Khutbah Jumat: Taati Syariat-Nya, Raih penjagaan-Nya

share on:

Materi Khutbah Jumat tentang Syariat

 

Taati Syariat-Nya, Raih penjagaan-Nya

 

Pemateri: Mursi | Editor: Musa

 

Download materi khutbah Jumat versi PDF klik DI SINI

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

قال تعالى:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

وقال رسول الله:

اتَّقِ اللهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

وقال أيضا:

اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَ يَرَاهُ

ثُمَّ أَمَّا بَعْدُ:

Maa’syiral Muslimin Jama’ah Jumat Rahimakumullah,

Alhamdulillah segala puji bagi Allah Ta’ala Rabb semesta alam, dengan rahmat dan nikmatNya kita bisa hadir di masjid ini. Sebagai tandai syukur kita makhluk yang lemah dan selalu membutuhkan kepadaNya. Dial ah Allah, pengatur jagad raya, Maha atas segala yang tampak dan ghaib, Maha adil dalam taqdir yang ditetapkanNya, Maha Kuasa membolak-balik kondisi hambaNya, Maha Rahman dan Rahim kepada makhukNya.

Tak ada satupun kejadian alam yang berlaku kecuali atas kehendakNya. Malam berganti siang, dingin berganti panas, sejuk berganti gerah, tenang berganti kacau dan banyak hal lainnya yang kita dapati di alam sekitar. Tak terkecuali bergolaknya hati makhluk dari benci menjadi cinta, dari bermusuhan menjadi bersahabat, dari marah menjadi belas kasih, dari ragu menjadi yakin, dan ataupun sebaliknya.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan besar kita, Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam. Yang telah mewariskan kepada kita segenap ilmu sebagai bekal menghadapi hidup, menyikapi ketetapan Allah dalam hidup. Sehingga benar dalam mengambil langkah dan menyikapinya. Semoga tercurah juga kepada para shahabat, keluarga beliau dan mereka yang senantiasa berpegang teguh pada ajaran Allah dan RasulNya hingga akhir zaman nanti.

Tak lupa khatib wasiatkan kepada khatib pribadi dan jamaah sekalian untuk tidak berhenti dan tidak lupa serta tidak lalai dalam meningkatkan ketakwaan dan keimanan kepada Allah Ta’ala. Hal yang paling urgen dan berharga bagi seseorang yang mengaku dirinya beriman kepada Allah dan RasulNya.

Maa’syiral Muslimin Jama’ah Jumat Rahimakumullah,

Pergantian tahun baik masehi atau pun hijriah, mau tidak mau, suka tidak suka harus kita jalani dan kita lewati. Bergulirnya masa menandakan pertambahan usia dan berkurangnya jatah hidup. Merupakan suatu aksioma bahwa yang hidup pasti akan mati dan masa lampau tidak bisa kembali. Tersisa memori dalam benak yang terkadang teringat dan terekam, dan tak jarang bahkan terlupakan.

Bergulirnya masa tak terpisahkan dari memori yang terkenang. Di antara sekian memori yang ada, terdapat musibah dan bencana yang acapkali menimpa tanpa disadari sebelumnya. Rasa duka menyelimuti lantaran kehilangan harta, pekerjaan atau bahkan keluarga yang dicintai.

Persoalannya adalah, kesadaran terhadap aksioma itu sudahkah memicu alam bawah sadar kita untuk muhasabah diri, dan terus bermuhasabah diri. Sehingga mampu mewarnai gaya hidup, pola tindak dan tutur kata kita. Untuk menjadi lebih baik dan sempurna dari sebelumnya.

Musibah yang terjadi Lombok, Palu, Banten, dan lainnya, tak lain dan tak bukan adalah salah satu dari sekian banyak ayat Allah Ta’ala. Sebagai peringatan bagi umat manusia, agar mereka kembali kepada Allah Ta’ala. Dengan merenungi, menyadari dan mengubah diri, keluarga, masyarakat dan negara yang tak lepas dari kemaksiatan kepadaNya.

Musibah ataupun bencana itu adalah ayat dari Allah. Ibarat lampu merah di perempatan jalan, yang menjadi tanda atau ayat bagi pengendara, agar lebih waspada dan teratur dalam berkendara. Selain demi keselamatan diri, keselamatan orang lain pun juga diperhatikan. Demikian juga hal nya dengan ayat-ayat kauniyah Allah Ta’ala yang berupa musibah. Seyogyanya dan bahkan seharusnya menjadi peringatan bagi mereka agar semakin mendekat kepada Allah Ta’ala.

Bagaimana tidak? sebab hanya Allah tempat untuk kembali, tempat untuk mengadu dan meminta pertolongan. Barang kali ada yang pernah mendengar tentang laporan dari BMKG, bahwa di Jawa Tengah ada beberapa tempat yang berpotensi terjadi likuifaksi. Bisa jadi tempat kita tidak termasuk dalam wilayah tersebut. Tapi apakah kemudian kita merasa aman dari bencana atau musibah yang diturunkan oleh Allah Ta’la. Tentunya tidak, sebab tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali mereka adalah orang-orang yang merugi, Allah Ta’ala berfirman,

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99)

Syaikh as-Sa’di menjelaskan bahwa sesiapa yang merasa aman dari azab Allah berarti dia tidak meyakini adanya balasan atas amal yang dilakukan, dan belum mengimani para Rasul dengan keimanan yang sebenarnya. Ayat ini mengandung makna menumbuhkan rasa takut yang sempurna. Tidak lah beriman seseorang kecuali dia pasti merasa khawatir dan takut lantaran keimanan dalam dirinya menuntut hal tersebut.

Bukan hal yang mustahil jikalau Allah akan menimpakan musibah tersebut kepada seorang hamba. Kalaulah ada penelitian yang memprediksikan suatu musibah atau bencana. Itu adalah hasil oleh pikir manusia. Sementara takdir dan berjalannya alam semesta itu atas kehendak Allah semata. Maka sudah seharusnya seorang hamba senantiasa meminta perlindungan dan penjagaan kepada Allah Ta’ala.

Maa’syiral Muslimin Jama’ah Jumat Rahimakumullah,

Manusia adalah makhluk yang lemah dan selalu membutuhkan penjagaan dan pertolongan dari Allah Ta’ala. Bukankah Allah Ta’ala pernah berfirman,

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisa: 28)

Bagaimana tidak lemah? Coba kita renungi sejenak dan bandingkan, ketika seekor anak sapi dilahirkan, tidak perlu menunggu waktu lama anak sapi tersebut dapat berjalan dan menghampiri induknya. Perhatikan juga seekor anak ayam, disaat telur menetas, dia akan keluar dari cangkangnya. Dan saat itu juga dia dapat berjalan kesana kemari mengikuti induknya.

Sekarang bagaimana dengan manusia, pada saat dilahirkan, tak lain dari hal yang dapat dilakukan adalah menangis. Jangankan mencari makan, hanya sekedar berjalan mengambil apa yang diinginkan saja dia tidak bisa. Sering juga kita dapati, seseorang yang tubuhnya kekar, badannya kuat, terlihat lemah dan tak berdaya disaat giginya sakit. Maka sangatlah layak jika seorang hamba memohon perlindungan dan penjagaan dari Allah Ta’ala.

Terlebih lagi dikaitkan dengan banyaknya bencana dan musibah yang kita dapati saat ini. entah itu musibah banjir, tsunami, gempa bumi, tanah longsor dan semisalnya. Marilah selalu meminta perlindungan kepadaNya, penjagaan dariNya. Sebab hanya Allah lah dzat Maha Agung yang layak kita mintai pertolongan.

Maa’syiral Muslimin Jama’ah Jumat Rahimakumullah,

Oleh karena itu, sangatlah tepat nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sepupunya Abdullah Ibnu Abbas, yang saat itu ia berusia antara 13-15 tahun. Nasihat beliau tersebut termaktub dalam sebuah hadits,

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً، فَقَالَ: يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ  يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ  [رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح وفي رواية غير الترمذي: احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي   الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً].

Dari Abu Al‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata: Pada suatu hari saya pernah berada di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu. Sekiranya mereka pun berkumpul untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.

(HR. Tirmidzi, No: 2516. Ia berkata: Hadits ini hasan, pada lafal lain hasan shahih. Dalam riwayat selain Tirmidzi: “Hendaklah kamu selalu mengingat Allah, pasti kamu mendapati-Nya di hadapanmu. Hendaklah kamu mengingat Allah di waktu lapang (senang), niscaya Allah akan mengingat kamu di waktu sempit (susah). Ketahuilah bahwa apa yang semestinya tidak menimpa kamu, tidak akan menimpamu, dan apa yang semestinya menimpamu tidak akan terhindar darimu. Ketahuilah sesungguhnya kemenangan menyertai kesabaran dan sesungguhnya kesenangan menyertai kesusahan dan kesulitan”).

Maa’syiral Muslimin Jama’ah Jumat Rahimakumullah,

Dalam hadits ini Rasulullah memberikan nasihat yang sangat mengena dan agung kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu. Nasihat pertama yang beliau ajarkan adalah “Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu”. Makna menjaga sebagaimana yang diungkapkan oleh Syaikh al-Yusri, berarti melindungi dan merawat objek yang dijaga agar tidak rusak dan tidak hilang.

Jika menjaga Allah dimaknai dengan menjaga zat Allah, maka itu adalah hal yang mustahil dan tidak rasional. Bagaimana tidak, sebab zat Allah adalah wajibul wujud, yang sudah ada sejak dulu, sekarang ada dan akan terus ada. Sementara manusia zatnya adalah mumkinul wujud, yang dulu dari tidak ada menjadi ada, dan nantinya akan menjadi tidak ada. Maka suatu hal yang tidak masuk akal jika mumkinul wujud menjaga yang wajibul wujud.

Maka menjaga Allah maknanya adalah sebagaimana penuturan Syaikh Al-Utsaimin, “Yaitu dengan menjaga syariat dan agamanya, menjalankan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya. Termasuk juga dengan mempelajari agama dan syariat tersebut, yang dengannya ibadah serta muamalah kita dapat berjalan dengan baik. Dan terakhir adalah dengan mendakwahkannya kepada yang lain dengan niatan lillahi Ta’ala.”

Penjagaan kita terhadap syariat islam, sebagaimana sabda Rasul ini, berlaku pada diri dan orang lain. Bentuk penjagaan yang pertama adalah dengan menjaga tauhid dan keimanan kita kepada Allah Ta’ala. Dengan diawali memahami esensi dari kalimat tauhid tersebut. Bahwasanya tidak ada illah yang berhak diibadahi dengan sebenar peribadatan kecuali Allah Ta’ala. Mengesakan Allah dalam segala lini kehidupan kita. Bertauhid dalam beribadah, bertauhid dalam berkeluarga, bertauhid dalam bermumalah, bertauhid dalam dalam bermasyarakat dan bertauhid dalam bernegara.

Bentuk penjagaan syariat Allah lainnya adalah dengan menjaga ibadah-ibadah kita. Seperti shalat, puasa, zakat dan ibadah yang lainnya. Sudahkah kita menghadirkan Allah dalam setiap ibadah yang dilakukan, sudahkah kita merasakan kehadiran Allah dalam setiap ibadah kita. Dan sudahkah ibadah-ibadah yang kita lakukan mewarnai pola tingkah laku dan tutur kita. Sehingga mencerminkan pribadi yang bertauhid dan bersyariat Islam.

Bentuk penjagaan syariat Allah tidak terhenti pada persoalan hati berupa keimanan dan atau persoalan jasmani berupa ibadah mahdhah. Sudahkah rezeki yang kita cari itu bersih dari pelbagai hal syubhat dan yang diharamkan Dari riba, judi, korupsi dan seabrek perkara yang menjadikannya diharamkan dalam syariat. Sudahkah amanah pekerjaan yang diberikan terpenuhi sebagaimana mestinya, sehingga tidak makan gaji buta. Berangkat kerja pagi memburu presensi sidik jari, setelah itu pergi entah kemana, dan kembali di siang hari.

Bentuk penjagaan syariat dan agama juga masuk dalam ranah perpolitikan. Sudahkah syariat itu menjadi satu-satunya pijakan dalam mengatur negara? Dalam mengatur rakyat. Dalam mengatur kebijakan negara. Dalam mengatur ketetapan-ketetapan hukum dan sebagainya. Maka jagalah Allah, Allah akan menjagamu.

Maa’syiral Muslimin Jama’ah Jumat Rahimakumullah,

Jika Allah sudah kita jaga, maka janji Allah pasti akan ditepati. Allah akan menjaga kita. Penjagaan Allah meliputi penjagaanNya terhadap diri kita, keluarga kita, harta kita dan paling penting adalah menjaga dien kita.

Salah satu contohnya adalah sebagaimana yang termaktub dalam kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa.

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS. Al-Kahfi: 82)

Bermula dari kedatangan Nabi Khidir dan Nabi Musa yang mendapat sambutan kurang menyenangkan dari penduduk desa. Lantas Nabi Khidir melakukan satu hal yang menurut Nabi Musa tidak layak untuk dilakukan, sebagai efek dari perlakukan penduduk desa yang tidak mengenakkan. Nabi Khidir menjelaskan bahwa yang dia lakukan dengan membangun kembali dinding rumah yang roboh, adalah perintah Allah Ta’ala untuk menjaga harta anak yatim yang tersimpan di bawahnya. Sebagai balasan atas kesalihan orang tuanya. Dan orang tua yang dimaksud adalah generasi kakek yang ke 7 dari kedua anak yatim tersebut.

Penjagaan Allah terhadap sesiapa yang menjaganya bisa jadi berupa sesuatu yang tidak disuka di mata manusia. Seperti halnya kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa pada seorang anak kecil yang sedang bermain. Nabi Khidir membunuh seorang anak kecil tanpa alasan yang dapat diterima oleh Nabi Musa. Namun ternyata setelah dijelaskan, anak tersebut saat dewasa nanti menjadi anak durhaka yang dapat menyebabkan kedua orang tuanya menjadi kufur kepada Allah Ta’ala.

وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا # فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا #

“Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran # Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).” (QS. Al-Kahfi: 80-81)

Maa’syiral Muslimin Jama’ah Jumat Rahimakumullah,

Nasihat yang selanjutnya adalah, Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Maksudnya di hadapanmu adalah sebagaimana imam yang menunjuki dan mengarahkan gerakan dalam shalat. Artinya Allah akan berada di hadapanmu berarti Allah akan menunjukan kepadamu jalan yang tepat dan benar dalam melalui berbagai macam persoalan hidup. Baik jalan kehidupan di dunia maupun ke akhirat. Nasihat ini semakna dengan firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa ayat ini juga berlaku pada segala macam ketaatan kepada Allah Ta’ala. Artinya bersabar dalam bermujahadah dalam ketaatan. Ibnu Abbas menjelaskan, yaitu orang-orang yang mengamalkan ilmunya, maka Allah Ta’ala akan memberinya karunia berupa ilmu yang belum diketahuinya. Kemudian Allah Ta’ala melanjutkan dengan lafal “Benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami”, maksudnya adalah akan kami terangi dan arahkan kepadanya menuju jalan yang kami ridhai di dunia dan akhirat.

Nasihat selanjutnya adalah “Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu. Sekiranya mereka pun berkumpul untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”

Lafal hadits ini menjelaskan agar seorang muslim meyakini, mengimani segala keputusan dan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Apa yang buruk di mata manusia, belum tentu buruk di mata Allah. Apa yang baik di mata manusia belum tentu baik di mata Allah. Semua itu hanya perbedaan dalam sudut pandang. Dan hakikatnya Allah yang Maha Tahu. Ketika dokter memutuskan kaki seorang atlit sepak bola harus diamputasi. Bagi pribadi atlet mungkin sesuatu yang merugikan baginya, dengan kehilangan satu kaki, dia pun kehilangan pekerjaannya. Tapi bagi dokter itu adalah keputusan terbaik, karena jika tidak diamputasi kanker yang berada di kaki bisa menjalar ke seluruh anggota tubuh dan membahayakan nyawanya.

Dan akhirnya mari bersama kita merenungi nasihat Rasul tersebut. Kita makhluk yang lemah, kita makhluk yang fakir kepada Allah. Tidak ada penjagaan yang sempurna kecuali penjagaan dari Allah Ta’ala semata. Semoga Allah Ta’ala memampukan kita untuk menjaga agama dan syariatNya. Dengan penuh harap penjagaan Allah terhadap diri, harta, keluarga dan negara kita.

بارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِي اللهُ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، وَأَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

 

KHUTBAH KEDUA:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى حق تقاته وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَ يَرَاهُ

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةَ المَهْدِيِيْنَ؛ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ عَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ .اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَهُمْ حَافِظاً وَمُعِيْنًا وَمُسَدِّداً وَمُؤَيِّدًا، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَهُمْ وَلَا تَكُنْ عَلَيْنَا، وَانْصُرْنَا وَلَا تَنْصُرْ عَلَيْنَا، وَامْكُرْ لَنَا وَلَا تُمْكِرْ عَلَيْنَا، وَاهْدِنَا وَيَسِّرْ الهُدَى لَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا. اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا، وَاغْسِلْ حَوْبَتَنَا، وَثَبِّتْ حُجَّتَنَا، وَاهْدِ قُلُوْبَنَا، وَسَدِّدْ أَلْسِنَتَنَا، وَاسْلُلْ سَخِيْمَةَ صُدُوْرِنَا

اَللَّهُمَّ وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ العَمَلَ الَّذِيْ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ. اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ الإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةَ مُهْتَدِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ. اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ: أُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، {وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ}

 

 

Download materi khutbah Jumat versi PDF klik DI SINI
share on: