Membangun Iman Sebelum Syariat

share on:
Akar pohon yang kuat

Istidlal.org – Sayyid Qutb di dalam Ma’alim fit Thoriq, menyebutkan bahwa para sahabat dengan Jiilun Quraniy Farid, sebuah generasi Al-Quran yang tiada duanya. Lebih lanjut Sayyid Qutb menjelaskan cara para sahabat erinteraksi dengan Al-Quran.

Mempelajarinya untuk mengamalkannya, itulah manhaj para sahabat dalam berinteraksi dengan Al-Quran. Kita mendapati banyak sekali dalam potret sejarah bagaimaa sahabat menjadi generasi yang tinggi istijabahnya terhadap perintah Al-Quran. Ketika turun ayat pelarangan khomr, ramai-ramai para sahabat mengaliri parit-parit Madinah dengan persedian khomr. Sebuah pertanyaan muncul, apa yang membuat mereka bersegera dalam menjawab seruan Allah? Iya, Iman yang menghunjam kuat ke dalam dada.

Selama tiga belas tahun, ayat-ayat Makkiyah turun menjelaskan kalimat “La Ilaaha illallah,” menjelaskan aqidah hingga tertanam ke dalam jiwa. Agama ini seluruhnya tegak di atas kalimat “La Ilaaha illallah” mencakup; perundang-udangannya, perincian, dan hukum-hukumnya tegak di atas prinsip Uluhiyah.

Agama ini ibarat sebuah pohon yang akarnya menghunjam ke dasar bumi dan cabang-cabangnya besar. Apabila pohon itu besar, maka akar pohon tersebut harus betul-betul dalam agar dapat menopang besarnya pohon itu. Demikian pula akar-akar agama, yakni “Lâ Ilâha illallah” haruslah merupakan iman yang menancap dalam-dalam ke dasar hati.

Sehingga dapat menopang pohon agama ini seluruhnya. Karena itu, para dai yang menyangka bahwa dengan mengedepankan sistem ekonomi Islam, sistem sosial menurut Islam, sistem politik Islam, atau sistem etika Islam dapat membuat manusia menyukai Islam lalu masuk Islam, mereka tidak memahami tabi’at agama ini. Tidak pula mengetahui hakikat manhaj operasionalnya. Dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا »

Artinya, “Dari Jundub bin ‘Abdillah, ia berkata, kami dahulu bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami masih anak-anak yang mendekati baligh. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Qur’an. Lalu setelah itu kami mempelajari Al-Qur’an hingga bertambahlah iman kami pada Al-Qur’an.” (HR. Ibnu Majah, no. 61. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Jika diibaratkan sebuah pohon, maka dia adalah pohon yang rindang, namun akarnya serabut. Pohon-pohon seperti ini akan cepat tumbang ketika badai menerpa. Padahal sudah menjadi tabiat, ketika seseorang memilih din ini, maka dia harus siap dengan berbagai macam ujian, apapun itu bentuknya.

Kita mendakwahi orang bukan dengan membuat mereka tertarik pada persoalan furu’ dalam Islam. Karena ketika kita mendakwahi orang untuk tertarik ke pada hal-hal furu’ tanpa landasan iman yang kuat, maka ketika dia tdak mendapatkan apa yang dia inginkan pada furu’ tersebut, maka dia akan dengan mudah berpaling.

Kita, semestinya mendakwahi mereka dengan cara menanamkan aqidah ke dalam hati mereka. Setelah aqidah tertanam di hati, otomatis mereka akan mengerjakan segala tuntutannya. Karena dengan menanamkan akidah ke dalam hati, akan timbul ketundukan dan kepasrahan terhadap wahyu dan aturan Allah.

Adapun jika kita mengajak mereka dengan aspek-aspek yang ada di dalam Islam seperti misalnya shalat, wudhu’, hak dan kewajiban kaum wanita, keadilan dan lain-lain, maka persoalan tersebut hanya akan sampai pada taraf “dibicarakan” saja. Dan setiap hari mereka akan mengajukan berbagai macam pertanyaan yang harus engkau jawab.

Ketahuilah, bukan seperti ini cara yang ditempuh Islam pertama kalinya. Berusaha menarik manusia kepada agama Allah dengan jalan mengenalkan mereka kepada sistem ekonomi atau sistem sosial sebelum mengenalkan “Lâ Ilâha illallah” tak ubahnya seperti orang yang menebar bibit tanaman di udara lantas menunggu bibit itu tumbuh menjadi pohon di udara. Wallahu a’lamu bissowab [Ibnu Rodja]

share on: