Kisah Bani Israel #1: Saat Berhala Terlihat Indah

share on:
Kisah Bani Israel #1 Saat Berhala Terlihat Indah-istidlal.org

Ada dua babak perjalanan dakwah dan jihad Nabi Musa ‘alaihissalam, dalam perjalanan pertama lawan dakwah dan jihad Musa ‘alaihissalam adalah Firaun, Haman dan Qarun, sementara perjalanan kedua setelah runtuhnya Thaghut Firaun dan sekutunya, beliau ‘alaihissalam harus menghadapi tantangan dari kaumnya sendiri yakni Bani Israel, potret manusia yang meski jasadnya sudah dimerdekakan dari jajahan tiran Firaun namun akal fikirannya masih belum bisa merdeka dari jajahan tiran hawa nafsunya, sehingga hal ini menjadi kerumitan tersendiri yang dihadapi Musa dan Harun ‘alaihimassalaam dalam upaya menegakkan Syariat Allah ‘azza wajalla.

Musa ‘alaihissalam bertolak bersama kaumnya yang Allah selamatkan dari kejaran Firaun menuju Sinai, dan ini adalah pembukaan dari rentetan kisah masuknya mereka ke tanah suci (Baitul Maqdis).

Al-Quranul kariim menceritakan sebagian kisah unik yang terjadi pada Bani Israel di Sinai, dan beberapa bukti kebesaran Allah yang diperlihatkan kepada mereka di sana, lalu bagaimana cara mereka berperilaku kepada Nabinya Musa ‘alaihissalam dan bagaimana mereka menyakitinya, dan Al-Quran juga menyingkap hakekat kerumitan jiwa Yahudi dan sukarnya dalam menerima tarbiyah, perbaikan, dan mengambil pelajaran. Berikut beberapa isyarat al-Quran tentang tema tersebut secara berseri, semoga dapat diambil pelajannya dalam kehidupan nyata sekarang.

 

Bani Israel Meminta Berhala Kepada Musa Setelah Datangnya Hujjah

Meski Bani Israel sudah diselamatkan oleh Allah dan mampu menyeberangi laut merah, mereka melihat dengan mata kepalanya bagaimana Qudrah Allah, kekuatan dan keperkasaan-Nya dalam menyelamatkannya dari kejaran Firaun dan melihat bagaimana Allah membelah lautan untuknya, namun setelah itu mereka justru meminta permintaan yang aneh, meminta kepada Musa untuk berbuat syirik kepada Allah dengan beribadah kepada Alihah berhala.

Baca juga: Merdeka dari Penjajahan Ideologi Syirik

Allah Ta’ala berfirman:

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ (138) إِنَّ هَؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَا هُمْ فِيهِ وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (139)

Dan aku selamatkan Bani Israel dengan menyeberangi lautan, lalu mereka mendapatkan orang-orang yang beribadah kepada berhalanya, mereka berkata, hai Musa! buatkan untuk kami Alihah sebaiamana mereka punya Alihah, Musa berkata: Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang bodoh (138) Sesungguhnya mereka akan dihancurkan oleh keyakinan yang dianutnya, dan amat batil apa yang mereka perbuat (139).” (QS. Al-A’raf: 138-139)

Seorang mukmin tentu merasa heran dan aneh dengan permintaan Yahudi yang rendah ini: “Hai Musa kami ingin darimu berhala yang kami ibadahi sebagaimana mereka punya berhala yang mereka ibadahi! tampaknya permintaan mereka ini didorong oleh kegandrungan mereka untuk bertaklid kepada kelompok lain, ini membuktikan mereka belum bisa merdeka dari kerendahan jiwa dan kehinaannya yang terjajah seperti yang mereka dapatkan dari Firaun.”

Berikut kutipan dari beberapa ahli tafsir tentang cerita di atas:

قال أبو جعفر: يقول تعالى ذكره: وقطعنا ببني إسرائيل البحر بعد الآيات التي أريناهموها، والعبر التي عاينوها على يدي نبيّ الله موسى، فلم تزجرهم تلك الآيات، ولم تعظهم تلك العبر والبينات! حتى قالوا = مع معاينتهم من الحجج ما يحق أن يذكُرَ معها البهائم، إذ مرُّوا على قوم يعكفون على أصنام لهم، يقول: يقومون على مُثُل لهم يعبدونها من دون الله (1) – “اجعل لنا” يا موسى “إلهًا”، يقول: مثالا نعبده وصنما نتخذُه إلهًا، كما لهؤلاء القوم أصنامٌ يعبدونها. ولا تنبغي العبادة لشيء سوى الله الواحد القهار. وقال موسى صلوات الله عليه: إنكم أيها القوم قوم تجهلون عظمة الله وواجبَ حقه عليكم، ولا تعلمون أنه لا تجوز العبادة لشيء سوى الله الذي له ملك السموات والأرض.

Abu Ja’far Ibnu Jarir At-Thabari berkata, “Allah berfirman dalam ayat ini, -yang maksudnya- Aku telah seberangkan Bani Israel dari lautan setelah ayat-ayat (bukti kebenaran) yang Aku perlihatkan kepada mereka, dan ibrah yang mereka saksikan dengan mata kepalanya di tangan Nabiyullah Musa ‘alaihissalam, ternyata ayat-ayat tersebut tidak berdampak jera pada diri Bani Israel, ibrah tersebut juga tidak bisa mereka ambil pelajarannya, bahkan mereka mengeluarkan kata—padahal mereka telah menyaksikan hujjah—yang  hanya pantas disebut bersama binatang ternak, yakni ketika mereka melewati kaum yang beribadah kepada patungnya, mereka berkata buatkan untuk kami wahai Musa! berhala yang kami jadikan sebagai ilah sebagaimana mereka punya berhala yang mereka ibadahi, -tidak pantas ibadah kepada sesuatu apapun kecuali hanya kepada Allah Dzat Yang Maha Satu dan Maha Digdaya.” (Tafsir At-Thabari, 13/80)

{قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا} أي: مثالا نعبده {كَمَا لَهُمْ آلِهَة} ولم يكن ذلك شكا من بني إسرائيل في وحدانية الله، وإنما معناه: اجعل لنا شيئا نعظمه ونتقرب بتعظيمه إلى الله عز وجل وظنوا أن ذلك لا يضر الديانة وكان ذلك لشدة جهلهم. {قَالَ} موسى {إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ} عظمة الله.

Al-Baghawi berkata, “Allah berfirman, ‘(Bani Israel berkata, “Wahai Musa buatkan untuk kami ilah”) maksudnya: berhala yang kami ibadahi, (sebagaimana mereka punya ilah-ilah), kata Al-baghawi, hal itu terjadi bukan karena keraguan yang ada pada diri Bani Israel terhadap wahdaniyah Allah, akan tetapi maksudnya, buatkan untuk kami sesuatu yang kami agungkan dan kami bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan cara mengagungkannya, mereka mengira bahwa hal itu tidak berbahaya untuk din karena sangat bodohnya, (berkata) Musa, (Sesungguhnya kalian adalah orang-orang bodoh) dengan keagungan Allah. (Tafsir al-Baghawi, 3/274)

قال القاضي أبو محمد: والظاهر من مقالة بني إسرائيل لموسى: {اجعل لنا إلهاً كما لهم آلهة} أنهم استحسنوا ما رأوه من آلهة أولئك القوم فأرادوا أن يكون ذلك في شرع موسى وفي جملة ما يتقرب به إلى الله، وإلا فبعيد أن يقولوا لموسى: اجعل لنا صنماً نفرده بالعبادة ونكفر بربك، فعرفهم موسى أن هذا جهل منهم إذ سألوا أمراً حراماً فيه الإشراك في العبادة ومنه يتطرق إلى إفراد الأصنام بالعبادة والكفر بالله عز وجل

Dalam Tafsir Ibnu Athiyyah disebutkan, Al-Qadhi Abu Muhammad berkata, zhahir dari apa yang dikatakan oleh Bani Israel kepada Musa (buatkan kepada kami Ilah sebagaimana mereka punya Alihah) adalah karena mereka menganggap ada kebaikan dari apa yang mereka lihat dari Alihahnya kaum, maka mereka ingin hal ini ada dalam syariatnya Musa dan termasuk bagian dari sesuatu yang digunakan untuk bertaqarrub kepada Allah, jika bukan karena maksud itu, maka sangat jauh jika mereka mengatakan kepada Musa (yang maksudnya): buatkan untuk kami berhala yang kami ibadahi sendiri dan kami kafir terhadap Rabbmu. Musa sadar ini adalah kebodohan mereka, karena mereka meminta perkara yang haram yang di dalamnya ada kesyirikan kepada Allah, dan menjadi jalan untuk menjadikan berhala sebagai satu-satunya sesembahan dan kufur kepada Allah ‘azza wajalla.” (Tafsir Ibnu Athiyyah, 2/447)

 

Penyakit Bani Israel Menimpa Sebagian Umat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ternyata penyakit Bani Israel ini diceritakan oleh Allah ‘azza wajalla di dalam Al-Quran di antaranya sebagai cermin bagi umat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga akhir zaman bahwa penyakit tersebut juga bisa menimpa mereka jika tidak bisa mengambil pelajaran dari cerita tersebut.

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapatkan fenomena tersebut di masanya, fenomena penyakit Bani Israel yang silau dengan syariat syirik, lihat hadits berikut ini.

عن أبي واقد الليثي: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما خرج إلى خيبر مر بشجرة للمشركين يقال لها ذات أنواط يعلقون عليها أسلحتهم فقالوا يا رسول الله أجعل لنا ذات أنوط كما لهم ذات أنواط فقال النبي صلى الله عليه وسلم سبحان الله هذا كما قال قوم موسى اجعل لنا إلها كما لهم آلهة والذي نفسي بيده لتركبن سنة من كان قبلكم

Dari Abi Waqid Al-Laitsi Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar ke Khaibar, dan melewati suatu pohon masyarakat musyrik yang disebut Dzatu Anwath, masyarakat itu menancapkan senjatanya di pohon tersebut, sebagian Sahabat berkata; wahai Rasulullah buatkan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka punya Dzatu Anwath, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Subhaanallah, ini seperti apa yang dikatakan kaumnya Nabi Musa ‘alaihissalam: buatkan untuk kami Ilah sebagaimana mereka punya Alihah, demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian akan mengikuti sunah (cara) orang sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi, No. 2180)

Baca juga: Spektrum Jahiliyah dalam Al-Quran

Penyakit ‘silau terhadap sunnah atau syariat orang-orang musyrik’ pernah menimpa sebagian umat yang baru masuk Islam di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang jika dilihat sepintas mereka bukan bermaksud untuk berbuat kufur dan syirik kepada Allah dengan beribadah kepada selain Allah, mereka cuma memandang bahwa jika senjata mereka ditancapkan atau digantungkan pada benda yang sama dengan Dzatu Anwath, maka ini menambah kekuatan mereka sehingga bermanfaat untuk kemenangan jihad dalam pandangannya.

Bayangkan! memandang cara syirik bermanfaat untuk bertaqarrub kepada Allah, yang dalam konteks hadits di atas taqarrubnya berupa jihad fie sabiilillah. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun meluruskan cara pandang yang salah ini dengan memotret apa yang pernah terjadi pada Bani Israel, yang meminta ilah selain Allah Ta’ala.

 

Lima Pelajaran Kisah Bani Israel dalam QS. Al-A’raf Ayat 138-139 yang Harus Anda Ketahui

Ada beberapa pelajaran tentang kisah Bani Israel di atas, di antaranya:

Pelajaran pertama: Rendahnya Berhala Musyrik

Di dalam kisah Allah tentang Bani israil di dalam surat Al-A’raf: 138 di atas ada penggunaan kata yang sangat menarik sekali, dimana Allah berfirman,

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ

Ayat di atas menggunakan kata “Ashanaamin lahum” pertanyaannya kenapa tidak menggunakan kata “Ashnaam” saja? Syeikh Thahir bin ‘Asyur dalam tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir menyebutkan:

 وَإِنَّمَا وُصِفَتِ الْأَصْنَامُ بِأَنَّهَا لَهُمْ وَلَمْ يُقْتَصَرْ عَلَى قَوْلِهِ: أَصْنامٍ قَالَ ابْنُ عَرَفَةَ التُّونِسِيُّ: «عَادَتُهُمْ يُجِيبُونَ بِأَنَّهُ زِيَادَةُ تَشْنِيعٍ بِهِمْ وَتَنْبِيهٌ عَلَى جَهْلِهِمْ وَغَوَايَتِهِمْ فِي أَنَّهُمْ يَعْبُدُونَ مَا هُوَ مِلْكٌ لَهُمْ فيجعلون مملوكهم إِلَههم»

Kalimat Ashnam (berhala) disifati dengan kata lahum (milik mereka), dan tidak cukup firman-Nya hanya dengan kata ashnam saja, menurut Ibnu Arafah At-Tunisi: “Menurut adat orang arab, hal ini menunjukkan kecaman yang lebih kepada mereka (kaum yang dilihat Bani Israel), dan peringatan atas kebodohan dan kesesatannya karena mereka beribadah kepada apa yang mereka miliki, jadi mereka menjadikan kepemilikan mereka sebagai ilah.”

Oleh karena itu Nabiyullah Ibrahim merendahkan akal masyarakatnya yang beribadah kepada produknya sendiri:

قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ (95) وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ (96)

Kata Ibrahim apakah kalian beribadah kepada apa yang kalian pahat, sementara Allah Ta’ala yang menciptakan kalian dan apa yang kalian buat?.” (QS. Al-Anbiya’: 95-96)

Baca juga: Pepesan Kosong Islam Nusantara

Beribadah kepada hasil pahatan tangan sendiri adalah perilaku yang menunjukkan rendahnya jiwa, karena akal sehat menolak pratik sujud kepada sesuatu yang rendah, akan tetapi karena belitan hawa nafsu yang dibumbui wahyu dan mantra Iblis memandang sesuatu yang rendah seakan baik.

Beribadah kepada hawa nafsu tidak akan membuat seorang tenang, isinya adalah gejolak, bisa berubah dari waktu ke waktu, tempat ke tempat, jika ada berhala produk hawa nafsu baik berupa batu atau ide yang dipandang lebih baik dari berhala sebelumnya maka berhala baru akan menggantikan berhala lama sebagai Tuhan dan begitu seterusnya.

Lihat apa yang diceritakan Imam Al-Bukhari rahimahullah, bahwa ada seorang sahabat bernama Abu Raja’ Al-‘Utharidy Radhiyallahu ‘anhu, bercerita tentang kehidupannya di masa Jahiliyah,

كُنَّا نَعْبُدُ الْحَجَرَ فَإِذَا وَجَدْنَا حَجَرًا هُوَ أَخْيَرُ مِنْهُ أَلْقَيْنَاهُ وَأَخَذْنَا الآخَرَ فَإِذَا لَمْ نَجِدْ حَجَرًا جَمَعْنَا جُثْوَةً مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ جِئْنَا بِالشَّاةِ فَحَلَبْنَاهُ عَلَيْهِ ثُمَّ طُفْنَا بِهِ

“Dahulu kami pernah beribadah kepada batu, jika kami mendapatkan jenis batu yang lebih baik darinya maka kami akan membuang yang lama dan menjadikan yang baru (sebagai sesembahan) dan jika kami tidak mendapatkan batu maka kami mengumpulkan beberapa gundukan tanah lalu kami membawa seekor kambing, kami memeras susunya di atasnya dan kami thawaf mengelilinginya.”

Bukan berarti sekarang ini tidak ada berhala seperti berhala Jahiliyah masa lalu, bila berhala dahulu kebanyakan berupa produk pahatan tangan manusia, sekarang berhala yang dominan adalah ideologi/syariat yang diikuti selain Allah yang bersumber dari hasil pahatan hawa nafsu orang kafir, dan berhala itu bisa bergonta-ganti seiring dengan kecocokan hawa nafsu, jika berhala demokrasi, komunisme dan lain sebagainya yang diterapkan sebagai jalan hidup dianggap usang maka mereka akan berganti dengan berhala ideologi baru hasil pahatan hawa nafsu berikutnya.

Baca juga: Mungkinkah Terjadi Jahiliyah Pada Era Milenial?

Masyarakat Jahiliyah di zaman Ibrahim beribadah kepada berhala batu hasil produk tangan sendiri, masyarakat Jahiliyah di masa Musa ‘alaihissalam beribadah kepada berhala sapi, masyarakat Jahiliyah di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bergonta-ganti tuhan berhala batu sesuai hawa nafsunya, masyarakat Jahiliyah modern bergonta ganti tuhan berhala ide sesuai dengan hawa nafsunya, yang Jika dicermati antara Jahiliyah lama dan baru sama-sama beribadah kepada hawa nafsunya sendiri.

 أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ (23)

 

Pelajaran Kedua: Bani Israel Silau dengan Berhala yang Rendah  

Sesungguhnya jika Bani Israel mencukupkan diri dengan berpegang kepada apa yang diajarkan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam akan membuat kehidupannya mengarah kepada maslahat, akan tetapi karena tidak ada ta’zhim kepada apa yang dibawa oleh Musa ‘alaihissalam, membuat hati yang kosong atau kurang dari ta’zhim kepada Allah ‘azza wajalla dan Rasul-Nya menjadi rawan dirongrong oleh setan, sehingga ketika mereka melihat hal baru dari orang musyrik yang sepertinya bagus dalam kacamata hawa nafsu, hati menjadi silau dengan hal yang sejatinya buruk, lalu berhasrat mengimpor atau mengadopsi hal tersebut dalam syariat Nabi Musa ‘alaihissalam dengan mengatakan: “Wahai Musa buatkan untuk kami ilah sebagaimana mereka punya Alihah.

Penyakit silau terhadap berhala musyrik ini juga menimpa sebagian umat islam sekarang, di mana ideologi yang lahir dari hawa nafsu barat yang sebenarnya adalah berhala yang diibadahi selain Allah kadang dianggap baik oleh sebagian kalangan, bahkan ideologi tersebut dicocok-cocokkan dengan nilai-nilai keislaman dengan cara mencomot dalil syar’i untuk mengonfirmasi hawa nafsunya, padahal hawa nafsu diperintahkan untuk tunduk kepada dalil syar’i bukan dalil ditundukkan kepada hawa nafsu.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ»

Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash Radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalian tidak dianggap beriman sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (hadits ini disebutkan An-Nawawi dalam Arba’in Nawawi)

Baca juga: Masyarakat Jahiliyah, Ketika Wahyu Tidak Menata Sistem Kehidupan

Imam As-Syathibi berkata:

المقصد الشرعي من وضع الشريعة إخراج المكلف عن داعية هواه، حتى يكون عبدا لله اختيارا، كما هو عبد لله اضطرارا.

“Maksud Syar’i dari diletakkannya syariat adalah mengeluarkan mukallaf dari ajakan hawa nafsunya, sampai dia benar-benar hanya mengabdi kepada Allah secara sukarela, sebagaimana mau atau tidak mau dia tetap abdinya Allah ‘azza wajalla.” (Al-Muwafaqat, As-Syathibi, 2/289)

Mungkinkah berhala akan diislamisasi?! Mungkinkah demokrasi diislamisasi?! Mengkinkah islamisasi konsep nation state?!….

 

Pelajaran Ketiga: Bani Israel Punya Ilmu tapi Bodoh

Cerita tentang Bani Israel dalam ayat di atas, menunjukkan dua bentuk kebodohan.

Pertama, Bani Israel dianggap bodoh karena perilaku mereka jauh dari ilmu, oleh karena itu siapa saja yang memiliki ilmu namun perilakunya jauh dari tuntutan ilmu itu sendiri maka dinggap bodoh, berikut dalil yang menunjukkan hal tersebut:

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلاَّ تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ

Yusuf berkata, wahai Rab-ku penjara lebih aku sukai daripada ajakan para wanita itu, jika Engkau tidak memalingkan aku dari tipu daya mereka, maka aku akan cenderung (mengikuti hawa nafsu) mereka, dan jadilah aku termasuk orang-orang bodoh.” (QS. Yusuf: 33)

Nabi Yusuf ‘alaihissalam menganggap jika beliau mengikut hawa nafsunya dan terjatuh pada fitnah wanita yang menggodanya maka beliau termasuk orang-orang bodoh karena perilaku tersebut bertentangan dengan konsekuensi ilmu yang dimilkinya.

Suatu ketika Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu pernah mengejek seseorang dengan membeda-bedakan unsur dan sisilahnya, dia menganggap bahwa ibu fulan cuma seorang A’jamiyah maka hal itu terdengar oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga beliau bersabda kepada Abu Dzar:

يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ

Wahai Abu Dzar sesungguhnya kamu adalah seseorang yang didalam dirimu terdapat Jahiliyah.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap perilaku Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu dalam hal tersebut sebagai kebodohan karena berseberangan dengan ilmu yang dimilikinya.

Oleh karena itu wajar jika Nabi Musa ‘alaihissalam mengatakan kepada Bani israel dengan sikapnya yang meminta ilah sebagaimana ilahnya orang-orang musyrik:

قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

Kalian benar-benar orang yang bodoh

Pasalnya, Bani Israel sebelumnya sudah diberikan banyak ilmu dan hujjah dari Allah ‘azza wajalla, dengan menyaksikan banyak ayat bersama Nabi Musa ‘alaihissalam, bahkan mereka baru saja melihat kebesaran Allah dengan terbelahnya lautan dan banyak hal lagi yang menunjukkan kebenaran petunjuk Musa, akan tetapi justru perilaku mereka meminta Ilah selain Allah bertentangan dengan ilmu dan hujjah yang sudah mereka ketahui.

Baca juga: Syariat Islam Yes, Hukum Jahiliyah No

Penyakit kebodohan Bani Israel tersebut juga menimpa sebagian umat ini, ada di antara orang yang dianggap alim, fasih membaca kitab kuning, mengurai ilmu fiqih dan ilmu ushul fiqih, dalil dan segala perangkatnya mereka kuasai, namun sikapnya justru menampakkan dukungan terhadap berhala ideologi barat dan menolak tegaknya syariat secara paripurna, bahkan tak jarang bermanuver dengan ilmu fiqih dan usulnya untuk menentang orang-orang yang mengajak manusia tunduk di bawah tatanan Syariat dan mendelegitimasi dengan berbagai macam argument yang mereka buat. Semoga Allah melindungi kita dari wabah ‘Bani Israel gaya baru’.

Kedua, meminta legalitas kebatilan dalam syariat atau dengan ungkapan lain mengislamisasi kebatilan.

Al-haq dan batil adalah sesuatu yang berseberangan seperti hitam dan putih, maka mengumpulkan sesuatu yang naqidhani (yang saling bertentangan) adalah perkara yang mustahil, dan merupakan tindakan kebodohan yang besar.

Al-A’raf ayat 138 di atas tidak bercerita bahwa Bani Israel beribadah kepada berhala yang disembah oleh kaum yang mereka lihat, yang jika hal tersebut dilakukan tentu sudah menjatuhkan kepada kesyirikan, akan tetapi ayat tersebut bercerita tentang kekaguman mereka terhadap berhala sebuah masyarakat yang dijadikan Ilah selain Allah ‘azza wajalla.

Ketertarikan tersebut mendorong mereka untuk mengadopsinya sementara ada batu sandungan berupa Syariat Musa ‘alaihissalam, maka berhala yang mereka kagumi harus mendapatkan legalitas dengan cara meminta izin dari sang pembawa syariat yakni Musa ‘alaihissalam agar menjadi dalil yang mendukung adopsi tersebut.

قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ

Mereka berkata wahai Musa buatkan untuk kami Ilah sebagaimana mereka punya Ilah.”

Penyakit ‘syubhat dan kebodohan Bani Israel’ ini juga menimpa sebagian umat Islam yang mencoba melegalisasi ideologi barat agar terlihat benar dengan cara mengislamisasi ideologi tersebut dengan kutipan-kutipan dalil syar’i guna mendukung hawa nafsunya, mencocok-cocokkan dua hal yang sebenarnya akarnya berbeda agar terlihat sama di mata orang yang tidak memahami hakekatnya.

 

Pelajaran Keempat: Maksud dan Tujuan yang Baik Tidak Dapat Membenarkan Cara yang Buruk.

Sebagaimana disebutkan dalam keterangan sebagian ulama tafsir di atas, seperti Al-Baghawi bahwa Bani Israel ketika meminta Musa ‘alaihissalam untuk membuatkan berhala buat mereka seperti berhala masyarakat yang mereka lihat, alasannya untuk dijadikan sebagai wasilah  bertaqarrub kepada Allah Ta’ala, maka niat dan tujuan baik mereka tak lantas membenarkan cara buruknya, karena Allah adalah Dzat Yang Maha Thayyib tidak akan menerima sesuatu dari hamba-Nya kecuali yang thayyib, Dia ‘azza wajalla tidak layak diibadahi dengan pintu kezhaliman, kesyirikan, kefasikan dan kebatilan.

Baca juga: Titik Samar Antara Sikap Ghuluw dalam Beragama dan Komitmen Beragama

Oleh karena ketika sebagian sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang baru masuk islam melihat Dzatu Anwath dengan tes timoni masyarakat Jahiliyah seakan—bagi orang yang lemah iman—punya dampak yang baik buat kecanggihan senjata, mereka lantas meminta beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar membuatkan sesuatu seperti Dzatu Anwathnya masyarakat Jahiliyah, tujuannya kelihatan baik; agar bisa dijadikan sebagai sarana berjihad di jalan Allah Ta’ala, sebuah amal taqarrub yang sangat besar. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa tindakan tersebut syirik sebagaimana kesyirikan Bani Israel di masa lampau.

Dari sini muncul sebuah kesimpulan bahwa Allah tidak diibadahi dengan konsep Jahiliyah murahan baik klasik atau modern, maka cara terbaik untuk beribadah kepada Allah adalah dengan Syariat yang diturunkannya.

 

Pelajaran Kelima: Pentingnya Membangun Sikap Ta’zhim Terhadap Syariat Agar tidak Jatuh kepada Penyakit Taklid Bani Israel.

Salah satu bentuk rahmat Allah terbesar kepada hamba-Nya di dunia ini adalah diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membawa risalah petunjuk kehidupan yang paripurna, tidak ada lini kehidupan manusia di dunia ini kecuali telah Allah jelaskan petunjuknya dalam Syariat yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik syariat tersebut berupa Munazzal (sesuatu yang jelas penyebutannya dalam Al-Quran dan As-Sunnah) atau mu’awwal dari syariat munazzal (suatu hukum yang berasal melalui proses ijtihad para ulama dalam mengembalikan kepada dalil asal (Al-Quran dan As-Sunnah), selain itu yang ada hanya Syariat Mubaddal (syariat yang bertentangan dengan Al-Quran dan As-sunnah) yang sejatinya hawa nafsu yang mengarah kepada kerusakan.

Oleh karena itu jika kita menganggap bahwa Syariat yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah karunia terbesar hidup ini, maka konsekuensinya; kita harus senantiasa mengagungkannnya dengan selalu tunduk dan berserah diri kepadanya, serta mencukupkan diri hanya dengannya.

 ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Kemudian Aku jadikan kamu (Muhammad) berada dalam Syariat islam, maka ikutilah dan jangan mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak tahu. (QS. Al-Jatsiyah: 18)

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكُتُبِ، فَقَرَأَهُ عَلَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَغَضِبَ وَقَالَ: “أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً، لَا تَسْأَلُوهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ، أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا بِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا، مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي “

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Umar bin Al-Khatthab Radhiyallahu ‘anhu mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebuah kitab (Taurat) yang dia dapatkan dari salah seorang Ahli Kitab, dia membacanya di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau marah dan bersabda: Apakah kamu masih mendalaminya wahai putera Al-Khatthab, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa risalah ini dengan sangat terang dan jelas, jangan bertanya suatu perkara kepada mereka (Ahlu Kitab) sampai mereka memberikan informasi yang haq kepada kalian lalu kalian mendustakannya, atau memberikan informasi yang batil lalu kalian membenarkannya, demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, jikalau Musa masih hidup, tidak ada peluang baginya kecuali hanya mengikutiku. (HR. Ahmad, No. 15156)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللهِ ثَلاَثَةٌ مُلْحِدٌ فِي الْحَرَمِ وَمُبْتَغٍ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُهَرِيقَ دَمَهُ.

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Manusia yang sangat dibenci oleh Allah ada tiga: orang yang melakukan kejahatan di baitullah al-haram, orang yang mencari jalan/cara Jahiliyah di dalam islam, orang yang menuntut darah seseorang tanpa alasan yang benar agar bisa menumpahkan darahnya. (HR Al-Bukhari, No. 6882)

 

والداعون إلى تمجيد العقل إنما هم في الحقيقة يدْعون إلى تمجيد صنم سموه عقلاً، وما كان العقل وحده كافيًا في الهداية والإرشاد وإلا لما أرسل الله الرسل

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata; “Orang-orang yang menyerukan kepada pengagungan akal (logika), hakekatnya mereka hanya mengajak untuk mengagungkan berhala yang mereka sebut akal (logika), padahal akal saja tidak cukup untuk mendapatkan hidayah dan irsyad, jika tidak demikian maka Allah tidak perlu mengutus para Rasul.” (Dar’u Ta’arudh Al-Aql Wa An-Naql: 1/21)

وكل من كان له مسكة عقل يعلم أن فساد العالم وخرابه إنما ينشأ من تقديم الرأي على الوحي، والهوى على العقل، وما استحكم هذان الأصلان الفاسدان في قلب إلا استحكم هلاكه، وفي أمة إلا فسد أمرها أتم فساده. وأكثر أصحاب الجحيم هم أهل هذه الآراء الذين لا سمع لهم ولا عقل؛ بل هم شر من الحمير، وهم الذين يقولون يوم القيامة ﴿ لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ ﴾

Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Siapa saja yang masih berpegang kepada akal sehatnya sadar bahwa rusak dan hancurnya dunia hanya berangkat dari mendahulukan ra’yu (logika) dari pada wahyu, hawa nafsu dari pada akal, tidak ada hati yang dikuasai oleh dua pangkal kerusakan tersebut kecuali dia akan diliputi oleh kehancuran, tidak pula umat yang dikuasai dua pangkal kerusakan tersebut kecuali dia akan rusak serusak-rusaknya, mayoritas penghuni neraka adalah penganut ide ini (logika di atas wahyu, hawa nafsu di atas akal) yang mereka tidak punya pendengar (hati) dan akal, bahkan mereka lebih buruk daripada keledai, mereka adalah orang-orang yang berkata pada hari kiamat (jikalau kami mendengar (dengan hati) dan berakal, tentu kami tidak menjadi penghuni neraka sa’ir)” (QS. Al-Mulk: 10) (I’lam Al-Muwaqqi’in, 1/68) Wallahu a’lam [Ibnu Khamis/istidlal.org]

share on: