Khutbah Jumat: LGBT itu Dosa, Kenapa Dipelihara?

share on:
Khutbah Jumat LGBT itu Dosa, Kenapa Dipelihara-istidlal.org

Khutbah Jumat tentang LGBT

LGBT itu Dosa, Kenapa Dipelihara?

Pemateri: Ibnu Rodja

Download materi khutbah jumat versi PDF klik DI SINI

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

قال تعالى: يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

وقال رسول الله:

اتَّقِ اللهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ

ثُمَّ أَمَّا بَعْدُ،

 

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Khatib wasiatkan kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah ‘azza wajalla. Karena sebaik-baik bekal yang akan kita bawa ke kampung akhirat adalah ketakwaan. Ketakwaan yang terwujud dalam iman dan amal saleh.

Shalawat dan salam kita doakan kepada Allah agar senantiasa tercurah kepada Nabi kita, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga juga tercurah kepada keluarga, sahabat dan orang-orang yang mengikutinya hingga akhir zaman.

 

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Beberapa waktu belakangan, kita diramaikan dengan kontes Miss dan Mister di Bali, meskipun akhirnya acara tersebut dibatalkan oleh pihak kepolisian, namun ini cukup membuat kita terkejut. Tidak lama setelah itu di sosial media pembicaraan tentang LGBT kembali mencuat. Grup-grup LGBT di beberapa daerah pun menyeruak ke timeline sosial media.

Fenomena ini semakin membuat kita merinding. Di tengah akrabnya negeri kita oleh bencana, para penerus kaumnya Nabi Luth justru mempertontonkan eksistensi mereka di negeri ini. Negeri yang mayoritas muslim, negeri yang enganggap perbuatan itu sebagai sebuah dosa yang menjijikkan.

Dosa liwath atau LGBT adalah dosa yang dibenci oleh Allah ‘azza wajalla, dosa yang menyelisihi fitrah manusia, dosa yang tidak bisa diterima oleh akal sehat manusia, bahkan binatangpun tidak melakukan dosa tersebut.

Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah di dalam buku beliau Ad-Da’ wad Dawa’ menjelaskan bahwa dosa LGBT atau liwath termasuk dosa yang paling besar, bahkan bisa lebih besar dosanya dibandingkan dosa pembunuhan. Dosanya setingkat dibawah kesyirikan.

Hal ini dikarenakan, tidak pernah dosa ini dilakukan oleh manusia sebelum kaumnya Nabi Luth, dan Allah ‘azza wajalla mengazab mereka dengan azab yang juga belum pernah Allah turunkan kepada kaum-kaum sebelum mereka.

Allah ‘azza wajalla berfirman:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ الْعَالَمِينَ

Artinya, “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” (QS. Al-A’raf: 80)

Allah ‘azza wajalla juga menimpakan kepada mereka berbagai-macam azab dalam sekali waktu, Allah hancurkan bolak-balikkan negeri mereka, Allah balikkan tempat tinggal mereka, sehingga bagian atasnya menjadi di bawah dan sebaliknya, Allah hujani mereka dengan batu yang panas. Kolaborasi azab yang belum pernah Allah timpakan kepada kaum sebelumnya.

Hal ini karena dahsyatnya dosa yang mereka perbuat, sehingga membuat bumi tempat mereka berpijak menjadi bergetar, seolah menolak perbuatan menjijikkan yang mereka lakukan. Para malaikatpun lari ke ujung langit dan bumi jika menyaksikan dosa yang mereka perbuat, lantaran takut terdampak dari azab yang akan mengundang mereka. Bahkan gunung-gunung-pun bergetar, karena ngerinya dosa yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth.

Hal lainnya yang menyebabkan dosa liwath lebih dahsyat dari pada zina bahkan pembunuhan sekalipun adalah kare, ketika seseorang membunuh, maka Allah memberikan pilihan kepada walinya untuk memaafkan dengan menerima diyat atau melakukan qishash.

Allah ‘azza wajalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى ۖ الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنثَىٰ بِالْأُنثَىٰ ۚ فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ۗ ذَٰلِكَ تَخْفِيفٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ ۗ فَمَنِ اعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (QS. Al-Baqarah: 178)

Sedangkan hukuman pagi pelaku homoseks di dalam Islam adalah hukuman mati dan tidak ada peluang lain, sebagaimana pada pembunuhan.

Dosa pembunuhan yang oleh Allah ‘azza wajalla diancam hukuman neraka, masih ada kemungkinan selamat dari hukuman mati atau qishash, jika dimaafkan oleh keluarga korban. Dan pelaku homoseks di dalam Islam hukumannya hanya satu, yaitu hukuman mati.

Ini adalah pendapat para sahabat radhiyallahu anhum. Hal ini tergambar dalam sebuah kisah pada zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq. Suatu ketika Khalid bin Walid mendapati di salah satu perkampungan Arab lelaki menikah sesame lelaki, kemudian Khalid berkirim surat kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, selaku khalifah kala itu.

Kemudian Abu Bakar bermusyawarah dengan para sahabat tentang hukuman bagi pelaku homoseks tersebut. Ketika itu Ali bin Abi Thalib mengeluarkan pendapat yang paling keras terhadap pelaku homoseks, Ali bin Abi Thalib megatakan,

Tidaklah melakukan dosa seperti ini kecuali satu umat, dan kalian tahu apa yang Allah lakukan kepada mereka, pendapat saya, pelakunya harus dihukum mati dengan cara dibakar dengan api.”

Kemudian Abu Bakar memerintahkan hukuman bakar bagi pelaku tesebut.

Sedangkan sahabat Ibnu Abbas berpendapat bahwa hukuman pelaku homoseks/liwath dijatuhkan dari bangunan tertinggi tempat dia tinggal dan dihujani dengan batu. Sahabat Ibnu Abbas pulalah yang meriwayatkan hadits dari Nabi tentang hukuman bagi pelaku homoseks.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

Artinya, “Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka hukum matilah keduanya, baik pelaku maupun objek.” (HR. At-Tirmidzi, Abu Daud, dan Ibnu Majah)

 

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Mungkin sebagian kita hari ini kaget, bahkan mungkin ada yang berpikir bahwa itu adalah hukuman yang terlalu sadis. Sebagian lagi ada yang mengatakan bahwa pelaku homoseks adalah korban, sebaiknya mereka direhabilitasi.

Kita harus menangkap hikmah kenapa Allah ‘azza wajalla melenyapkan para pelaku homoseks dari kalangan Nabi Luth. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena perilaku homoseks adalah penyakit menular, dan penularannya itu sangat cepat.

Oleh karena itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh kedua pelaku, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas, dan para sahabat juga berpendapat yang sama bahwa pelakunya harus dihukum mati. Hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena mereka paham betul dampak buruk terhadap manusia, jika prilaku tersebut dibiarkan.

Jika prilaku yang menjijikkan ini sudah menjangkiti manusia, terkhusus umat Islam, maka bisa ita bayangkan betapa rusaknya tatanan sosial masyarakat. Oleh karenanya kita tidak boleh abai terhadap prlaku homoseks ini.

 

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Selain melihat kepada hukuman para pelaku homoseks yang telah diputuskan oleh para sahabat pada zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq, dahsyatnya akibat dari dosa yang menjijikkan ini juga bisa kita lihat dari sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوْطٍ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوْطٍ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوْطٍ

Artinya, “Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaumnya Nabi Luth, Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaumnya Nabi Luth, Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaumnya Nabi Luth.”

Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pelaku liwath sampai tiga kali dalam satu waktu. Hal ini tidak pernah beliau lakukan terhadap dosa-dosa besar yang lain, bahkan dosa zina sekalipun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak sampai melaknat sampai tiga kali dalam satu waktu.

Hal ini menjelaskan bahwa dosa liwath amat sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, oleh karenanya dilaknat hingga tiga kali dalam satu waktu.

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى

 

Ma’asyiral muslimin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Pada khutbah pertama tadi, khatib telah menjelaskan mengerikannya dosa LGBT, satu-satunya kaum yang oleh Allah diazab dengan berbagai macam azab, ini menandakan bahwa perilaku-perilaku tersebut sangat cepat mengundang azab Allah.

Jika kita melihat, penyebab tersebarnya LGBT di tengah-tengah kaum muslimin adalah lantaran kurang perhatiannya kita terhadap batasan-batasan yang telah digariskan oleh Islam. Seperti batasan terhadap lawan jenis, perintah menundukkan pandangan, larangan untuk ikhtilath antara laki-laki dan perempuan, dan aturan Islam antara aurat antara laki-laki dan perempuan, maupun batasan aurat bagi gender yang sejenis.

Jika kita menaati aturan-aturan Islam dalam mengatur hal-hal di atas, niscaya perilaku tersbeu akan tergerus sedikit demi sedikit.

 

Sidang Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,

Inilah akibat yang timbul jika kita tidak melaksanakan aturan-aturan Allah dalam semua aspeknya, akan semakin banyak penyimpangan-peyimpangan yang terjadi di tengah umat. Oleh karenanya, mari kita tanamkan ke dalam diri kita semua agar senantiasa menjaga syariat Allah dalam setiap aspek kehidupan kita, karena itulah garansi bagi kita untuk selamat di dunia dan akhirat.

Mari kita tutup khutbah Jumat ini, dengan memanjatkan doa kepada Allah ‘azza wajalla

 

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةَ المَهْدِيِيْنَ؛ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ عَلِيٍّ, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ فِي أَندُونِسِيَا و الشَامَ و اليَمَن و رُوهِنغيَا وَفِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَهُمْ حَافِظاً وَمُعِيْنًا وَمُسَدِّداً وَمُؤَيِّدًا، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَهُمْ وَلَا تَكُنْ عَلَيْنَا، وَانْصُرْنَا وَلَا تَنْصُرْ عَلَيْنَا، وَامْكُرْ لَنَا وَلَا تُمْكِرْ عَلَيْنَا، وَاهْدِنَا وَيَسِّرْ الهُدَى لَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا لَكَ ذَاكِرِيْنَ، لَكَ شَاكِرِيْنَ، إِلَيْكَ أَوَّاهِيْنَ، لَكَ مُخْبِتِيْنَ، لَكَ مُطِيْعِيْنَ. اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا، وَاغْسِلْ حَوْبَتَنَا، وَثَبِّتْ حُجَّتَنَا، وَاهْدِ قُلُوْبَنَا، وَسَدِّدْ أَلْسِنَتَنَا، وَاسْلُلْ سَخِيْمَةَ صُدُوْرِنَا

اَللَّهُمَّ وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ العَمَلَ الَّذِيْ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ

اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ الإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةَ مُهْتَدِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ. اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ: أُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

share on: