Kesepakatan Hasil Musyawarah Itu Mengikat

share on:
Kesepakatan Hasil Musyawarah Itu Mengikat-istidlal.org

Problematika kehidupan yang dihadapi umat Islam semakin hari semakin berkembang luas dan bertambah banyak. Terdapat banyak faktor yang menyebabkan hal itu. Mulai dari jumlah umat Islam yang besar, kebutuhan hidup mereka yang beragam, hingga perkembangan sarana komunikasi, transportasi, dan informasi yang demikian cepat.

Dalam kehidupan berorganisasi atau bermasyarakat, seorang pemimpin muslim tidak mungkin dapat menyelesaikan semua persoalan sendirian. Sebab, pemimpin muslim bukanlah Tuhan yang serba bisa. Ia juga bukan seorang nabi dan rasul yang terbebas dari hawa nafsu dan perbuatan dosa. Pemimpin muslim, layaknya kaum muslimin lainnya, adalah manusia biasa. Terkadang ia berbuat benar, dan terkadang ia berbuat salah.

Tanggung jawab seorang pemimpin muslim, dalam memimpin sebuah organisasi Islam atau masyarakat Islam, sangatlah besar. Semua kebijakan dan langkah yang diambilnya harus merealisasikan maslahat sebesar-besarnya bagi seluruh anggotanya. Padahal, sehebat apapun dirinya, ia memiliki keterbatasan ilmu, amal dan kemampuan.

Agar kebijakan dan langkah seorang pemimpin muslim, yang notabenenya bukan orang ma’shum tersebut, merealisasikan maslahat sebesar-besarnya bagi anggotanya, maka Islam mensyariatkan musyawarah sebagai salah satu mekanisme pengambilan keputusan. Perintah kepada pemimpin muslim dan kaum muslimin untuk bermusyawarah, sebelum memutuskan sebuah keputusan yang menyangkut kepentingan bersama, telah ditegaskan oleh Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijmak ulama.

Baca: Kunci Kerukunan dan Kerekatan Ukhuwah dalam Berjamaah

Dalam suatu musyawarah, ketika pemimpin Islam dan seluruh peserta musyawarah sudah menyepakati sebuah keputusan, maka keputusan tersebut bersifat mengikat. Keputusan yang disepakati bersama tersebut wajib dilaksanakan oleh pemimpin Islam dan seluruh anggotanya. Melaksanakan keputusan musyawarah tersebut sesuai kadar kemampuan masing-masing adalah wajib.

Sebaliknya, menyelisihi secara sengaja hasil keputusan musyawarah tersebut adalah sebuah kemaksiatan. Bukan saja kemaksiatan kepada pemimpin Islam, melainkan juga pencederaan terhadap kesepakatan kaum muslimin yang turut dan bersepakat dalam musyawarah tersebut. Hal itu jelas sebuah perbuatan dosa besar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ

Kaum muslimin itu terikat oleh syarat-syarat yang disepakati di antara mereka.” (HR. Abu Daud, Ahmad, Ad-Daraquthni, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi)

Khutbah Jumat: Wara’ Terhadap Dunia, Kunci Keistiqomahan

Hadits-hadits shahih dan riwayat-riwayat sejarah menegaskan bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khulafaur rasyidin bermusyawarah dengan sebagian tokoh kaum muslimin, lalu mereka menyepakati sebuah keputusan, maka keputusan tersebut diterima dengan tulus-ikhlas dan dilaksanakan oleh segenap kaum muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan khulafaur rasyidin sendiri tunduk-menerima keputusan bersama tersebut.

 

TELADAN DALAM PERANG KHANDAQ

Salah satu contohnya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selaku kepala negara dan panglima tertinggi angkatan perang Islam pernah memiliki keinginan untuk menawarkan setengah hasil panen kurma Madinah kepada pasukan musyrikin Bani Ghathafan.

Pada saat itu pasukan gabungan suku musyrikin Quraisy, Ghathafan, dan suku-suku kafir Arab lainnya menyerang Madinah dalam perang Ahzab. Pasukan musuh berkekuatan kurang lebih 10.000 orang. Mereka mengepung Madinah selama kurang lebih satu bulan penuh.

Pada saat yang sama, kaum Yahudi Bani Quraizhah mengkhianati perjanjian damai dengan kaum muslimin. Yahudi Bani Quraizhah setiap saat bisa saja menyerang kaum muslimin Madinah dari arah belakang. Padahal saat itu di dalam kota Madinah hanya ada anak-anak, wanita, dan kaum manula. Sebab, kaum pria dewasa berjaga-jaga di belakang parit pertahanan, di luar kota Madinah, dengan menghadapi ancaman serbuan pasukan gabungan suku-suku kafir Arab.

Baca: Sabar, Kunci Utama Kemenangan Umat Islam

Rasa takut terhadap serangan pasukan gabungan suku kafir Arab dari arah depan, ancaman serangan Yahudi Bani Quraizhah dari arah belakang, ditambah rasa lapar yang melilit perut dan terpaan angina nan kencang dan dingin; bercampur-baur menghantam kaum muslimin. Sungguh keadaan mereka sangat genting. Mereka terkepung oleh bahaya dari depan dan belakang, atas dan bawah.

Dalam kondisi demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berfikir harus memecah belah kekuatan musuh. Beliau memiliki ide untuk mengurangi jumlah pasukan musuh. Caranya, beliau hendak menawarkan setengah hasil panen kurma kota Madinah untuk diserahkan kepada suku Ghathafan. Syaratnya, suku Ghathafan menarik diri dari aliansi pasukan kafir yang mengepung dan menyerang Madinah. Jika mereka setuju dan tidak terlibat lagi dalam penyerangan terhadap Madinah, maka mereka akan berhak menerima setengah hasil panen kurma Madinah.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan gagasan tersebut kepada dua pemimpin pasukan suku Ghathafan, Uyainah bin Hishn Al-Fazari dan Harits bin Auf Al-Murri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memikirkan masak-masak penawaran tersebut. Itu adalah jalan pahit, yang harus ditempuh, demi melemahkan kekuatan pasukan musuh. Memang pilihan tersebut pahit dan berat. Namun jika berhasil sesuai rencana, niscaya kekuatan musuh akan melemah. Koalisi pasukan kafir akan retak. Selain melemahkan mental pasukan musuh, hal itu juga akan meninggikan moral pasukan Islam.

Khutbah Jumat: Tahun-tahun Penuh Tipu Daya

Sebelum keinginan tersebut dilaksanakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak musyawarah lima tokoh pemimpin kaum Anshar. Sebab, mereka adalah penduduk asli Madinah. Mereka-lah yang akan merasakan dampak langsung dari keputusan yang akan diambil. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak melibatkan seorang tokoh muhajirin pun dalam musyawarah tersebut.

Dalam musyawarah tersebut, kelima tokoh Anshar tersebut bersuara bulat. Mereka menolak untuk menyerahkan setengah hasil panen kurma Madinah kepada kaum musyrikin bani Ghatafan. Artinya mereka bersepakat untuk menolak ide Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena kelima orang anggota musyawarah mengambil keputusan bulat seperti itu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menerima kesekapatan mereka. Beliau meninggalkan keinginan dan pendapat pribadi beliau, dan menerima serta melaksanakan hasil keputusan yang disepakati bersama.

Padahal posisi beliau adalah seorang Rasulullah yang ma’shum, seorang kepala negara dan sekaligus panglima tertinggi angkatan perang Islam. Semua kedudukan tersebut tidak membuat beliau bertindak semaunya sendiri, tanpa mengindahkan hasil musyawarah.

Baca: Tetap Totalitas Berislam, Jangan Takut Miskin!

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa di tengah suasana perang Ahzab, Harits Al-Ghathafani—pemimpin suku musyrik Ghathafan—datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, “Wahai Muhammad, berikan kepada kami setengah hasil panen kurma Madinah, niscaya kami akan menarik mundur seluruh anggota pasukan dari suku Ghathafan.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Saya tidak bisa memberikan keputusan sampai saya meminta pertimbangan pendapat para Sa’ad.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Sa’ad bin Mu’adz, Sa’ad bin Ubadah, Sa’ad bin Rabi’, Sa’ad bin Khaitsamah, dan Sa’ad bin Mas’ud. Mereka adalah lima orang Sa’ad pemimpin kaum Anshar. Beliau berkata kepada mereka, “Kalian sudah mengetahui bahwa seluruh kaum musyrik Arab bersatu padu membidik kalian dari satu busur yang sama. Sementara itu Harits Al-Ghathafani telah meminta setengah hasil panen kurma kalian, niscaya dia akan membawa mundur seluruh pasukannya.”

Kelima orang Sa’ad itu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah hal ini adalah wahyu dari Allah, yang kami harus menerimanya dengan pasrah? Ataukah ini keinginan dan pendapat Anda? Pendapat kami akan mengikuti keinginan dan pendapat Anda”

“Wahai Rasulullah, demi Allah, dahulu saat kami dan mereka masih sama-sama dalam jahiliyah, mereka tidak pernah bisa menikmati hasil panen kurma kami kecuali dengan cara jual-beli atau hutang-piutang. Bagaimana mungkin setelah kami masuk Islam, kami akan memberikan hasil panen kurma kami kepada mereka secara cuma-cuma?”

Baca: Waspadai Bantuan Dana dari Kaum Munafik!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Harits Al-Ghathafani dan para pengiringnya, “Inilah pendapat para Sa’ad. Kalian sudah mendengarkannya. Maka ini pula pendapatku.”

Harits Al-Ghathafani dan para pengiringnya pun menjawab dengan marah, “Engkau telah mencederai perjanjian, wahai Muhammad.” (HR. Al-Bazzar, Abdurrazzaq, dan Ibnu Abi Syaibah. Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid wa Mamba’ Al-Fawaid berkata: Di dalam sanadnya ada Muhammad bin Umar dan Ibnu Alqamah, haditsnya hasan, dan seluruh perawi lainnya adalah perawi yang tsiqah)

Peristiwa sejarah yang diabadikan dalam hadits ini memberikan pelajaran berharga kepada kaum muslimin. Ia mengajarkan bahwa sebuah kesepakatan hasil musyawarah haruslah dijunjung tinggi dan dilaksanakan dengan sepenuh hati. Ia tidak boleh diremehkan dan dilanggar tanpa ada alasan-alasan syar’i yang membenarkannya. Wallahu a’lam [Fadhlullah/istidlal.org]

share on: