusuhan dan membenci, berkat nikmat agama Islam, akhirnya menjadi orang-orang yang bersaudara, saling mencintai dan saling membantu.

Keempat, perintah secara implisit untuk memegang teguh tali Allah dan ukhuwah Islamiyah, yang menjadi sarana terselamatkannya umat Islam dari siksa api neraka.

Maka agama Islam dengan pedoman Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW adalah tali Allah. Tali inilah yang dapat mempersatukan hati-hati umat Islam. Tali inilah yang dapat melembutkan hati mereka yang keras, menjalin dan memintalnya dalam satu ikatan ukhuwah Islamiyah.

Allah SWT telah mengaruniakan nikmat Islam, Al-Qur’an, dan ukhuwah Islamiyah kepada kita. Pertanyaannya sekarang adalah sudahkah kita mensyukuri semua nikmat yang agung tersebut? Upaya apa yang telah, sedang, dan akan terus kita lakukan untuk mempertahankan ketiga nikmat yang agung tersebut? Wallahu a’lam []

Penulis: Fadhlullah

REFERENSI

Muhammad bin Jarir At-Thabari, Jaami’ul Bayan ‘an Ta’wil Ayyil Qur’an, tahqiq: Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki, Kairo: Dar Hajr, cet. 1, 1422 H.

Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jaami’ li-Ahkam Al-Qur’an, tahqiq: Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, cet. 1, 1427 H.

 

 

share on: