Membangun Kelompok Inti Perjuangan Islam

share on:
Masjid Nabawi

Istidlal.org – Qa’idah Shalabah (Kelompok Inti) menjadi fokus pembinaan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam tempo yang lama. Dari sinilah muncul tokoh-tokoh berkualitas seperti; Abu Bakar, Umar, Utsman, Mush’ab, Hamzah, dan lain-lain. Kelompok ini dibina di Madinah Munawarah. Pada saat terjadi murtad massal di Jazirah Arab yang telah dikuasai Islam, mereka dapat mengembalikan seluruh jazirah ke dalam kendali Islam karena kuat dan solidnya kelompok tersebut.

Kelompok inilah yang telah melahirkan tokoh sekaliber Abu Bakar. Pada saat beberapa kabilah Arab menolak membayar zakat (sepeninggal Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-) Beliau Ash-Shiddiq berdiri dan berkata dengan tegas, “Demi Allah, sekiranyamereka mencegahku untuk memungut seutas tali unta yang dahulu mereka bayarkan kepada Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, pasti aku akan memerangi mereka, atau aku akan binasa karenanya.”

Ketika salah seorang dari kelompok itu—yang setara dengan Abu Bakar— membujuknya supaya bersikap lebih lunak dan mempertimbangkan kembali keputusannya, inilah jawaban yang beliau berikan, “Demi Allah, sekiranya binatang-binatang buas masuk ke kota Madinah dan menyeret kaki istri-istri Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dari rumah mereka, aku tetap tidak ragu dan tidak akan berhenti.”

Bagaimana kelompok ini dibangun? Bagaimana Qa’idah Shalabah ini dibina? Bagaimana prototipe yang tinggi ini dibangun? Kelompok ini, bangunan yang besar ini, semuanya ditegakkan di atas empat aspek penopang saja. Oleh sebab itu, Rasulullah n sangat memerhatikan pembinaan aspek-aspek ini:

Pertama, Lamanya Penggemblengan (Thûlul Ihtidhan).

Kita harus tahu apa maksud dari lama pengemblengan itu? Yaitu lamanya pengemblengan seorang komandan terhadap prajurit-prajurit yang berada di sekelilingnya.Dari Darul Arqam, tempat di mana beliau menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membina generasi pilihan. Kemudian hijrah, ketika beliau memerintahkan setiap mukmin berhijrah bersamanya agar tetap dapat mendapatkan pengarahan dan bimbingan dari beliau.

Suatu ketika, ada seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah. Beliau pun memintanya untuk berbaiat (berjanji setia) untuk tinggal di Madinah. Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam-memang membaiat orang-orang sesudah hijrah untuk tetap tinggal di Madinah. Lantas Arab Badui itu memberikan baiatnya. Beberapa hari kemudian dia merasa tidak betah. Akhirnya dia datang kepada Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dan berkata, “Tariklah baiatku.” Namun Rasulullah n menolaknya. Lantas orang tersebut nekad dan meninggalkan Madinah. Maka Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

المَدِينَةُ كَالكِيرِ تَنْفِي خَبَثَهَا وَيَنْصَعُ طَيِّبُهَا

Sesungguhnya Madinah ini seperti alat peniup api pandai besi yang dapat menghilangkan karat dan memurnikan kebaikannya.” (HR Muslim)

Jika demikian yang dimaksud dengan lamanya penggemblengan adalah lamanya waktu tarbiyah (pembinaan).

Kedua: Pembinaan Ruhiyah.

Pembinaan ruhani dapat dicapai dengan banyak sarana. Yang terpenting pada permulaannya adalah Qiyamul Lail (shalat tahajjud).

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (1) قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا (2) نِّصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا (4) إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahanlahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.” (Al Muzzamil: 1-5)

Semua ini diperintahkan supaya jiwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dapat memikul “Qaulan Tsaqila” (wahyu yang berat) tersebut. Pada permulaan dakwah, qiyamul lail merupakan perkara wajib atas Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya.

Ketiga, Berpegang Teguh kepada Kitab Allah

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ

Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al-Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (Al-A’raf: 170)

Ada dua penopang pokok bagi para mushlihin (orang-orang yang melakukan perbaikan), yakni berpegang teguh kepada Al Kitab dan mendirikan shalat.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orangorang yang khusyu’.” (Al-Baqarah: 45)

Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Al-Baqarah: 154)

Firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan(musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (Al-Anfal: 45)

Di medan pertempuran hendaklah kamu menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya agar kalian mendapatkan kemenangan. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- senantiasa berdzikir kepada Allah setiap saat.Apabila beliau keluar dari kamar mandi/kamar kecil, beliau selalu mengucapkan doa, “Ampunilah kami ya Allah.” Yakni Ampunilah aku, ya Allah, dari selang waktu terputusnya zikirku kepada-Mu.

Keempat, Menanamkan Rasa Cinta terhadap Sesama Sahabatnya

Beliau juga menanamkan rasa cinta terhadap sesama sahabatnya serta sifat mengutamakan kepentingan saudara seagama.

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya, “Mereka (orang-orang Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekali pun mereka memerlukan (apa yangmereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9)

Beliau juga meneguhkan sikap saling memercayai di antara para sahabat. Apabila ada seorang sahabat yang datang kepada Rasulullah lalu menggunjing sahabat lain, beliau bersabda kepadanya:

Janganlah salah seorang sahabatku menyebut aib sahabat yang lain kepadaku, sesungguhnya aku lebih suka keluar menjumpai kalian dalam keadaan salamatush shadr (lapang dada).” (Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Abu Daud)

Hendaknya para dai memerhatikan persoalan ini. Mereka yang mencabik-cabik daging saudaranya atas nama Mashalahat Da’wah, atas dalil mengenal para pengikut dakwah dan mereka yang memandang sebelah mata kehormatan seseorang: “Janganlah salah seorang sahabatku menyebut aib sahabat yang lain kepadaku, sesungguhnya aku lebih suka keluar menjumpai kalian dalam keadaan lapang dada.”

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- akan menyebut kebaikan-kebaikan para sahabatnya ketika melakukan kesalahan. Ketika Hathib bin Abi Balta’ah melakukan kesalahan, yakni mengirimkan sebuah surat kepada kaum Quraisy mengenai rencana Nabi n, Umar bin Khatthab berkata kepada Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-: “Wahai Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, izinkanlah aku memenggal leher orang munafik ini?” Beliau bersabda, “Hai Umar, tidakkah engkau mengetahui bahwa dia ikut serta dalam Perang Badar? Seakan-akan Allah melihat isi hati para ahli Badar, lalu Dia berfirman, ‘Lakukanlah sekehendak kamu, sesungguhnya Aku telah memberikan ampunan bagimu’.” Wallahu a’lamu bissowab [Ibnu Rodja]

share on: