Materi Khutbah Jumat: Merdeka di Dunia Merdeka di Akhirat

share on:
Materi Khutbah Jumat Merdeka di Dunia Merdeka di Akhirat-istidlal.org

Merdeka di Dunia Merdeka di Akhirat

Oleh: Ibnu Rodja

 

 

Download PDF materi khutbah Jumat DI SINI

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

قال تعالى:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

وقال رسول الله:

اتَّقِ اللهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

ثُمَّ أَمَّا بَعْدُ:

Sidang khutbah Jumat yang dirahmati Allah,

Berbicara tentang kemerdekaan, maka kemerdekaan yang sejati bagi seorang muslim adalah  ketika dia berhasil melewati shirath yang membentang di atas neraka Jahannam. Imam Ahmad pernah ditanya,

مَتَى يَسْتَرِيْحُ الْمُؤْمِنُ؟ قَالَ: إِذَا خَلَفَ جِسْرَ جَهَنَّمَ وَرَاءَ ظَهْرِهِ

Kapan seorang muslim beristirahat? Ketika dia sudah melintasi jembatan Jahannam.”

Perkataan Imam Ahmad ini bersandarkan kepada salah satu hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu ketika ada yang berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Fulanah telah meninggal dan dia telah beristirahat.” Seketika itu Nabi menyanggah dengan berkata:

إِنَّمَا يَسْتَرِيْحُ مَنْ غُفِرَ لهُ

Sesungguhnya yang beristirahat itu adalah mereka yang diampuni dosanya.”

Inilah hakikat kemerdekaan seorang muslim, ketika dia mampu melewati seluruh peristiwa hari kiamat dengan penuh keimanan, dia berhasil melewati dahsyatnya padang mahsyar, berhasil melewati perhitungan amal, amal baiknya lebih berat dibanding amal buruknya, dan pada akhirnya dia berhasil melewati shirath untuk kemudian memasuki Jannahnya Allah ‘Azza wa Jalla.

Saat seperti itu, barulah seorang muslim bisa dikatakan merdeka. Merdeka dari azab Allah, merdeka dari neraka Jahannam. Karena pada hakikatnya kemerdekaan adalah ketika manusia terbeas dari hal yang paling di takuti. Dan yang paling ditakuti seorang muslim adalah ketika dia tidak terbebas dari azab Allah, ketika dosa-dosanya tidak diampuni Allah dan ketika rahmat Allah tidak diberikan kepadanya dengan dimasukkannya ke jannah-Nya.

 

Sidang khutbah Jumat yang dirahmati Allah,

Untuk menjadi orang yang medeka di akhirat kelak, maka seorang muslim hendaknya menjadi orang yang merdeka pula di akhirat. Lantas dengan apa seorang muslim merdeka di dunia? Mari kita simak penuturan Rib’i bin Amir di hadapan komandan perang Persia yang bernama Rustum. Ketika Rustum bertanya kepadanya, “Risalah apa yang kalia bawa.”

Rib’i bin Amir menjawab:

لَقَدْ اِبْتَعَثْنَا اللهُ لِنُخْرِجَ الْعِبَادَ مِنْ عِبَادةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ رَبِّ الْعِبَادِ، وَمِنْ جَوْرِ الْأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الْإِسْلَامِ، وَمِنْ ضَيْقِ الدُّنْيَا إِلَى سِعَةِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Allah mengutus kami untuk mengeluarkan hamba, dari peribadatan kepada hamba menuju penghambaan kepada Rabb, dari kezaliman agama menuju keadilan Islam, dari kesempetin dunia menuju luasnya dunia dan akhirat.

Inilah kemerdekaan hakiki seorang muslim di dunia. Yaitu ketika dia mampu memurnikan penghambaan dan ketundukan hanya kepada Allah. Ketika dia mewujudkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi ketaatan kepada apapun. Ketika dia mampu memurnikan dan menjadikan cintanya tertinggi kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Sebagian orang mengira bahwa penghambaan kepada manusia hanya terbatas kepada sujud dan bentuk ibadah-ibadah fisik lainnya. Ini adalah pemahaman yang keliru, inti dari penghambaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah bagaimana kita menundukkan hati, lisan, pikiran, dan anggota tubuh kita kepada ketentuan Allah ‘Azza wa Jalla.

Penghambaan kepada Allah adalah, ketika kita tunduk dengan aturan-aturan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena ketika Allah amanahkan bumi kepada manusia, maka Allah berikan juga petunjuk dan aturannya dalam bentuk wahyu.

Maka penghambaan kepada Allah adalah ketika seluruh sektor kehidupan kita diatur dengan wahyu, di atur dengan Al-Quran dan Sunnah. Karena tidak ada yang datang dari Allah melainkan benar adanya.

 

Sidang khutbah Jumat yang dirahmati Allah,

Di dalam politik, kita diatur oleh siyasah syar’iyah, dalam ekonomi kita diatur dengan ekonomi Islam, dalam pergaulan kita diatur oleh batasan-batasan Islam antara lelaki dan perempuan, di dalam pendidikan kita menjadikan visi misi pendidikan anak-anak dan keluarga kita bervisi akhirat, tertuju kepada Allah tidak hanya sebatas visi-visi duniawi yang sempit. Di dalam penikahan, bagaimana seluruh rangkaian pernikahan, berkeluarga, talak semuanya di atur oleh Al-Quran dan sunnah.  Ketika seluruh sisi penghambaan telah di atur dengan wahyu, maka di saat itulah kita menjadi orang yang merdeka, mereka karena telah menjalankan aturan-aturan Allah demi mengelola bumi.

Lantas, seperti apa peribadatan terhadap makhluk? Ada banyak ragam dan coraknya. Tapi tidak hanya terbatas kepada sembah dan sujud saja. Kita tentu masih ingat, ketika Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firmannya:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan pendeta-pendeta mereka dan Rahim-rahib mereka dan Al-Masih putra Maryam sebagai Rabb selain Allah. Tidaklah mereka diperintah kecuali untuk beridabah kepada Ilah yang satu. Tidak ada ilah selain Dia. Maha suci diri-Nya (Allah) dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah: 31)

Sahabat Adi bin Hatim, yang dahulunya adalah seorang Nasrani berkata kepada Rasulullah:

Wahai Rasulullah, Kami (Nasrani) tidak menyembah mereka (para pendeta dan rahib).”

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bukankah mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah, lantas kalian mengikutinya, bukankah mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, lantas kalian mengutinya?”

Adi bin Hatim menjawab, “Iya benar.”

Rasul berkata, “Itulah bentuk peribadatan yang kalian lakukan.”

Hadits ini menjelaskan kepada kita salah satu bentuk peribadatan adalah ketaatan terhadap mereka yang mengubah-ubah aturan Allah, mereka yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Jika kita taat kepada mereka, maka ini adalah salah satu bentuk ibadah lainnya.

 

Sidang khutbah Jumat yang dirahmati Allah,

Bentuk penghambaan lainnya adalah memberikan pengorbanan kepada selain Allah. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menceritakan bagaimana jannah dan neraka seseorang ditentukan karena seekor lalat.

Seekor lalat yang dipersembahkan kepada selain Allah menyeret pelakunya kepada neraka, sedangkan seekor lalat yang tidak mau dikorbankan kepada selain Allah menyebabkan pelakunya terbebas dari neraka.

Maka, sebagai seorang muslim yang ingin merdeka dari belenggu apapun, hendaknya memerdekakan diri kita dari segala bentuk pengorbanan kepada selain Allah. Karena jika kita berkorban kepada selain Allah maka kita telah memalingkan hakikat ibadah kepada selain Allah.

 

Sidang khutbah Jumat yang dirahmati Allah,

Dalam lintasan sejarah kita menyaksikan manusia-manusia merdeka, merdeka dari ketundukan kepada makhluk menuju ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah sahabat Bilal bin Rabah. Meskipun dia seorang budak, tapi masuknya Islam kepada dirinya membuat dia menjadi pribadi yang merdeka.

Kemerdekaan yang mebuat tuannya gusar dan marah, kemerdekaan yang terwujud dengan ucapan lirih ahad…ahad..ahad, ketika batu besar menghimpitnya di tengah panasnya kota Mekkah.

Kemerdekaan lainnya dapat kita lihat pada sosok Shuhaib Ar-Rumi. Dirinya rela kehilangan seluruh apa yang dia miliki agar hijrahnya bisa berjalan dengan lancar. Ketika orang-orang kafir Quraisy menghadang jalan hijrahnya, dirinya menawarkan harta yang telah ia kumpukan kepada para penghadangnya, dengan syarat mereka membiarkan dirinya hirah ke Madinah. Shuhaib Ar-Rumi merdeka dari belenggu harta duniawi. Dan Allah ‘Azza wa Jalla mengabadikan kisahnya dalam surat Al-Baqarah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

Dan di antara manusia adanya mengorbankan dirinya untuk mencari ridho Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.(QS. Al-Baqarah: 207)

Kemerdekaan jiwa-jiwa muslim ini digambarkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam sebuah ungkapan:

Apa yang hendak dilakukan musuh-musuhku kepadaku? Sesungguhnya tamanku ada di hatiku dan kebun bungaku ada di dadaku. Kemanapun aku pergi keduanya menyertaiku. Jika musuhku mengusirku maka penusiranku adalah jalan-jalan, jika mereka membunuhku, maka bagiku adalah mati syahid dan jika mereka menangkapku, bagiku adalah waktu bersendiri bersama Allah.

 

Sidang khutbah Jumat yang dirahmati Allah,

Tidak mungkin kita menapai kemerdekaan hakiki, kecuali dengan Islam. Semua kemerdekaan yang tidak berdasarkan Islam, maka hakikatnya itu adalah kemerdekaan yang semu. Karena dengan Islam kita menjadi manusia-manusia merdeka baik di dunia maupun di akhirat.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمِّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛ عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

 

Sidang khutbah Jumat yang dirahmati Allah,

Pada khutbah kedua ini khatib mengingatkan kepada diri khatib pribadi dan kita semua, untuk senantiasa menyisipkan doa dan perhatian kita ke negeri-negeri kaum muslimin yang masih dijajah oleh musuh-musuh Allah.

Saudara kita di Palestina, puluhan tahun mereka bertahan demi mempertahankan tanah suci kaum muslimin, puluhan tahun pula tangan-tangan berdarah Yahudi mengoyak tubuh mereka, menghancurkan rumah mereka dan mematikan masa depan mereka.

Saudara kita di Suriah, setiap hari bom-bom dari pesawat tempur Bashar Assad dan Rusia terus berjatuhan, rumah-rumah yang mereka tinggali telah runtuh tak tersisa, tak tahu apa yang harus mereka makan, tak tentu tempat beteduh, hanya doa dan sedikit perlawanan yang mampu mereka lakukan demi mempertahankan agama, diri dan harta mereka.

Saudara kita di Xinjiang mengalami penindasan dari rezim China, tak boleh berpuasa, tak boleh berhijab, para dai dan penuntut ilmu mereka di bunuh dan di penjara, mereka dipaksa murtad dari agama mereka.

Saudara kita di Rohingnya, diusir dari tanah yang mereka tinggali puluhan bahkan ratusan tahun lamanya, berlayar ke Samudera dengan perahu seadanya, tak tentu arah yang mereka tuju, seperti memakan buah simalakama, diam mati pergi juga mati.

Marilah selipkan mereka di doa-doa kita, beri mereka perhatian kita di tengah seluruh dunia lupa memperhatikan mereka, dan lakukan apapun yng bisa kita lakukan demi membantu mereka dari kezaliman dan penjajahan.

اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِي يَاَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ.

اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ. وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بَلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنَسْتَهْدِيكَ وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ وَنُثْنِي عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ

نَشْكُرَكَ وَلَا نَكْفُرُكَ وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ

اللَّهُمَّ إيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَك نُصَلِّي وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ

نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُو رَحْمَتَك وَنَخْشَى عَذَابَكَ إنَّ عَذَابَك الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحَقٌ

اَللّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اَللّهُمَّ أَنْجِ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي الْغَوْطَةَ خَاصَّةً، وَفِي أَنْحَاءِ بِلَادِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَامَّةً،

اَللّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى الْكُفَّارِ وَالْمُحَارِبِيْنَ وَشُرَكَاؤَهُمْ، وَاشْطِطْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ،

اَللّهُمَّ اهْزِمْ وَزَلْزِلْهُمْ!

رَبّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

 

 

 

 

Download PDF materi khutbah Jumat DI SINI

share on: