Khutbah Jumat: Teladan Rasulullah dalam Memahami Bencana Alam

share on:
Khutbah Jumat Teladan Rasulullah dalam Memahami Bencana Alam-istidlal.org

Khutbah Jumat tentang Bencana Alam

Teladan Rasulullah dalam Memahami Bencana Alam

Pemateri: Ibnu Khamis | Editor: Musa

 

 

Download materi khutbah Jumat versi PDF klik DI SINI

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

قال تعالى: يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

وقال رسول الله:

اتَّقِ اللهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ

ثُمَّ أَمَّا بَعْدُ،

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Khatib wasiatkan kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah ‘azza wajalla. Karena sebaik-baik bekal yang akan kita bawa ke kampung akhirat adalah ketakwaan. Ketakwaan yang terwujud dalam iman dan amal saleh.

Shalawat dan salam kita doakan kepada Allah agar senantiasa tercurah kepada Nabi kita, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga juga tercurah kepada keluarga, sahabat dan orang-orang yang mengikutinya hingga akhir zaman.

Saudaraku Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Diceritakan dalam sebuah riwayat, suatu ketika Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha mendapati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila ada hari terjadi angin kencang dan mendung, maka akan terlihat dari wajah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam raut muka gelisah.

Beliau mondar-mandir hingga jika mendung tersebut berujung pada hujan maka beliau bergembira dan hilang raut wajah gelisah darinya. Aku pun bertanya kepada beliau tentang hal itu. Beliau bersabda,

إِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَكُونَ عَذَابًا سُلِّطَ عَلَى أُمَّتِي

Aku takut jika hal itu (mendung dan angin) adalah azab yang ditimpakan kepada umatku.” (Shahih Muslim, 6/449)

Dan dalam riwayat lain diceritakan, jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan angin berhembus kencang beliau berdoa:

اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ

Ya Allah aku memohon kepada Engkau kebaikannnya dan kebaikan yang terkandung di dalamnya serta kebaikan yang dikirim bersamanya, dan aku berlindung kepada engkau dari keburukannya dan keburukan yang terkandung di dalamnya serta keburukan yang dikirim bersamanya.”

Dan ketika langit terlihat gelap, disertai petir dan kilat, maka berubah raut muka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau keluar-masuk rumah. Mondar-mandir. Jika turun hujan, beliau bergembira.

Kata Ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘anha, “Aku dapat melihat hal itu dari raut mukanya, lalu aku menanyakan itu kepada beliau, Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau memberikan jawaban, ‘Wahai Aisyah, bisa jadi hal itu seperti yang pernah dikatakan kaum Ad (kaum yang menolak dakwah Tauhid Nabi Hud ‘alaihissalam) seraya membacara firman Allah dalam surat Al-Ahqaf ayat 24 yang mengisahkan derita kaum Ad:

فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُم بِهِ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka tatkala mereka melihat azab berupa mendung yang mengarah menuju lembah-lembah mereka, mereka berkata, ini adalah mendung yang akan menurunkan hujan buat kita, tapi justeru mendung itu adalah azab yang kalian menantang datang segera, (yaitu angin yang mengandung azab yang pedih).” (QS. Al-Ahqaf: 24)

Dan dalam riwayat lain ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘anha bercerita,

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga terlihat langit-langit mulutnya. Tertawa beliau sekedar senyum, jika beliau melihat mendung atau angin itu sudah tampak dari raut mukanya. Maka ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Wahai Rasulullah! Aku melihat orang-orang jika melihat mendung mereka bergembira karena berharap akan turun hujan, sementara aku melihat Anda jika melihatnya tampak gelisah di muka Anda?”

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Aisyah, apa yang bisa membuat diriku merasa aman jika ternyata mendung itu membawa azab, karena pernah kaum yang diazab dengan angin sementara kita mereka melihat datangnya azab tersebut mereka berkata, ini adalah mendung yang akan menurunkan hujan buat kita.’” (HR. Muslim)

Allahu Akbar, wahai Saudaraku yang dirahmati Allah

Inilah potret Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memikirkan suatu peritiwa alam yang tengah terjadi.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Dahulu orang-orang Arab pernah bilang:

يَفْهَمُ الَّلبِيْبُ وَلَوْ بِالْإِشَارَةِ

Orang cerdas mudah paham meski hanya dengan sekedar isyarat.”

Inilah potret sosok manusia paling cerdas sepanjang kurun kehidupan, baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Cukup dipantik dengan satu isyarat saja, beliau mudah paham dan bergegas meresponnya dengan keimanan, dengan rasa takut yang besar kepada Allah ‘azza wajalla.

Bahkan dalam riwayat Abu burdah dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu anhu bercerita, ketika matahari mengalami gerhana, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bergegas bangkit karena khawatir akan terjadi kiamat. Lalu beliau pergi ke masjid, kemudian shalat dengan berdiri; ruku’ dan sujud yang cukup lama, belum pernah aku melihat shalat seperti itu, setelah itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَذِهِ الآيَاتُ الَّتِي يُرْسِلُ اللَّهُ، لاَ تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنْ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ، فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ

Tanda-tanda kebesaran yang Allah kirimkan ini bukan karena kematian seorang dan kelahirannya, akan tetapi Allah ingin membuat takut hamba-Nya dengan tanda itu, jika kalian melihat semacam itu maka bergegaslah berdzikir kepada Allah, berdoa dan beristighfar kepada-Nya.” (HR. Al-Bukhari No. 1059)

Bagi Allah ‘azza wajalla, manusia yang cerdas dalam memandang fenomena alam seperti mendung, angin kencang, gerhana, gempa, gunung meletus, longsor, dan tsunami adalah mereka yang memandangnya dengan lensa keimanan yang dikejawantahkan dalam hati, lisan dan tindakan badan.

Meski tidak dinafikan bahwa dalam fenomena-fenomena tersebut kadang Allah tunjukkan beberapa fakta alamiah yang menjadi penyebabnya, namun bukan berarti kita lupa bahwa Allah yang menciptakan sebab dan Allah pula yang menentukan musababnya.

Sehingga dengan itu sikap yang baik dalam merespon setiap fenomena tersebut adalah berusaha mencari sebab syar’i dalam upaya mendapatkan maslahat dan menghindari mudarat sebagaimana yang dicontohkan manusia paling cerdas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika melihat gerhana, mendung, angin kencang, dan lain sebagainya.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam As-Syarh-Al-Mumti’ memberikan penjelasan. Fenomena besar, seperti penenggelaman ke dasar tanah, gempa, petir, dan semisalnya yang dapat dirasakan bahayanya oleh manusia.

Selain fenomena semacam itu adalah bentuk hukuman, namun dia juga memiliki sebab-sebab alami, yang Allah Ta’ala sudah menentukan sebab-sebab alami ini sampai menjadi musabbab, dimana hikmah dari semua itu adalah untuk membuat hamba menjadi takut (kepada Allah).

Maka gempa memiliki sebab, petir memiliki sebab, gunung meletus memiliki sebab, dan angin beliung memiliki sebab, akan tetapi Allah ‘azza wajalla menentukan sebab ini dengan tujuan agar manusia istiqomah di atas dien Allah ‘azza wajalla…”

Inilah kesimpulan yang cerdas sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu bersikap cerdas dalam merespon fenomena alam.

figur beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Rasul, Nabi, pemimpin, dan pribadi kehidupan dalam hal ini dan semua hal patut diterjemahkan dalam potret kepemimpinan sepanjang zaman agar dunia mengarah kepada kemaslahatan dan terhindar dari kemudharatan.

Itulah yang direalisasikan oleh Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu anhu ketika menjadi amirul mukminin. Saat terjadi gempa di masanya, di tanah terbaik kedua setelah Makkah yakni Madinah, maka tindakan pertama-tama yang dilakukan oleh Umar Radhiyallahu anhu adalah mendekatkan umat kepada Allah Ta’ala dan menjauhkan mereka dari kemungkaran.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Shafiyyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

“Pernah terjadi gempa di Madinah di masanya Umar Radhiyallahu anhu, maka beliau berkata, ‘Wahai manusia, apa ini? Alangkah cepatnya kalian berlaku dosa, jika gempa ini kembali lagi, aku tidak bisa tinggal bersama kalian di dalamnya.’”

Umar bin Abdul Aziz juga mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika terjadi gempa di masanya. Beliau bersegera mengajak manusia untuk bertakwa kepada Allah, dan memerintahkan siapa saja yang memiliki kelapangan harta untuk bersedekah seraya menyebutkan firman Allah ‘azza wajalla dalam surat Al-A’la 14-15:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى (14) وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى (15)

Lalu beliau (Umar bin Abdul Aziz) memerintahkan para pemimpin wilayah dan rakyatnya untuk banyak beristighfar dan bertaubat kepada Allah dengan membaca firman Allah ‘azza wajalla dalam:

Surat Al-A’raf 23:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Surat Hud: 47

وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ (47)

Surat Al-Anbiya’: 87

أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87)

 

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Oleh karena itu saudaraku yang dirahmati Allah, ikutilah jejak kecerdasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salafus shalih dalam menyikapi fenomena gempa, gerhana, longsor dan lain sebagainya. Jangan menjadi orang yang bodoh yang diberikan berkali-kali pelajaran, peringatan, dan penjelasan, namun selalu gagal paham, sehingga musibahnya menjadi berlipat-lipat.

Hal yang selalu dipikirkan hanya dampak kerugian materi, bahkan nyinyir dengan kesimpulan bahwa semua itu hanya dampak alam saja, tidak ada kaitannya dengan dosa dan peringatan dari Allah, seraya beragument dengan hawa nafsunya, “Kalau ini ada kaitannya dengan kemungkaran dan kemaksiatan kenapa tidak terjadi di pantai hawai, eropa dan daratan orang-orang kafir saja?”

Saudaraku, dunia ini adalah surganya orang kafir, mereka kadang dibiarkan oleh Allah untuk menikmati dunia yang rusak, sehingga ketika mereka diambil oleh Allah ‘azza wajalla, mereka tidak diberi kesempatan barang sedikitpun untuk beriman, meski kadang ada fakta Allah juga mengazab sebagian mereka dengan bencana dan sakit baik secara umum maupun pribadi.

Lebih dari pada itu, pada dasarnya hukuman Allah di dunia ini yang paling mengerikan adalah dijadikannya hati keras dan mati sehingga tidak bisa menerima petunjuk hingga mati dalam keadaan kafir, tidak dirahmati Allah dan tidak diampuni.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Bagi mukmin, sejatinya gempa, longsor, dan tsunami yang menimpa wilayah yang dihuni kaum muslimin jika dilihat dari lensa keimanan bisa lebih kecil daripada dibuatnya hati menjadi keras, susah beriman dan takut kepada Allah ‘azza wajalla.

Kenapa? Karena dengan gempa, tsunami, dan semisalnya, seorang mukmin yang masih hidup masih diberi kesempatan untuk bertobat dan kembali kepada Allah dan beramal shalih dalam pribadi dan masyarakat. Serta menjadi ingat bahwa tujuan hidup bukan dunia saja, tapi keselamatan abadi di akhirat.

Sementara orang shalih yang ikut meninggal terkena dampak musibah umum di sebuah wilayah apalagi sudah melakukan amar makruf dan nahi munkar, maka mereka akan kembali kepada Allah dengan mendapatkan maghfirah dan ridha-Nya sebuah hadiah yang sangat agung, dambaan setiap mukmin di kehidupan abadi, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini,

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِي أُمَّتِي، عَمَّهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ “. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَمَا فِيهِمْ يَوْمَئِذٍ أُنَاسٌ صَالِحُونَ؟ قَالَ: ” بَلَى “. قَالَتْ: فَكَيْفَ يَصْنَعُ أُولَئِكَ؟ قَالَ: ” يُصِيبُهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسَ، ثُمَّ يَصِيرُونَ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٍ

Dari Ummi Salamah Radhiyallahu ‘anha istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kemaksiatan telah merajalela di umatku maka Allah akan meratakan mereka dengan azab,”

Aku berkata: “Ya Rasulullah, lalu apakah di tengah mereka saat itu ada orang-orang shalih?”

Beliau bersabda, “Iya.”

Ummu Salamah berkata, “Lalu apa yang terjadi pada mereka?”

Beliau bersabda, “Mereka ikut terkena dampak musibah yang menimpa manusia, namun kemudian mereka kembali dengan ampunan dari Allah dan ridha-Nya.” (HR. Ahmad, No.26638, hadits ini sanadnya lemah karena lemahnya laits bin Abi Sulaim, namun Ibnul Qayyim menukilnya dalam Al-Jawabul Kafi karena diperkuat oleh hadits lain dengan isi yang sama terdapat pada Shahih Jami’ hadits no. 680)

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Saudaraku yang dirahmati Allah.

Selain itu, melalui mimbar yang mulia ini khathib mengingatkan akan pentingnya menegakkan amar makruf dan nahi munkar yang sejatinya hal itu adalah tugas kepemimpinan di bumi, hakekat tugas utama pemimpin bukan bagaimana membangun kemegahan dunia, meningkatkan kekuatan materi dengan membangun infrastruktur megah, memajukan ekonomi, teknologi dsb, tapi tugas utamanya adalah menegakkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya baik dalam ibadah lazimah (ibadah yang fungsinya lebih bersifat pembangunan pribadi seperti shalat) maupun muta’addiyah (ibadah yang fungsinya lebih bersifat pribadi dan masyarakat seperti zakat), dan menegakkan amar makruf dan nahi munkar, Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Hajj:

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ (40) الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ (41)

Allah pasti menolong orang yang menolong-Nya, sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha perkasa. Yaitu orang-orang yang jika Aku berikan kedudukan kepada mereka, mereka menegakkan shalat dan menunaikan zakat, memerintahkan yang makruf dan mencegah dari kemungkaran, dan hanya kepada Allah semua urusan dikembalikan.”

Dunia yang dipimpin dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dan dengan amar makruf dan Nahi Munkar akan menggiring kepada kemaslahatan, kesejahteraan, keselamatan dan pertolongan dari Allah ‘azza wajalla.

Sementara masyarakat yang tidak dipimpin dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dan dengan amar makruf dan nahi munkar akan menjadi sebab petaka dan kerusakan. Dan karena itulah menjadi kebutuhan mutlak kenapa Islam harus memimpin dunia.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Maka amar makruf dan nahi munkar menjadi salah satu sebab terjaganya masyarakat dari bencana, dia semacam senjata yang menahan kemungkaran agar senantiasa terjepit dan tidak semakin leluasa hingga menjadi celah yang menenggelamkan keutuhan masyarakat ideal, kemungkaran yang dibiarkan secara merajalela sementara tidak ada tindakan amar makruf dan nahi munkar akan mendatangkan bencana yang merata hingga orang shalih pun dapat terkena dampaknya.

Dahulu pernah ada orang-orang yang salah paham, selama kita shalih maka kemungkaran yang terjadi di sekitar kita tidak akan berbahaya buat diri kita. Melihat hal ini, Abu bakar Radhiyallahu anhu dalam riwayat imam Ahmad berdiri dan berkhutbah lalu memuji Allah dan menyanjungnya, setelah itu beliau berkata,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ

Wahai orang-orang beriman, jagalah diri kalian, tidak akan memberikan madharat kepada kalian orang yang menyeleweng jika kalian berpegang kepada petunjuk.” (QS. Al-Maidah: 105)

Dan kalian menempatkannya tidak sebagaimana tempatnya, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْمُنْكَرَ وَلَا يُغَيِّرُوْنَهُ أَوْشَكَ اللهَ، عَزَّ وَجَلَّ، أَنْ يَعُمَّهُمْ بِعِقَابِهِ

Sesungguhnya manusia jika melihat kemungkaran dan tidak merubahnya dengan tangannya, ditakutkan hampir-hampir Allah ‘azza wajalla akan meratakan mereka dengan azab-Nya.” (HR Ahmad, Hadits No.16)

Diriwayatkan pula dari Nu’man bin basyir Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Di antaranya ada yang berada di bagian atas dan ada sebagian lain di bawah kapal. Yang berada di bagian bawah jika ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR. Al-Bukhari no. 2493).

Jadi harus dipahami, menegakkan syariat Allah, menegakkan hudud Allah, menegakkan amar makruf dan nahi munkar bukan perkara radikal dan intoleran. Justru sebaliknya, menegakkannya adalah rahamtan lil’alamin, upaya mendapatkan rahmat Allah agar menjaga dunia ini dari murka dan azab-Nya, menjaga dunia dari kerusakan global, sementara penolakan terhadap syariat Allah, amar makruf dan nahi munkar adalah sebab dari datangnya segala bencana dan kerusakan.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ حُكَّامًا وَمَحْكُوْمِيْنَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَاهُمْ، وَفُكَّ أَسْرَانَا وَأَسْرَاهُمْ، وَاغْفِرْ لِمَوْتَانَا وَمَوْتَاهُمْ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمنًا مُطْمَئِنًّا قَائِمًا بِشَرِيْعَتِكَ وَحُكْمِكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمّ ارْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ، وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاة

 

 

Download materi khutbah Jumat versi PDF klik DI SINI

 

share on: