Khutbah Idul Fitri 1440 H: Nasib Anak Buah Pemimpin Zalim di Akhirat

share on:
Singgasana Pemimpin Zalim (ilustrasi)

Khutbah Idul Fitri 1440 H

Nasib Anak Buah Pemimpin Zalim di Akhirat

Oleh: Mohamad Saitama

Naskah PDF Khutbah Idul Fitri 1440 H, Nasib Anak Buah Pemimpin Zalim di Akhirat

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.

فَإِنَّ خَيْرَ الْكَلاَمِ كَلاَمُ اللّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هُدَي مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةَ ٌوَكُلَّ ضَلاَلةٍ فِي النَّارِ .

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ ﴿102﴾

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ﴿1﴾

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ﴿70﴾ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ﴿71﴾

اَللّهُ أَكْبَرُ، اَللّهُ أَكْبَرُ اَللّهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ، وَاللّهُ أَكْبَرُ اَللّهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اَللّهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Idul Fithri Rahimakumullah

Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah atas segala nikmat dan karunia-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, shahabat dan umatnya.

Pada hari ini, kami berdoa untuk jamaah sekalian:

تَقَبَلَ الله مِنَّا وَمِنْكُم

Semoga Allah menerima amal shalih kami dan anda sekalian.

Semoga shiyam kita, sujud-sujud kita, tilawah-tilawah kita dan sedekah-sedekah kita, diterima dan menjadi catatan amal kebaikan yang abadi sampai hari kiamat.

Amin yaa rabbal ‘alamin.

Jamaah Shalat Idul Fithri Rahimakumullah

Sebulan sudah kita ditarbiyah agar menjadi insan bertakwa. Bertakwa artinya taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Taat kepada perintah dan larangan syariat-Nya. Saat Ramadhan, kita diajarkan agar mengutamakan syariat, yaitu puasa, dan mengesampingkan urusan lainnya. Selama Ramadhan kita tetap harus puasa, adapun soal pekerjaan, kitalah yang harus pandai mengatur dan menyesuaikan. Bahkan jika perlu mengalah dan meniadakan.

Akhirat utama, dunia nomor dua. Taat kepada Allah dan rasul-Nya itu seperti kereta lewat, sepenting apa pun kendaraan yang hendak melintasi rel kereta api, dia harus berhenti, bahkan ambulans sekalipun. Seperti itulah seharusnya seorang mukmin mengutamakan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dia utamakan di atas segalanya.

Jamaah Shalat Idul Fithri Rahimakumullah

Masalah ketaatan ini penting untuk kita perhatikan. Dalam al-Quran, Allah sudah memperingatkan bahwa akan ada banyak sekali penduduk neraka yang dijebloskan ke dalamnya karena salah taat. Seharusnya mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tapi malah memilih taat kepada manusia. Seharusnya mematuhi larangan syariat agama, malah nekat melanggarnya hanya demi menaati pimpinan dan atasannya.

Allah berfirman mengisahkan betapa menyesalnya orang-orang yang dahulu memilih menaati atasannya daripada syariat-Nya;

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّـهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا ﴿٦٦﴾ وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا ﴿٦٧﴾ رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, “Alangkah baiknya, andai kata kami dulu taat kepada Allah dan taat  kepada Rasul.” Dan mereka berkata, “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami, berilah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.” (QS. Al-Ahzāb: 66-68)

Pada hari ketika mereka dijungkirbalikkan dengan kejam di dalam neraka, di antara jerit sakit penuh kepedihan, mereka berseru mengutuk manusia-manusia yang telah membuat mereka masuk neraka. Siapa? Para pemimpin mereka, atasan mereka, manajer mereka, komandan mereka, ketua organisasi dan partai mereka, pimpinan jamaah meraka, presiden mereka, tokoh dan ilmuwan yang mereka ikuti langkah dan pemikirannya, dan semua orang yang menjadi pemimpin mereka tapi menyesatkan mereka dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya!

Ya! Mereka mengutuk, menyumpah-serapah dan menuntut agar para pemimpin-pemimpin itu diadzab dua kali lipat dari yang mereka rasakan!

Mengapa? Karena para pemimpin itulah yang dulu membuat mereka bermaksiat. Karena atasan-atasan itulah yang dulu membuat regulasi dan peraturan yang melanggar syariat dan membuat mereka segan untuk tidak taat dan akhirnya terjerumus dalam kedurhakaan.

Karena para kepala-kepala dan ketua-ketua itulah yang membuat undang-undang dan yang mengesampingkan hukum Allah, penuh kezaliman dan ketidakadilan, lalu menyuruh bawahannya, staf-stafnya dan para prajuritnya untuk menjadi pelaksananya hingga mereka pun berperan menjadi kaki tangan kezaliman dan ketidakadilan!

Hadirin sekalian, bayangkan! Betapa banyak manusia yang akan mengalami nasib seperti ini?! Betapa banyak manusia yang melakukan syirik taat ini?! Banyak! Tentu saja banyak, karena di mana-mana yang namanya bawahan pasti lebih banyak daripada atasan, karyawan lebih banyak daripada majikan, dan pejabat rendah lebih banyak daripada pimpinan.

Satu orang saja, satu pimpinan saja menginstruksikan perintah yang melanggar syariat, lalu ditaati bawahannya, akan ada berapa orang yang akhirnya turut terjerumus dalam dosa? Dan lagi, dari sekian banyak bawahan, berapa gelintir yang berani melawan, berani menentang dan bahkan keluar dari jangkauan kekuasaan?

Jamaah Shalat Idul Fithri Rahimakumullah

Para penghuni neraka itu akan menjerit sembari melaknat pimpinan mereka. Mungkin seandainya momen itu ditayangkan kepada kita, kita akan menyaksikan, di neraka sebelah sana, orang-orang yang dulunya adalah karyawan dan karyawati sebuah perusahaan, sedang berteriak-teriak di antara deraan siksa. Mereka menjerit, “Aaah! Andai saja dahulu kami keluar dari perusahaan yang mengharamkan shalat atas lelaki dan memaksa perempuan melepas jilbab dan pakaian syar’i!”

Aaah! Andai kata dahulu kami tidak tergiur dengan menterengnya karir dan besarnya gaji, lalu mendurhakai Allah dan perintah Nabi!”

Ya Allah! hukumlah para pimpinan dan manajer durhaka itu dengan hukuman dua kali lipat dari yang diterima karyawan-karyawatinya kini! Karena merekalah yang menyebabkan kami kami jadi begini!”

Kita juga akan menyaksikan, tak jauh dari mereka, ada ahli neraka yang dahulunya adalah aparat-aparat keamanan yang ketika di dunia menutup hati dan mata demi melaksanakan perintah zalim dari komandannya.

Merekalah yang dahulu menyiksa orang-orang saat di interogasi di penjara, menghilangkan nyawa lawan-lawan politik atasannya, dan bahkan menjadi pembantai puluhan nyawa tanpa mempertimbangkan seberapa besar kesalahan korban-korbannya.

Mereka pun berteriak, “Aaah! Andai saja dahulu kami mau sedikit membuka hati dan rasa kemanusiaan kami, menolak perintah zalim atasan kami, rela hidup tanpa gaji lagi daripada menjadi mesin pembunuh keji para komandan kami!”

Ya Allah! Laknatlah para komandan kami yang membuat tangan-tangan kami bersimbah darah, darah dari hamba-hamba-Mu yang mungkin tidak bersalah namun tetap kami habisi! Darah dari manusia-manusia yang bahkan kami sendiri sering tidak tahu apa kesalahannya, karena mereka telah tewas sebelum diadili!”

Ya Allah, siksa para komandan kami itu dengan siksaan dua kali lipat dari yang kami rasakan! Karena jika bukan karena instruksi mereka, semua dosa ini tidak akan terjadi!”

Dan di sebelahnya, para pengikut aliran sesat dan pemikiran-pemikiran yang melenceng dari al-Haq pun dalam kondisi yang sama. Mereka masuk neraka juga karena mengikuti pemikiran para pimpinan dan tokoh-tokoh yang mereka anggap ahli agama padahal sesat pemikirannya.

Mereka berseru, “Aaah! Andai saja dahulu kami tidak mengikuti pemikiran-pemikiran sesat orang-orang yang mengaku ahli agama tapi menganggap semua agama sama benarnya, membolehkan wanita membuka auratnya bahkan mengingkari wajibnya hijab atas wanita, mengkafirkan para shahabat nabi dan menuhankan Ali, dan suka sekali mengeluarkan fatwa-fatwa yang hanya didasarkan nafsu dan logika tanpa landasan dalil yang sahih dari Nabi.”

Ya Allah! Laknatlah mereka dan siksa mereka berlipat kali dari siksa kami karena mereka telah menyesatkan kami!”

Jamaah Shalat Idul Fithri Rahimakumullah

Itulah jeritan sesal para penghuni neraka yang telah menggadaikan ketaatan mereka kepada pimpinannya. Mengabaikan perintah dan larangan Allah, dan mementingkan pekerjaan dan status mereka, padahal yang memberi rezeki dan kehidupan adalah Allah, bukan atasan mereka.

Di akhirat, mereka tidak bisa menghindar begitu saja dari siksa dengan alasan bahwa kemaksiatan dan kezaliman yang mereka lakukan hanyalah menuruti perintah atasan.

Keduanya, atasan dan bawahan, akan mendapat hukuman sesuai dengan perbuatan. Sang pemimpin akan disiksa karena menyuruh kepada yang mungkar, sedangkan bawahan akan dihukum karena mau melaksanakan tanpa penolakan.

Dan pada akhirnya, masing-masing akan berurusan dengan kejahatan pribadi dan mengabaikan orang lain. Sekeras apa pun para bawahan meminta agar sang pemimpin disiksa berlipat ganda, para pemimpin akan dengan sangat enteng mengelak, seakan mereka berkata, “Salah sendiri dulu kalian mau saja melakukan apa yang kami perintahkan. Salah sendiri pula kalian lebih sayang jabatan, posisi dan pekerjaan kalian, lalu memilih menaati kami dan mendurhakai Allah. Sekarang kita sama-sama di neraka, bersabar atau mengutuk, kita tetap sama-sama disiksa!”

Jamaah Shalat Idul Fithri Rahimakumullah

Allah berfirman:

وبَرَزُوا لِلَّـهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّـهِ مِن شَيْءٍ ۚ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّـهُ لَهَدَيْنَاكُمْ ۖ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ ﴿٢١﴾

Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja? Mereka menjawab: “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri”. (QS. Ibrāhīm: 21)

 

Dalam ayat lain, Allah juga menjelaskan bahwa mereka berandai bisa kembali ke dunia, lalu berlepas diri dari para pemimpin-pemimpin tersebut. Firman-Nya:

إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ

”. (Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah: 165)

Jamaah Shalat Idul Fithri Rahimakumullah

Sekarang kita masih di dunia. Kita masih hidup dan itu artinya kita masih bisa mengubah segala kemungkinan yang ada, dengan ijin Allah.

Berdoalah agar kita tidak diuji dengan fitnah berupa pimpinan dan atasan yang zalim dan gemar melanggar syariat hingga membuat kita ikut terjerumus dalam maksiat.

Jika pun posisi kita saat ini sudah terjebak sebagai bawahan dari seorang pimpinan zalim dan pelanggar syariat, lebih baik segera ambil langkah berlepas diri. Keluar dari ketaatan atas perintah-perintah zalimnya dan mengingkari aturan-aturannya yang menyelisihi syariat dien-Nya.

Lebih baik kehilangan pekerjaan daripada melakukan kezaliman. Lebih baik memberanikan diri dari sekarang daripada kehilangan kesempatan karena ajal telah menjelang. Lebih baik menaati Allah dan Rasul-Nya meski berat konsekuensinya daripada hidup aman menaati perintah manusia, namun di akhirat harus menanggung siksa dari api yang menyala-nyala.

Belum lagi jika kita memikirkan bahwa doa-doa dan kutukan dari korban-korban kezaliman tidak hanya akan menghujani para pimpinan namun juga mengenai bawahan yang menjadi kaki tangannya. Nau’udzubillah min dzalik!

Semoga Allah menghindarkan kita dari posisi sulit menjadi bawahan dari pimpinan dan penguasa yang zalim. Dan semoga, Allah mengaruniakan kepada kita pimpinan-pimpinan yang taat dan mau menjalankan syariat, agar bawahannya juga menjadi para pembantu ketaatan dan kebaikan. Amin ya Mujibas Sailin.

Marilah kita akhiri khutbah ini dengan doa:

اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَقِرَاءَتَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَسْبِيْحَنَا وَتَهْلِيْلَنَا وَتَمْجِيْدَنَا وَتَحْمِيْدَنَا وَخُشُوْعَنَا يَا إِلَهَ الْعَالَمِيْنَ وَيَاخَيْرَ النَّاصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ علَىَ عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ.

الَّلهُمَّ ارْزُقْنَا قَبْلَ اْلَمْوتِ تَوْيَةً وَعِنْدَ الْمَوْتِ شَهَادَةً وَبَعْدَ الْمَوْتِ رِضْوَانَكَ وَالْجَنَّةَ. اللَّهُمَّ أَحْيِنَا مُؤْمِنِيْنَ طَائِعِيْنَ وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ تَائِبِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأّلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ وَالْغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ. اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُوْرِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الأَخِرَةِ.

رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً للذين كفروا واغفر لنا ربنا إنك أنت العزيز الحكيم

رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ونجنا برحمتك من القوم الكافرين

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

اللهمّ انْصُر الإسْلَامَ والمُسْلِمِين، وَارْفَعْ عَناَّ الظُّلْمَ وَالطُّغْيَان، اللهمّ ارْحَمْ مَوْتَانا وتَقَبَّلْ شُهَدَائَنا، اللهمّ اشْفِ مَرْضَانا وَارْبِطْ بَيْنَ قُلُوبِنَا

اللهمّ ارْحَمْنا بِرَحْمَتِكَ يَا مَنْ وَسِعَتْ رَحْمَتُهُ كُلَّ شَيْءٍ، اللهمّ عَلَيكَ بِالطُّغَاةِ الظَلَمَة، اللهمّ زَلْزِلْ عُرُوْشَهُم مَنْ تَحْتَ أَقْدَامِهِم، اللهمّ خُذْهُمْ أَخْذَ عَزِيْزٍ مُقْتَدِر، اللهمّ انْتَقِمْ مِنْهُمْ وَأَرِنَا فِيْهِم يوماً عَجَائبَ قُدْرتِك

اللهمّ هذا دعاؤُنَا فَلاَ تَرُدَّنَا خَائِبِينَ

والحمد لله رب العالمين

share on: