Ketegaran Hasan Al-Banna dan Sayyid Qutb di Jalan Dakwah

share on:
Hasan Al-Banna dan Sayyid Qutb

Dakwah Islamiyah telah menyumbangkan keteladanan yang tiada bandingannya. Putra-putra Islam telah banyak berkorban di jalan ini sepanjang sejarah. Darah mereka menjadi api obor bagi generasi-generasi yang datang sesudah mereka. Hasan Al-Banna ditembak di jalan protokol terbesar di kota Kairo, yakni di Lapangan Ramses. Nyawanya dihabisi di kamar bedah rumah sakit. Tidak ada yang menyalati jenazahnya selain empat orang perempuan saja. Namun, darahnya menghidupkan generasi-generasi sesudahnya di bumi ini.

Jika Abdul Qadir Audah, Muhammad Farghali, Yusuf Thal’at, Handawi Dawir, Ibrahim Thayyib, Mahmud Lathif, Sayyid Quthb, Abdul Fattah Isma’il, Muhammad Yusuf Hawwasy, Shalih Sirriyah, dan Karim Al-Anadluli serta yang lain dapat mereka bunuh, namun darah mereka tidak hilang sia-sia. Darah mereka laksana api yang membakar dada-dada generasi Islam yang berusaha menegakkan Din Allah.

Lalu, mereka  mengikuti jalan yang dirintis oleh Izzuddin  Al-Qassam dan Al Izz bin Abdussalam. Mereka telah menerangi kita dengan nyala api untuk kita pegang dalam melangkah di atas jalan dakwah. Darah-darah mereka merupakan menara petunjuk bagi generasi-generasi yang mau mencari petunjuk.

Hamidah Qutb pernah bercerita kepadaku (Abdullah Azzam), “Pada tanggal 28 Agustus 1966, Hamzah Basiyuni, Direktur Penjara Perang memanggilku. Lalu dia memperlihatkan surat keputusan hukuman mati bagi Sayyid Quthb, Hawwasy, dan Abdul Fattah Isma’il kepadaku. Lantas dia mengatakan, ‘Kita masih punya kesempatan terakhir untuk menyelamatkan Ustadz (Sayyid Qutb), yakni dia harus minta maaf. Dia akan diringankan dari hukuman mati, dan sesudah enam bulan dia akan keluar dari penjara dalam keadaan sehat wal afiat. Kalau dia jadi dibunuh, maka demikian itu akan berarti suatu kerugian bagi seluruh dunia. Pergi dan bujuklah dia supaya mau minta maaf’.”

Hamidah menyambung, “Lalu aku pergi menemuinya di penjara. Sampai di sana kukatakan kepadanya, ‘Sesungguhnya mereka mengatakan, jika engkau mau minta maaf, maka mereka akan meringankan hukuman matimu.’ Maka dia menjawab, ‘Atas kesalahan apa aku harus minta maaf, wahai Hamidah. Apakah karena aku beramal di pihak Rabbul ‘Izzati? Demi Allah, sekiranya aku bekerja untuk pihak lain selain Allah, tentu aku akan minta maaf. Akan tetapi, sekali-kali aku tidak akan minta maaf karena beramal di pihak Allah. Tenanglah, wahai Hamidah, sekiranya umur belum waktunya habis maka hukuman mati itu tidak akan jadi dilaksanakan. Tidak berguna sama sekali maaf itu untuk mempercepat ajal atau mengakhirinya’.”

Itulah jiwa yang dipoles iman! Kekuatan macam apa ini? Keteguhan hati macam apa ini? Tali gantungan tampak di depan matanya, namun dia masih sempat menenangkan hati yang hidup atas qudrah dan takdir-Nya. Basyir Al-Ibrahim mengatakan, “Pernah suatu ketika aku berada di dekat Raja Faruq (raja Mesir waktu itu). Aku mendengar mereka tengah berbisik-bisik tentang rencana pembunuhan Hasan Al-Banna. Maka aku segera pergi menemui Hasan Al-Banna dan kukatakan kepadanya:

وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَىٰ قَالَ يَا مُوسَىٰ إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ

Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata, ‘Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu’.” (Al-Qashash: 20)

Maka dia menjawab, “Apakah engkau berpikir begitu? (dia ulang tiga kali). Ketahuilah:

إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 3)

Sesungguhnya jika Allah sudah menentukan kematian, kewaspadaan tidak akan dapat menyelamatkan! [Ibnu Rodja]

share on: