Materi Khutbah Jumat: Jerat Syubhat Valentine day

share on:
Materi Khutbah Jumat Jerat Syubhat Valentine day-istidlal.org

Materi Khutbah Jumat tentang Valentine Day

Jerat Syubhat Valentine Day

Oleh: Mursi | Editor: Musa

 

 

Download materi khutbah Jumat versi PDF klik DI SINI

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

قال تعالى:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا  يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

و قال رسول الله:

اتَّقِ اللهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَ يَرَاهُ .

ثُمَّ أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta Alam, yang telah menganugerahkan kepada kita banyak kenikmatan. Tak ada daya dan upaya kecuali atas kuasa Allah Ta’ala. Tak ada kejadian dan peristiwa kecuali berjalan di atas kehendak-Nya. Tidak ada keinginan dan kehendak-Nya manusia kecuali Allah Ta’ala pasti mengetahui kesudahannya. Kebahagiaan, kesedihan, jodoh, umur telah Allah tetapkan bagi makhluk-Nya. Maka tak ada yang pantas dilakukan oleh makhluk yang lemah kecuali bermohon yang terbaik kepada-Nya.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda besar kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Teruntuk beliau kita bershalawat, karena segala pengorbanan yang telah beliau curahkan untuk kita umatnya. Rasa cinta yang pernah beliau ungkapkan untuk kita umatnya. Risalah kenabian yang telah beliau ajarkan. Wahyu Allah yang telah beliau sampaikan. Untuk kesejahteraan hidup manusia di dunia dan akhirat. Semoga kelak kita mendapat kemuliaan untuk bersua dengan beliau di Jannah Allah Ta’ala yang penuh dengan kenikmatan.

Tak lupa khatib wasiatkan kepada khatib pribadi dan jamaah sekalian untuk tidak henti dan tidak lupa serta tidak lalai dalam meningkatkan ketakwaan dan keimanan kepada Allah Ta’ala. Hal yang paling urgen dan berharga bagi seseorang yang mengaku dirinya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Hal yang mudah diucapkan namun tak semudah dalam pelaksanaannya.

 

Maa’syiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Pada salah satu bulan Masehi, yaitu bulan Pebruari tepatnya. Banyak muda-mudi muslim yang terjerumus dalam hingar bingar perayaan valentine day. Seolah tanpa dosa, dengan bangganya memamerkan keikutsertaan pada acara tersebut kepada orang lain. Bahkan lebih ironis lagi, dianggap sebagai suatu keharusan, sehingga tak lengkap hidup jika tidak melakukannya. Kemaksiatan yang menjadi kebiasaan, hingga akhirnya menjadi sesuatu yang dimaklumi. Nauzbilllah min Dzalik.

Tidak kah mereka ingat peringatan dari Allah Ta’ala.  Dalam firmanNya Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan kita,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr: 18)

Secara tekstual ayat ini memberikan petunjuk kepada kita, bahwa Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya akan kehidupan yang pasti ada setelah kematiannya. Kehidupan yang banyak orang lalai darinya, termakan bujuk rayu nafsu duniawi dan terjerumus dalam kesesatan berpikir para penghamba dunia, baik sadar atau pun tidak.

Mari sejenak kita simak renungan Syaikh As-Sa’di terkait untaian ayat ini. Ayat ini menegaskan agar kita umat Islam senantiasa menjaga segala batasan-batasan Allah dan Rasul-Nya. Introspeksi apa yang sudah diperbuat dan apa yang wajib dilakukan. Kemudian melihat seberapa kadar amalan-amalan yang bermanfaat di akhirat yang telah dilakukan.

Mari jadikan akhirat seakan di depan mata kita, dan selalu dekat di hati kita. Maka akan bangkit ghirah dan semangat untuk memperbanyak amalan-amalan penghubung ke akhirat, dan membersihkannya dari berbagai macam penghalang serta rintangan dalam menapakinya.

Ayat ini adalah pokok yang mendasari kewajiban muhasabah diri seorang hamba. Dan seyogianya tiap muslim mengusahakannya dan jangan sampai hilang. Di saat merasa diri dalam ketergelinciran, segera bertaubat dan menjauhi serta segala faktor yang menjadi sarana terjadinya ketergelinciran tersebut. Maka menjadi haram hukumnya melalaikan perintah Allah Ta’ala dalam ayat ini. Sehingga menyerupai mereka yang melalaikan Allah Ta’ala dan tidak mengindahkan kewajibannya kepada Allah Ta’ala. Lebih mengedepankan hawa nafsu dan syahwatnya.

Ibnu Abbas menafsirkan ayat ini dengan ungkapannya,

{وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ} كُلُّ نَفْسٍ بِرَّةٍ أَوْ فَاجِرَةٍ

Perintah ini tertuju kepada orang yang baik maupun yang fajir. Artinya perintah muhasabah itu berlaku bagi siapa saja yang mengaku dirinya beribadah kepada Allah Ta’ala dan mengakui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Allah Ta’ala.

{مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ} مَا عَمِلَتْ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَإِنَّمَا تَجِدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا عَمِلَتْ فِي الدُّنْيَا إِن كَانَ خَيْرًا فَخَيْرٌ وَإِنْ كَانَ شَرَّا فَشَرٌّ

Apa yang telah dipersiapkan untuk hari esok. Maksudnya apa yang telah diperbuat dan diamalkan untuk hari kiamat, maka yang didapati adalah balasan dari amalan selama di dunia. Jika baik, maka baik juga hasil yang didapatkan. Dan demikian juga sebaliknya.

 

Maa’syiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Dari penafsiran para ulama ahli tafsir tersebut, setidaknya ada beberapa poin penting dalam ayat ini yang dapat kita ambil, pertama dalam memaknai lafal takwa. Coba kita perhatikan makna takwa lewat penuturan Ali bin Abi Thalib,

اَلتَّقْوَى هِيَ الْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ، وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ، وَالْقَنَاعَةُ بِالْقَلِيْلِ، وَالْإِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ

“Takwa adalah, takut kepada Allah Ta’ala Al-Jalil, mengamalkan al-Quran at-Tanzil, Qanaah dengan yang sedikit dan bersiap untuk menyambut hari akhir.”

Coba perhatikan, dari sisi mana ketakwaan itu akan tercapai dengan perayaan valentine day? Ketakukan kepada Allah yang bagaimana didapatkan dari perayaan valentine day? Pengamalan al-Quran bagian mana valentine day itu boleh dan sesuai syariat sehingga layak dan harus dirayakan? Sifat Qanaah mana yang didapatkan dari valentine day? Dan terakhir bekal akhirat apa yang bisa disiapkan dengan perayaan valetine day? Dan seabrek pertanyaan lainnya yang patut untuk direnungkan. Hal mana bisa jadi tidak pernah terpikirkan oleh mereka yang merayakan valentine day.

Barangkali ada yang beralasan, dalam Islam dianjurkan untuk saling memberi hadiah. Memang tidak dipungkiri dalam Islam ada ajuran untuk saling memberi hadiah. Tapi apakah pernah ada perinta memberikan hadiah khusus di hari valentine day? Adakah perintah dalam al-Quran dan Sunah memberi hadiah kepada pacar, sembari mengungkapkan rasa cinta dan sayang yang sebenarnya kata pemanis untuk hawa nafsu dan syahwat yang dihembuskan oleh setan lewat hati manusia. Yang ada bukanlah ketakwaan dan keutamaan memberi hadiah yang didapatkan. Tapi dosa kemaksiatan berzina yang didapatkan. Telah jelas kiranya firman Allah Ta’ala yang berbunyi,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32).

Perlu kita ingat baik-baik bahwa setan ketika menjerumuskan manusia dalam kemaksiatan, tidak dilakukan secara langsung. Terkadang dibumbui dengan berbagai godaan, rayuan dan tipu daya, sehingga secara tidak sadar manusia dapat terjerumus dalam dosa. Bahkan yang lebih mengerikan lagi, jika ada seorang muslim bermaksiat dan dirinya merasa sedang melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala.

وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168).

Imam al-Qurtubi memaknai ayat ini dengan “Janganlah kalian ikuti jejak-jejak setan dan amalannya, sementara apapun yang tidak ada landasan syar’i nya berarti penisbatannya kembali kepada setan.” Kebanggaan dan ketakwaan manakah yang didapat dari mengikuti langkah-langkah setan?

Poin berikutnya adalah makna hari esok, makna yang dimaksud di sini adalah di akhirat. Mayoritas kita lebih terpacu untuk mengejar masa depan di dunia, dari pada di akhirat. Padahal masa depan akhirat itu lebih nyata, pasti dan tidak diragukan lagi. Kecuali memang bagi orang yang tidak beriman. Pilihan kita di akhirat hanya ada dua; yaitu Jannah atau nar. Jika tidak masuk ke dalam Jannah berarti nar tempat kembalinya. Jika bukan nar maka Jannah tempat kembalinya.

Tak sedikit yang menjadikan pacaran sebagai solusi untuk mendapatkan jodoh yang pas dan cocok. Dan valentine day dianggap sebagai momen yang tepat untuk memulainya, atau bahkan merawat hubungan pacaran yang ada. Pemikiran seperti ini tidak akan lahir kecuali dari mereka yang belum yakin atau paham tentang syariat Islam. Baik dalam hal mencari jodoh yang berkaitan erat dengan hal ghaib yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Atau larangan Allah Ta’ala untuk menghindari zina yang disertai juga dengan solusi-solusinya.

Di sisi lain kecintaan seorang muslim hanyalah teruntuk Allah Ta’ala. Dengan kecintaan kepada-Nya maka kenikmatan iman dapat dirasakan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan hal tersebut dalam sabdanya,

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

Dari Anas, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.

 

Maa’syiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Bukankah ajaran Islam itu berdasar pada al-Quran dan sunah. Dan pastinya, amalan seorang muslim tidak boleh menyelisihi kedua sumber pokok Islam tersebut. Oleh sebab itu, mari sejenak kita telisik lebih jauh sejarah valentine day, maka akan kita dapati bahwa valentine day tidak ada dasarnya dalam Islam.

Karena tidak ada dasarnya dalam Islam, maka untuk melihat sejarah valentine day, kita kembalikan pada buku-buku dari barat. Dalam buku The World Book Encyclopedia volume ke-20 cetakan ke-1993 melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day.

Ada yang menyebutkan bahwa valentine’s day berawal dari perayaan Lupercalia yang merupakan rangkaian upacara penyucian di masa Romawi Kuno yang dilakukan pada tiap tanggal 13-18 Februari. Dua hari pertama dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari itu, para pemuda dan pemudi saling mencari pasangan dengan undian. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala.

Disebutkan juga dalam buku The Encyclopedia Britannica, volume 12 pada sub judul: Christianity. Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Constantine dan Paus Gregory I, hari tersebut menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang mati pada 14 Februari.

Kemudian dalam buku The Catholic Encyclopedia Volume 17 pada sub judul St. Valentine. Disebutkan di sana ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan telah mati pada masa Romawi. Namun demikian, tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Versi pertama, Kaisar Claudius II menangkap St. Valentine, karena menyatakan tuhannya adalah Isa al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St. Valentine menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II melarang para pemuda untuk menikah agar lebih tabah dan kuat dalam pertempuran. Tetapi St. Valentine diam-diam menikahkan banyak pemuda, sehingga ia dihukum gantung pada 14 Februari 269 M.

Coba kita perhatikan beberapa sumber yang menjelaskan tentang sejarah valentine day tersebut. Di satu sisi tidak ada kejelasan pasti mana asal muasal yang dapat dipertanggung jawabkan. Dan di sisi lain tidak ada sama sekali kaitannya dengan ajaran Islam. Sama sekali tidak ada hikmah dan motivasi ketakwaan, keimanan dan keislaman bagi seorang muslim. Maka apakah pantas bagi kita untuk merayakannya? Apakah layak bagi kita untuk membanggakannya? Apakah rela keislaman kita menjadi cela karenanya?

Akankah kita latah mengikuti kebiasaan kaum yang dimurkai oleh Allah Ta’ala, sementara dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita,

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كاَنَ قَبْلَكُمْ شِبْراً بِشِبْرٍ وذِرَاعاً بِذِرَاعٍ, حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. قُلْنَا: يَارَسُوْلَ اللهِ, الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى ؟ قَالَ: فَمَنْ» ؟ . رواه البخاري

Dari Abu Sa’id (al-Khudhri) bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh kalian akan mengikuti sunnah (cara/metode) orang-orang sebelum kamu, sejengkal-demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga andaikata mereka menelusuri lubang masuk ‘Dlobb’ (binatang khusus padang sahara, sejenis biawak-red), niscaya kalian akan menelusurinya pula”. Kami (para shahabat) berkata: “Wahai Rasulullah! (mereka itu) orang-orang Yahudi dan Nashrani?”. Beliau bersabda: “Siapa lagi (kalau bukan mereka-red)”. (HR. Al-Bukhari)

 

Maa’syiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Adakah ayat dan hadits yang menyebutkan perintah untuk merayakannya? Adakah tercatat dalam sejarah Islam perayaan valentine day? Adakah tercatat dalam sejarah Islam para ulama membolehkannya? Kalau tidak ada lantas dari mana asalnya? Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dari kesesatan nafsu dan oleh pikir kita. Amin Ya rabbal Alaamin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمِّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛ عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

 

Maa’syiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Pada khutbah yang kedua ini mari renungi sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, Al-Libas, 3512. Al-Albany berkata dalam Shahih Abu Dawud, Hasan Shahih no. 3401).

Hadits ini dengan jelas menunjukkan larangan bagi seorang muslim untuk latah, ikut-ikutan melakukan hal yang biasa dilakukan oleh satu kaum. Apalagi jika kebiasan itu jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Memang tidak semua hal yang dilakukan oleh umat non-muslim tidak boleh ditiru oleh umat Islam. Tapi jika valentine day yang dibicarakan, maka bukan persoalan yang perlu ditanyakan lagi akan kesesatannya.

Dalam menyerupai ahli kitab dan lainnya dalam masalah dunia tidak dibolehkan kecuali dengan syarat, sebagaimana dijelaskan oleh Suhail Hasan dalam bukunya As-Sunan Wal Atsar Fin Nahyi An At-Tasyabbuh Bil Kuffar, di antara syarat-syarat tersebut adalah:

  1. Hendaknya hal ini bukan termasuk kebiasan dan syiar yang membedakan mereka (dengan lainnya)
  2. Hal itu bukan termasuk dari ajaran mereka yang ditetapkan dengan data yang valid. Seperti apa yang telah diberitakan Allah kepada kita dalam kitab-Nya atau lewat lisan Rasul-Nya atau dengan menukil secara mutawatir seperti sujud penghormatan yang dibolehkan pada umat terdahulu.
  3. Tidak ada dalam agama kita penjelasan khusus akan hal itu. kalau ada penjelasan khusus dengan penyamaan atau perbedaan. Maka cukup hal itu dari penjelasan yang ada di agama kita.
  4. Penyerupaan atau perbedaan ini tidak menjurus ke masalah syariat.
  5. Penyerupaan tidak pada perayaan mereka.
  6. Penyerupaan sesuai dengan keperluan yang diinginkan dan menambahinya.

 

Maa’syiral Muslimin Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Terlalu banyak persoalan syariat yang dilanggar dalam perayaan valentine day. Bukan hanya dalam tataran prakteknya, bahkan dari sudut pandang keyakinan, ia kental dengan ajaran Nasrani yang diadopsi dari ajaran lain yang bukan Islam. Maka tak sepantasnya kita sebagai umat Islam ikut-ikutan merayakannya. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita, keluarga kita dan umat ini dari kesesatan bertindak dan berpikir. Amin…. Marilah kita tutup dengan doa,

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ.  وَارْضَ عَن الخُلَفَاءِ الأرْبَعَة أبُو بَكْر وَ عُمَر وَ عُثمَانَ وَ عَلِي وَ عَنْ التَّابِعِيْن وَ تاَبِعِ التَّابِعِيْن وَمَنْ تَبِعَهُم بِإحْسَانٍ إلَى يَوْمِ الدَّيْنِ وَ ارْحَمْنَا مَعَهُمْ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَات .

رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ وَلإخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْناَ بِالإيْماَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِناَ غِلا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّناَ إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ.

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةً‌ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ

 رَبنَّاَ ظَلَمْناَ أنْفُسَناَ وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَناَ وَتَرْحَمْناَ لَنَكُوْنَنَّ مِنْ الخَاسِرِيْنَ.

 اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةً۬ وَفِى ٱلۡأَخِرَةِ حَسَنَةً۬ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

 عِباَدَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَـٰنِ وَإِيتَآىِٕ ذِى ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنڪَرِ وَٱلۡبَغۡىِ‌ۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّڪُمۡ تَذَكَّرُونَ

 اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْألُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلِذِكْر اللهِ أكْبَر، وَالله ُيَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ، أقِيْمُوْا الصَّلاَة

 

Download materi khutbah Jumat versi PDF klik DI SINI

 

share on: