Janji Allah Itu Bernama Khilafah

share on:
Ilustrasi

Istidlal.org – Khilafah di muka bumi merupakan perkara yang dihajatkan, baik secara syar’i, maupun secara aqli (berdasar logika). Secara syar’i, Allah bahkan menyebutkan bahwa Dia akan menciptakan makhluk sebagai khalifah di muka bumi, sejak menciptakan manusia pertama, Adam. Hal ini disampaikan di hadapan para malaikat, dan Allah abadikan dalam surat al-Baqarah ayat 30. Dengan adanya seorang imam, urusan-urusan syar’i akan bisa dilakukan. Sedangkan secara kauni, sebuah milleu masyarakat tidak akan bisa teratur kecuali ada salah satu yang menjadi pimpinannya. Ia-lah yang akan memutuskan dalam perselisihan dan persengketaan. Jika tidak ada seorang pimpinan, maka akan terjadi kekacauan. Pimpinan inilah yang disebut sebagai khalifah, amir, penguasa, dan yang semisalnya.

Di dalam firman-Nya yang lain, Allah menegaskan bahwa kekhilafahan di muka bumi selanjutnya akan dijanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih.  Janji ini disebutkan Allah dalam surat an-Nur ayat 55. Allah berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Artinya, “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa.” (an-Nur: 55).

Ketika menafsirkan ayat di atas, Imam Ibnu Katsir menyatakan, “Inilah janji dari Allah kepada Rasulullah saw, bahwa Allah akan menjadikan umat Nabi Muhammad saw sebagai khulafa’ul ardh, yakni pemimpin dan pelindung manusia. Dengan merekalah (para khalifah) akan terjadi perbaikan negeri dan seluruh hamba Allah akan tunduk kepada mereka.” (Tafsir al-Qur’anil Azhim: 6/77).

Imam ath-Thabari juga menyatakan, “Sungguh, Allah akan mewariskan tanah kaum musyrik dari kalangan Arab dan non-Arab kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Sungguh pula, Allah akan menjadikan mereka (orang beriman dan beramal sholeh) sebagai penguasa dan pengaturnya.” (Tafsir ath-Thabari: 11/208).

Inilah janji Allah, dan Allah tidak pernah menyelisihi janji-Nya.

Menurut para ulama, janji agung tentang kekhilafahan bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih ini tidak hanya berlaku bagi generasi shahabat saja, namun berlaku juga sepanjang masa.

Imam asy-Syaukani berkata, “Inilah janji dari Allah kepada orang yang beriman kepada-Nya dan melaksanakan amal shalih tentang kekhilafahan bagi mereka di muka bumi, sebagaimana Allah pernah mengangkat sebagai penguasa orang-orang sebelum mereka. Inilah janji yang berlaku umum bagi seluruh generasi umat. Ada yang menyatakan bahwa janji ini hanya berlaku bagi shahabat saja. Sesungguhnya pendapat semacam ini tidak memiliki dasar sama sekali. Alasannya, iman dan amal shalih tidak hanya khusus ada pada Shahabat saja, namun bisa saja dipenuhi oleh setiap generasi dari umat ini.” (Fathul Qadir: 5/241).

Maka, seorang muslim wajib mengimani janji Allah ini, karena janji Allah akan terlaksana dan pasti akan terjadi. Allah telah menyatakan dengan tegas, bahwa janji Allah pasti ditunaikan. Allah berfirman, “Langit pun menjadi pecah-belah pada hari itu karena Allah. Janji Allah pasti terlaksana.” ((al-Muzzammil: 18), dan berfirman, “Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (ar-Rum: 6).

Nubuat itu Bernama Khilafah

Di dalam al-Qur’an, Allah menyebutkan tentang wajibnya menaati Rasulullah, dan mewanti-wanti untuk tidak menyelisihi perintahnya. Allah menjelaskan bahwa bukti cinta kepada Allah adalah dengan mengikuti beliau (Ali Imran: 31-32); menerangkan bahwa orang yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, dan melampaui batasan-batasannya akan dimasukkan ke dalam neraka dan mendapat siksa yang menghinakan (an-Nisa’: 14); menegaskan bahwa menaati Rasul berarti menaati Allah (an-Nisa’: 80); memberitahukan bahwa orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya akan dimasukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan sebaliknya, siapa yang berpaling ia akan disiksa dengan siksa yang pedih (al-Fath: 17).

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam juga mengabarkan bahwa orang yang menaati beliau berarti telah taat kepada Allah, dan orang yang bermaksiat terhadap beliau juga telah bermaksiat kepada Allah. (HR. Muslim).

Ketaatan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam ini adalah tuntutan dari syahadatur rasul, kesaksian bahwa beliau adalah utusan Allah. Sebagaimana yang difirmankan Allah, “Katakanlah, ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang umi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya), dan ikutilah dia, supaya kalian mendapat petunjuk.” (al-A’raf: 158).

Allah juga berfirman, “Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (31). Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.’ (32). (Ali Imran: 31-32).

Di antara bentuk pokok iman adalah meyakini dengan sepenuh keyakinan segala hal yang berasal dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam Ini adalah konsekwensi iman yang tidak boleh diabadikan. Termasuk perkara-perkara ghaib, dan perkara yang akan datang, yang belum terjadi. Karena semua yang berasal dari beliau adalah wahyu dari Allah.

Karena seluruh apa yang beliau kabarkan akan terjadi dan terbukti. Ini adalah sebentuk mukjizat dan bukti nubuwah  beliau. Maka, mengimani kabar-kabar yang beliau sampai wajib bagi setiap muslim. Ini adalah bukti realisasi dari syahadat bahwa beliau adalah Rasul Allah, dan penyampai risalah-Nya.

Di antara kabar nubuwah yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam adalah tentang kembalinya khilafah ala minhajin nubuwah di akhir zaman nanti. Kabar ini disebutkan oleh Imam Ahmad Rahimahullah dari shahabat Hudzaifah bin Yaman Radhiyallahu anhu.

            تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ   أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا، فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ نُبُوَّةٍ  ثُمَّ سَكَتَ

Artinya,“Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR. Ahmad, nomor 18406, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 5).

Dalam hadits di atas sangat jelas bahwa khilafah di atas manhaj nubuwwah (jalan Nabi) merupakan suatu karunia Allah  Ta’ala semata. Tak seorang muslim pun yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya kecuali pasti dia akan mengharapkan terwujudnya khilafah tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas mengatakan bahwa hal itu pasti terjadi pada umat ini.

Janji ini telah teralisasi pada masa generasi terbaik umat ini, dan Allah Ta’ala akan tetap menjanjikan kepada umat ini akan terwujudnya kembali khilafah tersebut di tengah-tengah mereka jika memang syarat-syaratnya telah dipenuhi, sebagaimana firman-Nya,  “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka dan Dia dia benar-benar akan menggantikan kondisi mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan-Ku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq.” (an-Nur: 55).

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam juga menjelaskan bahwa orang yang menggantikan beliau; mengurusi urusan kaum muslimin, baik agama maupun dunianya adalah seorang khalifah. Beliau bersabda, “Sesungguhnya tidak ada nabi setelahku, lalu aka nada para khalifah yang banyak.” Para Shahabat bertanya, “Apa yang Anda perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab, “Tunaikanlah baiat khalifah yang pertama. Berikanlah haknya.Allah-lah yang akan menanyai mereka tentang orang-orang yang dipimpinnya .”  (HR. al-Bukhari, nomor 3455). 

Di sini Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam menyebut penggantinya bukanlah nabi, sebab tidak ada nabi lagi melainkan para khulafa’ dan jumlahnya banyak.

Pertanyaannya adalah, saat nabi mengabarkan sesuatu, apakah nabi mengabarkan sesuatu yang akan wujud? Atau sesuatu yang utopis? Tentunya, sebagai umat yang mengimani Nabi Muhammad saw, kita percaya bahwa berita yang beliau bawakan tentang masa depan benar adanya, karena itu adalah wahyu dari Allah.

Penulis : Ibnu

Editor : Ibnu Rodja

share on: