Materi Khutbah Jumat: Waspada Bencana, Renungi Sabda Utusan-Nya

share on:
Materi Khutbah Jumat Waspada Bencana, Renungi Sabda UtusanNya-istidlal.org

Materi Khutbah Jumat Tentang Bencana

Waspada Bencana, Renungi Sabda Utusan-Nya

Oleh: Mursi

 

 

Materi khutbah Jumat versi PDF download DI SINI

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

قال تعالى:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

وقال رسول الله:

اتَّقِ اللهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ

ثُمَّ أَمَّا بَعْدُ:

 

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Tak lupa khatib mewasiatkan kepada diri khatib dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa mengevaluasi dan meningkatkan kualitas iman dan takwa kita kepada Allah ‘azza wajalla.

Semoga dengan iman dan takwa itu, kita diletakkan oleh Allah ‘azza wajalla dalam barisa para syuhada dan shalihin yang kelak mendapat hak untuk masuk Jannah-Nya dengan penuh bahagia.

 

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan sesuatu yang bermanfaat untuk umatnya kecuali pasti teah dijelaskan kepada umatnya. Dan Rasulullah tidak meninggalkan sesuatu yang berbahaya dan dapat merusak umatnya kecuali pasti telah menjelaskannya kepada umat. Itulah salah satu bukti sifat amanah beliau, itulah bukti sayang dan cinta beliau kepada umatnya.

Begitu sayangnya beliau kepada kita umatnya, begitu perhatiannya beliau kepada kita umatnya, maka tak sepantasnyalah jika kita melalaikan, mengabaikan dan tidak memerhatikan peringatan serta nasehatnya.

Di antara perkara yang telah beliau jelaskan adalah adanya faktor-faktor yang dapat menjadi sebab turunnya azab bagi umatnya. Saya yakin tak ada orang yang mau jika ditawari bencana, bahkan hampir semua orang pasti berkeinginan dalam ibadah dan doanya agakar terhindar dari bencana.

Penjelasan beliau tentang faktor-faktor terjadinya bencana tersebut telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam satu ketika menghadap kepada para sahabat seraya bersabda,

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ، خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ، وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ:

لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا، إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا.

وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ، إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَؤونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ.

وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ، إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ، وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا.

وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ، إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ، فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ.

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ، إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

“Wahai sekalian kaum Muhajirin, ada lima hal yang jika kalian terjatuh ke dalamnya—dan aku berlindung kepada Allah supaya kalian tidak menjumpainya—(maka azab Allah akan menanti kalian):

(1) Tidaklah tampak fahisyah di suatu kaum, sehingga dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya.

(2) Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan ditimpa paceklik, susahnya penghidupan dan kezaliman penguasa atas mereka.

(3) Tidaklah mereka menahan zakat (tidak membayarnya) kecuali hujan dari langit akan ditahan dari mereka (hujan tidak turun), dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan.

(4) Tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh mereka (dari kalangan selain mereka; orang kafir) berkuasa atas mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki.

(5) Dan selama pemimpin-pemimpin mereka (kaum muslimin) tidak berhukum dengan Kitabullah (al-Quran) dan mengambil yang terbaik dari apa-apa yang diturunkan oleh Allah (syariat Islam), melainkan Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka.” (HR. Ibnu Majah, No: 4019)”.

 

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Marilah kita renungi bersama peringatan Rasulullah ini, dengan penuh keimanan, kesadaran, pengharapan, dan usaha sehingga dapat memahami dan mengambil ibrah serta merealisasikannya.

Di awal sabdanya Rasulullah mengabarkan kepada kita bahwa azab Allah berpotensi akan menimpa kita, sebagaimana dijelaskan oleh Imam as-Suyuthi, jika kelima faktor yang beliau sebutkan telah terjadi di antara umatnya.

Mengimani persoalan ini penting, dan bahkan suatu keharusan bagi seorang mukmin. Dan menjadi bagian dari rukun iman. Iman kepada Rasulullah, berarti mengimani apa yang beliau sampaikan. Bahwa itu pasti bisa terjadi, pasti benar adanya, pasti benar sumbernya dari Allah Ta’ala. Sebab,

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى # إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya # Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4)

Konsekuensi dari keimanan bukan hanya sekedar memercayai dalam keyakinan. Tapi juga melafalkan dengan lisan dan membuktikan dengan perbuatan. Bukan hanya memercayai dan membaca serta merenungi sabda beliau, tapi juga mengamalkan yang seharusnya dilakukan, merealisasikan yang seharusnya diterapkan.

 

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Yang pertama, beliau mengatakan,

لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا، إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا

Tidaklah tampak fahisyah di suatu kaum, sehingga dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya.

Yang dimaksud dengan fahisyah di sini adalah kemaksiatan berupa zina. Jangan dibayangkan dan jangan dipahami bahwa zina itu hanya terbatas pada hubungan kelamin yang terjadi antara dua orang yang tidak memiliki hubungan suami istri.

Ketika ada sejoli bukan mahram berduaan, berpacaran, berasyik masyuk, bercanda dengan intim padahal keduanya bukan mahram. Itupun dikatakan sebagai zina.

Bukan suatu hal yang mustahil jika pacaran itu sudah menjadi adat kebiasan, menjadi hal yang maklum dan nauzubillah menjadi hal yang seakan tidak sempurna pernikahan tanpanya. Bisa jadi Allah Ta’ala akan menimpakan azab karenanya.

Para ulama menyebutkan bahwa termasuk dalam kategori peringatan tidak bolehnya zina adalah apapun yang bisa memicu terjadinya zina. Sehingga dikatakan oleh Allah Ta’ala,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32).

Dikatakan oleh Syaikh as-Sa’di, larangan mendekati itu lebih mengena dan mendalam dari sekedar larangan terhadap zina itu sendiri. Kenapa? karena larangan mendekati zina berarti larangan terhadap faktor apapun yang dapat memicu, mendorong dan menjerumuskan seseorang kedalam zina.

Sesiapa yang bermain di sekitar jurang, dikhawatirkan akan terjungkal di dalamnya. Dan Allah menyifati zina di sini dengan lafal fahisyah, sebab zina adalah perkara yang keji, kotor dan melampaui batas syar’i, akal sehat dan fitrah manusia. Perbuatan zina melanggar hak Allah, hak wanita, hak keluarga, merusak rumah tangga, merusak nasab dan banyak kerusakan lainnya.

Hak Allah yang telah memberi segala nikmat justru dilanggar, hak wanita untuk dilindungi justru dirampas, hak keluarga yang seharusnya dijaga diinjak-injak, rumah tangga yang seharusnya dibangun dengan kasih sayang dan ketaatan kepada Allah dirusak, nasab yang seharusnya dijaga betul tercampur aduk. Maka secara akal dan nurani pun tak lebih baik dari hewan bagi orang yang melakukan perzinaan. Nauzu billah min dzaalik.


Ma’asyiral Muslimin Jamaah
Shalat Jumat Rahimakumullah,

Perzinaan tidak hanya terjadi antara laki-laki dan perempuan saja. Bahkan bisa juga terjadi antar sejenis, laki-laki denga laki-laki yang sering kita sebut dengan homoseks, atau perempuan dengan perempuan, yang sering kita sebut dengan lesbian. Hal ini pernah terjadi pada zaman Nabi Luth, umat beliau yang membangkang tidak menggubris peringatan yang telah disampaikan. Hingga akhirnya Allah Ta’ala menimpakan azab kepada mereka.

Ironisnya, di Indonesia sendiri yang mayoritas penduduknya muslim, masih ada saja orang-orang yang meragukan keharaman hubungan sejenis. Dengan dalih kemanusiaan, kesamaan hak, dan bahkan lebih parahnya lagi dengan mengutip ayat dan menafsirinya berdasarkan akalnya yang lemah dan hawa nafsunya yang membabi buta.

Silakan dicek sendiri, terindikasi di Indonesia banyak didapati grup-grup gay di facebook. Bahkan tak jarang kita dapati terciduknya beberapa pemuda yang berasyik masyuk melakukan berbuatan kotor dan menjijikkan ini oleh aparat keamanan.

Jika perzinahan semacam ini tidak dihentikan, dan tidak dicegah, maka akan banyak azab yang menimpa kita. Tidakkah cukup dengan adanya aids yang telah banyak memakan korban sebagai peringatan bagi kita. Tidakkah cukup dengan kanker kelamin sebagai peringatan bagi kita.

Tentunya tidak perlu kita menunggu ada penyakit baru untuk sadar, tidak perlu menunggu wabah terjadi untuk bertaubat, tidak perlu menunggu ada bencana untuk saling mengingatkan. Cukup dengan apa yang terjadi, cukup dengan adanya peringatan dari Rasulullah.

 

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Yang kedua, Rasulullah sampaikan,

وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ، إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَؤونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ

“Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan ditimpa paceklik, susahnya penghidupan dan kezaliman penguasa atas mereka.”

Nabi melarang umat Islam mempermainkan timbangan dan takaran, yang telah diancam oleh Allah dengan azab dan kerusakan. Allah Ta’ala berfirman dalam al-Quran,

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ # الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ # وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ #

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang # (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi # dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.(QS. Al-Muthaffifin: 1-3)

Para ulama mengatakan, ayat ini menyiratkan adanya larangan mengambil harta orang lain dengan cara yang batil. Larangan itu bukan hanya terbatas hanya pada masalah timbangan dan takaran. Tetapi segala bentuk yang dilakukan dalam rangka mengambil harta orang lain dengan cara yang batil, juga termasuk di dalamnya.

Penipuan, manipulasi data keuangan, korupsi, pemerasan, pungutan liar, sumbangan bodong dan semisalnya masuk dalam kategori mengambil harta orang lain dengan cara yang batil. Termasuk di antara pengambilan harta dengan batil adalah riba.

Riba dengan turunannya seperti bunga bank banyak dicari saat ini. Meskipun MUI telah mengeluarkan fatwanya tentang keharaman bunga bank. Masih banyak rakyat Indonesia, bahkan umat Islamnya berkecimpung di lembaga-lembaga ribawi. Bahkan ironisnya lagi, dengan bermodalkan dalil syar’i dari al-Quran dan Sunnah, mereka legalkan riba itu dengan segenap argumentasi akal dan kutipan dari para fuqaha dan para ulama.

Tentang haramnya riba barangkali sudah banyak kita dapat penjelasannya. Namun tentang haramnya bunga bank berikut sederet produk-produk dari lembaga keuangan yang ada, banyak dari umat ini yang dibutakan dan disamarkan pemahamannya. Diyakinkan dengan argumentasi syar’i bahwa itu perkara yang mutlak halal. Padahal jika dipelajari lebih dalam, ada ikhtilaf di dalamnya.

Patut untuk dicatat dan kita ingat selalu. Bahwa riba, dengan segala bentuk dan istilahnya, sudah nyata diharamkan dengan dalil qoth’I dalam al-Quran. Oleh sebab itu alangkah baiknya kita menjaga betul persoalan tersebut. Kalaupun ada ikhtilaf, lebih baik kita menjaga diri kita dari kesyubhatan perkara yang terkadang dan seringnya hawa nafsu kita lebih cenderung memilihnya.

Jika pengambilan harta dengan batil sudah biasa dilakukan, bahkan membudaya di masyarakat. Rasul mengabarkan, mereka akan ditimpa paceklik, susahnya penghidupan dan kezaliman penguasa atas mereka. Tak heran bila hal itu akan terjadi. Sebab kebijakan ekonomi ditangan penguasa. Apabila rakyat sudah terbiasa, apalagi kalangan penguasa.

Analogi yang sederhana cukup untuk menggambarkan hal tersebut. Kezaliman yang terjadi antar rakyat seharusnya penguasa yang lebih mampu untuk menghentikan. Namun, jika penguasa yang mampu tidak melakukannya, bisa dikatakan boleh jadi, bahkan pasti penguasa juga melakukan kezaliman tersebut.

Imam Ghazali mengungkapkan bahwa baiknya rakyat tergantung kepada baiknya penguasa, dan baiknya penguasa tergantung kepada baiknya para ulama. Jika ulama tidak menjadi penasehat yang baik untuk penguasa, bahkan justru menjadi pembenar dari kesalahan penguasa, tentunya rakyat yang akan terkena imbasnya. Apalagi jika ulama menjadi corong pembenar dari segala kebijakan penguasa yang bertentangan dengan syariat.

 

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Yang ketiga, Rasulullah mengatakan,

 وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ، إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ، وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا.

Tidaklah mereka menahan zakat (tidak membayarnya) kecuali hujan dari langit akan ditahan dari mereka (hujan tidak turun), dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan”.

Kewajiban zakat termasuk rukun Islam. Zakat yang dimaksud adalah zakat mal. Zakat yang berkaitan dengan harta. Bukan zakat fitri yang menjadi kewajiban muslim pasca puasa Ramadhan. Harus disadari betul bahwa kewajiban zakat mal berbeda dengan zakat fitri. Zakat fitri tidak bisa dianggap sebagai kewajiban yang menggugurkan kewajiban zakat mal.

Zakat mal hanya berlaku bagi mereka yang hartanya sudah mencapai nishab. Dan tidak berlaku bagi seluruh umat Islam kecuali nishab itu sudah tercapai. Nishab itu pun berbeda beda antara jenis harta yang satu dengan yang lain. Zakat uang berbeda dengan zakat perdagangan, zakat produksi berbeda dengan zakat pertanian dan seterusnya.

Zakat diwajibkan untuk membersihkan harta pemiliknya. Sebab dalam harta yang dimiliki seseorang itu ada hak orang lain di dalamnya. Jika zakat tidak dikeluarkan, berarti dia menahan hak orang lain yang seharusnya diberikan. Maka tidak heran jika Allah Ta’ala akan memberikan balasan yang semisal. Sebagai peringatan bagi hamba-hamba-Nya.

Beruntung karena di bumi ini ada makhluk lain. Ada hewan yang rezekinya berada dalam kuasa Allah, ada tumbuhan yang rezekinya diatur oleh Allah. Jangan sampai keberuntungan itu dihentikan oleh Allah Ta’ala. Sehingga umat ini tertimpa musibah lantaran kerusakan dan kemaksiatan yang mereka lakukan sendiri.

 

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Yang keempat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ، إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ، فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ

Tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh mereka (dari kalangan selain mereka; orang kafir) berkuasa atas mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki.

Pelanggaran terhadap perjanjian terhadap Allah dan Rasul adalah dengan adanya kemaksiatan yang dilakukan. Sebab tiap hamba telah diambil janjinya oleh Allah untuk senantiasa taat dan patuh terhadap perintah dan menjauhi segala laranganNya. Dan termasuk dalam konsekuensi syahadat adalah ketundukan terhadap syariat.

Syadahat yang dilafalkan adalah bukti keimanan dan kesediaan untuk mengatur diri, keluarga, masyarakat dan negara dan segala hal yang menjadi tanggung jawabnya untuk tunduk terhadap aturan Allah Ta’ala. Cobalah kita mulai dari diri kita. Berapa persen diri kita diatur dengan syariat? Berapa persen tindakan kita mengikut pada syariat? Hal ini patut untuk direnungkan.

Aturan Allah Ta’ala dalam syariat-Nya, tak lain dan tak bukan adalah demi kemaslahatan manusia itu sendiri. Jika aturan itu tidak dipatuhi berarti mereka akan kehilangan kontrol yang baik dalam memenej tindakan yang dilakukan.

Pada giliran selanjutnya, aturan lain yang akan dipakai. Ketika aturan lain yang dipakai, maka secara tidak langsung mereka terjajah oleh aturan tersebut. Apalagi jika aturan itu bertentangan dengan syariat. Menegasikan syariat, mengenyampingkan maslahat, menuai madharat.

 

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Yang keempat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ، إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

Dan selama pemimpin-pemimpin mereka (kaum muslimin) tidak berhukum dengan Kitabullah (al-Quran) dan mengambil yang terbaik dari apa-apa yang diturunkan oleh Allah (syariat Islam), melainkan Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka.

Islam bukan hanya syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji. Islam mengatur segala lini kehidupan. Islam mengatur kehidupan pribadi seseorang, Islam mengatur kehidupan dalam keluarga, Islam mengatur kehidupan dalam bermasyarakat, Islam mengatur kehiduan dalam bernegara.

Jika Islam hanya dalam masjid, maka tak heran jika ada perzinaan yang dilegalisasi. Pelaku zina tidak dihukum, dengan alasan dilakukan suka sama suka. Koruptor melenggang kangkung karena bukti yang tidak cukup, lewat duit yang banyak ditumpuk. Tahanan tak layaknya tahanan, karena banyaknya setoran yang dimasukkan.

Hukum itu berjalan dengan penguasa yang mengaturnya. Hukum apa yang akan dipakai, penguasa yang menentukan. JIka seseorang mengaku dirinya sebagai muslim, mengaku dirinya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka di saat syahadat itu terucap, tidak ada ketundukan, kepatuhan kecuali kepada Allah dan Rasul-Nya.

Bukti ketundukan dan kepatuhan itu adalah dengan diterapkannya hukum-hukum Allah Ta’ala. Maka sangat ironis sekali jika ada seorang muslim yang tidak merasa bahwa keislamannya belum sempurna karena syariat Islam beluam tegak. Atau bahkan bisa jadi dia mengira bahwa syariat hanya terbatas pada rukun Islam. Melihat shalat sudah banyak ditegakkan, shiyam Ramadhan sudah dijalankan, badan lazis sudah banyak berdiri sehingga keinginan tertegaknya syariat secara kafah sirna.

Tidakkah kita ingat dengan firman Allah Ta’ala,

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah din dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. (QS. Asy-Syura: 13)

Imam Ath-Thabari menjelaskan, makna ayat ini adalah bahwa menegakkan—mengamalkan—diin merupakan perkara yang disyariatkan oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala memerintahkan hal tersebut, sehingga menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk menjalankannya.

Sekali lagi perlu kita ingat, al-Quran dan sunah tidak hanya memuat perintah syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji. Bukan hanya itu, bahkan lebih dari itu. Ketidak tahuan kita akan aturan-aturan syariat Islam bukan berarti aturan syariat itu tidak ada. Oleh sebab itu, perlu ada semangat, perlu ada tindakan, perlu ada kebersamaan untuk menegakkan agama Islam dengan sempurna. Siapa lagi kalau bukan kita umat Islam sebagai umat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jangan-jangan tidak tegaknya syariat Islam, bukan karena umat lain yang tidak suka. Tapi justru keengganan umat Islam sendiri untuk menegakkannya. Karena merasa cukup dan puasa dengan berjalannya sebagian syariat Islam. Sebagian syariat, belum semuanya. Maka tak heran jika Allah Ta’ala menjadikan rasa permusuhan di antara umat ini. Oleh sebab itu, marilah berusaha untuk menjadi bagian, turut mengambil bagian dalam rangka tegaknya syariat Islam.

بارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِي اللهُ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، وَأَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

 

KHUTBAH KEDUA:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى

 

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,

Peringatan Rasulullah kepada Muhajirin juga berlaku untuk kita. Setelah kita tahu, kita sadar, kita mengerti apa yang beliau ingatkan. Marilah kita bergerak, kita berusaha, kalaupun saat ini kita masih berusaha, masih berjuang, masih bergerak namun belum merasakan hasilnya, paling tidak pikirkan generasi setelah kita. Sebab merekalah penerus kita, merekalah penerus tegaknya Islam. Marilah kita tutup khutbah ini dengan doa,

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةَ المَهْدِيِيْنَ؛ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ عَلِيٍّ, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ فِي أَندُونِسِيَا و الشَامَ و اليَمَن و رُوهِنغيَا وَفِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَهُمْ حَافِظاً وَمُعِيْنًا وَمُسَدِّداً وَمُؤَيِّدًا، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَهُمْ وَلَا تَكُنْ عَلَيْنَا، وَانْصُرْنَا وَلَا تَنْصُرْ عَلَيْنَا، وَامْكُرْ لَنَا وَلَا تُمْكِرْ عَلَيْنَا، وَاهْدِنَا وَيَسِّرْ الهُدَى لَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا لَكَ ذَاكِرِيْنَ، لَكَ شَاكِرِيْنَ، إِلَيْكَ أَوَّاهِيْنَ، لَكَ مُخْبِتِيْنَ، لَكَ مُطِيْعِيْنَ. اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا، وَاغْسِلْ حَوْبَتَنَا، وَثَبِّتْ حُجَّتَنَا، وَاهْدِ قُلُوْبَنَا، وَسَدِّدْ أَلْسِنَتَنَا، وَاسْلُلْ سَخِيْمَةَ صُدُوْرِنَا

اَللَّهُمَّ وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ العَمَلَ الَّذِيْ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ. اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ الإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةَ مُهْتَدِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ. اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ: أُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، {وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ}

share on: