Kebutuhan Umat Kepada Al-Quran Al-Karim

share on:
Kebutuhan Umat Kepada Al-Quran Al-Karim-istidlal.org

Kebutuhan Umat Kepada Al-Quran Al-Karim – Segala puji hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, dan shalawat serta salam untuk nabi kita Muhammad, juga keluarga dan sahabatnya. Amma ba’du:

Orang yang memperhatikan realita umat hari ini pasti akan melihat dengan jelas bahwa umat hidup di zaman ketika kebanyakan individunya berpaling dari Al-Quran Al-Karim, di zaman ketika mereka menelantarkan Al-Quran dan membangkang kepada (ajaran)nya. Itu semua terjadi karena ketidakhadiran hati dan kelemahan wawasan. Umat sudah enggan untuk memahami Al-Quran dan hanya menjadikannya sebagai bacaan kosong, tidak untuk ditadaburi apalagi diamalkan.

Sungguh merupakan kealpaan yang nyata ketika hubungan umat dengan Al-Quran hanya sebatas tilawah, tidak sampai memahami, mentadaburi, dan memetik nasehat darinya!

Apakah umat ini ingin mengikuti jalan umat-umat terdahulu yang Allah cela dengan seburuk-buruk perumpamaan? Sebagaimana digambarkan dalam Al-Quran (Allah berfirman):

Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS Al-Jumuah: 5)

Baca juga: Syariat Islam Yes, Hukum Jahiliyah No

Allah subhanahu wa taala menyerupakan orang yang membaca Al-Quran tanpa memahaminya dengan keledai yang mengangkut buku-buku. Maka termasuk dalam hal ini kaum muslimin yang menghafal Al-Quran tetapi tidak memahami dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya. (Hawadist wa Bida’, Tustusyi Al-Maliki, 101)

Sungguh umat hari ini, ketika bid’ah tersebar, fitnah-fitnah menghantam, hawa nafsu menguasai dan prinsip serta aqidah mulai goyah, (sungguh) umat sangat perlu untuk kembali kepada Al-Quran.

Tidak ada jalan keluar dari “lumpur busuk”, yang mana umat di seluruh penjuru terperosok di dalamnya ini kecuali seluruh individu umat ini, baik rakyat maupun penguasa, laki-laki maupun perempuan, ulama maupun awam kembali kepada Al-Quran dengan cara yang benar sepenuh hati dan indra, jasad dan ruh, dalam ilmu maupun amal.

Itu karena ketinggian, kemuliaan, kehormatan dan kedaulatan hanya untuk para pembawa Al-Quran yang mengamalkan isinya lah, sebagaimana di dalam hadis sahih Nabi bersabda:

“Sungguh Allah meninggikan sebagian kaum dengan Al-Quran ini dan merendahkan dengannya sebagian yang lain.” (HR. Muslim No. 1934)

Al-Quran ini tidaklah diturunkan melainkan sebagai petunjuk bagi Umat di setiap lini kehidupan. Ia menunjuki Umat kepada jalan yang paling lurus dalam segala perkara. Allah berfirman:

“Sungguh Al-Quran ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus.” (QS. Al-Isra: 9)

Dalam ayat ini Allah simpulkan bahwa semua petunjuk yang ada di dalam Al-Quran menunjukkan kepada jalan yang paling benar dan paling lurus, kalau kita rinci ayat ini secara menyeluruh, kita pasti akan mendapati keseluruhan Al-Quran seperti itu karena ayat ini mencakup seluruh petunjuk kepada kebaikan dunia dan akhirat yang ada di dalam Al-Quran. (Adhwa Al-Bayan, 2/218)

Baca juga: Pepesan Kosong Islam Nusantara

Karena itu, Al-Quran merupakan panutan umat dalam segala keadaannya dan umat sangat perlu memahami dan mengamalkannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah berkata: “Kebutuhan umat terhadap pemahaman Al-Quran sangatlah mendesak.”  (Muqaddimah fi Ushul Tafsir, 2)

Berikut rambu-rambu untuk memperjelas masalah ini:

Pertama: Di dalam Al-Quran ada petunjuk untuk orang yang ingin menempuh jalan kebenaran, sebagaimana firman Allah:

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mencari keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS Al-Maidah: 15-16)

Oleh karena itu Al-Quran merupakan ruh dan cahaya, ruh kehidupan dan cahaya perjalanan. Ia merupakan kehidupan bagi umat dan penerang jalannya, karena ia mengeluarkan (seorang hamba) dari kegelapan syirik, kufur, kebodohan, dan maksiat; kepada cahaya iman, ilmu, dan ketaatan. (Adhwa Al-Bayan, 2/234)

Baca juga: Mindset Masyarakat Muslim yang Pudar di Era Negara-Bangsa

Kedua: Al-Quran merupakan kitab hukum dan undang-undang, mencakup semua urusan kehidupan; mencakup urusan yang bersifat personal, kelompok, ekonomi, militer, dan lain-lain. Sebagimana firman Allah:

“Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah” (QS Al-Maidah: 48)

Al-Quran sudah mencakup semua hukum, secara global pada kebanyakannya, dan secara parsial pada permasalahan-permasalahan penting.

Karena itu firman Allah: “Penjelasan untuk segala sesuatu” (QS An-Nahl: 89) dan firman Allah: “Hari ini aku sempurnakan untuk kalian agama (kalian)” (QS Al-Maidah: 3)

Maksudnya adalah sempurnanya perkara-perkara global. Karena Al-Quran mencakup semuanya walaupun ringkas dan tidak mungkin mencakup semuanya kecuali cakupannya pastilah perkara-perkara yang umum (global) karena syariat itu sempurna bersamaan dengan berakhirnya penurunan Al-Quran. (At-Tahrir wa At-Tanwir, Muhammad At-thahir bin ‘Ashur At-Tunisi, 1/40)

Baca juga: Posisi Syariat dalam Koridor Negara Bangsa

Ketiga: Al-Quran merupakan kitab akidah yang murni lagi bersih, di dalamnya terdapat penjelasan yang benar tentang hal tersembunyi di balik perkara gaib yang berhubungan dengan Allah taala, nama dan sifat-sifat-Nya, Rububiah dan Uluhiyahnya, juga perkara yang berhubungan dengan penciptaan langit dan bumi, manusia dan asal-usul penciptaannya, juga tentang iman kepada malaikat, kitab-kitab suci, para rasul, dan hari akhir, begitu juga perkara-perkara yang bertolak belakang dengan semua itu seperti kufur, syirik, dan kemunafikan. (Di sisi lain juga menerangkan) Tanda-tanda Rububiah, Uluhiyah, Nubuwwah, dan sisi-sisi mukjizat yang ada dalam Al-Quran itu sendiri, sebagaimana firman Allah:

“Maka berpegang teguhlah kamu kepada yang telah diwahyukan kepadamu (Al-Quran). Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab.” (QS. Az-Zukhruf: 43-44)

Keempat: Al-Quran adalah kitab ibadah, manusia beribadah dengan membaca, tilawah, dan menghafalnya, mendekatkan diri kepada Allah dengan itu semua. Al-Quran adalah cahaya untuk hati orang-orang yang mengenal Allah, pelita perjalanan para ahli ibadah-Nya, yang melantunkannya sepanjang siang dan malam, mengajarkan dan mempelajarinya, telah dimudahkan (ayat-ayatnya) bagi mereka yang memberi perhatian kepadanya, (Allah berfirman):

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang  yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)

Baca juga: Mempersembahkan Hidup dan Mati Hanya untuk Islam

Kelima: Al-Quran adalah tali Allah yang sangat kuat, untuk menghadapi musuh-musuh Islam yang mana mereka menempuh seluruh jalan untuk memerangi Islam. Oleh karena itu Al-Quran ini menyadarkan umat tentang hakikat peperangan melawan musuhnya dan menjelaskan target-target peperangan yang dicari musuhnya, kemudian Al-Quran membekali umat dengan sarana yang menjadi sebab kemenangan dan senjata jihad baik dengan lisan, bayan ataupun senjata.

Imam Qotadah berkata tentang firman Allah: “Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah dan jangan berpecah-belah.(QS. Ali Imran: 103)

“Tali Allah yang sangat kuat, yang (kita) disuruh untuk berpegang teguh kepadanya ialah Al-Quran ini.”. (Jami Al-Bayan fi Takwil Al-Quran, Ath-Thabari, 7/73)

Keenam: Al-Quran itu pasti benar, diturunkan dari Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Teliti (QS. An-Naml: 6) Oleh karena itu Al-Quran memiliki isyarat besar dari banyak sisi: keilmuan, kedokteran, kemasyarakatan, psikologi, dan lain-lain, untuk kehidupan seluruh manusia.

Ketujuh: Berpegang teguh kepada Al-Quran menjamin Umat tidak terjatuh pada kesesatan fikroh sekaligus menjamin keselamatan baginya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika khutbah wada’: “… dan telah aku tinggalkan sesuatu yang kalian tidak akan tersesat ketika berpegang teguh kepadanya: Kitabullah.” (HR. Muslim No. 3009)

Baca juga: Islam Agama Seluruh Alam, Tak Ada dan Tak Butuh Pengganti Setelahnya

Ini bisa kita perhatikan realitanya. Ketika umat berpegang teguh dengan kitab Rabbnya, maka umat akan berdaulat dan memimpin atas semua umat dan peradaban (lainnya).

Tulisan ini kita tutup dengan perkataan penuh energi Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqitiy, beliau menjelaskan masalah terbesar yang dialami dunia Islam dan betapa pentingnya kembali kepada Al-Quran, beliau berkata:

“Di antara petunjuk Al-Quran kepada jalan yang paling lurus adalah petunjuknya dalam memecahkan permasalahan dunia secara menyeluruh dengan cara yang paling adil lagi benar.

Kita telah menjelaskan di banyak kesempatan, tentang petunjuk Al-Quran dalam memecahkan tiga permasalahan, dimana ketiganya merupakan masalah paling besar yang dialami Umat di seluruh penjuru, yang mereka menisbatkan diri kepada Islam, ketiganya sebagai peringatan untuk umat dari permasalahan lainnya.

Permasalahan pertama: Kelemahan kaum muslimin di berbagai belahan dunia dari segi jumlah maupun perlengkapan dalam melawan kuffar. Dan Al-Quran sudah memberi petunjuk dalam memecahkan permasalahan ini dengan cara yang paling adil dan benar; Al-Quran menjelaskan bahwa solusi dari kelemahan ketika melawan kuffar ialah kesungguhan dalam melangkah kepada Allah disertai kuatnya iman dan tawakkal kepada-Nya, karena Allah maha kuasa lagi maha agung; berkuasa atas segala sesuatu, maka siapa yang benar-benar termasuk golongan-Nya tidak mungkin bisa dikalahkan oleh kaum kuffar walau bagaimanapun kekuatan yang mereka miliki.

Permasalahan kedua: Berkuasanya orang kafir atas kaum muslimin, mereka (kaum muslimin) dibunuh, dilukai, dan disiksa dengan berbagai macam siksaan, padahal kaum muslimin berada di atas kebenaran sedangkan orang kafir di atas kebatilan. hal ini dahulu juga menjadi masalah para sahabat, kemudian Allah menerangkan permasalahan ini dengan penjelasan langsung dari langit yang akan terus didengungkan sampai hari kiamat. Itulah ketika terjadi musibah pada saat perang Uhud, kaum muslimin mempermasalahkan hal itu dan berkata: “Kenapa kaum musyrikin bisa menghabisi kita padahal kita di atas kebenaran dan mereka di atas kebatilan?”.

Maka Allah menurunkan ayat: “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata ‘dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ katakanlah ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.”  (QS. Ali Imran: 165)

Dan ayat: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri” merupakan penjelasan global yang kemudian dirinci dengan ayat: “Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai (rampasan perang). Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia…” (QS. Ali Imran: 152), sampai firman Allah taala: “Untuk menguji kamu.”

Di dalam penjelasan langit ini sudah tercantum keterangan yang jelas, karena sebab berkuasanya orang kafir atas kaum muslimin ialah kegagalan kaum muslimin, perpecahan mereka, kedurhakaan kepada Rasulullah, dan sebagian mereka yang mendahulukan dunia daripada perintah Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Baca juga: Ukhuwah Islamiyah, Syarat Eksistensi Umat

Permasalahan ketiga: Pertentangan hati yang ia merupakan sebab terbesar rusaknya eksistensi umat Islam, karena itu pasti berbuah kegagalan serta kehilangan kekuatan dan negeri, Allah berfirman: “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu…(QS. Al-Anfal: 46)

Engkau lihat masyarakat muslim hari ini di seluruh penjuru, sebagian mereka menyimpan permusuhan dan kebencian antara satu dengan yang lain, walaupun mereka saling berbasa-basi tetapi semua tahu bahwa itu hanya sekedar basa-basi, dan semua tahu bahwa apa yang di hati berlawanan dengan itu.

Allah taala sudah menjelaskan di dalam surat Al-Hasyr bahwa penyebab penyakit yang sudah tersebar di mana-mana ini adalah lemahnya akal, Allah berfirman: “Kamu kira mereka itu bersatu, sedangkan hati mereka berpecah-belah…”.

Kemudian Allah menyebutkan penyebab terpecah-belahnya hati mereka dengan firman-Nya: “Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.(QS. Al-Hasyr: 14)

Dan tidak dipungkiri lagi bahwa penyakit lemah akal yang kemudian membuatnya lemah dalam memahami hakikat-hakikat, membedakan yang benar dari yang salah, yang bermanfaat dari yang berbahaya; yang baik dari yang buruk, (penyakit) itu tidak ada obatnya kecuali dengan meneranginya menggunakan cahaya wahyu, karena cahaya wahyu dapat menghidupkan sesuatu yang mati dan menerangi jalan mereka yang berpegang teguh kepadanya. (Adwa Al-Bayan, 2/240,241)

Ya Allah tetapkanlah untuk umat ini perkara yang bijaksana, di sana orang yang taat kepada-Mu dimuliakan dan yang bermaksiat diberi petunjuk, diperintahkan kepada yang makruf dan dilarang dari yang mungkar, wahai Engkau yang maha mendengar doa kami. (albayan/istidlal.org)

share on: