Kunci Kerukunan dan Kerekatan Ukhuwah dalam Berjamaah

share on:
Kunci Kerukunan dan Kerekatan Ukhuwah dalam Berjamaah-istidlal.org

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا

Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda, atau tidak menghormati yang lebih tua.”

[HR. At-Tirmidzi no. 1842]

 

Pada konteks berjamaah, hadits ini memiliki makna luar biasa dan fungsi vital dalam upaya menjalin ukhuwah antar anggota jamaah. Friksi (gesekan) yang paling sering kita temui saat berorganisasi adalah friksi yang diakibatkan oleh perbedaan sikap antara generasi tua dan generasi muda. Yang tua menganggap, pendapat, sikap atau langkah anak muda terlalu tergesa dan sembrono, sementara yang muda menganggap, pendapat, sikap dan langkah orang tua cenderung lamban dan kurang berani.

Misal, dalam sebuah rapat dakwah, untuk membuka lahan baru dalam dakwah, para pemuda menginginkan materi dakwah yang ideologis, dan penyampai materi yang lugas, tegas dan blak-blakan. Mereka berpikir dakwah pertama haruslah lurus agar pembenahan pada fase berikutnya tidak berlarut-larut. Sementara orang tua berpendapat, membuka lahan dakwah baru sebaiknya dimulai dari cara-ara yang persuasif. Dakwah itu mengajak, bukan menghakimi.

Baca: Mizan Takwa Sebagai Parameter Menilai Manusia

Keberislaman yang baik haruslah dimulai dari kesadaran diri. Langkah persuasif dapat mengurangi resistensi atau penolakan secara frontal. Aththariqah ahammu minal maadah. Hal terpenting adalah cara, bukan materi dakwahnya. Lalu, muncullah gesekan. Contoh ini mungkin tidak mampu mengcover seluruh kasus namun paling tidak mampu memberi sedikit gambaran.

Nah, di sinilah hadits ini menengahi.

Para pemuda harus memahami bahwa sikap hati-hati yang menjadi ciri khas orang tua adalah kristalisasi dari pengalaman empiris yang telah mereka lalui. Mereka telah mencoba sekaligus merasakan konsekuensi dari langkah-langkah yang pernah mereka ambil dulu. Asam garam perjuangan telah mereka rasakan sampai-sampai mereka seakan mampu mendeteksi; kira-kira langkah dan strategi ini akan berakibat bagaimana, konsekuensinya apa saja, mengacu pada pengalaman yang sudah-sudah.

Khutbah Jumat: Taati Syariat-Nya, Raih penjagaan-Nya

Seorang muslim tidak boleh terperosok ke dalam lubang dua kali. Pengalaman adalah guru terbaik. Sementara ada banyak hal, meskipun zaman telah berubah, secara substansi sebenarnya sama dan menghasilkan output yang tidak jauh berbeda.Kehati-hatian mereka bukan tanpa alasan. Orangtua sudah merasakan konsekuensi atas langkah-langkah yang dahulu mereka ambil sampai mereka yakin, andai yang muda merasakan, pasti akan mengambil kehati-hatian serupa.

Sikap menghormati yang tua berarti menghormati dan menghargai pengalaman-pengalaman ini. Berusaha mengambil pelajaran dan menjadikan pendapat dan arahan dari para orang tua sebagai masukan yang based on true story, dilandaskan atas kisah nyata. Bukankah ini lebih ringan daripada harus melakukan riset dan uji coba atas suatu cara, langkah dan strategi?

Kehati-hatian tidak selalu bermakna lamban. Kehati-hatian yang dipadukan dengan keberanian akan menghasilkan langkah yang benar dan cepat. Kecepatan tangan para tukang bengkel atau kelihaian tukang masak berpengalaman bukanlah kecepatan ngasal dan ngawur. Semua itu berawal dari kegugupan yang kemudian meningkat menjadi kebiasaan yang penuh kehati-hatian, belajar dari berbagai kesalahan dan akhirnya menjadi kelihaian dan kecepatan yang minim kesalahan.

Baca: Imam Al-Auza’i, Sebuah Pelajaran Ketegasan di Hadapan Penguasa

Tak perlu merasa sombong dengan kekuatan, keahlian, dan kepahaman diri mengenai zaman sekarang hingga meremehkan pengalaman orang tua. Akumulasi pengalaman orangtua seringkali memperkuat ketajaman prediksi mereka. Hal yang perlu dilakukan adalah memadukan antara berbagai pendapat dengan baik. Jika berhasil, langkah yang akan ditempuh adalah langkah yang berani namun penuh kehati-hatian dan kewaspadaan.

Adapun bagi para sesepuh, ada beberapa hal yang harus dipahami soal sikap para pemuda. Di samping, para sesepuh juga pasti pernah muda, keberanian para pemuda adalah nilai positif yang patut diapresiasi. Bagaimanapun, perubahan zaman akan selalu menuntut perubahan taktik dan langkah. Dan para pemuda adalah ‘pemilik’ zamannya. Meski mereka minim pengalaman tapi bukan berarti mereka akan lari saat harus menerima konsekuensi.

Lihatlah, ada banyak gebrakan dan langkah-langkah pemuda yang barangkali tidak pernah terlintas dalam pikiran kita, para generasi tua, namun benar-benar sukses luar biasa. Maka, menyayangi yang lebih muda dapat kita maknai dengan memberikan apresiasi atas keberanian dan upaya mereka. Tetap memberikan masukan yang baik, tidak posesif (terlalu mengekang) dan juga memberi laluan bagi energi pemuda yang begitu besar. Energi berupa ide-ide cemerlang yang sesuai zaman, juga energi berupa keberanian dan gerak fisik yang lebih besar dari yang kita miliki. Sayang jika semua ini harus dikekang dengan kekhawatiran kita yang mungkin memang sudah tidak jamannya lagi.

Khutbah Jumat: Orang Munafik Pemecah Belah Persatuan Umat

Dua elemen ini; energi pemuda dan kewaspadaan orang tua, jika dipadukan dengan baik akan menjadi seperti gas dan rem pada kendaraan. Dua-duanya harus ada dan saling membutuhkan. Kehilangan salah satu akan berdampak buruk. Cuma bisa ngegas tanpa punya rem, bisa masuk jurang. Punya rem saja, meski selamat, tapi jelas tak bisa beranjak ke mana-mana.

Oleh karenanya, hadits Rasul di atas benar-benar sebuah kaidah utama dalam ukhuwah. Organisasi yang baik adalah organisasi yang terdiri dari elemen ini; pemuda dan orang tua, yang mampu memadukan pikiran, sikap dan langkah. Wallahua’lamu bishawab, semoga Allah senantiasa mengeratkan hubungan kita, menjaga persatuan hati kita hingga kita mampu memberi kontribusi yang lebih banyak untuk umat. Aamiin. (T. Mursyid)

share on: