Kenapa Umat Islam Harus Membela Al-Quds?

share on:
Aksi Bela Palestina (Al-Quds)

Istidlal.org – Al-Quds adalah bagian dari Islam. Sejarah umat Islam tidak pernah lepas dari negeri itu. Namun hari ini tanah suci itu dicaplok oleh Yahudi sedikit demi sedikit dan puncaknya adalah kearen di saat Amerika serikat melalui presidennya Donald Trump mengumumkan bahwa Al-Quds adalah ibukota Israel.

Sontak hal itu membuat dunia geger, mulai dari dunia Arab hingga Barat sekalipun. Bahkan, sebagian orang kafir ikut memprotes kebijakan tersebut. Kalau orang kafir memiliki motifasi untuk menolak kebijakan tersebut, tentunya umat Islam lebih punya alasan untuk menolak itu. Alasan-alasan inilah yang menjadi penyebab umat Islam membela dan mempertahankan Al-Quds dari abad ke abad.

  1. Tanah yang Diberkahi

Hal ini sesuai dengan firman Allah :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya, “Mahasuci Dzat yang telah memperjalankan hamba-Nya di malam hari dari masjidil haram menuju masjidil aqsa yang diberkati sekelilingnya. Agar (Kami)memperlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS : Al-Isra’ 1)

Dijelaskan oleh imam Al-Baghowi, bahwa di antara bentuk keberkahannya adalah banyaknya tanaman dan pepohonan dan tanh yang subur secara terus menerus. Keberkahan lainnya adalah keutamaannya disbanding masjid-masjid yang lain.

  1. Kiblat pertama umat Islam

Masjidil Aqsa merupakan kiblat pertama kaum muslimin. Waktu perintah sholat diturunkan, Rasul dan para sahabatnya sholat menghadap Masjidil Aqsa. Setelah 16 bulan barulah turunlah perintah Allah memindahkan kiblat dari Masjidil Aqsa ke Ka’bah.

عن البراء بن عازب رضي الله عنهما قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم صلى نحو بيت المقدس ستة عشر أو سبعة عشر شهرا……

Artinya, “Dari Bara’ bin Azib –radhiyallahu anhu- berkata, Rasulullah SAW sholat menghadap Baitul Maqdis selama 16 atau 17 bulan..(HR Bukhori Muslim)

  1. Pahala Sholat di Baitul Maqdis dilipatgandakan

Para ulama sepakat bahwa kaum muslimin dianjurkan untuk bersusah payah untuk menziarahi Masjidil Aqsa. Anjuran tersebut tentunya dibarengi dengan keutamaan lainnya. Di antaranya adalah dilipatgandakannya pahala sholat di Masjidil Aqsa sebanyak  500 kali, sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadits.

  1. Tempat Isra’nya Rasulullah SAW

Isra’ dan Mi’raj merupakan peristiwa besar bagi umat Islam. Hal ini dikarenakan setelah perjalanan ini umat Islam dibebankan kewjaiban sholat 5 waktu. Dan Isra’ terjadi dari masjid yang pertama kali dibangun (Masjidil haram) menuju masjid yang kedua dibangun dimuka bumi. Maka Rasulullah mengumpulkan dua keutaman dan dua kemulian dari dua masjid ini.

Diriwayatkan oleh Muslim, Dari Anas bin Malik, Sesungguhnya Rasulullah SAW berkata, “Saya diberi Buroq –Tunggangan berwarna putih, tingginya melebihi keledai dan tidak setinggi bighol (Peranakan kuda dan keledai)dia menaruh kakinya sejauh mata memandang (karena kecepatannya)- Saya menaikinya hingga Baitul Maqdis kemudian saya mengikatnya di tempat para Nbi mengikatkan tunggangannya. Kemudian saya memasuki majid dan sholat dua rekaat, kemudian saya keluar…..(HR Muslim)

  1. Do’anya Nabi Musa as

Di antara keutamaan Baitul Maqdis adalah nabi Musa as berdoa kepada Allah agar sebelum meninggal didekatkan dengan Baitul Maqdis.

Diriwayatkan oleh Bukhori secara marfu’. Rasulullah SAW bersabda, “Musa berdoa kepada Allah agar mendekatnya dengan tanah yang penuh berkah (Baitul Maqdis) sepelemparan batu. Kalau saya bisa, saya akan perlihatkan kepada kalian kuburannya (Musa) di tepi jalan Katsib Ahmar (gunung Nebo, di Yordania).” (HR Bukhori)

Imam An-Nawawi berkata, “Doa nabi Musa untuk didekatkan dengan Baitul Maqdis adalah karena keutamaannya dan keutamaan orang-orang yang dikubur di sana dari para nabi dan yang lainnya.”

  1. Masjid Kedua yang Dibangun di Muka Bumi

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّل؟ قَالَ: «الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ» قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى» قُلْتُ: كَمْ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: أَرْبَعُونَ سَنَةً، وَأَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ، فَصَلِّ، فَهُوَ مَسْجِدٌ

Artinya, “Dari Abu Dzar –radhiyallahu anhu- berkata, “Wahai Rasulullah, masjid mana yang pertama kali di bangun dimuka bumi? Rasulullah SAW menjawab, “Masjidi Haram” Saya berkata, “Kemudian, masjid mana?” Beliau menjawab, “Masjidil Aqsa.” Saya bertanya, “Berapa jarak waktunya?” Rasulullah SAW menjawab, “40 tahun, dan di mana saja kamu mendapati waktu sholat masuk, maka sholatlah, karena (seluruh bumi) ini masjid.” (HR Muslim)

  1. Kabar Gembira Tentang Pembebasan Baitul Maqdis

Nabi Muhammad SAW pada perang Tabuk menyebutkan bahwa Baitul Maqdis akan dibebaskan  oleh umat Islam. Dan terbukti Baitul Maqdis berhasil dibebaskan oleh umat Islam pada masa pemerintahan Umar bin Khattab.

Walaupun setelah itu sempat direbut kembali oleh pasukan Salib pada tahun 492 H, namun Baitul Maqdis kembali direbut oleh Sholahuddin Al-Ayyubi pada tahun 583 H.

  1. Tempat Thoifah Manshuroh

Dalam banyak hadits disebutkan bahwa akan senantiasa ada segolongan dar umat Nabi Muhammad yang teguh memegang kebenaran. Di antara tempat yang disinyalir menjadi tempat Thoifah Manshuroh adalah negeri Syam, yang mana Baitul Maqdis termasuk di dalamnya.

Nabi Muhammad SAW bersabda : “Hendaklah kalian ke Syam, karena dia adalah tanah pilihan Allah, ditinggali oleh manusia-manusia pilihan, barangsiapa tidak mampu maka hendaklah menuju Yaman.”

  1. Negeri Para Nabi

Negeri Syam adalah negeri para Nabi. Di dalamnya terda[at buah tin dan Zaitun yang menjadi saksi hijrahnya Nabi Ibrahim. Di sana pula lahir Nabi Isa as yang menjadi tanda kebesaran Allah di muka bumi.

  1. Syam Adalah Tempat Padang Mahsyar

Di dalam sebuah hadits dari Maimunah binti Sa’ad, bertanya kepada Rasulullah SAW tentang Baitul Maqdis. Nabi menjawab bahwa Baitul Maqdis adalah tempat manusia dibangkitkan (mansyar) dan manusia dikumpulkan (Mahsyar). (Didhoifkan oleh syaikh Albani).

Wallahu a’lamu bissowab (IR)

 

share on: