Khutbah Jumat: Optimisme Kemenangan Islam dalam Tongkat Nabi Musa

share on:
Tongkat Nabi Musa Membelah Lautan (Ilustrasi)

Khutbah Pertama

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Jamaah Jumat rahimakumullah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah mengutus Muhammad sebagai Rasul. Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan al Quran sebagai pedoman. Dan Segala puji bagi-Nya, yang tidak pernah mengingkari janji sama sekali. Jika Allah menjanjikan kemenangan dan kedaulatan bagi umat ini, maka janji itu akan ditepati.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi Muhammad, keluarga, para shahabat dan seluruh umat yang mengikuti sunah Beliau hingga akhir hayat. Beliau adalah Nabi pendobrak kejahiliyahan. Pembangun peradaban baru umat manusia. Sosok yang dalam setiap gerak dan langkahnya menorehkan hikmah dan pelajaran.

Jamaah jumat rahimakumullah

Jika kita renungi secara mendalam, ada sesuatu yang menarik dari wahyu pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad. Kata pertama dari wahyu itu adalah iqra’ yang artinya bacalah!. Hikmah yang sering kita dengar mengenai peristiwa ini biasanya tidak jauh-jauh dari: betapa pentingnya membaca, pentingnya ilmu pengetahuan dan pentingnya belajar. Namun, pernahkah kita bertanya, mengapa Allah menyuruh Muhammad yang tidak mampu baca tulis untuk membaca?

Jibril bahkan mendekapnya dan menyuruhnya membaca hingga Beliau ketakutan. Bukannya mengajari terlebih dahulu, tapi langsung menyuruh membaca. Dan apakah setelah itu Rasulullah secara ajaib jadi bisa membaca? Tidak. Atau beliau kemudian belajar membaca hingga jadi mahir? Tidak. Beliau tetap tidak bisa  membaca dan menulis hingga akhir hayat. Soal bacaan, tulisan dan terjemahan, beliau serahkan kepada shahabat-shahabatnya.

Jamaah jumat rahimakumullah

Selain hikmah bahwa ketidakmampuan Beliau untuk membaca dan menulis adalah untuk menjaga orisinalitas kitab suci dan hadits agar tidak dituduh sebagai buatan beliau sendiri, adakah hikmah lain yang bisa kita dapatkan?

Ada, apakah itu? Penghancuran mental block alias penghancuran dinding pikiran berupa sikap pesimis.

Sebelumya, kita kembali pada tujuan awal Rasulullah berdiam diri di gua hira. Beliau menyendiri di gua karena prihatin terhadap kejahiliyahan manusia yang mengurat akar dan serasa mustahil dibenahi. Rasa prihatin bercampur bingung harus bagaimana membenahi masyarakatnya itulah yang membawa Beliau menyendiri. Lalu Allah mengutus Jibril membawa wahyu, dan wahyu inilah satu-satunya hal yang mampu mengobati kejahiliyahan dan membenahi masyarakat.

Uniknya, perintah pertama dari wahyu tersebut adalah agar beliau melakukan sesuatu yang sama sekali tidak beliau mampui, apa itu? Membaca!

Rasulullah buta huruf, tapi disuruh membaca. “ Aku tidak bisa membaca!” jawab beliau. Jbril mengulangi tiga kali dan jawaban Beliau sama. Membaca bagi rasulullah adalah kemustahilan, tapi Allah menyuruhnya membaca. Di sinilah, sepertinya  Allah hendak memberi pengajaran kepada Beliau agar mendobrak dinding pemikiran yang menyatakan bahwa Beliau tidak bisa.

Bagi rasulullah saat itu, membaca sama mustahilnya dengan memperbaiki umat yang telah begitu rusak. Kerusakan dan kejahiliyahan yang sudah sangat sistemik hingga sulit diperbaiki. Sebuah kondisi masyarakat yang sudah sedemikian parah dekadensi moral dan mentalnya hingga mampu membentuk mental block dalam pikiran setiap manusia bahwa kondisi ini tidak bisa dibenahi lagi.

Tapi al Alaq ayat satu seperti palu gada yang menghancurkan dinding ini. Tidak! Tidak ada yang tidak bisa diperbaiki. Kamu bisa, wahai Muhammad! Kamu mampu memperbaiki masyarakatmu bahkan manusia seluruh dunia, separah apapun kondisi mereka saat itu!

Jamaah jumat Rahimakumullah

Hikmah ini persis seperti yang terjadi pada Nabi Musa saat harus melawan Firaun. Kekuasaan Firaun sudah luar biasa besar sampai-sampai manusia menyembahnya. Kezhalimannya juga sudah sangat sistemik, mungkin setara atau lebih parah dari kezhaliman bangsa Arab di jaman Nabi Muhammad. Nabi Musa sendiri sampai harus hjirah keluar menghindari kediktatoran Firaun.

Lalu uniknya, apa yang pertama kali Allah lakukan untuk membimbing Musa menjadi seorang Nabi?

Allah berfirman, “Dan apa yang ada di tangan kananmu itu, wahai Musa?”

Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya”.

Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!”

Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.

Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”(Thaha: 17-21).

Inilah penghancuran mental blok. Peristiwa ini bukan semata-mata membekali Nabi Musa dengan keajaiban tapi menghancurkan dinding pikiran Musa yang mengatakan mustahil saya mampu menghadapi Firaun.

Tongkat yang menjadi ular adalah sebuah pelajaran bahwa bersama Allah, tidak ada yang mustahil. Bahkan sebuah kemustahilan berupa tongkat kayu yang benar-benar menjadi ular betulan pun tidaklah mustahil. Ular penyihir Firaun hakikatnya masih tali biasa, namun secara khayali berubah menjadi ular. Adapun ular dari jelmaan tongkat musa seperti binatang nyata karena mampu melahap ular magis para penyihir.

Jamaah Jumat rahimakumullah

Dari sini, kita pun bisa mengambil pelajaran berharga saat menghadapi berbagai kemustahilan. Mampukah kita memperbaiki diri sendiri? Atau mampukah kita memperbaiki keluarga kita yang pecah? Mampukah kita memperbaiki lingkungan kita yang rusak parah? Bahkan mampukah kita memperbaiki negara kita yang telah dilahap kejahiliyahan? Bahkan, mampukah kita memperbaiki umat Islam yang telah dikoyak-koyak isme-isme jahiliyah hingga terpecah belah dan lemah seperti saat ini?

Jika kita mengambil semangat al Alaq ayat satu dan juga tongkat Nabi Musa, maka Jawabannya, bersama Allah tidak ada yang mustahil.

Nabi Muhammad seorang diri dalam mengawali dakwah dan upaya perbaikan peradaban. Nabi Musa juga hanya dibantu Harun saat menyelamatkan Bani Israel sekaligus menghancurkan Firaun.

Sesulit apapun kondisi yang kita hadapi, optimisme harus terus dibangun agar usaha tetap dilakukan. Hal Yang Allah mau dari kita adalah usaha, soal hasil ada di tangan-Nya. Jangan sampai kita seperti Bani Israel yang ketika disuruh memasuki Palestina dan sudah dijanjikan kemenangan, tapi mereka tetap enggan dan berkata, “Pergilah kamu dan tuhanmu berperang, kami akan duduk di sini.

Naudzubillah min dzalik. Semoga harapan dan optimisme kita senantiasa dijaga oleh Allah Ta’ala agar semangat memperjuangkan diennya tetap membara. Amin ya rabbal alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ,
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ,
وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛

Jamaah Jumat rahimakumullah

Demikian khutbah yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan bermanfaat, terutama bagi diri kami dan jama’ah sekalian. Semoga kita tetap didalam golongan hamba-hamba Allah yg soleh.

اَللَّهُـمَّ إِنيِّ أَعوُذُ بِكَ مِنْ عَذاَبِ جَهَنَّمَ،وَمِنْ عَذاَبِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْـنَةِ الْمَحْياَ وَالْمَماَتِ وَمِنْ فِتْـنَةِ الْمَسيِحِ الدَّجاَّلِ

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

share on: