Logika Iblis Para Penentang Syariat Allah

share on:
Iblis

 

يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ ﴿٧٥﴾ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Allâh berfirman, “Hai iblis! Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi? Iblis berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. [Shaad/38:75-76]

Istidlal – Merunut sejarah kebathilan, kebathilan pertama kali muncul dalam kisah pembangkangan Iblis saat disuruh sujud kepada Adam. Menurut beberapa riwayat dalam al Bidayah wa an Nihayah karya Ibnu Kastier (Juz I, Bab Ma Warada fi Khalqi Adam). Iblis memang bukan dari bangsa malaikat melainkan dari bangsa jin. Malaikat diciptakan dari cahaya sedangkan Iblis diciptakan dari api. Iblis tercakup dalam perintah untuk sujud kepada Adam karena dirinya berada dalam barisan malaikat. Salah satu riwayat menyatakan bahwa Iblis dahulunya adalah jin yang sangat rajin beribadah hingga diangkat ke langit dan berada di barisan malaikat.

Saat diperintahkan sujud kepada Adam, Malaikat tunduk karena mereka memang diciptakan untuk menaati semua perintah Allah tanpa kecuali. Adapun Iblis, dia bukan malaikat dan memiliki pilihan, bisa taat, bisa maksiat. Iblis, sebagaimana manusia, memiliki logika, nafsu dan hasrat serta kemerdekaan untuk berbuat. Karenanya, saat disuruh sujud kepada Adam, logika, nafsu dan kebebasan berpendapat Iblis merespon perintah tersebut dan menyimpulkan bahwa perintah sujud tersebut tidak relevan untuk dirinnya.

Inilah penentangan pertama atas perintah Allah untuk taat kepada Nabi-Nya. Dari segi perasaan yang mendasari, penentangan ini muncul dari rasa sombong. Namun, darimana kesombongan Iblis muncul? Dari kesesatan berpikir. Premisnya, Adam dicipta dari api, Iblis dicipta dari tanah. Api lebih mulia dan lebih tinggi derajatnya daripada tanah. Jadi, Iblis lebih mulia dari Adam, dan makhluk yang lebih mulia secara unsur penciptaan tidak pantas sujud kepada makhluk dari unsur yang lebih rendah.

Sesat pikir ala Iblis ada pada dua hal: pertama, soal derajat unsur elemen. Ini aturan siapa? atas dasar apa Iblis begitu yakin bahwa api lebih mulia daripada tanah, di mana dengan dasar argumen itu dia berani mengabaikan dan menentang perintah Allah?

Misalpun benar bahwa unsur api memang lebih mulia daripada tanah, apakah kemuliaan ini lebih superior daripada perintah Allah hingga sah hukumnya untuk menentang perintah-Nya berdasar hal ini? Bahkan andaipun benar bahwa sebelumnya, Allah memang menyatakan bahwa api lebih mulia daripada tanah, Iblis tetap tidak berhak menentang perintah-Nya. Alasannya, Allah-lah Sang pemilik kebenaran mutlak, Dia bebas untuk mengganti atau berbuat apapun terhadap apa yang telah ditetapkan. Apa masalahnya unsur yang lebih mulia sujud kepada unsur yang lebih rendah derajatnya jika memang itu perintah dari Sang Pembuat Ketetapan?

Apalagi, dasar logika Iblis itu sama sekali tidak ada aturannya. Hanya persepsi diri Iblis dan penalarannya semata. Dasar argumennya menjadi sangat rapuh, bahkan hancur sebelum berdiri. Dari segi tauhid, Iblis barangkali kuat secara pengakuan rububiyah namun bobrok uluhiyahnya. Dan hal itu merusak dua-duanya. Bagaimana bisa dia meyakini bahwa Allah Maha Pencipta dan Maha Benar (al Haq) tapi bernai menolak perintah-Nya? ini jelas pembangkangan atas tauhid.

Poin ini menarik karena pada masa setelahnya sampai hari ini, dasar argumentasi yang berasal dari sesat pikir semacam banyak mendasari beragam jenis penentangan dan kebathilan. Anak kambing memang akan tetap mengembik seperti induknya, logika kebathilan pun tidak akan jauh berbeda dari induk pencetusnya.

Misalnya, undang-undang positif karya manusia dianggap lebih baik dan lebih mengakomodir seluruh kepentingan manusia dibanding undang-undang berbasis syariah. Oleh karenanya, undang-undang buatan manusia lebih layak diterapkan daripada syariat yang hanya mengakomodir kepentingan sepihak salah umat beragama yaitu Islam. Atas dasar apa perbandingan semacam ini diyakini? Apa buktinya dan bagaimana mungkin syariat Allah lebih buruk daripada aturan buatan manusia?

Lihat, sesat fikir warisan Iblis semacam ini bahkan banyak diadopsi oleh sebagian umat yang mengikrarkan bahwa Allah, sang pembuat syariat, Sang Maha Benar, adalah tuhan-Nya. Meskipun sejarah telah membuktikan sebaliknya namun kenyataannya sekarang, manusia tetap meyakininya.

Contoh lain, pakaian yang baik bagi wanita adalah yang sesuai gaya dan tradisi di lingkungannya. Jilbab adalah pakaian yang tidak sesuai dengan gaya dan tradisi berpakaian di beberapa lingkungan. Jadi, di beberapa lingkungan, jilbab adalah pakaian yang tidak baik. Penarikan kesimpulan dari silogisme semacam ini barangkali benar secara bahasa tapi sesat dari segi parameternya yaitu bahwa baik tidaknya pakaian wanita diukur dari gaya dan tradisi lingkungan. Siapa yang membuat gaya dan tradisi di masing-masing lingkungan itu? lantas, atas dasar apa gaya dan tradisi itu dinyatakan lebih baik dari pada gaya berpakaian yang sesuai aturan syariat?Dan apakah benar bahwa jilbab tidak baik bagi wanita hanya karena tidak sesuai dengan gaya dan tradisi di lingkungannya? ada bukti atau hanya persepsi?

Kebathilan adalah lawan dari kebenaran (al haq). Jadi coba perhatikan, dibungkus dengan apapun, yang namanya kebathilan pasti mengandung unsur kesalahan baik dari satu sisi maupun yang lain, atau bahkan dari segala sisi. Ada kebathilan yang dibungkus apik dengan bungkus nalar yang logis dan menarik, tapi jika kita teliti, dia cacat dari segi moral. Kurang bagus apa para pegiat LGBT membungkus perilaku menyimpang ini dengan packaging berupa: kebebasan bereskpresi, hak asasi dan Tuhan Maha Mengerti untuk menutupi kebejatan moral seamcam ini?

Inilah sejarah awal mula munculnya kebathilan dan penentangan terhadap perintah Allah yang dapat kita runut. Yaitu penentangan Iblis atas perintah Allah untuk sujud kepada Adam. Tidak perlu berdebat soal hukum sujud, lalu menganggap Iblis lebih bertauhid karena tidak sujud kepada makhluk. Hukum sujud di setiap syariat Nabi berbeda-beda dan ALlah berhak mengubah aturan-Nya.

Pada perjalanan kehidupan anak Adam berikutnya, para Nabi yang diutus membawa perintah Allah akan menghadapi penentangan dari para pengusung kebhatilan dengan ragam bentuk dan caranya. Simak lanjutannya pada artikel-artikel selanjutnya. Wallahua’lam bishawab. (Mohamad Saitama)

 

share on: