Jebakan Akidah dalam Perayaan Imlek

share on:
Imlek

Asal Usul Peringatan Tahun Baru Imlek

Tanggal 1 (satu) bulan 1 (satu) penanggalan Imlek atau sering disebut dalam istilah Mandarin “Zhen Yue Chu Yi” merupakan hari pertama dalam satu tahun dan dirayakan sebagai Tahun Baru Imlek atau juga dikenal sebagai istilah “Chun Jie” dalam bahasa Mandarin.

Istilah “Chun Jie” atau “Hari Raya Musim Semi” dipakai karena pada hari itu juga merupakan awal mulainya musim Semi dalam satu tahun.  Musim Semi merupakan salah satu musim dari empat (4) musim di negara-negara yang terletak di bagian utara bumi ini.

Terdapat beberapa legenda mengenai asal usul tahun baru Imlek. Adapun legenda yang paling popular di kalangan masyarakat Tionghoa adalah dua legenda berikut ini.

Hari tahun baru dalam bahasa Mandarin disebut Guo Nian yang berarti “merayakan tahun yang baru” atau “mengalahkan Nian”. Karakter “Nian” dapat bermakna “monster Nian”.

Pada zaman dahulu, hiduplah sesosok monster yang dinamakan Nian (atau Nianshou), berkepala panjang dan bertanduk tajam, sepanjang tahun mendiami dasar laut yang dalam dan hanya muncul pada malam tahun baru untuk memangsa manusia dan makhluk hidup lainnya di pemukiman desa terdekat.

Oleh sebab itu, pada malam tahun baru penduduk desa melarikan diri, mengungsi ke gunung-gunung terpencil, agar jangan sampai dilukai oleh monster ini. Mereka selalu hidup dalam ketakutan akan ancaman monster ini hingga suatu ketika datanglah seorang pria tua berambut putih dan kulit kemerahan mendatangi desa tersebut.

Pria tua tersebut menolak untuk ikut bersembunyi dengan penduduk desa lainnya, sebaliknya dia justru malah berhasil menakut-nakuti monster tersebut hingga pergi, yaitu dengan cara menempelkan kertas berwarna merah di pintu, membakar batang bambu untuk menciptakan bunyi retakan yang keras (pelopor digunakannya petasan), menyalakan lilin di dalam rumah, dan mengenakan pakaian berwarna merah.Ketika penduduk desa kembali, mereka sangat terkejut menemukan desa mereka dalam keadaan utuh, tidak hancur.

Setelah kejadian tersebut, pada setiap malam tahun baru penduduk desa melakukan seperti apa yang diperintahkan pria tua itu dan monster Nian tidak pernah lagi menampakkan dirinya. Tradisi ini berlanjut terus hingga sekarang dan telah menjadi cara terpenting dalam merayakan datangnya tahun yang baru. (Sumber : di sini

Persoalan Akidah-Kepercayaan, Bukan Sekedar Budaya

Berdasar uraian asal-usul sejarah dan perayaan Tahun Baru Imlek di atas, kita bisa memahami bahwa perayaan Tahun Baru Imlek memiliki unsur akidah (kepercayaan-keagamaan) dan filosofi khusus.

Perayaan Tahun Baru Imlek bukanlah sekedar pesta kembang api, pesta lampion, bagi-bagi angpau ataupun tradisi budaya. Perayaan Tahun Baru Imlek adalah syiar kepercayaan-keagamaan kuno bangsa Tionghoa, yang dalam perjalanan waktu selama lebih 1000 tahun mengalami “modifikasi” di sana-sini, sehingga seakan-akan berubah menjadi tradisi budaya semata tanpa ada unsur-unsur kepercayaan-keagamaan di dalamnya.

Perayaan Tahun Baru Imlek mengandung unsur-unsur kepercayaan/keagamaan yang bertentangan dengan syariat Islam. Penjelasan ringkasnya adalah sebagai berikut ini.

  1. Kepercayaan bahwa monster atau siluman Nian dapat mendatangkan marabahaya bagi umat manusia, hewan ternak dan makhluk hidup lainnya.

Dalam akidah Islam, makhluk yang diyakini sebagai “monster” atau “siluman” oleh bangsa Tionghoa tersebut adalah bangsa jin. Tepatnya kelompok jin yang jahat.

Islam mengajarkan bahwa Allah adalah Al-Qadiir, Al-Muqtadir, An-Naafi’ Adh-Dhaar, hanya Allah semata yang Maha Mampu, Maha Berkuasa, mampu mendatangkan manfaat ataupun madharat (bahaya).

Islam mengajarkan bahwa tiada satu pun makhluk yang dapat mendatangkan manfaat atau madharat dengan kekuatannya sendiri. Tanpa izin dan kekuasaan dari Allah SWT, maka makhluk apapun dan manapun tidak dapat mendatangkan manfaat maupun madharat.

Jika suatu makhluk tertentu dapat mendatangkan manfaat tertentu atau madharat tertentu, maka hal itu pasti atas izin dan kehendak Allah SWT semata, untuk suatu hikmah tertentu. Namun hal itu bukan berarti Allah meridhai dan mencintai perbuatan makhluk tersebut. Hal itu sebagaimana Allah memberi kekuatan kepada Iblis atau Dajjal untuk melakukan keajaiban ini dan itu, namun bukan berarti Allah meridhai dan mencintai perbuatan Iblis maupun Dajjal.

Allah SWT berfirman:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (17)

Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.  (QS. Al-An’am [6]: 17)

  1. Kepercayaan yang keliru tentang marabahaya dan kerusakan yang ditimbulkan oleh monster atau siluman.

Kepercayaan bangsa Tionghoa tentang keganasan monster atau siluman Niang adalah kepercayaan yang salah kaprah. Andaikata monster atau siluman itu ada dan mampu menunjukkan fisiknya yang mampu dilihat dengan mata telanjang oleh manusia, maka pada dasarnya monster tersebut adalah “penampakan” kelompok jin yang jahat, atas kehendak dan kuasa Allah SWT semata.

Bangsa Tionghoa meyakini monster (jin jahat) Nian memakan manusia, hewan ternak dan makhluk hidup lainnya. Dalam akidah Islam, ini adalah kepercayaan yang keliru. Kepercayaan ini menimbulkan pengkaburan pemahaman.

Islam mengajarkan bahwa bahaya bangsa jin jahat terletak pada bujuk rayuannya yang demikian dahsyat, dalam rangka mengajak umat manusia untuk melakukan kekufuran, kesyirikan dan kemaksiatan. Bahaya besar bangsa jin jahat adalah pada ajakannya yang tak kenal lelah kepada umat manusia untuk menyertai setan masuk neraka di akhirat kelak. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh firman Allah SWT:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16) ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ (17)

Iblis berkata, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, maka saya benar-benar akan menghalangi-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, Kemudian saya akan mendatangi mereka dari arah depan mereka dan dari arah belakang mereka, dari arah kanan mereka dan dari arah kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al-A’raf [7]: 16-17)

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ (27)

“Hai anak keturunan Adam, janganlah sekali-kali kalian dapat ditipu oleh syaitan, sebagaimana ia telah mengeluarkan ibu-bapak kalian dari Surga, syaitan menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya syaitan dan pengikut-pengikutnya melihat kalian dari suatu tempat yang kalian tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.”  (QS. Al-A’raf [7]: 27)

  1. Kepercayaan dan teknik yang keliru dalam mengusir bahaya yang ditimbulkan oleh monster atau siluman (baca: jin yang jahat).

Asal usul legenda dan perayaan Tahun Baru Imlek mengajarkan kepada manusia tata cara yang salah dalam menolak bahaya yang ditimbulkan oleh monster atau siluman (baca: jin jahat). Tata cara penolakan bahaya monster Niang tersebut mengandung unsur-unsur kesia-siaan, bahkan unsur kesyirikan.

Unsur kesia-siaan adalah kegiatan menempelkan kertas berwarna merah di pintu, membakar batang bambu untuk menciptakan bunyi retakan yang keras (pelopor digunakannya petasan), menyalakan lilin di dalam rumah, dan mengenakan pakaian berwarna merah.

Adapun unsur kesyirikan adalah mempersembahkan makanan kepada Dewa dan para leluhur untuk mendapatkan lindungan dari mereka supaya dapat bebas dari ancaman raksasa Nian.

Dewa dalam kepercayaan bangsa Tionghoa tersebut adalah “jin-jin” atau “setan-setan” yang jumlahnya sangat banyak. Dewa tersebut tidak sama dengan Allah Tuhan Yang Maha Esa. Meminta perlindungan kepada dewa-dewa selain Allah SWT untuk menolak marabahaya adalah perbuatan syirik.

Allah SWT berfirman:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan ketakutan. (QS. Al-Jin [72]: 6)

Arwah leluhur dari bangsa Tionghoa tersebut adalah ruh-ruh dari orang tua dan nenek moyang mereka yang telah mati. Ruh orang-orang yang telah mati itu hidup dalam alam barzakh, sebuah alam ghaib di antara alam dunia dan alam akhirat.

Ruh orang yang mati itu hanya memiliki dua kemungkinan; sedang menerima kenikmatan kubur sampai datangnya kiamat kelak, atau sedang mengalami siksa kubur sampai datangnya kiamat kelak. Ruh orang-orang beriman, beramal shalih dan bertakwa akan mendapatkan kenikmatan kubur sampai hari kiamat kelak. Adapun ruh orang kafir, musyrik, munafik dan fasik berada dalam siksa kubur sampai hari kiamat kelak, sebagaimana ditegaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits nabawi.

Ruh orang yang mati tidak mungkin dapat menolong orang yang masih hidup. Ruh orang yang mati tidak mungkin mampu melindungi orang yang masih hidup dari berbagai marabahaya. Karena itu, memohon pertolongan dan perlindungan dari marabahaya kepada ruh orang tua/nenek moyang yang telah mati adalah sebuah kesyirikan.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

Dan janganlah kamu memohon (berdoa) kepada (tuhan-tuhan) selain Allah yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat kepadamu. Sebab jika kamu berbuat yang demikian itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim (yaitu musyrik). (QS. Yunus [10]: 106)

Islam mengajarkan manusia untuk meminta perlindungan kepada Allah SWT semata atas segala marabahaya yang dapat menimpa mereka. Sebab, hanya Allah SWT yang mampu mendatangkan marabahaya maupun menolak marabahaya. Allah SWT berfirman,

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.  (QS. Fushilat [41]: 36)

Memberikan sesajen bunga, sesajen makanan, sesajen pakaian, sesajen uang, atau daging sembelihan kepada dewa-dewa dan arwah leluhur juga merupakan kesyirikan. Sebab, mempersembahkan persembahan (qurban) itu hanya boleh ditujukan kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163)

Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.  Tiada sekutu bagi-Nya. Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al-An’am [6]: 162-163)

Memberikan sesajen bunga, sesajen makanan, sesajen pakaian, sesajen uang, atau daging sembelihan kepada dewa-dewa, atau patung-patung sesembahan, atau arwah leluhur adalah budaya syirik kaum jahiliyah pra-Islam. Sebagaimana ditegaskan oleh firman Allah SWT,

وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلَا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَائِهِمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan hewan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka, “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.” Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah, dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. (QS. Al-An’am [6]: 136)

مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ وَلَكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahiirah, saaibah, washiilah dan haam. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti. (QS. Al-Maidah [5]: 103)

Bahiirah, saaibah, washiilah dan haam adalah julukan untuk hewan-hewan ternak yang dipersembahkan oleh kaum musyrik jahiliyah bagi berhala-berhala sesembahan mereka.

Dalam kitab-kitab tafsir dijelaskan bahwa Bahiirah adalah unta betina yang dibelah telinganya sebagai pertanda bahwa ia telah dilepaskan untuk berhala-berhala mereka. Unta itu tidak lagi dimiliki oleh manusia, tidak boleh lagi dikendarai dan tidak boleh disembelih. Ia dibiarkan bebas, memakan tanaman apapun dan meminum air siapapun, tanpa boleh dicegah. Unta itu juga tidak boleh disembelih. Ia hanya boleh diperah susunya untuk dipersembahkan kepada berhala-berhala, atau juru kunci penunggu berhala, atau para peziarah yang bersembahyang kepada berhala.

Saaibah adalah unta betina maupun unta jantan yang telah dinazarkan untuk dilepaskan, sebagai janji atas kesembuhan dari suatu penyakit, terkabulnya suatu harapan, atau keselamatan dalam perjalanan yang jauh. Unta ini seperti halnya seorang budak yang telah dimerdekakan. Ia tidak boleh disembelih dan tidak boleh dikendarai. Para juru kunci berhala saja yang berhak memerah air susunya, untuk diberikan kepada para musafir yang kehausan.

Washiilah adalah domba betina yang telah melahirkan lima ekor anak betina. Jika setelah itu ia melahirkan anak jantan atau anak betina, maka induk domba tersebut dipersembahkan kepada berhala-berhala mereka. Induk tersebut tidak boleh disembelih dan tidak boleh diperah susunya.

Haam adalah unta jantan yang dinyatakan bebas dan dipersembahkan bagi berhala-berhala mereka. Hal itu karena unta jantan tersebut telah membuntingi sepuluh kali unta betina. Oleh karena itu unta jantan tersebut tidak boleh dikendarai dan tidak boleh disembelih. Ia juga dibebaskan untuk memakan tanaman apapun dan meminum air siapapun. (Muhammad Thahir bin Asyur, Tafsir At-Tahrir wa At-Tahrir, Juz VII hlm. 72-74 dan Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsir Al-Munir fi Al-Aqidah wa Asy-Syari’ah wa Al-Manhaj, Juz IV hlm. 87-88)

Wallahu a’lam bish-shawab [Fadlullah]

share on: