Karakteristik Generasi Pemakmur Masjid

share on:
Karakteristik Generasi Pemakmur Masjid-istidlal.org

Allah ‘Azza wajalla berfirman,

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Pihak yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, senatiasa mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah [9]:18)

Ayat yang mulia di atas diawali dengan lafal innama, yang secara harfiah bermakna “hanyalah”. Seluruh ulama bahasa dan ulama tafsir sepakat menyatakan lafal tersebut memberi faedah al-hashr, yaitu pemberi pembatasan.

Makna ayat yang mulia tersebut adalah Allah ‘Azza wajalla menjelaskan bahwa orang yang paling berhak, paling layak dan paling mampu untuk memakmurkan masjid-masjid di muka bumi hanyalah orang-orang yang memenuhi beberapa syarat dan kriteria berikut ini.

  1. Mereka beriman kepada Allah ‘Azza wajalla.
  2. Mereka beriman kepada hari akhirat.
  3. Mereka menegakkan shalat.
  4. Mereka mengeluarkan zakat.
  5. Mereka hanya takut kepada Allah ‘Azza wajalla.

Baca: Sifat Shidiq sebagai Bekal Aktifis

Iman kepada Allah ‘Azza wajalla

Masjid hanya akan dimakmurkan sesuai ketentuan Allah dan Rasul-Nya oleh orang-orang yang beriman kepada Allah ‘Azza wajalla dengan sebenar-benar iman. Orang yang beriman kepada Allah ‘Azza wajalla secara benar adalah orang yang hatinya meyakini sepenuhnya bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang telah menciptakan dirinya, memberinya ruh kehidupan, memberinya rizki, memberinya pedoman hidup untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat, dan mematikannya saat Dia telah berkehendak.

Ia meyakini sepenuhnya, tanpa keraguan sedikit pun, bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Sempurna. Allah memiliki nama-nama yang sempurna, sifat-sifat yang sempurna dan perbuatan-perbuatan yang sempurna. Tiada sedikit pun kelemahan, kekurangan dan cacat pada nama, sifat dan perbuatan Allah ‘Azza wajalla.

Ia meyakini sepenuhnya bahwa Allah ‘Azza wajalla adalah satu-satunya dzat yang berhak disembah dan ditaati secara sempurna, seratus persen, tanpa sedikit pun penolakan, bantahan dan keberatan. Allah adalah satu-satunya dzat tempat menggantungkan seluruh harapan, permintaan dan permohonan. Allah satu-satunya dzat yang mampu mengabulkan semua kebutuhan, keinginan dan permohonan. Allah satu-satunya dzat yang mampu mendatangkan manfaat dan menolak madharat.

Baca: Kesepakatan Hasil Musyawarah Itu Mengikat

Allah Maha Esa, tiada sesuatu pun sekutu bagi-Nya. Ia takut kepada murka dan siksa-Nya. Ia berharap kepada ridha dan pahala dari-Nya. Ia berserah diri dan bersandar kepada kesempurnaan, kekuatan, kebijaksanaan, keadilan dan kemurahan_nya semata. Ia mempersembahkan seluruh amal kebaikan, hidup dan matinya untuk meraih ridha-Nya dan balasan yang kekal di sisi-Nya di akhirat kelak.

Masjid adalah tempat yang dibangun untuk menunaikan ibadah kepada Allah ‘Azza wajalla semata. Maka mustahil masjid akan dimakmurkan oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Allah ‘Azza wajalla. (Fakhruddin Ar-Razi, Tafsir Mafatih Al-Ghaib, Juz 16 hlm. 10)

 

Iman kepada hari akhir

Iman kepada Allah tidak bisa dipisahkan dari iman kepada hari akhir. Iman kepada hari akhir adalah konskuensi dari iman kepada Allah. Iman kepada Allah menuntut seorang hamba untuk beribadah kepada-Nya semata, tunduk dan taat kepada syariat-Nya semata, dan mengharapkan balasan dari sisi-Nya semata.

Seorang mukmin beribadah kepada Allah ‘Azza wajalla dengan penuh ketundukan batin dan ketaatan lahir. Ia menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya tanpa membantah dan memprotes. Ia tunduk kepada syariat-Nya, meskipun ia harus menyelisihi tuntutan hawa nafsunya sendiri.

Semua hal itu ia lakukan karena ia yakin akan adanya hari perjumpaan dengan Allah ‘Azza wajalla. Ia seratus persen meyakini adanya negeri akhirat, tempat pengadilan yang adil atas semua amal perbuatan setiap hamba selama hidup di dunia. Sebuah pengadilan yang akan mengantarkan orang-orang beriman ke dalam negeri kenikmatan yang abadi bernama surga, dan mengantarkan orang-orang kafir dan fasik ke dalam negeri kesengsaraan yang abadi bernama neraka.

Baca: Kunci Kerukunan dan Kerekatan Ukhuwah dalam Berjamaah

Menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan Allah akan nampak buahnya yang sesungguhnya di akhirat kelak. Ridha Allah dan surga akan didapatkan di akhirat kelak. Maka di dalam ayat yang mulia di atas, iman kepada Allah disandingkan dengan iman kepada hari akhir, sebab ibadah kepada Allah ‘Azza wajalla di dunia akan dirasakan manfaat hakikinya di akhirat kelak. Sehingga, orang yang tidak meyakini hari akhir tidak akan beribadah kepada Allah semata selama masa hidupnya di dunia. (Fakhruddin Ar-Razi, Tafsir Mafatih Al-Ghaib, Juz 16 hlm. 10)

 

Mendirikan Shalat

Shalat adalah ibadah khas umat Islam. Shalat wajib lima waktu dalam sehari semalam, dan beragam shalat sunah, hanya dikenal dalam syariat Islam. Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengimani Allah dan hari akhir, namun mereka tidak mengenal shalat lima waktu dan shalat-shalat sunah, apalagi mengamalkannya. Penyebutan “mendirikan shalat” dalam ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa hanya umat Islam-lah yang akan memakmurkan dan dapat memakmurkan masjid-masjid di muka bumi.

Secara khusus, shalat disebutkan di dalam ayat yang mulia ini, karena shalat adalah rukun Islam terpenting setelah dua kalimat syahadat. Shalat adalah tiang agama Islam. Shalat adalah pembeda antara seorang muslim dengan seorang musyrik dan kafir. Shalat adalah ibadah fisik yang paling penting dan paling sering dilakukan oleh seorang muslim.

Shalat adalah sarana interaksi dan komunikasi yang paling efektif antara seorang hamba dengan Allah Sang Pencipta. Saat seorang muslim sedang bersujud dalam shalatnya, maka ia berada dalam jarang yang paling dekat dengan Allah ‘Azza wajalla. Demikian sebagaimana ditegaskan oleh hadits-hadits shahih.

Baca: Khutbah Jumat: Wara’ Terhadap Dunia, Kunci Keistiqomahan

Tujuan terbesar dan terpenting dari pendirian masjid adalah agar kaum muslimin dapat melaksanakan shalat wajib lima waktu secara berjama’ah di dalamnya. Maksud dari “mendirikan shalat” dalam ayat di atas adalah menunaikan shalat wajib dengan menyempurnakan syarat-syarat dan rukun-rukunnya, mentadaburi bacaan Al-Qur’an dan lafal-lafal dzikir di dalamnya, disertai hati yang khusyu’ dan takut kepada Allah semata. (Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsir Al-Munir, Juz 5 hlm. 486)

Sebagaimana dikatakan oleh sahabat Ibnu Abbas RA, “Makna mendirikan shalat (dalam ayat ini) adalah mendirikan shalat lima waktu.” (At-Thabari, Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ayyil Qur’an, Juz 11 hlm. 376)

 

Menunaikan Zakat

Zakat adalah kewajiban dalam harta. Ia merupakan ibadah maliyah, yaitu ibadah dalam bidang harta. Kedudukan zakat dalam Islam tidak jauh berbeda dengan kedudukan shalat. Dalam banyak ayat Al-Qur’an, shalat dan zakat sangat sering disebutkan secara beriringan. Zakat tidak bisa dipisahkan dari shalat.

Zakat secara garis besar dibagi menjadi dua; zakat fitrah dan zakat mal. Keduanya wajib dikeluarkan oleh setiap muslim yang hartanya telah mencapai batas nishab. Menunaikan zakat adalah wujud ketundukan hati seorang muslim terhadap Allah ‘Azza wajalla. Dengan mengeluarkan zakat, seorang muslim membersihkan hartanya dari kotoran harta haram dan harta syubhat. Dengan mengeluarkan zakat, seorang muslim menyucikan hatinya dari penyakit cinta harta dan gila harta.

Baca: Dalil-Dalil Syar’i Tentang Wajibnya Mendirikan Khilafah

Pengaitan zakat dengan kegiatan memakmurkan masjid, dalam ayat yang mulia di atas, mengisyaratkan beberapa perkara penting. Pertama, mengeluarkan zakat adalah kewajiban, sedangkan membangun masjid adalah kesunahan. Perkara yang wajib harus didahulukan atas perkara yang sunah. Jika seorang muslim telah menunaikan kewajiban, niscaya ia akan dimudahkan untuk menunaikan kesunahan.

Kedua, orang-orang fakir, miskin, musafir yang kehabisan bekal, dan orang-orang yang berhak menerima zakat adalah orang-orang yang melaksanakan shalat di masjid. Selain menunaikan shalat di masjid, mereka juga meminta pembagian jatah zakat di masjid. Kehadiran mereka di masjid memudahkan proses pembagian zakat. Sehingga, masjid juga menjadi sentral pengumpulan dan pembagian zakat sebagaimana terjadi di zaman nubuwah. (Fakhruddin Ar-Razi, Tafsir Mafatih Al-Ghaib, Juz 16 hlm. 10-11)

 

Hanya Takut Kepada Allah ‘Azza wajalla

Seorang muslim hendaknya hanya takut kepada Allah semata. Apakah seorang muslim tidak boleh takut kepada binatang buas, perampok, penjahat, penguasa diktator atau penyakit kronis misalnya? Tentu saja boleh. Sudah menjadi naluri manusia untuk takut kepada binatang buas, perampok, penjahat, penguasa diktator atau penyakit kronis. Naluri tersebut muncul dengan sendirinya, ketika sebabnya ada, tanpa bisa dicegah.

Takut yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah takut dalam urusan dien. Yaitu hendaknya seorang muslim melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, didorong oleh rasa takutnya kepada murka Allah dan siksaan-Nya yang sangat pedih di akhirat kelak.

Rasa takut dalam urusan dien inilah yang disebut dengan ketakwaan. Rasa takut inilah yang mendorong seorang muslim untuk mendahulukan ridha Allah atas ridha selain-Nya. Ia rela dibenci dan dimusuhi oleh makhluk, selama ia meraih ridha Allah dan berada di atas jalan Allah ‘Azza wajalla. (Fakhruddin Ar-Razi, Tafsir Mafatih Al-Ghaib, Juz 16 hlm. 11 dan Al-Qurthubi, Al-Jami’ li-Ahkam Al-Qur’an, Juz 10 hlm. 135)

Lebih jauh Syaikh Muhammad Thahir bin Asyur At-Tunisi menjelaskan bahwa makna ayat ini adalah jika seorang muslim dihadapkan kepada salah satu di antara dua rasa takut pada saat yang bersamaan; takut kepada Allah dan takut kepada selain Allah, niscaya ia mendahulukan rasa takutnya kepada Allah ‘Azza wajalla. Saat menyinggung orang-orang kafir yang secara semena-mena membatalkan perjanjian damai dan memerangi kaum muslimin, Allah ‘Azza wajalla berfirman,

أَلَا تُقَاتِلُونَ قَوْمًا نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ وَهَمُّوا بِإِخْرَاجِ الرَّسُولِ وَهُمْ بَدَءُوكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ أَتَخْشَوْنَهُمْ فَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَوْهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Mengapakah kalian tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kalian? Mengapakah kalian takut kepada mereka? Padahal Allah-lah yang berhak untuk kalian takuti, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. At-Taubah [9]: 13)

Baca: Memahami Makna Khilafah, Imamah dan Imaroh

Mendahulukan rasa takut kepada Allah ‘Azza wajalla atas rasa takut kepada makhluk adalah karakteristik kaum beriman.

Adapun orang-orang musyrik, kafir dan munafik lebih takut kepada sekutu-sekutu mereka dari kalangan manusia dan jin, serta lebih mengutamakan keridhaan mereka. Untuk meraih keridhaan setan-setan jin dan manusia tersebut, mereka tidak malu-malu dan tidak sungkan-sungkan untuk mencampakkan syariat Allah ‘Azza wajalla, meninggalkan perintah-perintah-Nya dan menabrak larangan-larangan-Nya. Terhadap mereka, Allah memberikan peringatan keras:

فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Karena itu janganlah kalian takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku.  Dan janganlah kalian menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut hukum (wahyu) yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah [5]: 44) (Muhammad Thahir bin Asyur, Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir, Juz 10 hlm. 142)

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili menulis bahwa maksud ayat di atas adalah ucapan dan perbuatan orang-orang beriman menunjukkan bahwa mereka hanya takut kepada (murka dan siksaan) Allah. Mereka tidak takut kepada berhala-berhala dan penguasa-penguasa yang sebenarnya tidak dapat mendatangkan manfaat dan menolak madharat. Sebab, sebenarnya manfaat dan madharat itu semuanya berada di tangan Allah semata. (Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsir Al-Munir, Juz 5 hlm. 486)

Kekuatan negara-negara superpower kafir dunia senantiasa menakut-nakuti kaum beriman dengan beragam teror. Mereka memberikan stempel negatif seperti fundamentalis, radikalis, ekstrimis, anti-HAM dan anti-demokrasi, terhadap umat Islam yang taat menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.

Mereka memberikan stempel negatif seperti “teroris” terhadap umat Islam yang memperjuangkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai panduan hidupnya.

Mereka memberikan stempel negatif seperti “terpapar paham radikal” terhadap masjid-masjid, pesantren-pesantren, madrasah-madarasah, ormas Islam dan majlis taklim yang ingin mempelajari dan mengamalkan ajaran Islam secara kaafah.

Baca: Tetap Totalitas Berislam, Jangan Takut Miskin!

Mereka melancarkan embargo ekonomi, pemblokiran dana bank, perburuan, penangkapan, pembombardiran, dan pembantaian terhadap kelompok-kelompok jihad Islam yang konsisten di atas syariat, seperti terhadap Brigade Izzuddin Al-Qassam di Jalur Gaza dan Thaliban di Afghanistan.

Orang-orang yang tiada iman di hatinya, atau lemah imannya, akan gemetar hatinya akibat ancaman setan-setan jin dan manusia tersebut. Rasa takutnya kepada setan-setan jin dan manusia tersebut lebih besar dari rasa takutnya kepada murka Allah dan siksaan-Nya. Mereka akan menuruti apapun keinginan setan-setan jin dan manusia tersebut, demi mencari keridhaan mereka dan selamat dari gangguan mereka.

Adapun orang-orang beriman mendahulukan ridha Allah atas ridha setan-setan jin dan manusia. Orang-orang beriman lebih takut kepada murka Allah dan siksa-Nya, daripada rasa takut mereka kepada kekuatan setan-setan jin dan manusia tersebut. Mereka memegang teguh syariat-Nya dan taat beribadah kepada-Nya, meskipun setan-setan jin dan manusia memusuhi mereka.

 

Balasan Petunjuk Allah

Di bagian akhir dari ayat yang mulia di atas, Allah ‘Azza wajalla berfirman, “…maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Lafal ‘asaa secara harfiah bermakna semoga. Lafal ini pada asal pemakaiannya dalam bahasa Arab merupakan sebuah harapan. Sebuah harapan itu biasanya memiliki dua kemungkinan; terkabul dan tidak terkabul.

Namun lafal ‘asaa dalam ayat yang mulia di atas hanya memiliki satu kemungkinan saja, yaitu pasti terkabul dan pasti terlaksana. Para ulama tafsir menjelaskan beberapa alasan dan hikmah pemilihan kata ‘asaa (harapan) dalam ayat ini.

  1. Sahabat Ibnu Abbas, Muhammad bin Ishaq bin Yasar dan para ulama salaf lainnya mengatakan bahwa setiap lafal ‘asaa yang disebutkan Allah ‘Azza wajalla dalam Al-Qur’an bermakna sebuah kepastian. Sebab Allah Maha mengetahui segala hal yang akan terjadi pada masa mendatang. Allah Maha Suci dari sifat ragu-ragu. (At-Thabari, Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ayyil Qur’an, Juz 11 hlm. 376-377. Al-Qurthubi, Al-Jami’ li-Ahkam Al-Qur’an, Juz 10 hlm. 135. Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, Juz 7 hlm. 160)
  2. Harapan dalam ayat yang mulia tersebut adalah harapan hamba. Maksudnya adalah seorang muslim itu beriman kepada Allah dan hari akhir, mengerjakan shalat, menunaikan zakat dan hanya takut kepada Allah semata. Ketika seorang muslim melakukan semua ibadah jasmaniah dan ruhaniah tersebut, ia berharap mendapatkan balasan dari sisi-Nya semata. Tiada balasan yang lebih indah daripada ridha Allah dan petunjuk-Nya.Meskipun demikian, hamba muslim tersebut tidak berani memastikan dirinya telah mendapatkan ridha Allah dan petunjuk-Nya. Sebab, ia khawatir keimanan dana mal shalihnya masih disusupi oleh penyakit riya’, sum’ah, ujub, takabur, kemunafikan dan perusak-perusak amal lainnya. Maka ia beramal shalih dengan disertai rasa harap terhadap ridha dan petunjuk-Nya, serta rasa takut apabila amalnya ditolak Allah karena masih mengandung cacat-cacat dan perusak-perusak amal. (Fakhruddin Ar-Razi, Mafatih Al-Ghaib, Juz 16 hlm. 12)

    Hal itu sebagaimana Allah menjelaskan sifat orang-orang mukmin calon penghuni surga dengan firman-Nya:

    إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ (15) تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (16)

    Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Rabbnya, sedang mereka tidak menyombongkan diri.

    Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (maksudnya banyak shalat malam dan sedikit tidur), sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (QS. As-Sajdah [32]: 15-16)

    Ayat yang semakna dengannya adalah QS. Al-Mu’minun [23]: 57-61.

  1. Penyebutan harapan dalam ayat tersebut adalah untuk memutus harapan dan kebanggan orang-orang kafir dan musyrik. Orang-orang kafir dan musyrik membanggakan amal-amal kebaikan yang mereka lakukan, menganggap diri mereka berada di atas petunjuk Allah, dan mengharapan balasan terbaik di sisi Allah.Maka Allah mementahkan semua kebanggaan, anggapan dan harapan mereka tersebut. Jika nasib di akhirat kelak bagi orang-orang yang beriman di dalam hatinya, beramal shalih dengan anggota badannya, dan takut kepada Allah semata saja masih berada dalam ruang “harapan” dan “kemurahan” Allah semata, terlebih lagi nasib orang-orang yang hatinya kafir, anggota badannya melakukan kesyirikan dan kekufuran, dan tidak takut terhadap Allah ‘Azza wajalla? Darimana mereka dapat membanggakan diri, lalu berharap keuntungan dan petunjuk? (Fakhruddin Ar-Razi, Mafatih Al-Ghaib, Juz 16 hlm. 12 dan Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsir Al-Munir, Juz 5 hlm. 487)

 

Cara Memakmurkan Masjid

Para ulama menyebutkan bahwa memakmurkan masjid itu mencakup pemakmuran masjid secara jasmaniah maupun ruhaniah. (Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsir Al-Munir, Juz 5 hlm. 486-488. Sa’id Hawa, Al-Asas fi At-Tafsir, juz 4 hlm. 2229. Sayid At-Thanthawi, At-Tafsir Al-Wasith, Juz 6 hlm. 78-79)

Memakmurkan masjid secara jasmaniah adalah melakukan kegiatan-kegiatan yang erat kaitannya dengan unsur fisik masjid. Di antara bentuknya adalah:

  1. Mendirikan masjid dan mushala dengan niat ikhlas mencari ridha Allah semata, bukan untuk meraih simpati manusia, pujian manusia maupun motif-motif duniawi lainnya semisal dukungan politik dari masyarakat.
  2. Menjaga kebersihan masjid dan mushala dengan cara menyapu, mengepel dan lainnya.
  3. Menjaga penerangan masjid dan mushala dengan lampu-lampu yang kwalitasnya baik dan kwantitasnya cukup.
  4. Menjaga kwalitas pelayanan masjid dengan sound system yang baik, penyediaan mushaf dan buku-buku bacaan Islam yang berkwalitas, dan penyediaan pakaian ibadah (mukena bagi putri, sarung untuk putra) bagi para musafir.
  5. Menjaga kenyamanan masjid dengan menyediakan tempat wudhu, kamar mandi, WC, dan lahan parkir yang representatif.
  6. Menyediakan layanan mobil ambulans bagi jama’ah yang mengalami musibah kematian.
  7. Dan lain-lain.

Baca: Waspadai Bantuan Dana dari Kaum Munafik!

Memakmurkan masjid secara ruhaniah adalah melakukan kegiatan-kegiatan yang erat kaitannya dengan pembinaan dan pemberdayaan manusia beriman di masjid. Di antara bentuknya adalah:

  1. Mendirikan shalat wajib lima waktu dan shalat Jum’at secara berjama’ah di masjid.
  2. Mendirikan shalat tarawih dan witir secara berjamaah di masjid pada bulan Ramadhan.
  3. Mendirikan shalat sunah kusuf (gerhana matahari atau gerhana bulan) secara berjama’ah di masjid.
  4. Mendirikan shalat sunah tahiyatul masjid saat masuk ke dalam masjid.
  5. Membaca Al-Qur’an, membaca hadits, membaca shalawat atas Nabi SAW, berdzikir, berdoa, beristighfar dan bertaubat di dalam masjid.
  6. Menyelenggarakan kajian tafsir, hadits, fikih, akidah, akhlak, sirah nabawiyah, tarikh Islam, bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama lainnya di dalam masjid untuk jama’ah remaja, dewasa, bapak-bapak dan ibu-ibu.
  7. Menyelenggarakan TPA/TPQ dan madrasah diniyah untuk anak-anak usia SD, SMP dan SMA.
  8. Menyelenggarakan pelatihan tata cara mengurus jenazah.
  9. Menyelenggarakan pelatihan imam, pelatihan khatib, pelatihan guru TPA/TPQ/ Madrasah Diniyah.
  10. Menghimpun dana infak dan sedekah untuk disalurkan kepada orang fakir, miskin, janda, anak yatim, orang sakit dan warga muslim lainnya yang mengalami musibah.
  11. Melakukan i’tikaf di dalam masjid pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
  12. Dan lain-lain.

Wallahu a’lam bish-shawab [Fadhlullah/istidlal.org]

 

REFERENSI

Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jami’ li-Ahkam Al-Qur’an, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, cet. 1, 1427 H.
Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ayyil Qur’an, Kairo: Dar Hajr, cet. 1, 1422 H.
Ismail bin Katsir Ad-Dimasyqi, Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, Jizah: Muassasah Qurthubah, cet. 1, 1421 H.
Fakhruddin Muhammad bin Umar Ar-Razi, Mafatih Al-Ghaib, Beirut: Darul Fikr, cet. 1, 1401 H.
Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsir Al-Munir fi Al-Aqidah wa Asy-Syari’ah wa Al-Manhaj, Damaskus: Darul Fikr, cet. 10, 1430 H.
Sa’id Hawa, Al-Asas fi At-Tafsir, Kairo: Darus Salam, cet. 1, 1405 H.
Muhammad Thahir bin Asyur, At-Tahrir wa At-Tanwir, Tunis: Ad-Dar At-Tunisiah, cet. 1, 1984 M.
Muhammad Sayid Thanthawi, At-Tafsir Al-Wasith lil-Qur’an Al-Majid, Kairo: Matba’ah Ar-Risalah, cet. 3, 1408 H.

share on: