Kalimat Tauhid & Tauhidul Kalimah: Konten Dakwah yang Selalu Dimusuhi

share on:
Kalimat Tauhid & Tauhidul Kalimah Konten Dakwah yang Selalu Dimusuhi-istidlal.org

Ada dua konten dakwah yang jika didakwahkan dengan benar dan jujur, akan banyak ditentang bahkan dimusuhi, sesantun apa pun cara penyampaiannya. Pasalnya, ini memang bukan soal cara menyampaikan tapi kontennya. Dua konten yang sejak awal mula aktivitas dakwah ada dan dilakukan manusia di muka bumi, selalu mengakibatkan pertentangan dan kontra, bahkan perang. Pertama adalah dakwah kalimat tauhid dan kedua adalah dakwah tauhidul kalimat.

Jika tujuan berdakwah sekadar agar bisa diterima masyarakat luas, cari pembaca dan follower yang banyak, menyenangkan hati banyak orang dan jauh dari masalah, sebaiknya hindari dua konten  ini.

Pertama, dakwah kalimat tauhid. La ilaaha illallah, tiada Tuhan yang berhak disembah secara haq selain Allah. Dakwah tauhid yang dimaksud tentu bukan sekadar mengajak orang membaca tahlil sebanyak-banyaknya tapi menjelaskan secara rinci maknanya beserta konsekuensi-konsekuensinya.

Mengapa ditentang? Pertama karena kalimat tauhid adalah klaim kebenaran mutlak dalam urusan ketuhanan dan pedoman hidup. Ini sangat sensitif, mengingat semua agama bahkan individu sekalipun memiliki patokan kebenaran, aturan dan Tuhan sesembahan masing-masing. Kalimat tauhid mendaku semua kebenaran secara mutlak lalu mengembalikannya kepada Allah. Konsekuensi logisnya, menyalahkan yang lain, semuanya, tanpa kecuali.

Akibatnya jelas, penganut agama lain tersinggung. Kalau perasaan yang tersinggung, orang masih bisa memaafkan, tapi kalau ideologi yang disinggung, setiap orang pasti siap pasang badan. Orang-orang musyrik Makkah jaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tak perlu sampai dijelaskan detail mengenai konsekuensi kalimat tauhid. Cukup mendengar dakwah Nubuwah dan kalimat tauhid ini saja, ideologi mereka sudah tertabrak. Wajar, mereka paham apa maksud dari kalimat berbahasa Arab “La ilaha illallah muhammad Rasullah“. Ini adalah klaim kebenaran dan kalimat yang akan mendongkel ideologi mereka sampai ke akarnya.

Tak ayal, aktivitas dakwah Nabi pun dihalangi di mana-mana. Diboikot, dipersekusi, difitnah gila, dituduh anti nasionalisme dan berseberangan dengan kultur dan kebiasan lokal yang telah disepakati bersama sejak dulu. Bagi dakwah tauhid, yang berhak menetapkan kebenaran hanyalah Allah, bukan kebiasaan atau kesepakatan bersama. Jadi, meskipun sudah menjadi kebiasaan dan kesepakatan bersama, jika bertentangan dengan Allah dan Rasul-Nya berarti batil.

Baca juga: Sunnatullah Para Pengusa Kebatilan dan Tiran

Pihak yang tersinggung kedua adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Konsep Tuhan beranak yang mereka yakini dibabat habis dalam dakwah tauhid. Berulang kali ditegaskan dalam wahyu yang diturunkan kepada Muhammad bahwa konsep Tuhan beranak adalah penghinaan kepada Allah. Jelas saja orang-orang Nasrani dan Yahudi murka dan menentang. Bagaimana bisa konsep ketuhanan yang mereka yakini selama ini dibabat habis oleh orang Arab, bangsa penyembah berhala dan jahil?

Pihak ketiga yang tersinggung adalah para penganut Atheis, penyembah perut, penyembah uang, penyembah kebebasan, penyembah nafsu, penyembah hak asasi, penyembah akal dan para penyembah Tuhan lain selain Allah. Kuping dan hati mereka merah-panas mendengar dakwah tauhid. Dakwah tauhid mengusik kepentingan mereka terhadap sesembahan mereka. Dengan tauhid, Atheis harus bertuhan, satu tok. Bagaimana bisa? Tuhan banyak saja mereka emoh, apalagi cuma satu?

Para penyembah uang, nafsu dan perut jelas tak punya kesempatan berkompromi dengan dakwah tauhid. Tidak ada yang bisa disinergikan atau disimbiosiskan antara Tuhan mereka dengan Tuhan dalam dakwah tauhid. Syariat dari Tuhan dalam dakwah tauhid mengekang dan benar-benar membatasi serta mengatur ketat semua hal yang mereka sembah. Bahkan, namanya uang, harta dan nafsu, dalam dakwah tauhid dianggap sebagai fitnah dan berpotensi membawa petaka bagi manusia jika tidak digunakan sesuai aturan-Nya. Siapa yang tak geram sesembahannya dianggap sebagai fitnah dan pembawa kehancuran?

Para penyembah kebebasan, hak asasi dan akal pun tak kalah tersinggung. Apa-apaan klaim kebenaran mutlak ini? Manusia punya akal, punya kebebasan dan hak asasi untuk merumuskan nilai-nilai yang mereka anggap benar untuk disepakati lalu ditaati. Adapun Tauhid memaksa mereka merumuskan ulang definisi kebebasan. Yakni bahwa kebebasan, hak asasi dan akal semuanya adalah milik Allah dan harus tunduk pada aturan Allah. Mereka akan berujar, kebebasan macam apa yang mengikat seperti itu? Di mana hak asasi manusia kalau hidupnya harus diatur sejak bangun tidur sampai tidur lagi dengan aturan agama? kebebasan macam apa jika makan saja tidak boleh bebas mau pakai kanan apa kiri? Bagi pemuja kebebasan, tauhid dan syariat adalah perbudakan yang menihilkan kebebasan manusia, merampas hak asasi dan menumpulkan akal. Maka dari itu mereka pasi akan menentang dan memusuhinya.

Nah, ini baru satu konten, belum yang satunya yaitu dakwah tauhidul kalimat: mengajak kaum muslimin untuk menyatukan kalimat: persepsi, tujuan dan cita-cita berupa tegaknya kalimat tauhid dan agama Allah di muka bumi.

Dakwah mengajak persatuan umat ini sulitnya luar biasa. Pihak yang bakal menentang dan tidak suka, bukan hanya dari musuh-musuh Islam tapi bahkan sebagian kaum muslimin sendiri.

Seperti kita tahu, umat ini menjalani jalur takdir ilahi yang telah disebutkan dalam hadits berupa: akan terpecah menjadi 71 kelompok, semua sesat kecuali satu. Hanya satu yang berkesempatan selamat yaitu yang mengikuti sunah Nabi dan para sahabat. Andai saja kelompok yang satu ini benar-benar hanya satu kelompok yang bersatu, niscaya dakwah persatuan tidak dibutuhkan. Mengapa? karena 70 kelompok lain dalam hadits tersebut jelas sesat dan masuk neraka. Untuk apa bersatu dengan ahli neraka? Dan bagaimana bisa kita bersatu dengan sekte sesat yang mencela sahabat Nabi dan para istri Nabi seperti sekte Syiah yang kesesatannya sudah mengeluarkan mereka dari Islam?

Baca juga: Perusak Fitrah Suci #1: Tatanan Kehidupan Jahiliyah

Nah, masalahnya, kelompok yang masuk kategori dan mengklaim mengikuti Sunah Nabi dan sahabatnya ini, pada kenyataannya terbagi dalam beragam jamaah dan kelompok. Inilah umat Islam pada hari ini, terbagi dalam berbagai jamaah, harakah dan organisasi. Setiap  jamaah dan kelompok memiliki fokus dan tujuan sendiri-sendiri. Dakwah menyatukan mereka menjadi benar-benar tidak mudah karena setiap jamaah memiliki target dan tujuan masing-masing, bahkan mazhab fikih sendiri-sendiri.

Selain itu, di tubuh umat Islam sendiri terdapat orang-orang munafik yang sejak jaman Nabi, kerjaannya adalah menggembosi persatuan umat: menyebar fitnah dan permusuhan, membangun masjid dhirar untuk mengadu domba, membelot dari kesatuan perang dan sebagainya. Keras terhadap sesama muslim namun sangat toleran kepada orang kafir.

Mereka tidak akan kelihatan jika dakwah yang ada hanya seputar masalah-masalah fikih ibadah. namun jika mulai ada yang menyerukan persatuan, mereka pun akan segera menampakkan batang hidungnya.

Ini konten kedua yaitu dakwah tauhidul kalimat. Jika ada seorang dai yang berniat mendakwahkan dua konten ideologis ini sekaligus, ada baiknya dia bersiap dan ikhlas jika kajiannya tidak banyak dihadiri jamaah. Website dakwahnya sepi pengunjung, atau ramai tapi ramai bully-an, medsosnya diabaikan dan tidak banyak difollow. lalu dakwahnya dianggap keras, ekstrem, meski saat ceramah menggunakan bahasa santun dan tidak meledak-ledak atau bahkan full senyuman dari awal sampai salam. Harus siap pula jika dilaporkan kepada aparat lalu dimonitor karena khawatir dakwahnya menghasung umat untuk menggulingkan ideologi negara.

Baca juga: Memahami Makna Khilafah, Imamah dan Imaroh

KIta bisa melihat dakwah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi itu kurang santun bagaimana cara dakwahnya, kurang jujur seperti apa, kurang baik seperti apa track recordnya di masyarakat Makkah saat itu? Tapi dampak dakwahnya, kita bisa membaca sendiri dalam sirah. Beliau ditentang, dimusuhi, dipersekusi dan ancaman-ancaman ganas lain. Saat beliau menyatukan umat dari belenggu fanatisme kesukuan, musuh-musuh di luar dan di dalam pun mulai bergerak untuk membubarkan dan menghancurkan.

Jadi, dua konten ini memang berat. Namun meski berat, kita tetap harus berusaha memikulnya, semampunya, karena Nabi tidak pernah berkata, “Dakwah tauhid ini berat, kamu nggak akan kuat, biar aku saja.” Wallahua’lam bish shawab. (Muhammad Saitama/istidlal.org)

share on: