Khilafah Dalam Perspektif Mazhab dan Ulama Kontemporer

share on:
Ulama Klasik - Ilustrasi

Istidlal.org – Pasca wafatnya Rasulullah, hingga tahun 1924, umat Islam selalu memiliki kepemimpinan politik. Para ulama menyebut sistem kepemimpinan itu dengan khilafah, imamah maupun imaroh. Dalam rentang waktu tersebut banyak dinamika yan terjadi, dari khalifah yang adil, hingga khalifah yang bengis, mulai khalifah yang diangkat secara syar’i hingga khalifah yang naik tahta lewat kudeta.

Terkait urgensi adanya satu kesatuan identitas politik bagi umat Islam, para ulama telah mengupasnya di dalam buku-buku mereka. Mulai dari ulama mazhab, hingga ulama kontemporer.

Hanafiyah:

Imam Alauddin al-Kasani, ulama besar dari mazhab Hanafi menyatakan, “Sesungguhnya mengangkat imam agung (khalifah) adalah fardhu (wajib). Tidak ada perbedaan pendapat di antara ahlul haq mengenai masalah ini. Penyelisihan oleh sebagian kelompok Qadariyah mengenai masalah ini sama sekali tidak bernilai karena persoalan ini telah ditetapkan berdasarkan Ijma’ Shahabat, juga karena kebutuhan umat Islam terhadap imam yang agung tersebut; demi keterikatan dengan hukum; untuk menyelamatkan orang yang dizalimi dari orang yang zalim; untuk memutuskan perselisihan yang menjadi sumber kerusakan dan kemaslahatan-kemaslahatan lain yang tidak akan terwujud kecuali dengan adanya imam.” (Badâ’iush Shanai’ fî Tartîb asy-Syarâi’, 7/2).

Jamaluddin Ahmad bin Muhammad bin Sa’id al-Ghaznawi al-Hanafi (w. 593 H) berkata, “Kaum muslimin harus memiliki imam yang mengurusi kemaslahatan orang-orang, seperti merealisasikan hukum-hukum untuk mereka, menegakkan had-had mereka, mempersiapkan pasukan-pasukannya, mengambil sedekah (zakat) lalu menyalurkannya kepada yang berhak, karena jika mereka tidak memilki imam, maka akan menyebabkan timbulnya kerusakan di muka bumi.” (Kitab Ushuluddin: 1/269-270).

Malikiyah:

Imam al-Qurthubi, seorang ulama besar dari mazhab Maliki, ketika menjelaskan tafsir surah al-Baqarah ayat 30, menyatakan, “Ayat ini merupakan dalil paling asal mengenai kewajiban mengangkat seorang imam/khalifah yang wajib didengar dan ditaati, untuk menyatukan pendapat serta melaksanakan hukum-hukum khalifah. Tidak ada perselisihan pendapat tentang kewajiban tersebut di kalangan umat Islam maupun di kalangan ulama, kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-A’sham (Imam al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, 1/264-265). Al-Qurthubi juga menegaskan, “Dengan demikian, maka telah menjadi ketetapan bahwa imamah itu wajib berdasarkan syara’, bukan akal. Dan ini jelas sekali.”

Syafi’iyah:

Al-Allamah Abu Zakaria an-Nawawi, dari kalangan ulama mazhab Syafii, mengatakan, “Para imam mazhab telah bersepakat, bahwa kaum Muslim wajib mengangkat seorang khalifah.” (Imam an-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim, 12/205).

Ulama lain dari mazhab Syafii, Imam al-Mawardi, juga menyatakan, “Menegakkan Imamah (Khilafah) di tengah-tengah umat merupakan kewajiban yang didasarkan pada Ijma’. (Imam al-Mawardi, Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, hlm. 15).

Hanabilah:

Imam Umar bin Ali bin Adil al-Hanbali, ulama mazhab Hanbali, juga menyatakan, “Ayat ini (al-Baqarah: 30) adalah dalil atas kewajiban mengangkat imam (khalifah) yang wajib didengar dan ditaati untuk menyatukan pendapat serta untuk melaksanakan hukum-hukum tentang khalifah. Tidak ada perbedaan tentang kewajiban tersebut di kalangan para imam kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-’sham dan orang yang mengikutinya.” (Umar bin Ali bin Adil, Tafsîr al-Lubâb fî ‘Ulûm al-Kitâb, 1/204).

Imam Ahmad bin Hanbal dalam sebuah riwayat yang dituturkan oleh Muhammad bin Auf bin Sufyan al-Hamashi, menyatakan, “Fitnah akan muncul jika tidak ada imam (khalifah) yang mengatur urusan manusia.” (Abu Ya’la al-Farra’i, Al-Ahkâm as-Sulthâniyah, hlm.19).

Zhahiriyah:

Imam Abu Muhammad Ali bin Hazm al-Andalusi azh-Zhahiri dari mazhab Zhahiri menyatakan, “Para ulama sepakat bahwa Imamah (Khilafah) adalah fardhu dan keberadaan seorang imam itu merupakan suatu keharusan, kecuali an-Najdat. Pendapat mereka benar-benar telah menyalahi Ijmak dan pembahasan mengenai mereka telah dijelaskan sebelumnya. Para ulama sepakat bahwa tidak boleh ada dua imam (khalifah) bagi kaum Muslim pada satu waktu di seluruh dunia baik mereka sepakat atau tidak, baik mereka berada di satu tempat atau di dua tempat.” (Imam Ibn Hazm, Marâtib al-Ijmâ’, 1/124).

Di buku yang lain, Imam Ibnu Hazm mengatakan, “Mayoritas Ahlus-Sunnah, Murjiah, Syiah dan Khawarij bersepakat mengenai kewajiban menegakkan Imamah (Khilafah). Mereka juga bersepakat, bahwa umat Islam wajib menaati Imam/Khalifah yang adil yang menegakkan hukum-hukum Allah di tengah-tengah mereka dan memimpin mereka dengan hukum-hukum syariah yang dibawa Rasulullah saw.” (Ibnu Hazm, Al-Fashl fî al-Milal wa al-Ahwâ’ wa an-Nihal, 4/87).

Komentar Ulama lain tentang Kewajiban Mengangkat Seorang Khalifah

  1. Al-Mawardi (w. 450).

Di dalam salah satu karyanya, al-Ahkam as-Sulthaniyah (1/15), al-Mawardi berkata, “Mengangkat imam (khalifah) bagi yang menegakkannya adalah wajib menurut ijma’.”

  1. Ibnu Taimiyah (w. 728 H)

Di dalam karyanya, as-Siyasah asy-Syar’iyah (1/129), Ibnu Taimiyah berkomentar, “Wajib untuk diketahui bahwa mengurusi urusan manusia termasuk kewajiban dalam beragama yang paling agung. Bahkan agama ini tidak bisa tegak kecuali dengannya. Karena kemaslahatan anak Adam tidak akan sempurna kecuali dengan berkumpul untuk memenuhi sebagian kebutuhan mereka. Olehnya, ketika mereka berkumpul, mereka membutuhkan seorang kepala (pimpinan). Sampai-sampai Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jika ada tiga orang yang keluar untuk melakukan perjalanan, hendaklah mereka menjadikan salah satunya sebagai pemimpinnya.”

  1. Ibnu Katsir (w. 774 H).

Ketika menjelaskan tentang surat al-Baqarah ayat 30, Ibnu Katsir berkata, “Sungguh, al-Qurthubi dan yang lain berdalil berdasarkan ayat ini atas wajibnya mengangkat khalifah untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi di antara manusia, memutuskan pertentangan mereka, menolong atas yang dizhalimi dari yang menzhalimi mereka, menegakkan had-had, dan mengenyahkan kerusakan, dan perkara-perkara lain yang merupakan hal-hal penting yang memang tidak mungkin untuk ditegakkan kecuali dengan imam. Dan apabila suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu tersebut menjadi wajib pula. (Tafsir Ibni Katsir:  1/129).

  1. Ibnu Hajar al-Haitsami (w. 974 H)

Di dalam ash-Shawa’iq al-Muhriqah (1/25), Ibnu Hajar al-Haitsami menjelaskan, “Ketahuilah juga bahwa para Shahabat –semoga Alla h meridhai mereka- sepakat bahwa mengangkat Imam (khalifah) setelah berakhirnya masa kenabian adalah wajib, bahkan mereka telah menjadikan kewajiban ini sebagai hal yang paling penting. Buktinya, para shahabat lebih menyibukkan diri dengan perkara ini daripada mengurusi jenazah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

  1. Abdurrahman al-Jaziri (w. 1360 H)

Al-Jaziri menyebutkan dalam al-Fiqh alal Madzahib al-Arba’ah (5/366), “Para imam Rahimahullah bersepakat bahwa imamah (khilafah) adalah wajib, dan bahwa kaum muslimin wajib mempunyai seorang imam yang akan menegakkan syiar-syiar agama, dan bersikap adil terhdap orang yang terzhalimi dari yang menzhalimi.”

Komentar Ulama Kontemporer tentang Kewajiban Mengangkat Khalifah[1]

Komentar tentang kewajiban mengangkat khalifah bagi kaum muslimin juga disuarakan oleh ulama-ulama kontemporer.

Pada tahun 1920 misalnya, sesaat menjelang diruntuhkannya khilafah Usmaniyah, seorang ulama asal India yang bernama Maulana Abul Kalam Azat Al Hindi menyatakan, “Tanpa adanya khilafah tidak mungkin Islam dapat diwujudkan secara sempurna, padahal tututan-Nya adalah sempurna. Oleh sebab itu, wajib atas kaum muslim untuk mencurahkan usaha mereka dalam rangka mencegah runtuhnya khilafah.”

Pada masa modern saat ini juga banyak sekali ulama-ulama yang mewajibkan tegaknya khilafah.

Al-Alim Syaikh Khalid Abdul Fatah, seorang ulama asal Libanon menyatakan, “Sungguh, tidak ada harapan sama sekali untuk mengembalikan kemuliaan umat Islam kecuali dengan kembali pada agamanya, berjuang untuk mengokohkan hukum-hukum Allah, mengembalikan khilafah Islam dan mengangkat seorang khalifah untuk memimpin kaum muslim.”

Syaikh Muhammad Abu Zahrah dalam kitab beliau tarikhul Madzahibul Islamiyah menyatakan, “Sungguh, jumhur (mayoritas) ulama telah bersepakat bahwa wajib ada seorang imam (khalifah) yang menegakkan salat Jumat, mengatur para jamaah, melaksanakan hudud, mengumpulkan harta dari orang kaya untuk dibagikan kepada orang miskin, menjaga perbatasan, menyelesaikan perselisihan di antara manusia dengan hakim-hakim yang diagkatnya, menyatukan kalimat (pendapat) umat, menerapkan hukum-hukum syariah, mempersatukan golongan yang bercerai berai, menyelesaikan berbagai problem, dan mewujudkan masyarakat yang utama.”

Ulama Turki yang bernama Syaikh Syahi Mirdan Shari menyatakan, “Sesungguhnya umat Islam itu tidak ubahnya dengan satu tubuh, sedangkan khilafah tidak ubahnya dengan kepala dari tubuh tersebut, sementara tubuh (betapa pun besarnya), ketika tanpa kepala maka tidak akan dapat bergerak.”

Demikianlah para ulama dari berbagai masa bersuara tentang wajibnya khilafah ditegakkan.  Wallahu a’lam bish shawab.

 

[1]  Komentar-komentar ini diambil dari  http://agustrisa.blogspot.co.id/2011/11/khilafah-islam-solusi-umat-yang.html

Penulis : Ibnu

Editor : Ibno Rodja

share on: