Khutbah Jumat: Laa Ilaaha Illallaah, Inti Dakwah Para Nabi

share on:
Khutbah Jumat Laa Ilaaha Illallaah, Inti Dakwah Para Nabi-istidlal.org

Laa Ilaaha Illallaah, Inti Dakwah Para Nabi

Pemateri: Ibnu Rodja | Editor: Musa

Download Materi Khutbah Jumat versi PDF DI SINI

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

قال تعالى: يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

وقال رسول الله:

اتَّقِ اللهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ

ثُمَّ أَمَّا بَعْدُ،

Sidang Jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Tidaklah Allah ‘azza wajalla mengutus para Nabi dan Rasul melainkan membawa misi menjaga dan mendakwahkan kalimat Laa ilaaha Illallaah. Jika kita membuka Al-Quran di surat Al-A’raf, Surat Hud, Surat Asy-Syuara’, kita akan mendapati bahwa misi para Rasul adalah membumikan kalimat Laa ilaaha Illallaah.

Sebagai contoh firman Allah ‘azza wajalla:

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Dan kami utus kepada kaum Aad saudara mereka Hud. Dia berkata, ‘Wahai kaumku sembahlah Allah, kalian tidak memiliki ilah selain-Nya. Tidakkah kalian takut’.” (QS Hud: 80)

Karena mendakwahkan Laa ilaaha Illallaah, para Nabi mendapat ujian. Ada yang diusir oleh kaumnya seperti , ada yang diintimidasi, ada yang diperangi, dikejar-kejar untuk dibunuh. Dan berbagai macam rintangan lainnya.

Tidaklah para Nabi mendapatkan ujian dan rintangan dalam dakwahnya kecuali karena konten dakwah yang mereka bawa, kalimat Laa ilaaha Illallaah yang mereka dakwahkan. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا رَسُولَ اللَّهِ , أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاءً ؟ قَالَ : الأَنْبِيَاءُ , ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ , فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ , فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاؤُهُ

Wahai Rasulullah, Siapakah yang paling berat ujiannya?” Rasul menjawab, “Para Nabi, kemudian orang yang serupa dengan para Nabi secara berurut.”

Pertanyaannya adalah, kira-kira dakwah Laa ilaaha Illallaah seperti apa yang dilakukan oleh para Nabi?

Apakah hanya sebatas menyuruh kaumnya untuk mengucapkan tahlil berulang-ulang?

Apakah dakwah mereka hanya meminta kaumnya untuk mendengarkan Laa ilaaha Illallaah?

Kalau hanya seperti itu, bisa dipastikan bahwa Abu Jahal menjadi orang yang pertama kali beriman kepada Nabi Muhammad. Jika hanya sebatas itu, maka tidak mungkin Nabi Luth dikucilkan di tengah kaumnya. Jika seperti itu, Nabi Musa tidak perlu bersitegang dengan Firaun. Kalau seperti itu, Nabi Isa tidak perlu dikejar-kejar oleh kaumnya.

Berarti ada hal besar di balik kalimat Laa ilaaha Illallaah, ada konsekuensi-konsekuensi agung di balik kalimat tauhid. Karena dengan kalimat tauhid, ada perubahan paradigma dalam melihat manusia, perubahan pandang dalam menghadapi dunia, ada perubahan total yang berubah dalam tata kehidupan manusia.

 

Sidang Jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Mari sejenak kita melihat konsekuensi kalimat tauhid yang didakwahkan Nabi Syuaib kepada kaumnya. Nabi Syuaib adalah Nabi yang diutus kepada bangsa Madyan. Bangsa Madyan selain melakukan kesyirikan mereka juga terkenal dengan kaum yang berlaku curang di pasar. Mereka mengurangi timbangan dan takaran yang dengannya mereka berbuat zalim kepada orang lain. Maka Allah mengutus Nabi Syuaib untuk memberikan peringatan kepada mereka.

Allah ‘azza wajalla berfirman:

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ۚ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ

Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).” (QS. Hud: 84)

Di dalam ayat ini kita bisa melihat bagaimana perintah untuk beribadah kepada Allah dibarengi dengan perintah untuk berlaku adil dan jujur dalam timbangan. Tidak akan sempurna ibadah seorang kepada Allah jika mereka tidak meninggalkan larangan-larangan Allah. Tidak akan paripurna ketaatan kepada Allah jika tidak mengindahkan hal-hal yang dibenci oleh Allah.

Mewujudkan kalimat tauhid dalam arti yang sebenarnya adalah mengimplementasikan dan menghadirkan perintah dan menjauhi larangan Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Dalam konteks kaum Madyan yaitu menjauhi larangan Allah dalam hal ekonomi.

Tauhid yang dibawa Nabi Syuaib, selain mengajak untuk beribadah kepada Allah semata, juga mengharuskan kaum Madyan untuk mengubah perilaku ekonomi mereka. Karena mengubah perilaku ekonomi yang rusak, zalim, dan tidak adil, menuju ekonomi yang bebas dari unsur-unsur yang haram adalah konsekuensi dari kalimat tauhid. Karena ini adalah bentuk ketundukan kepada Allah yang menjadi inti kalimat tauhid.

Di ayat selanjutnya, Allah ‘azza wajalla berfirman:

قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ ۖ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ

Mereka berkata: ‘Hai Syu’aib, apakah ibadahmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal’.” (QS. Hud: 87)

Ini adalah respon kaum Madyan terhadap ajakan Nabi mereka. Di dalam ayat ini kita dapat melihat keterkaitan antara shalat, tauhid dan ekonomi. Seharusnya shalat yang dilakukan oleh seseorang juga memberikan dampak kepada perubahan perilaku ekonomi.

Kalimat Tauhid yang dibawa oleh para Nabi, tidak hanya mengajak untuk shalat saja, namun juga memerintahkan kita untuk memperbaiki perilaku ekonomi agar sesuai dengan ketetapan dan ketentuan Allah ‘azza wajalla.  Tidak hanya shalat yang harus mengandung tauhid tapi perilaku ekonomi juga harus berlandaskan tauhid, perilaku politik harus berdasarkan tauhid, hukum juga harus berlandaskan tauhid dan seluruh aspek kehidupan harus terkoneksi dengan kalimat tauhid.

 

Sidang Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah

Ada juga Nabi Musa yang membawa dakwah tauhid kepada Firaun. Seperti apa pesan tauhid Nabi Musa?

Hal pertama yang Nabi Musa sampaikan kepada Firaun adalah perintah agar Firaun berhenti melakukan kezaliman terhadap Bani Israil.

Jika dakwah Laa ilaaha Illallaah, Nabi Syuaib terkoneksi dengan aspek ekonomi, maka dakwah Laa ilaaha Illallaah nabi Musa menyeru Firaun meninggalkan kezaliman-kezaliman yang dilakukannya terhadap Bani Israil Allah ‘azza wajalla berfirman:

فَأْتِيَاهُ فَقُولَا إِنَّا رَسُولَا رَبِّكَ فَأَرْسِلْ مَعَنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا تُعَذِّبْهُمْ

Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dan katakanlah: ‘Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israel bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka’.” (QS. Thaha: 47)

Kita tahu bahwa Bani Israel berpuluh-puluh tahun lamanya ditindas oleh Firaun. Dan ketika Musa menegur kezaliman Firaun, ketika itulah Firaun menampakkan kesombongannya. Firaun melihat bahwa dakwah tauhid yang dibawa oleh Nabi Musa akan merongrong kekuasaannya akan menghentikan kezaliman yang dia lakukan selama ini.

Dakwah tauhid yang dibawa Nabi Musa menyasar kebijakan politik Firaun yang selama ini melakukan politik pecah belah terhadap rakyat Mesir. Yang satu diangkat, yang satu disikat, yang satu diberi fasilitas yang lainnya ditindas. Firaun melakukan politik pilih kasih terhadap rakyat Mesir.

Bani Israel ditindas, dijadikan rakyat kelas dua, sedangkan mereka yang satu suku dengan Firaun, berada di kubu Firaun diberi fasilitas dan diperlakukan secara baik. Ketika Nabi Musa menyentil kebijakan politik Firaun, maka ketika itu pulalah Firaun meradang.

 

Sidang Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah

Melihat dua potret dari dakwah tauhid Nabi Musa dan Nabi Syuaib, maka kita akan dapati bahwa dakwah tauhid dengan segala konsekuensinya bukanlah dakwah yang mudah, bukanlah dakwah yang tanpa tantangan.

Hal ini karena konsekuensi dari tauhid yang menjadi misi seluruh Nabi, tidaklah mudah. Karena mendakwahkan tauhid berarti memperbaiki penyelewengan yang dilakukan oleh umat. Baik penyelewengan akidah, ibadah, muamalah, hukum, politik, dan lain-lain.

Nah, ketika penyelewengan itu disentil oleh para Nabi, maka ketika itu pulalah muncul respon perlawanan dari kaumnya. Perlawanan inilah nantinya yang menjadi hambatan dan rintangan para Nabi. Ini semua dilakukan atas cita-cita mewujudkan kalimat tauhid.

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةَ المَهْدِيِيْنَ؛ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ عَلِيٍّ, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ فِي أَندُونِسِيَا و الشَامَ و اليَمَن و رُوهِنغيَا وَفِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَهُمْ حَافِظاً وَمُعِيْنًا وَمُسَدِّداً وَمُؤَيِّدًا، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَهُمْ وَلَا تَكُنْ عَلَيْنَا، وَانْصُرْنَا وَلَا تَنْصُرْ عَلَيْنَا، وَامْكُرْ لَنَا وَلَا تُمْكِرْ عَلَيْنَا، وَاهْدِنَا وَيَسِّرْ الهُدَى لَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا لَكَ ذَاكِرِيْنَ، لَكَ شَاكِرِيْنَ، إِلَيْكَ أَوَّاهِيْنَ، لَكَ مُخْبِتِيْنَ، لَكَ مُطِيْعِيْنَ. اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا، وَاغْسِلْ حَوْبَتَنَا، وَثَبِّتْ حُجَّتَنَا، وَاهْدِ قُلُوْبَنَا، وَسَدِّدْ أَلْسِنَتَنَا، وَاسْلُلْ سَخِيْمَةَ صُدُوْرِنَا

اَللَّهُمَّ وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ العَمَلَ الَّذِيْ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ

اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ الإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةَ مُهْتَدِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ. اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ: أُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

 

Download Materi Khutbah Jumat versi PDF DI SINI
share on: