Materi Khutbah Jumat: Syariat Allah Harga Mati!

share on:
Materi Khutbah Jumat Syariat Allah Harga Mati-istidlal.org

Khutbah Jumat tentang Syariat Allah

Syariat Allah Harga Mati!

Pemateri: Ibnu Khamis | Editor: Musa

 

 

Download materi khutbah Jumat versi PDF klik DI SINI

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. قال تعالى:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. وقال رسول الله:

اتَّقِ اللهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. وقال أيضا: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ

ثُمَّ أَمَّا بَعْدُ:

 

Saudaraku, jamaah Jumat Rahimakumullah

Sesungguhnya alam dan kehidupan ini berjalan beriringan sesuai dengan ketentuan Allah ‘azza wajalla, keduanya hanya bisa melangkah menuju kebaikan, keseimbangan dengan ketaatan dan ketundukan pada aturan dan ketentuan Sang Rab penciptanya Allah ‘azza wajalla, maka tidak ada satu sel alam dan kehidupan ini yang dipaksa keluar dari ketaatan kepada-Nya kecuali akan terjadi kerusakan dan ketimpangan pada perjalanan alam dan kehidupan.

Ketaatan kepada syariat Allah adalah harga mati agar alam dan hidup ini berjalan baik dan seimbang, karena Dialah yang menciptakan maka Dialah yang paling benar dan layak mengatur ciptaan-Nya, begitu Allah menetapkan dalam firman-Nya dan begitu logika manusia memahami.

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dari perkara thaharah hingga imarah, dari bilik pribadi hingga ruang kerja, dari tidur hingga bangun, dari masjid hingga ranjang dari bayi hingga mati tidak ada lini kehidupan kecuali ada petunjuknya dari Allah ‘azza wajalla.

Dalam urusan ranjang untuk melahirkan cinta, ketenangan dan kasih sayang Allah Ta’ala syariatkan pernikahan dan haramkan perzinaan.

Hari ini marak perzinaan, bahkan ada upaya menjadikan zina dan LGBT menjadi legal secara hukum, bagi mereka zina dan LGBT tidak tergolong sebagai tindak kejahatan selama tidak ada unsur kekerasan dan dilakukan atas dasar suka sama suka karena itu adalah hak biologis manusia.

 

Saudaraku, jamaah Jumat Rahimakumullah

Tidak ada kalam yang paling benar selain kalamullah, dan tidak ada petunjuk yang paling baik selain petunjuk Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kalam Allah menetapkan dalam surat al-Isra’: 32.

 وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Jangan kalian dekati zina, karena zina itu fakhisyah (keji, kotor dan jijik) dan seburuk buruk jalan.”

Zina yang definisinya secara syar’i adalah melakukan hubungan seksual di kemaluan di luar pernikahan yang sah, bukan pula karena kepemilikan budak dan terjadi bukan karena syubhat, adalah tindakan kejahatan. Level kejahatannya sudah cukup dipahami dari sepintas diksi larangan dalam firman Allah Ta’ala yang bukan sekedar “jangan berzina” akan tetapi “jangan dekati zina.”

Selain dari pada itu, Sang Pencipta Manusia Yang Paling paham detail unsur tubuh manusia menegaskan zina itu fahisyah (keji, jijik dan kotor), dan seburuk-buruk jalan yang menghantarkan kepada kejahatan lainnya.

Oleh karena itu, ayat tentang zina al-Isra’: 32 disebutkan setelah larangan kejahatan membunuh anak sendiri karena takut melarat di ayat 31, dan sebelum larangan kejahatan membunuh nyawa yang haram dibunuh kecuali dengan cara yang haq di ayat 32. Maknanya, zina adalah kejahatan sebagaimana kejahatan membunuh anak sendiri dan kejahatan membunuh nyawa yang haram dibunuh.

 

Saudaraku, jamaah Jumat Rahimakumullah

Untuk memahami seberapa jahat, nista, dan kotornya zina, Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita bahwa ada seorang pemuda datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا

Wahai Rasulullah izinkan aku berzina!”

Sontak para sahabat Radhiyallahu ‘anhum yang ada dalam majelis terperanjat dan mencela anak muda tersebut dan mengatakan, “cukup, cukup!”

Akan tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam justeru bersabda kepada anak muda itu,

ادْنُهْ

Mendekatlah!”

Maka pemuda tersebut mendekat dan duduk. Setelah itu beliau bersabda kepadanya,

“أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ؟” قَالَ: لَا. وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ”. قَالَ: “أَفَتُحِبُّهُ لِابْنَتِكَ؟” قَالَ: لَا. وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ”. قَالَ: “أَفَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ؟” قَالَ: لَا. وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأَخَوَاتِهِمْ”. قَالَ: “أَفَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ؟” قَالَ: لَا. وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِعَمَّاتِهِمْ”. قَالَ: “أَفَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ؟” قَالَ: لَا. وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: “وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِخَالَاتِهِمْ”.

Apakah kamu suka jika perzinaan itu terjadi kepada ibumu?”

Pemuda itu berkata, “Tidak, demi Allah aku berani berkurban dengan diriku sendiri.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Begitu pula orang lain mereka tidak suka jika perzinaan itu terjadi pada ibu-ibunya.”

Beliau bertanya, “Apa kamu suka jika perzinaan itu terjadi pada puterimu?”

Dia menjawab, “Tidak wahai Rasulullah, aku berani berkurban dengan diriku.”

Beliau bersabda, “Orang lain juga tidak suka zina itu terjadi pada puterinya.”

Beliau bertanya, “Apa kamu suka perzinaan itu terjadi pada saudara perempuanmu?”

Dia menjawab, “Tidak wahai Rasulullah, aku berani berkurban dengan diriku.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang lain juga tidak suka jika zina itu terjadi pada saudara-saudara perempuannya.”

Beliau bertanya, “Apa kau suka zina itu terjadi pada bibimu dari ayah?”

Dia menjawab, “Tidak wahai Rasulullah, aku berani berkurban dengan diriku.”

Beliau bersabda, “Orang lain juga tidak suka zina itu terjadi pada bibi-bibinya dari ayah.”

Beliau bertanya, “Apa kamu suka zina itu terjadi pada bibi-bibimu dari ibu?”

Dia menjawab, “Tidak wahai Rasulullah, aku berani berkurban dengan diriku.”

Beliau bersabda, “Orang lain juga tidak suka zina terjadi pada bibi-bibinya dari ibu.”

Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu bercerita, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya kepada pemuda tersebut seraya berdoa:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ

Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya dan jaga kemaluannya (kehormatannya).”

Kata Abu Umamah, “Setelah itu pemuda tersebut sama sekali tidak melirik perbuatan zina.”

 

Saudaraku, jamaah Jumat Rahimakumullah

Pemuda tadi adalah pemuda yang jujur, dia takut bermaksiat kepada Allah ‘‘azza wajalla. sementara syahwatnya sedang menggebu-gebu, dia tidak tahu bagaimana cara mengobati hasrat biologisnya yang sedang memuncak ke ubun-ubun dan ingin sekali berzina, sementara maunya zinanya tidak mengundang murka Allah bagi dirinya.

Maka dia datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta izin agar zina itu legal untuknya karena alasan hasrat biologis yang mengganggu ketenangan jiwanya. Namun zina tetaplah zina. Apa pun alasannya, hukumnya tetap haram.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedikit pun tidak bergeser dari prinsip hukum syariat, namun beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin pemuda tersebut harus merasakan dengan segenap hati dan jiwanya bahwa  zina itu jahat, keji, dan kotor.

Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memantik naluri kemanusiaannya dengan bertanya, bagaimana jika Ibunya, puterinya, saudarinya dan bibinya dizinahi orang lain?

Sontak pertanyaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengundang respon emosi, naluri kejiwaan dan akalnya bahwa zina adalah jahat, nista, jijik, dan kotor. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa ketika seseorang berzina dengan wanita maka pasti wanita itu antara Ibunya seseorang, putrinya, saudara perempuannya, atau bibinya, maka melegalkan zina berarti membiarkan manusia menerjang tagar-tagar kemanusiaannya. Bukan cuma untuk dirinya, tapi juga untuk orang-orang di sekitarnya yang dia cintai.

Tagar kemanusian atau fitrah manusia harus tetap ada. Terjaga dan terpelihara dalam diri manusia. Untuk menjaga serta memeliharanya Allah Ta’ala menurunkan Din dan syariat. Karenanya, manusia yang paling hidup dan normal kemanusiannya adalah seorang mukmin yang berkomitmen dengan din dan syariat.

Sementara manusia yang mencampakkan din dan syariat Allah lalu berimajinasi dengan hawa nafsunya dengan cara membuat aturan dan undang-undang yang dipaksa mengatur kehidupan, pada hakekatnya telah membawa dirinya keluar dari sisi kemanusian.

Cara hidup yang serba bebas dari din dan syariat membuat manusia menjadi liar seperti binatang. Allah berfirman dalam surat Muhammad ayat: 12,

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

Dan orang-orang yang kafir menikmati kesenangan (dunia) dan mereka makan seperti hewan makan; dan (kelak) nerakalah tempat tinggal bagi mereka.” (QS. Muhammad: 12)

Bahkan dalam menuntaskan syahwat yang tidak berujung, manusia tidak ada puasnya sehingga bisa lebih liar dari binatang seperti liarnya kaum Sodom, kaum Luth yang merusak tagar normal manusia dengan meletakkan hasratnya bukan pada wanita tapi pada sesama jenisnya.

 

Saudaraku, jamaah Jumat Rahimakumullah

Allah berfirman dalam surat Hud,

وَلَمَّا جَاءتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ (77) وَجَاءهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِن قَبْلُ كَانُواْ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ قَالَ يَا قَوْمِ هَؤُلاء بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُواْ اللَّهَ وَلاَ تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي أَلَيْسَ مِنكُمْ رَجُلٌ رَّشِيدٌ (78) قَالُواْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ (79)

Dan ketika para utusan Kami (para malaikat) itu datang kepada Lut, dia merasa curiga dan dadanya merasa sempit karena (kedatangan)nya. Dia (Lut) berkata, Ini hari yang sangat sulit.’ (77)

Dan kaumnya segera datang kepadanya. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan keji. Lut berkata, ‘Wahai kaumku! Inilah putri-putri (negeri)ku mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu orang yang pandai?’” (78)

Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya engkau pasti tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu; dan engkau tentu mengetahui apa yang (sebenarnya) kami kehendaki.’” (79)

Pantas jika Allah menghabisi masyarakat abnormal tersebut dengan hujan batu, dan tanah yang terangkat tinggi lalu dijungkir-balikkan seperti terjungkirnya akal mereka. Tanpa kompromi figuran yang loyal dan bersimpati kepada kaum sodom, padahal bukan pelaku juga ikut terkena azab meski berstatus sebagai istri Nabi Luth ‘alaihissalam.

Syariat Islam memanusiakan manusia dan memuliakannya dalam derajat fie ahsani taqwim, apapun itu syariatnya, bayangkan!

Dalam urusan ranjang, manusia dimuliakan dengan menikah. Dan ketika seorang berhubungan suami istri dan menuntaskan hasrat biologisnya di atas ranjang yang sah, kadang ada prilaku di luar kendali. Maka syariat menghukumi orang yang telah berhubungan suami istri yang mengeluarkan kenikmatannya dengan cara yang sah dari ujung rambut hingga ujung kaki sebagai orang yang junub.

Tidak sah shalatnya kalau belum mensucikan badannya dari junub, dalam syariat cara membersihkan dan mensucikannya dengan mandi wajib yang siramannya terasa dari ujung rambut hingga ujung kaki sebagaimana kenikmatan itu keluar dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Sementara manusia yang melakukan hubungan ranjang di luar nikah yang sah secara syariat, itu dikatakan zina. Maka cara membersihkannya tidak cukup dengan mandi, karena kenikmatan yang keluar dari ujung rambut hingga ujung kaki caranya kotor dan kotoran itu menempel di badan dan jiwanya dan bisa mengundang penyakit serta pengaruh kejahatan lainnya. Maka cara membersihkannya dengan rasa sakit yang mendera tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki, jika pelakunya belum menikah secara sah maka hukumannya adalah dicambuk seratus kali dan diasingkan satu tahun.

Allah ‘‘azza wajalla berfirman,

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (QS. An-Nuur: 2)

Dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خُذُوا عَنِّى خُذُوا عَنِّى قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلاً الْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْىُ سَنَةٍ

Ambillah dariku, ambillah dariku, Allah telah memberikan jalan keluar, pezina laki-laki yang belum menikah dengan pezina wanita yang belum menikah hukumannya adalah didera seratus kali dan diasingkan selama satu tahun.” (HR. Muslim No. 1690)

Dan jika pelakunya sudah menikah dengan pernikahan yang sah secara syar’i, maka hukumannya adalah rajam.

 

Saudaraku, jamaah Jumat Rahimakumullah

Lihatlah Sahabat Maiz Radhiyallahu ‘anhu. Karena cintanya kepada Allah setelah dia melakukan pelanggaran, dengan jujur datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta dibersihkan dirinya dengan hukuman rajam. Dia datang dan mengatakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ طَهِّرْنِى

Ya Rasulullah sucikan aku!”

Rasulullah hanya mengatakan kepada Maiz,

وَيْحَكَ ارْجِعْ فَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ وَتُبْ إِلَيْهِ

Waihak, pulang dan beristighfarlah kamu kepada Allah serta bertaubat kepada-Nya!”

Maiz datang hingga tiga kali kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau hanya menyuruhnya pulang dan beristighfar kepada Allah serta bertaubat kepada-Nya. Maiz tidak putus asa mencari cara untuk membersihkan dirinya di hadapan Allah ‘azza wajalla. Maka dia datang untuk keempat kalinya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga beliau bersabda kepada Maiz;

فِيمَ أُطَهِّرُكَ

Aku sucikan kamu dari apa?”

Maiz berkata, “Dari zina.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Sahabat Radhiyallahu ‘anhum:

«أَبِهِ جُنُونٌ». فَأُخْبِرَ أَنَّهُ لَيْسَ بِمَجْنُونٍ. فَقَالَ «أَشَرِبَ خَمْرًا». فَقَامَ رَجُلٌ فَاسْتَنْكَهَهُ فَلَمْ يَجِدْ مِنْهُ رِيحَ خَمْرٍ. قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «أَزَنَيْتَ». فَقَالَ نَعَمْ. فَأَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ

Apakah dia gila?”

Maka dikabarkan bahwa dia waras tidak gila. Beliau bertanya, “Apakah dia habis minum khamr?”

Maka berdiri seorang sahabat mencium mulutnya dan tidak didapatkan bau khamr. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Maiz, “Apakah kamu telah berzina?”

Dengan jujur Maiz berkata: “Iya.”

Maka beliau memerintahkan orang-orang untuk membawa Maiz agar dihukum rajam.

Setelah Maiz selesai dihukum rajam ada friksi di tengah Sahabat tentang nasib Maiz. Ada yang mengatakan Maiz celaka karena diliputi oleh dosanya, sementara yang lain berkata, “Tidak ada taubat yang lebih mulia dari taubatnya Maiz karena dia jujur miminta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dihukum rajam.

Setelah tiga hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam majelis, “Beristighfarlah kalian untuk Maiz!”

Maka para Sahabat saling berkata, “Semoga Allah mengampuni Maiz.”

Setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

   لَقَدْ تَابَ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ أُمَّةٍ لَوَسِعَتْهُمْ

Sungguh Ma’iz telah betaubat dengan sempurna, dan seandainya taubat Ma’iz dapat dibagi di antara satu kaum, pasti taubatnya akan mencukupi mereka semua.” (HR. Muslim No. 3207)

Allahu Akbar!

 

Saudaraku, jamaah Jumat Rahimakumullah

Begitu agungnya bentuk cintanya Allah kepada Maiz Radhiyallahu ‘anhu. Allah yang Maha Rahman dan Rahim tidak ridha jika hamba yang Dia cintai berkubang dalam kotornya lumpur dosa. Dia adalah Dzat Yang Maha Thayyib tidak menerima kecuali yang Thayyib.

Karena itu Allah tuntun Maiz Radhiyallahu ‘anhu dengan hidayah-Nya menuju pertaubatan kepada-Nya meski resikonya adalah rasa sakit yang mendera tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki. Akan tetapi setelah itu dia menjadi bersih dan hadiahnya berupa nilai taubatnya yang sebanding dengan kebaikan umat.

Hukum apa yang lebih baik dari hukum syariat ini, di dunia dan di akhirat, wahai saudaraku?!

 

Saudaraku, jamaah Jumat Rahimakumullah

Zina, LGBT, dan dosa fahisyah lainnya adalah kejahatan moral. Dampak bahayanya bukan sekedar mengancam pelaku, tetapi juga mengancam ketenteraman dan kesejahteraan masyarakat.

Untuk mengukur seberapa jauh bahaya fahisyah seperti zina dan LGBT, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada kita secara verbal dengan hadits berikut.

عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاح‏ عَنْ ‏‏عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ ‏ ‏قَالَ :أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ ‏الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَر الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلافِهِم الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ ‏وَجَوْرِ‏ ‏السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلا مُنِعُوا ‏الْقَطْرَ‏ ‏مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

Dari Atha’ bin Rabah dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui kami dan bersabda,

Ada lima hal yang akan menimpa kalian dan aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak menjumpainya:

Pertama, tidaklah perbuatan fakhisyah (nista seperti zina, LGBT) merajalela di sebuah kaum, sampai mereka membuatnya terbuka kecuali akan tersebar wabah penyakit Tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi di generasi sebelumnya;

Kedua, tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali mereka akan ditimpa paceklik, langkanya barang pokok dan kekuasaan tiran;

Ketiga, tidaklah mereka menolak untuk mengeluarkan zakat hartanya kecuali akan tertahan hujan dari langit, seandainya bukan karena binatang ternak mereka tidak akan diberi hujan;

Keempat, tidaklah mereka melanggar sumpah Allah dan Rasul-nya (yakni batasan loyalitas seseoang bukan Allah dan Rasul-Nya, identitas seseorang bukan lagi antara muslim, kafir dzimmi, mu’ahad dan harbi) kecuali Allah akan kuasakan mereka kepada musuh dari luar sehingga musuh-musuh itu merampas sebagian kekayaannya, dan;

Kelima, apabila para pemimpin mereka tidak berhukum dengan kitabullah (Al-Qur’an dan As-Sunnah) mereka hanya tebang pilih dari apa yang diturunkan oleh Allah kecuali Allah akan timpakan masalah di internal mereka.” (HR. Ibnu Majah No. 4019)

Saudaraku, jamaah Jumat Rahimakumullah

Hadits ini secara umum memberikan dasar dan bukti tentang seberapa besar dampak kerugian dunia jika Islam dan syariat tidak memimpin. Maka Islam adalah harga mati. Allah dan Rasul-Nya harga mati. Al-Quran dan as-Sunnah harga mati. Tidak bisa ditawar dengan apa pun.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ حُكَّامًا وَمَحْكُوْمِيْنَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَاهُمْ، وَفُكَّ أَسْرَانَا وَأَسْرَاهُمْ، وَاغْفِرْ لِمَوْتَانَا وَمَوْتَاهُمْ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمنًا مُطْمَئِنًّا قَائِمًا بِشَرِيْعَتِكَ وَحُكْمِكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمّ ارْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ، وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاة

 

 

Download materi khutbah Jumat versi PDF klik DI SINI

share on: