Khutbah Jumat: Laa ilaaha illallah, Kalimat Pegangan Hidup

share on:

Laa ilaaha illallah,
Kalimat Pegangan Hidup dan Pengiring Kematian

Pemateri: Mursi

 

Download Materi Khutbah Jumat versi PDF DI SINI

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

قال تعالى:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

وقال رسول الله:

اتَّقِ اللهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَ يَرَاهُ .

ثُمَّ أَمَّا بَعْدُ:

Maasyiral Muslimin Jama’ah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Segala puji kita panjatkan selalu kepada Allah Ta’ala Rabb Semesta Alam. Yang selalu menjaga, memelihara, mengawasi dan mengetahui yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya lewat hikmah dan takdir yang telah ditetapkannya. Tak ada satu pun makhluk di bumi kecuali Allah Ta’ala yang telah melimpahkan rizki kepadanya. Tak ada satu pun di antara kita bisa hadir di masjid ini kecuali karena kehendak Allah Ta’ala.

Dialah Allah, dengan mengesakannya kita dihidupkan di muka bumi. Dengan mentauhidkannya kita menjalani segala takdir dan ketentuannya. Dengan mentauhidkannya kita menjalani hidup dan dengan mentauhidkannya juga kita mengakhiri hidup kita nantinya.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Panutan kita dalam hidup, panutan kita dalam beribadah, panutan kita dalam bertindak. Panutan kita dalam bertauhid, yang mendasari hidupnya dengan tauhid, yang membasahi lidahnya denga kalimat laa ilaaha illallah.

Maasyiral Muslimin Jama’ah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Allah Ta’ala berfirman tentang para utusanNya:

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ

Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka” (QS. Al-An’am: 90).

Ayat ini secara tegas dan jelas memerintahkan kita untuk menapaki, mengikuti dan meneladani para Nabi yang telah diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala. Dalam mereka menjalani hidup dan merealisasikan komitmen diri dalam beragama.

Pada kesempatan ini marilah kita sejenak merenungi sepenggal kisah hidup salah satu utusan Allah yang suci, yaitu Nabi Nuh. Tatkala maut menghampiri Nabi Nuh ‘alaihissalam, dan beliau telah melewati masa hidup yang lama, umur yang panjang serta telah menunaikan tugas dakwah dalam selama 950 tahun. Masa tugas dakwah yang panjang dalam sejarah kenabian. Dan akhirnya beliau pun berpisah dengan kehidupan dunia. Saat detik-detik kematian semakin terasa dan dekat, beliau berpesan mengungkapkan wasiatnya kepada sang anak:

“Wahai anakku, aku perintahkan kepadamu melazimi kalimat laa ilaaha illallah …kalaulah kiranya tujuh lapisan langit dan bumi diletakkan dalam satu timbangan. Kemudian kalimat laa ilaaha illallah diletakkan pada timbangan yang satu. Sungguh kalimat laa ilaaha illallah itu lebih berat. Kalaulah kiranya dunia langit seisinya itu terbentuk menjadi sebuah rantai yang kokoh, sungguh kalimat laa ilaaha illallah dapat memotongnya“.

Inilah wasiat Nabi Nuh Alaihis salam di akhir hayatnya. Selama beberapa kurun beliau telah mendakwahkan kalimat laa ilaaha illallah, beliau juga menyaksikan kebinasaan penduduk bumi yang hanyut tenggelam lantar kekufuran mereka terhadap kalimat laa ilaaha illallah, pun beliau juga menyaksikan agungnya pertolongan Allah bagi mereka yang memegang teguh kalimat laa ilaaha illallah. Beliau menyaksikan semua itu, maka tak heran di akhir masa hidupnya kalimat itulah yang diwasiatkan.

Begitu agungnya kalimat ini, sehingga beliau katakan bahwa bumi langit dan isinya tidak lebih berat darinya. Seberapa bangga apapun manusia dengan dunia yang dimilikinya. Seberapa banyak pun gelimang dunia yang diidamkan, kalimat tauhid Laa ilaaha illallah melebihi semua itu. Maka tak selayaknya kita membanggakan semua milik kita jika kalimat Laa ilaaha illallah tidak kita pegang teguh, jika tuntutan kalimat ini tidak kita indahkan.

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Kalimat tauhid, laa ilaaha illallah itulah yang diwasiatkan oleh para Nabi tatkala mereka berpisah dengan dunia, tatkala mereka tinggalkan umatnya yang sangat diharapkan dapat mengikuti jejaknya. Barangkali kita ingat betul dengan firman Allah Ta’ala yang mengisahkan tentang Nabi Ya’kub,

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (QS. Al-Baqarah: 133).

Nabi Ya’kub tidak mengkhawatirkan kehidupan dunia anak-anaknya. Bukan bagaimana mereka akan menghidupi keluarganya, bukan apa yang akan mereka makan, bukan apa yang akan mereka kenakan, dan bukan apa yang akan mereka banggakan di hadapan orang banyak. Tapi apa yang akan mereka sembah, yang akan mereka patuhi, yang akan mereka ibadahi sepeninggal beliau. Itu yang beliau khawatirkan.

Inilah kalimat yang menghiasi kitab suci yang diwahyukan kepada para Nabi, dan karena itulah mereka diutus.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al-Anbiya: 25).

Tak ada Nabi kecuali diutus oleh Allah untuk mengesakan-Nya. Tidak ada Nabi yang diingkari kecuali karena menyampaikan risalah tauhid. Dan tidak ada Nabi yang diutus kecuali kalimat Laa ilaaha illallah diamanahkan untuk disampaikan kepada umatnya.

Wasiat seperti ini diberikan oleh semua utusan Allah kepada umatnya. Coba kita perhatikan tauladan dan uswah kita umat Islam, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Satu ketika beliau berdiri disamping tempat tidur pamannya pada saat detik-detik terakhir dia menghembuskan nafas terakhirnya. Beliau tunaikan hak pamannya yang paling besar dalam hidup, yaitu menyerukan kalimat tauhid seraya bersabda,

“Wahai pamanku, ucapkan Laa ilaaha illallah, kalimat yang dengannya aku akan berhujjah (membelamu) di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.”  (HR. Al-Bukhari, No: 3384)

Namun sayang, pamannya enggan mengucapkan kalimat tersebut. Karena bujukan dan hasutan dari kedua saudaranya Abu Jahal dan Abu lahab, yang turut serta mendampinginya di akhir hayatnya. Dia lebih memilih berpegang teguh pada ajaran moyangnya, menyembah dan beribadah kepada patung.

Meskipun demikian Rasulullah masih terus mengulangi hal tersebut berulang kali dengan penuh semangat. Dengan penuh harap dan sayang kepada pamannya tercinta yang selalu membelanya dan memberi perlindungan. Tapi apa daya ternyata pamannya keukeuh memegang ajaran moyangnya hingga mati.

Apa yang beliau lakukan bukan tanpa alasan, bukan tanpa harapan, bukan tanpa keyakinan. Sebab beliau lah orang yang paling tahu tentang Allah Ta’ala setelah Allah. Beliau tahu dan yakin betul bahwa dengan kalimat Laa ilaaha illallah lah pamannya akan selamat di akhirat nanti. Bukan karena pembelaan dan perlindungannya terhadap Rasul di dunia. Bukan karena kebanggaannya sebagai orang yang disegani. Bukan karena harta yang dimiliki. Dan bukan karena senasab dengan Rasulullah. Itu semua bukan jaminan, jika nihil dari kalimat Laa ilaaha illallah.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Kalimat tauhid, laa ilaaha illallah adalah satu prinsip yang disepakati dan disampaikan oleh seluruh utusan Allah dalam dakwahnya. Kalimat yang karenanya bumi dan langit tegak, kalimat yang dengannya Allah menjadikan fitrah dalam setiap diri anak adam. kalimat yang menjadi dasar dalam agama Islam dan ditetapkannya kiblat. Kalimat yang diperintahkan oleh Allah kepada seluruh hamba-hamba-Nya.

Laailaaha illallah adalah kalimat yang khas dalam Islam, kunci pembuka jannah, tonggak dasar kewajiban dan sunah. Sesiapa yang di akhir hidupnya kalimat ini yang terucap maka Allah akan memasukkannya ke dalam jannah.

Laa ilaaha illallah adalah kalimat thayyibah yang seharusnya tertancap kuat kokoh mengakar di hati seorang mukmin. Cabangnya menjulang tinggi di langit dan teraplikasi dalam amal shalih anggota badan. Allah Ta’ala berfirman,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاء * تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللّهُ الأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, # pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim: 23-24)

Kalimat Laa ilaaha illallah adalah kalimat dimana Allah akan menguatkan hati seorang mukmin di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman:

يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللّهُ مَا يَشَاء

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)

Laa ilaaha illallah adalah cabang keimanan yang paling tinggi, Sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ – أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ – شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

“Iman itu ada 73-79 atau 63-69 cabang, Yang paling utama adalah kalimat Laa ilaaha illallah, dan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan. Dan malu adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim, No: 58)

Laa ilaaha illallah, kalimat yang jika terucap oleh seorang mukmin tanpa keraguan, maka Allah akan memasukkannya dalam jannah.

Diawal kekhilafahan Abu Bakar ash-Shiddiq, saat hati umat Islam masih perih bersedih karena dtinggalkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menghadap Rabbnya. Satu ketika Umar bin khattab bertemu sahabat Thalhah bin Ubaidillah yang sedang duduk berteduh dan bersedih. Lantas umar bertanya kepada Thalhah, “Wahai Thalhah, apa yang membuatmu bersedih? apakah istrimu?”

Jawabnya, “Bukan, tapi yang membuatku sedih adalah aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebelum beliau meninggal, ‘Sungguh aku tahu, ada satu kalimat, tidaklah seorang hamba mengucapkannya disaat kematiannya melainkan kalimat itu akan menjadi cahaya diwajahnya sehingga warnanya cerah dan Allah mudahkan urusannya. Dan sungguh jasad dan ruhnya akan mendapat kenyamanan dan rahmat di saat kematian’.

Thalhah melanjutkan ucapannya, “Aku ingin menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam, namun beliau jatuh sakit. Dan aku tidak sempat menanyakannya hingga beliau wafat. Dan ini yang membuatku sedih.”

Umar pun mengatakan, “Aku tahu kalimat itu wahai Thalhah, yaitu kalimat yang beliau ingin agar pamannya Abu Thalib mengucapkannya (yaitu kalimat laa ilaaha illallah).”

Mendengar itu para sahabat yakin dan paham betul yang dimaksudkan. Bukan perkara yang mudah memampukan diri dapat melafalkan kalimat Laa ilaaha illallah di akhir hayat. Tapi sulitnya hal tersebut dibayar impas dengan kenikmatan dan kemudahan yang dijanjikan oleh Allah dan RasulNya.

Baca juga: Sunnatullah Para Pengusa Kebatilan dan Tiran

Maasyiral Muslimin Rahimakumulah

Apa pentingnya kalimat ini di hari kiamat nanti? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِنَّ اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ فَيَقُولُ لَا يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَفَلَكَ عُذْرٌ فَيَقُولُ لَا يَا رَبِّ فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً فَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَيَقُولُ احْضُرْ وَزْنَكَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ فَقَالَ إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ قَالَ فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ

“Sesungguhnya, Allah akan membebaskan seorang lelaki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Akan dibentangkan padanya 99 lembaran (catatan amal keburukan), tiap-tiap lembaran seukuran sejauh pandangan mata. Kemudian Allah bertanya, “Apakah engkau mengingkari sesuatu dari lembaran (catatan amal keburukan) ini? Apakah para (malaikat) penulis–Ku al-Hafizhun (yang mencatat) menzhalimimu?”

Maka, hamba tadi menjawab, “Tidak wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah engkau memilik alasan?” Maka, hamba tadi menjawab, “Tidak wahai Rabb-ku.” Maka, Allah berfirman, “Benar, sesungguhnya di sisi Kami engkau memiliki satu kebaikan. Sesungguhnya pada hari ini engkau tidak akan dizhalimi.  Kemudian, dikeluarkan sebuah bithaqah (karcis) yang bertuliskan: Asyhadu alla ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuluhu (Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah adalah hambaNya dan Rasul-Nya. Allah berfirman, “Datangkanlah timbanganmu.”  Hamba tadi berkata, “Wahai Rabb-ku, apa (pengaruh) karcis ini terhadap lembaran-lembaran ini.” Maka, Allah berfirman, “Sesungguhnya engkau tidak akan dizhalimi.” Rasulullah bersabda, “Maka, lembaran-lembaran itu diletakkan di atas satu daun timbangan, dan satu karcis tersebut diletakkan di atas satu daun timbangan yang lain. Maka, ringanlah lembaran-lembaran itu, dan beratlah karcis tersebut. Maka, sesuatupun tidak berat ditimbang dengan nama Allah.” (HR. Tirmidzi, no:2639)

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi,

فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ

Maka, sesuatupun tidak berat ditimbang dengan nama Allah.”

Maksudnya adalah kalimat Laa ilaaha illallah. sesiapa yang bertemu Allah dan mengimaninya maka Allah akan menyelamatkannya dari Azab neraka meskipun sebelumnya dia diazab lantaran dosa yang dilakukan. Sesiapa yang bertemu dengan Allah tanpa kalimat itu dan mengkufurinya maka kelak dia akan menyesal tidak mendapatkan rahmat-Nya.

Kalimat Laa ilaaha illallah bukanlah kalimat yang disebut diawal dakwah Islam saja. Tapi dia kalimat yang disebut di awal, tengah hingga akhir dari dakwah Islam itu sendiri. Pertama Laa ilaaha illallah, berikutnya Laa ilaaha illallah kemudian Laa ilaaha illallah selanjutnya Laa ilaaha illallah dan akhirnya adalah Laa ilaaha illallah.

 

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah,

Setiap kita pasti pernah mengucap kalimat ini, mengulang-mengulangnya bahkan fasih tanpa kesalahan dalam mengucap dan menulisnya. Namun berapa orang di antara kita yang sudah mengaplikasikan tuntutan kalimat ini? Ada di antara kita yang sering mengucapkannya namun bersamaan dengan itu dia melanggar aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya. Ada yang bersumpah dengan nama selain Allah, baik dengan nama nabi dan selainnya. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

Sesiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah maka dia telah berbuat kesyirikan” (HR. Abu Daud, No: 3251; Tirmizi, No: 1535)

Bagaimana bisa seseorang dengan lisannya melafalkan kalimat tauhid, tapi lisan itu tidak bersih dari kalimat celaan, hujatan, laknat dan permusuhan.

Ada yang mengucapkan Laa ilaaha illallah, tapi dia tidak menjaga diri dengan mendatangi ahli sihir, dukun, para normal untuk meminta tolong dan bantuannya

Ada juga yang mengucapkannya dan dia tahu bahwa Allah menyuruhnya shalat, shadaqah, zakat, shiyam dan berbuat ihsan. Tapi dia melalaikan dan menyepelekannya.

Ada yang senantiasa dan tidak berhenti mengucapkannya lewat shalatnya, tapi amanah dia khianati, janji dia ingkari, orang lain dia bohongi dan bawahan dia dhalimi.

Semoga Allah menjaga diri kita dari pengkhianatan terhadap kalimat tauhid, kalimat Laa ilaaha illallah. Yang dengan kita hidup, karenanya kita berjuang, karenanya kita beribadah. Dan dengannya kelak kita berpisah dengan dunia ini.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمِّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛ عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

 

Maasyiral Muslimin Jama’ah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Perlu kita sadari dan pahami betul, sekali lagi perlu kita ingat bahwa kalimat Laa ilaaha illallah adalah kalimat khas umat Islam. Kalimat yang diperjuangkan oleh para Nabi, para sahabat, para pendahulu kita dengan darah, harta dan jiwa mereka.

Kalimat tauhid mengalir dalam darah mereka. Sehingga itu bukan hanya sekedar terucap di lisan, tapi juga terpatri dalam dalam hati. Perjuangan yang mereka kerahkan begitu besar dan berat. Karena begitu berat juga timbangan pahalanya di akhirat. Jerih payah mereka dalam memperjuangkannya jangan sampai kita siakan.

Kalau kita bayangkan mengapa mereka begitu getol dan keukeuh memperjuangkannya. Perlu kita ingat dan ketahui bahwa musuh-musuh Allah pun tak akan berhenti membencinya. Bahkan usaha apapun akan mereka lakukan, kadang bukan lewat tangan mereka sendiri. Tapi lewat tangan-tangan umat Islam sendiri yang lemah iman dan ilmunya. Sehingga mudah terperdaya dengan harta melimpah dan retorika yang memukau. Nauzubillah Tsumma Nauzubillah. Semoga Allah senantiasa menjaga diri kita dari syubhat ilmu dan syahwat. Dan menjadikan kalimat Laa ilaaha illallah sebagai kalimat utama pegangan hidup dan pengiring mati kita.

Marilah kita tutup khutbah ini dengan doa,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا))

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّيْنِ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُوْرِهِمْ . اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ وَأَعِنْهُ عَلَى طَاعَتِكَ وَارْزُقْهُ البِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ . اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِكُلِّ قَوْلٍ سَدِيْدٍ وَعَمَلٍ رَشِيْدٍ .

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا ، اَللَّهُمَّ اهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا وَأَمْوَالِنَا وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مُوْجَبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَشُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ . اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْباً سَلِيْماً وَلِسَاناً صَادِقاً ، وَنَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَنَسْتَغْفِرُكَ اللَّهُمَّ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الغُيُوْبِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ .

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَ بَارَكَ وَأَنْعَمَ عَلَى عَبْدِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

 

 

 

Download Materi Khutbah Jumat tentang Laa ilaaha illallah versi PDF

DI SINI

 

 

 

share on: