Khutbah Jumat: Renungi Keislaman Diri di Bulan Suci

share on:
Muhasabah

 

Khutbah Jumat

Renungi Keislaman Diri di Bulan Suci

Oleh : El-Mursi

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

قال تعالى:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا  يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

و قال رسول الله:

اتَّقِ اللهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

و قال أيضا:

اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ  يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَ يَرَاهُ .

ثُمَّ أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral muslimin jama’ah shalat jum’at Rahimakumullah,

Tak ada kata yang pantas terucap dari bibir dan membasahi lidah kita kecuali ucapan syukur dan puji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tak ada lantunan suara yang layak untuk di dengar oleh telinga kita kecuali lantunan ayat suci al-Quran yang berpahala saat dibaca, menentramkan saat direnungi, menyejukkan saat didengar dan menjaga diri kita saat diamalkan. Tak ada pemandangan yang layak untuk dilihat, kecuali segala apa yang dapat menumbuhkan kesadaran kita bahwa Allah Ta’ala itu Maha Kuasa atas segala hal. Tak ada hal baik yang kita saksikan, kecuali Allah Ta’ala lebih mengetahui bahwa apa yang kita alami itu lebih baik bagi kita dihadapan Allah Ta’ala.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam. Untuknya kita bershalawat kepadanya kita bertauladan, dan pada syafaatnya kita berharap nanti mendapatkannya di akhirat. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, kepada para sahabat, keluarga beliau dan mereka yang senantiasa menapaki jalan beliau dalam iqomatuddin. Dan semoga kita termasuk diantara ummat beliau yang kelak dibangkitkan bersama beliau dalam kondisi terbaik dan di ridhai oleh Allah Ta’ala.

Tak lupa khatib wasiatkan kepada khatib pribadi dan jamaa’ah sekalian, untuk selalu berusaha dan tidak berhenti meningkatkan kualitas dan kapasitas ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Modal yang paling berharga di akhirat dibandingkan dengan sebesar apapun modal seorang investor. Dan bekal yang paling berharga di bandingkan dengan sebanyak apapun bekal yang dibawa oleh seorang musafir di dunia ini.

Ma’asyiral Muslimin jama’ah jum’at rahimakumullah,

Dalam sebuah riwayat disebutkan,

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِيِّ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ – وَفِي حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ غَيْرَكَ – قَالَ: ” قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ، فَاسْتَقِمْ

Diriwayatkan dari Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi, dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, ucapkanlah (ajarilah) kepadaku satu ucapan dalam islam yang aku tidak perlu lagi menanyakannya kepada orang lain setelahmu –dalam riwayat dari Abu Usamah selainmu-, jawab beliau, “katakan, Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah” (HR Muslim, No: 62)

Dalam hadits ini sahabat Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi meminta nasihat, meminta wejangan, minta untuk diajari satu persoalan yang berkaitan dengan Islam. Yang sekiranya beliau tidak perlu lagi bertanya kepada orang lain. Meskipun sebenarnya para ulama menyebutkan bahwa ada kemungkinan beliau boleh dan masih bertanya kepada orang lain sepeninggal Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam.

Ma’asyiral Muslimin jama’ah jum’at rahimakumullah,

Satu hal yang menarik, patut untuk kita renungkan. Yaitu keinginan Sufyan Ats-Tsaqofi bertanya kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam perihal sesuatu dalam islam. Poin penting yang dicontohkan oleh Sufyan Ats-Tsaqofi adalah semangat dirinya untuk berislam, semangat dirinya untuk lebih baik dalam berislam. Bukankah ketika dia bertanya dia itu seorang muslim. Artinya ada semangat dalam dirinya untuk bagaimana agar menjadi pribadi muslim yang benar-benar keislamannya.

Coba bayangkan, dia hidup sezaman dengan Rasulullah, buktinya dia bisa bertanya langsung kepada Rasulullah. Hidup sezaman dengan kurun umat islam yang paling utama. Dia bisa menyaksikan bagaimana Rasulullah mengamalkan ajaran islam. Dia bisa menyaksikan bagaimana para sahabat menjalani keislamannya lewat petunjuk Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam. Namun hal tersebut tidak menyurutkan keinginannya untuk bertanya kepada Rasulullah, meminta diajari oleh Rasulullah dengan pertanyaan yang sangat sederhana sekali. Kalau boleh saya bahasakan dengan kalimat lain, pertanyaan itu adalah “wahai Rasulullah ajarilah aku agar islamku ini menjadi baik, islamku ini menjadi betul-betul islam”.

Disebutkan oleh Syaikh Abu Abdilah Muhammad Yusri, maksud pertanyaan itu adalah, wahai Rasulullah ajarilah aku agar aku tentang islam dan syariatnya. Ajarilah aku agar bisa menjalani islam dengan kesempurnaannya.

Satu hal menarik yang patut untuk kita contoh. Muhasabah diri yang layak untuk diteladani. Kesadaran diri yang seyogyanya selalu membersamai diri kita.

Ma’asyiral Muslimin jama’ah jum’at rahimakumullah,

Pernahkah terbersit dalam benak kita untuk sekedar mempertanyakan keislaman diri kita. Sehingga islam kita bukan hanya sekedar KTP, islam kita bukan hanya sekedar menyimpan mushaf dan alat shalat dirumah, islam kita bukan hanya sekedar gelar yang di sandang yang membersamai nama saat disebut. Tapi keislaman kita adalah islam sebagaimana yang dikehendari oleh Allah dan RasulNya.

Jika sufyan Ats-Tsaqafi saja seperti itu. Dengan kondisi masa yang sangat mendukung dirinya untuk berislam. Apalagi kita, seharusnya apa yang dia lakukan lebih berhak dan layak untuk kita lakukan. Hal mana kita hidup di zaman yang jauh dari Rasulullah, jauh dari para sahabat, jauh dari para tabi’in. Tantangan berislam semakin besar dan hebat. Maka kesadaran untuk berislam dengan baik sebagaimana yang dikehendaki oleh dan RasulNya seharusnya lebih kuat dan besar.

Ma’asyiral Muslimin jama’ah jum’at rahimakumullah,

Lantas apa jawab Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam?, beliau menjawab dengan singkatnya, “katakan, Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah”.

Jawaban beliau yang pertama, “katakan…. Ucapkan….aku beriman kepada Allah”. Selanjutnya timbul pertanyaan, apakah disaat sufyan bertanya dia belum beriman? Apakah saat dia bertanya dia belum bersyahadat? Apakah saat dia bertanya dia belum mengakui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah?…

Tidak…saat itu dia sudah beriman, sudah bersyahadat, sudah mengakui kenabian Rasulullah. Lantas kenapa Rasulullah menyuruhnya untuk berkata “aku beriman kepada Allah” ????.

Dalam hal ini ada 2 poin penting. Pertama, seringlah ucapkan pada dirimu, ingatkan dirimu, bahwa kamu itu seroang mukmin. Bahwa kamu itu seorang muslim. Sehingga akan tumbuh dalam diri kita kesadaran, “sudah bener belum sich keislamanku, sudah bener belum sih amalanku” dan seterusnya apapun posisimu selalu ingatkan dirimu.

Jika kamu seorang pedagang, ingatkan dirimu…kamu itu seorang pedagang muslim lho…

Jika kamu seorang guru, ingatkan dirimu…kamu itu seorang guru muslim lho….

Jika kamu seorang insinyur, ingatkan dirimu…kamu itu seorang insinyur muslim lho….

Jika kamu seorang polisi, ingatkan dirimu…kamu itu seorang polisi muslim lho….

Jika kamu seorang pejabat, ingatkan dirimu…kamu itu seorang pejabat muslim lho…

Jika kamu seorang dokter, ingatkan dirimu…kamu itu seorang dokter muslim lho…

Jika kamu seorang manusia, ingatkan dirimu…kamu itu adalah manusia muslim….

Mengingatkan diri sendiri itu penting. Sebab terkadang, futurnya seseorang, lemahnya iman seseorang karena tidak ada yang mengingatkan. Maka salinglah mengingatkan. Minimal ingatkan sesama anggota keluarga, ingatkan diri sendiri.

Poin yang kedua, sebagaimana yang diungkapkan oleh syaikh Muhammad Yusri,

Jika kalimat perintah untuk beriman ditujukan kepada orang kafir, maka maksudnya adalah masuklah kedalam agama islam. Jadi muslim lah kamu!!!

Jika kalimat perintah beriman itu ditujukan kepada orang muslim, maka maksudnya adalah setelah masuk islam, setelah menjadi muslim, wujudkan islam dalam dirimu!!!, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah keimanan kalian” (An-Nisa: 136)

Jika perintah beriman itu ditujukan kepada orang mukmin, maka maksudnya adalah lebih tingkatkan lagi keimanan kalian dan sempurnakan serta jagalah. Perbaruilah selalu keimanan kalian.

Seseorang bisa meningkatkan keimanan, menjaga keimanan jika ada ilmu yang mendasarinya. Artinya ada perintah disitu untuk mendalami dan mengilmui islam dan iman itu sendiri. Baik keislaman dan keimanan dalam beribadah, dalam bermuamalah, dalam berdagang, dalam bekerja, bahkan dalam bernegara. Kemudian amalkan dan tingkatkan.

Ma’asyiral Muslimin jama’ah jum’at rahimakumullah,

Jika kita kaitkan dengan kondisi kita saat ini di bulan Ramadhan. Sudah sekian lama kita menjumpai bulan Ramadhan. Jika usia kita sekarang 30 tahun, berarti semenjak kita diwajibkan puasa, sudah 14 kali menjalani puasa dengan kewajiban mengerjakannya. Jika usia kita sekarang 40 tahun, berarti semenjak kita diwajibkan puasa, sudah 24 kali menjalani puasa dengan kewajiban mengerjakannya. Jika usia kita sekarang 50 tahun, berarti semenjak kita diwajibkan puasa, sudah 34 kali menjalani puasa dengan kewajiban mengerjakannya. Jika usia kita sekarang 60 tahun, berarti semenjak kita diwajibkan puasa, sudah 44 kali menjalani puasa dengan kewajiban mengerjakannya.

Dari sekian banyak kesempatan kita berjumpa dengan Ramadhan, pernahkah kita merenung, seperti apa puasa Ramadhan kita selama ini. Jika menggunakan pertanyaan Sufyan tadi, berarti Rasulullah menyuruh kita untuk mengilmui Ramadhan, mengilmui amaliah di bulan Ramadhan, mengilmui puasa di bulan Ramadhan. Kemudian setelah mengilmui, kita amalkan kita lakukan dan kita perbarui amaliah kita.

Ma’asyiral Muslimin jama’ah jum’at rahimakumullah,

Satu kenikmatan tersendiri bagi kita. Ketika kita bisa berpikir tentang menu apa untuk sahur besok, atau menu apa untuk ifthar nanti. Saudara-saudara kita di palestina berpikir, masih hidupkah mereka besok? Masih hidupkah mereka nanti sore? Masih bisakah mereka bertemu dan berkumpul dengan keluarga nanti dan atau besok hari?.

Maka sangat disayangkan jika kondisi kita yang saat ini mudah untuk menjalani puasa Ramadhan tidak dimanfaatkan dengan sebaiknya. Kondisi kita yang mudah untuk shalat tidak digunakan dengan sebaiknya. Kondisi kita yang mudah untuk mengaji, berilmu, bermajelis taklim tidak digunakan dengan maksimal dan sebaik-baiknya.

Atau bahkan kita sudah merasa cukup dengan keislaman kita saat ini. Padahal bisa jadi amal ibadah kita masih sangat perlu diperbaiki. Muamalah kita perlu diperbaiki. Bermasyarakat kita perlu diperbaiki. Dan tak kalah penting dalam kita bernegara, bersyariat islam masih sangat perlu diperbaiki. Terlebih lagi tidak semua syariat islam dijalankan di negeri ini.

بارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِي اللهُ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، وَأَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى حق تقاته وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَ يَرَاهُ

Ma’asyiral Muslimin jama’ah jum’at rahimakumullah,

Selanjutnya nasihat beliau yang kedua adalah, “kemudian beristiqomahlah!!”, Apa itu istiqomah? Dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Yusri, istiqomah adalah menjaga konsistensi dalam mengamalkan ketaatan kepada Allah. Bukan hanya secara lahir tapi juga secara batin. Di segala tempat dan segala waktu. Dan dibarengi juga dengan meninggalkan larangan-larangan dan kemaksiatan.

Perlu dipahami bahwa keistiqomahan bukan hanya seberapa sering, seberapa kontinyu kita mengerjakan amalan Ibadan. Tapi lebih dari itu, seberapa mampu kita untuk menjaga batin kita, menjaga keihlasan kita, menjaga kelurusan hati kita dalam menjalankan amal ketaatan tersebut.

Setelah kita belajar bagaimana beribadah yang benar sebagaimana tuntunan islam, bagaimana shalat yang benar, bagaimana puasa yang benar, bagaimana bersyariat yang benar dalam berkeluarga, bermasyarakat dan menjalankan negara. Maka konsistensi dalam menjalankan harus dijaga juga baik secara lahir dan batin.

Ada juga beberapa poin penting yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ketika menjelaskan hadits ini. Poin pertama, siapa saja yang kurang dalam melakukan amalan yang wajib, berarti ia tidak istiqamah, dalam dirinya terdapat penyimpangan. Artinya penyimpangan itu akan semakin bertambah dengan meninggalkan perkara yang wajib, selain itu mengerjakan perkara-perkara yang diharamkan.

Poin kedua, adalah tahapan muhasabah diri, apakah kita benar-benar istiqamah ataukah tidak. Jika benar-benar istiqamah, maka bersyukurlah kepada Allah. Dan kesyukuran itu dibuktikan dengan ucapan dan perbuatan. Sehingga keistiqomahan sensntiasa selalu terjaga. Sebaliknya jika diri merasa belum istiqamah, maka wajib bagi kita untuk segera kembali kepada jalan Allah. Segera meluruskan niat, menepatkan amalan dan memperbaiki diri.

Poin ketiga, ruang lingkup istiqamah itu luas mencakup segala macam amal. Siapa saja yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya tanpa adanya udzur, maka ia termasuk tidak istiqamah. Siapa saja yang enggan bayar zakat, padahal ada kewajiban yang seharusnya di tunaikan maka ia tidak istiqamah. Siapa yang menjatuhkan kehormatan orang lain tanpa alasan yang dibenarkan, ini termasuk mencederai istiqamah. Dan siapa pun yang menipu, mengelabui, berbuat curang dalam bermuamalah seperti jual beli, begitu juga hal nya dalam sewa-menyewa dan semisalnya, maka ini juga termasuk mencederai keistiqamahan.

Ma’asyiral Muslimin jama’ah jum’at rahimakumullah

Syaikh Abdullah Hamud al-Farih memberikan beberapa tips agar kita bisa senantiasa beristiqomah. Diantaranya adalah bersungguh-sungguh melakukan ketaatan kepada Allah. Kemudian menyibukkan diri untuk mengilmui, memahami amalan yang akan diistiqamahi. Selanjutnya ikhlas dalam beramal. Sebab Allah tidak akan menyiakan amalan hamba yang ikhlas. Pasti ada berkah, pasti ada faidah, pasti ada faidah disana.

Tak lupa juga jangan meremehkan doa. Meminta kepada Allah ta’ala akan diberi ke istiqamahan. Dalam Al Qur’an Allah Ta’ala memuji orang-orang yang beriman yang selalu berdo’a kepada-Nya untuk meminta keteguhan iman ketika menghadapi ujian. Allah Ta’ala berfirman,

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ (146) وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (147) فَآَتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (148

Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan: “Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.  Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Ali ‘Imran: 146-148).

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, dan teguhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir” (QS. Al Baqarah: 250)

Do’a lain agar mendapatkan keteguhan dan ketegaran di atas jalan yang lurus adalah,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imron: 8)

Do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

Ummu Salamah pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa do’a tersebut yang sering beliau baca. Apa jawab beliau,

يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” (HR. Tirmidzi, No. 3522)

Demikian khutbah saya, semoga dengan doa dan usaha kita, Allah Ta’ala mengaruniakan kesadaran diri dalam berislam dan beriman serta keistiqomahan dalam melaziminya. Amiin……marilah kita tutup khutbah ini dengan doa,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةَ المَهْدِيِيْنَ؛ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ عَلِيٍّ, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ .اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَهُمْ حَافِظاً وَمُعِيْنًا وَمُسَدِّداً وَمُؤَيِّدًا، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَهُمْ وَلَا تَكُنْ عَلَيْنَا، وَانْصُرْنَا وَلَا تَنْصُرْ عَلَيْنَا، وَامْكُرْ لَنَا وَلَا تُمْكِرْ عَلَيْنَا، وَاهْدِنَا وَيَسِّرْ الهُدَى لَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا. اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا، وَاغْسِلْ حَوْبَتَنَا، وَثَبِّتْ حُجَّتَنَا، وَاهْدِ قُلُوْبَنَا، وَسَدِّدْ أَلْسِنَتَنَا، وَاسْلُلْ سَخِيْمَةَ صُدُوْرِنَا

اَللَّهُمَّ وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ العَمَلَ الَّذِيْ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ. اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ الإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةَ مُهْتَدِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ. اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ: أُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، { وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ } .

share on: