Memahami Makna Khilafah, Imamah dan Imaroh

share on:
Khilafah

Para ulama Islam menyebut institusi pemerintahan Islam dengan beberapa istilah. Istilah yang paling sering mereka pakai dalam kitab-kitab akidah, fikih, dan sejarah adalah istilah “Imamah”, “Khilafah”, dan “Imarah” atau “Imaratul Mukminin”. Berikut ini penjelasan tentang pengertian masing-masing istilah ini.

PENGERTIAN IMAMAH

  1. Pengertian Secara Bahasa

Terminologi imamah merupakan bentuk isim mashdar. Ia diambil dari kata kerja dasar dalam bahasa Arab: amma – yaummu – amman wa amaaman wa imaamatan (أَمَّ- يَؤُمُّ-أَمًّا وَأمَاماَ وَأِمَامَةً) yang berarti: memimpin. Kata ‘imam’ secara bahasa memiliki makna: (1) setiap orang yang diikuti baik berada di atas kebenaran maupun kebatilan, (2) pengurus dan penanggung jawab suatu urusan, (3) jalan yang luas, dan (4) panutan.[1]

  1. Pengertian Secara Istilah

Para ulama menyebutkan sejumlah definisi imamah. Meskipun ungkapan mereka beragam, namun secara makna memiliki kesamaan. Di antara definisi imamah yang disebutkan oleh para ulama adalah sebagai berikut.

  • Imam Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Habib Al-Mawardi Asy-Syafi’I (450 H):

الْإِمَامَةُ مَوْضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا

Imamah adalah sebuah jabatan yang menjadi penerus peranan kenabian dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama.”[2]

  • Imamul Haramain Abul Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf Al-Juwaini Asy-Syafi’i (478):

اَلإِمَامَةُ رِيَاسَةٌ تَامَّةٌ وَزِعَامَةٌ تَتَعَلَّقُ بِالْخَاصَّةِ وَالْعَامَّةِ فِى مُهِمَّاتِ الدِّيْنِ وَ الدُّنْيَا

Imamah adalah kepemimpinan yang sempurna dan kekuasaan yang meliputi orang-orang khusus (para pejabat dan penguasa) maupun rakyat secara umum, dalam mengelola persoalan-persoalan agama dan dunia.”[3]

  • Imam Sa’duddin Mas’ud bin Umar bin Abdullah At-Taftazani (793 H):

والإمامة رياسةٌ عامة في أمر الدين والدنيا خلافة عن النبي صلى الله عليه سلم

“Imamah adalah kepemimpinan umum dalam perkara agama maupun dunia, sebagai pelanjut dari tugas kepemimpinan Nabi SAW.”[4]

  • Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun At-Tunisi (808 H):

حمل الكافة على مقتضى النظر الشرعي في مصالحهم الأخروية والدنيوية الراجعة إليها ، إذ أحوال الدنيا ترجع كلها عند الشارع إلى اعتبارها بمصالح الآخرة ، فهي في الحقيقة خلافة عن صاحب الشرع في حراسة الدين وسياسة الدنيا به

Mengatur seluruh rakyat sesuai dengan aturan syari’at Islam demi merealisasikan kemaslahatan mereka dalam urusan akhirat maupun urusan dunia yang membawa maslahat bagi akhirat. Sebab, semua keadaan di dunia dalam pandangan Allah dipehitungkan jika membawa maslahat di akhirat. Maka pada hakekatnya imamah adalah pelanjut peran dari pengemban syariat (Rasulullah SAW) dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan pedoman agama.[5]

  • Syaikh Muhammad Najib Al-Muthi’i:

اَلرِّئَاسَةُ الْعَامَّةُ فِى شُؤُوْنِ الدُّنْيَا وَ الدِّيْنِ

Kepemimpinan umum (atas semua rakyat -penj) dalam urusan-urusan dunia dan agama.”[6]

Semua definisi ‘Imamah’ yang diuraikan para ulama di atas menjelaskan hakekat imamah, yaitu:

  1. Imamah merupakan sebuah jabatan tertinggi dalam negara Islam, karena membawahi semua orang, baik kalangan pejabat (menteri, panglima perang, hakim, gubernur, dan lain-lain) maupun kalangan rakyat jelata.
  2. Karena Nabi SAW adalah penutup para nabi dan rasul, dan tidak ada lagi nabi sepeninggal beliau, maka fungsi imamah meneruskan tugas-tugas kenabian yaitu memimpin dan mengurus urusan seluruh umat Islam, baik urusan-urusan agama maupun urusan-urusan dunia.
  3. Imamah memimpin seluruh umat Islam dengan berdasarkan hukum-hukum syariat Islam, baik dalam urusan-urusan dunia maupun urusan-urusan akhirat.

PENGERTIAN KHILAFAH

  1. Pengertian Secara Bahasa

Terminologi Khilafah adalah bentuk isim mashdar, dari kata kerja asal dalam bahasa Arab: khalafa – yakhlufu – khalafun wa khilaafatun. Maknanya secara bahasa adalah menggantikan posisinya, atau menggantikan peranannya. Ia secara bahasa juga memiliki makna datang sesudahnya, atau pelanjut dan penerus dari orang sebelumnya.

Dalam bahasa Arab dikatakan khalafa fulaanun fulaanan fi qaumihi, artinya adalah fulan B menggantikan fulan A sebagai pemimpin kaumnya. Dalam bahasa Arab juga dikatakan khalafa fulanun fulaanan, artinya adalah fulan B datang setelah fulan A.[7]

  1. Pengertian Secara Istilah

Para ulama memberikan beberapa definisi tentang khilafah. Berikut ini sebagian definisi yang mereka ungkapkan.

  1. Imam Yusuf bin Hasan bin Abdul Hadi Ad-Dimasyqi Al-Hambali (wafat 909 H):

عبارة عن الإمام والسلطان

“Khilafah adalah ungkapan lain untuk imam dan sultan.”[8]

  1. Muhammad Ra’fat Utsman (wafat 1438 H):

الزعامة العظمى وهى الولاية العامة على سائر أفراد الأمة و القيام بتسيير شؤونها والنهوض بكل ما يحقق مصالحها وفق ما أمر به الشرع.

“Khilafah adalah kepemimpinan tertinggi, yaitu kekuasaan yang berlaku umum atas seluruh individu umat Islam, mengurus dan menjalankan urusan-urusan umat Islam, dan melakukan segala hal yang merealisasikan kemaslahatan-kemaslahatan umat Islam sesuai dengan aturan yang telah diperintahkan oleh pembuat syariat (Allah SWT).”[9]

  1. Dr. Muhammad bin Ahmad bin Musthaafa Abu Zahrah Al-Mishri (wafat 1394 H):

الخلافة وهي الإمامة الكبرى ،وسميت خلافة لأن الذي يتولاها ويكون الحاكم الأعظم للمسلمين يخلف النبي في إدارة شؤونهم

“Khilafah adalah kepemimpinan tertinggi. Dinamakan khilafah karena orang yang memegang jabatan tersebut dan menjadi pemimpin tertinggi kaum muslimin adalah orang yang menggantikan peranan Nabi SAW dalam mengatur urusan kaum muslimin.”[10]

  1. Syaikh Abdul Mun’im Musthafa Halimah (Abu Bashir At-Thartusyi):

الخلافة الإسلامية هي الدولة التي توحّد و تحمع جميع المسلمين على اختلاف ألوانهم و أجناسهم ولغاتهم وقومياتهم, وعلى اختلاف أقطارهم وبلدانهم وولاياتهم وأماكن تواجدهم, يكون لهم جميعا نفس الحقوق و الواجبات, في دولة واحدة, يحكمها إمام و خليفة واحد, بكتاب الله و سنة نبيه صلى الله عليه وسلم, منتخب و مرضي من قبل الأمة, وممثلي الأمة من أهل الحل و العقد في جميع الأقطار و الولايات.

“Khilafah Islamiyah adalah daulah (negara) Islam yang menyatukan dan mengumpulkan seluruh kaum muslimin, dengan keberagaman warna kulit, suku, bahasa, dan bangsa mereka; dengan perbedaan negara, negeri, wilayah, dan daerah tempat tinggal mereka; mereka semua memiliki kesamaan hak dan kewajiban, dalam satu negara, dipimpin oleh seorang imam dan khalifah, dengan pedoman kitab Allah dan Sunah Nabi-Nya SAW, dimana imam dan khalifah tersebut dipilih dan diridhai oleh umat Islam dan Ahlul Halli wal Aqdi sebagai representasi umat Islam dari seluruh penjuru dan wilayah.”[11]

Semua definisi khilafah tersebut mengarah kepada makna yang satu, yaitu institusi kekuasaan tertinggi dalam Islam, yang membawahi seluruh kaum muslimin, dan mengatur urusan kehidupan kaum muslimin dengan landasan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

DEFINISI IMARAH / IMARATUL MUKMININ

Terminologi Imaratul Mukminin terdiri dari dua suku kata; imarah dan mukminin.

  1. Pengertian secara bahasa

Terminologi Imarah adalah isim mashdar. Ia berasal dari kata kerja dalam bahasa Arab: amara – ya’muru – amrun wa imratun wa imaaratun. Maknanya adalah memerintah. Amiir adalah pemimpin, yaitu orang yang memberi perintah.

Ia dapat juga diambil dari kata kerja dasar: imara – ya’maru – imratun wa imaaratun, artinya sesuatu yang besar. Dalam  hadits shahih dijelaskan bahwa Abu Sufyan bin Harb saat diundang dan dimintai keterangan oleh Kaisar Romawi perihal surat dakwah Nabi Muhammad SAW, ia berkomentar:

لَقَدْ أَمِرَ أَمْرُ ابْنِ أَبِي كَبْشَةَ إِنَّهُ يَخَافُهُ مَلِكُ بَنِي الْأَصْفَرِ

Sungguh, perkara Ibnu Abi Kabsyah (nama pelecehan untuk Nabi SAW. Abu Kabsyah adalah bapak susuan Nabi SAW) telah membesar, sampai-sampai Kaisar bangsa kulit kuning (Romawi) pun gentar terhadapnya.” (HR. Bukhari no. 7 dan Muslim no. 1773)[12]

  1. Pengertian secara istilah

Jika terminologi Imarah digabungkan dengan terminologi mukminin, sehingga menjadi frase “Imaratul Mukminin”; maka menurut para ulama memiliki pengertian yang sama dengan terminologi khilafah dan imamah.

Adapun jika sebatas pada terminologi “Imarah”, atau “Imarah Islamiyah”, maka menurut para ulama memiliki pengertian yang lebih sempit. Terminologi Imarah atau Imarah Islamiyah biasanya memiliki pengertian sebuah wilayah bagian dari sebuah daulah (negara) yang menyeluruh cakupannya, atau sebuah wilayah sebagai cabang dan bagian dari satu kesatuan khilafah Islamiyah yang menyeluruh.[13]

Jika khilafah mencakup seluruh wilayah negeri kaum muslimin yang dipimpin oleh seorang imam, maka imarah biasanya adalah satu negara bagian dari khilafah, atau satu propinsi dari khilafah, atau satu wilayah bagian lainnya yang lebih kecil (misal, seukuran kota dan kabupaten).

Dalam terminologi yang biasa dipergunakan di bidang sejarah Islam, pemimpin sebuah imarah disebut amiir dan kedudukannya adalah setingkat seorang gubernur wilayah. Komandan pasukan dan panglima perang juga bisa dipanggil dengan nama gelar amiir. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى أَمِيرِي فَقَدْ عَصَانِي

Barangsiapa menaatiku niscaya ia telah menaati Allah dan barangsiapa mendurhakaiku niscaya ia telah mendurhakai Allah. Barangsiapa menaati Amir yang aku angkat, niscaya ia telah menaatiku dan barangsiapa mendurhakai Amir yang telah aku angkat, niscaya ia telah mendurhakaiku.” (HR. Bukhari no. 7137 dan Muslim no. 1835)

ASAL MULA PENAMAAN AMIRUL MUKMININ

Pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, kaum muslimin memanggil diri beliau dengan nama panggilan “Khalifah Rasulullah SAW”.

Imam Ibnu Sa’ad dalam At-Thabaqat Al-Kubra meriwayatkan bahwa saat Abu Bakar As-Shiddiq wafat dan kedudukannya digantikan oleh Umar bin Khathab, kaum muslimin memanggil Umar dengan sebutan “Khalifah Khalifah Rasulullah SAW”. Kaum muslimin kemudian berkata, “Orang yang menggantikan jabatan Umar, kelak akan dipanggil Khalifah Khalifah Khalifah Rasulullah SAW. Tentu nama panggilan itu makin lama akan makin panjang.” Kaum muslimin kemudian memikirkan nama panggilan yang lebih sederhana dan singkat. Sebagian kaum muslimin berkata, “Kita adalah orang-orang mukmin dan Umar adalah Amir kita.” Sejak itu, Umar bin Khathab dipanggil dengan nama gelar “Amirul Mukminin.”

Imam Ath-Thabarani meriwayatkan bahwa Khalifah Umar bin Khathab mengirim surat kepada gubernur Irak, agar mengirim dua orang yang cerdas untuk ditanyai tentang kondisi Irak. Maka Gubernur Irak mengutus Labid bin Rabi’ah Al-Amiri dan Adi bin Hatim Ath-Thai ke Madinah.

Ketika keduanya tiba di Madinah, keduanya segera menambatkan tali kekang unta mereka ke tempat berteduh. Keduanya bertemu dengan Amru bin Ash, maka keduanya berkata, “Mintakanlah izin untuk kami kepada Amirul Mukminin!” Amru bin Ash berkomentar, “Kalian telah memanggil dengan nama gelaran yang tepat. Beliau adalah Amir kita, dan kita adalah orang-orang beriman.”

Amru bin Ash lalu menemui Umar bin Khatab, dan berkata, “As-Salamu ‘alaikum, wahai Amirul Mukminin.” Umar bertanya, “Apa-apaan ini?” Amru bin Ash menjawab, “Anda adalah Amir dan kami adalah orang-orang yang beriman.” Sejak saat itu Umar dan para khalifah sesudahnya dipanggil dengan nama gelar Amirul Mukminin.[14]

IMAMAH, KHILAFAH, DAN IMARATUL MUKMININ ADALAH SINONIM

Dari penjelasan definisi-definisi di atas, bisa dipahami bahwa ketiga terminologi “Imamah, Khilafah, dan Imaratul Mukminin” pada dasarnya memiliki pengertian yang sama. Ketiga istilah ini adalah sinonim. Demikian ditegaskan oleh para ulama dalam pernyataan-pernyataan mereka.

  • Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi (676 H) berkata:

يجوز أن يقال للإمام : الخليفة ، والإمام ، وأمير المؤمنين

“Imam itu boleh disebut khalifah, imam, dan amirul mukminin.”[15]

  • Imam Ibnu Khaldun berkata:

وإذ قد بيَّنَّا حقيقة هذا المنصب وأنه نيابة عن صاحب الشريعة في حفظ الدين وسياسة الدنيا به تسمى خلافة وإمامة والقائم به خليفة وإمام

“Setelah kami menjelaskan hakekat jabatan (Imamah) ini dan bahwasanya ia adalah menggantikan penyampai syariat (Rasulullah SAW) dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia dengan pedoman agama, maka jabatan ini disebut Khilafah dan Imamah, sedangkan pemangku jabatan ini disebut Khalifah dan Imam.”[16]

  • Syaikh Muhammad Najib Al-Muthi’i berkata:

والمراد بالامام الرئيس الأعلى للدولة، والامامة والخلافة وإمارة المؤمنين مترادفة، والمراد بها الرياسة العامة في شئون الدين والدنيا

“Adapun yang dimaksud dengan imam adalah kepala (pejabat) tertinggi negara. Imamah, Khilafah, dan Imaratul Mukminin itu sinonim. Maksudnya adalah kepemimpinan yang bersifat menyeluruh, dalam urusan-urusan agama maupun dunia.”[17]

Hal yang sama ditegaskan oleh Imam Al-Mawardi Asy-Syafi’i, Al-Baghawi Asy-Syafi’i, Ibnu Abdul Hadi Ad-Dimasyqi Al-Hambali, Al-Khathib Asy-Syarbini Asy-Syafi’i, Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, Prof. Dr. Muhammad bin Ahmad Abu Zahrah Al-Mishri, Syaikh Muhammad Al-Mubarak, Dr. Muhammad Ra’fat Utsman, Prof. Dr. Abdul Aziz bin Izzat Al-Khayath, Dr. Abdullah bin Umar bin Sulaiman Ad-Dumaiji, dan para penulis lainnya. Wallahu a’lam bish-shawab. []

Penulis : Fadlullah

Editor : Ibnu Rodja

[1] Lisanul Arab, Al-Qamus Al-Muhith, dan Al-Mu’jam Al-Wasith, entri:  amma.

[2] Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyah, tahqiq: Ahmad Jad, Kairo: Darul Hadits, cet. 1, 1427 H, hal. 15.

[3]. Al-Juwaini, Ghiyatsul Umam fi At-Tiyats Azh-Zhulam, tahqiq: Prof Dr. Abdul Azhim Mahmud Ad-Dayyib, Jeddah: Darul Minhaj, cet. 1, 1432 H, hal. 217.

[4]. At-Taftazani, Syarh Maqashidi At-Thalibin fi Ilmi Ushulid Dien, Astanah: Daru At-Thiba’ah, cet. 1277 H, hal. 200. Dikutip dari Dr. Muhammad Ra’fat Utsman, Riyasatud Daulah fil Fiqh Al-Islami, hal. 50.

[5]. Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibni Khaldun, Tunis: Dar At-Tunisiyah, cet. 1984 M, hal. 244.

[6]. An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab Ma’a At-Takmilah lil-Muthi’i, Jedah: Maktabah Al-Irsyad, t.t.  XXI/26.

[7]. Al-Murtadha Az-Zabidi, Tajul ‘Arus min Jawahiril Qamus, X/100 dan Al-Jauhari, Tajul Lughah wa Shihahul Aarabiyah, IV/1356.

[8]. Ibnu Abdil Hadi, Idhah Thuruqil Istiqamah fi Bayan Ahkam Al-Wilayah wal Imamah, Damaskus: Dar An-Nawadir, cet. 1, 1432 H, hlm. 26.

[9]. Muhammad Ra’fat Utsman, Riyasatud Daulah fil Fiqh Al-Islami, Kairo; Darul Kitab Al-Jami’I, cet. 1, 1395 H, hlm. 27.

[10]. Muhammad Abu Zahrah, Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyah, I/21. Dikutip dari Dr. Abdullah bin Umar Ad-Dumaiji, Al-Imamah Al-Uzhma Inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Riyadh: Dar Thayibah, cet. 2, 1408 H, hal. 33-34.

[11]. Abu Bashir At-Thartusyi, Al-Ahkam As-Sulthaniyah wa As-Siyasah Asy-Syar’iyah, t.p, t.t, hlm. 18.

[12]. Ibnu Abdil Hadi, Idhah Thuruqil Istiqamah fi Bayan Ahkam Al-Wilayah wal Imamah, hlm. 26.

[13]. Abu Bashir At-Thartusyi, Al-Ahkam As-Sulthaniyah wa As-Siyasah Asy-Syar’iyah, hlm. 19.

[14]. Ad-Dumaiji, Al-Imamah Al-Uzhma, hlm. 35 dan Utsman, Riyasatu Ad-Daulah, hlm. 43-44.

[15]. An-Nawawi, Raudhatu At-Thalibin, tahqiq: Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Mu’awwidh, Riyadh: Dar ‘Alamil Kutub, cet. 1, 1423 H, vol VII hal. 269.

[16]. Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibni Khaldun, hal. 244.

[17]. An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab Ma’a At-Takmilah, XXI/26.

share on: