Membangun Pemerintahan Islam, Ibadah yang Sering Terlupakan

share on:
Pemerintahan Islam

 

Allah ta’ala berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ، مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ، إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Pemberi rizki. Yang mempunyai kekuatan lagi kokoh” (Q.S. Adz-Dzariyat: 56-58).

Ayat-ayat tersebut di atas menerangkan tentang batasan hidup manusia, yaitu ibadah kepada Allah Azza wa Jalla. Ibadah kepada Allah mempunyai dua sisi pada diri seorang manusia :

Pertama, yang berkaitan dengan ibadah fardiyah ( yang bersifat individu).

Kedua, yang  berkaitan dengan ibadah jama`iyah (yang bersifat kolektif).

Ibadah fardiyah, bisa dilaksanakan oleh seseorang secara sendiri-sendiri, baik ada tatanan dan peraturannya atau tidak. Baik seseorang tersebut hidup di negeri-negeri mayoritas Islam atau di negeri-negeri Barat yang Islam agama minoritas.

Dia dapat mengerjakan ibadah fardiyah ini secara terang-terangan atau secara diam-diam. Ibadah fardiyah seperti shalat, zakat dan puasa mungkin bisa dikerjakan seseorang di manapun dia berada.

Akan tetapi ibadah jama`iyah hanya mungkin bisa dikerjakan melalui sekelompok orang. Diantara ibadah-ibadah ini misalnya adalah ibadah haji; dimana dalam syi`ar-syi`ar haji imam harus memimpin manasik, Di antaranya juga ibadah jihad. Jihad adalah bentuk ibadah jama`iyah yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia seorang diri apabila dia menghendaki buah dari ibadah tersebut.

Di antaranya juga adalah usaha menegakkan hukum-hukum had Allah di muka bumi seperti : memotong tangan orang yang mencuri, merajam orang yang berzina (yang sudah menikah), mencambuk orang yang berzina (yang belum menikah), mencambuk orang yang menuduh seseorang berzina tanpa menyertakan bukti dan lain sebagainya. Hukum-hukum had ini tidak mungkin bisa ditegakkan melainkan hanya melalui jalan jama`ah. Oleh karena itu Allah berfirman :

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya, “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya, (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ” (QS. Al Maidah : 38)

Faqtha`uu (potonglah oleh kalian), Mengapa kata al qath`u dalam perintah tersebut bertemu dengan wawu jama`ah? Yakni huruf waw yang berfungsi menunjukkan bahwa yang melakukan pekerjaan adalah orang banyak. Jika demikian halnya, berarti harus ada sekelompok manusia (jama`ah) yang bertugas melaksanakan pemotongan tangan, meskipun yang dikenai hukuman tersebut hanya satu orang. Berapa orang yang harus dipotong tangannya? Hanya satu!

Jika demikian, hukum-hukum had itu tidak mungkin bisa ditegakkan jika tidak melalui jama`ah. Bahkan sebagian besar beban atau tugas Islam dalam tatanan kemasyarakatan seperti ekonomi, politik dan lain-lain, hanya bisa ditegakkan melalui jama`ah. Politik luar negeri, hubungan internasional, pendirian lembaga-lembaga ekonomi Islam, pelarangan atas bank yang mempraktekkan sistim riba. Maka semuanya itu membutuhkan kekuatan jama`ah Islam untuk menerapkannya.

Melarang gambar-gambar porno di suatu negeri, melarang televisi menayangkan dan menyebarkan perkataan kotor serta gambar-gambar mesum di benak anak-anak yang sedang berkembang, mengarahkan koran-koran dan majalah-majalah, menyita harta orang-orang kaya yang tidak menjalankan kewajibannya, menetapkan hukum-hukum had bagi mereka yang menjalankan praktek riba, bagi orang-orang yang tamak, bagi perampok, bagi pencuri dan lain-lain. Maka semuanya itu membutuhkan suatu jama`ah. Jika di sana tidak ada jama`ah Islam yang mencegah itu semua, maka kerusakan akan merajalela di mana-mana. Sebagaimana Allah swt berfirman :

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kalian (wahai para muslimin) tidak berbuat seperti itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (QS. Al Anfal : 73)

Hakikatnya orang-orang kafir itu sebagian menjadi pelindung bagi sebagian yang lain, mereka saling bersekutu satu sama lain, Mengapa demikian? Oleh karena semakin bertambah kekuatan yang mereka miliki akan semakin menambah peranan dan sepak terjang mereka di permukaan bumi.

Islam juga demikian, karena Islam adalah dien yang realistis dan interaktif. Rabbul alamin yang menurunkan dien ini mengetahui betul bahwa dien-Nya tidak mungkin bisa tegak dengan sempurna bila tidak dengan jalan jama`ah.

Dimana jama`ah ini harus mempunyai pemimpin, -yang bergelar amirul mukminin- dan rakyat yang taat kepada pemimpin, serta Undang-undang yang mengatur mereka harus Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ‘alaihi wasallam.

Keberadaan amirul mukminin (pemimpin), rakyat (jama`ah) yang mentaatinya serta Kitabullah dan Sunnah (sebagai unsur berdirinya sebuah daulah) yang menuntun dan menerangi mereka dengan petunjuknya adalah sangat penting seperti pentingnya arti makanan, minuman dan udara bagi kehidupan manusia. Tak mungkin seseorang bisa hidup dan sempurna keislamannya selama-lamanya jika tidak ada dalam naungan Daulah Islamiyah sebab sebagian besar beban dienul Islam yang harus dikerjakan oleh pengikutnya bersifat jama`iyyah.

Dari surat Al Anfal, ayat 73 di atas dapat disimpulkan bahwa di manapun tempat yang tidak diberlakukan hukum Islam, maka kerusakan akan menyebar luas di tempat itu. Bank-bank riba tersebar di seluruh permukaan bumi, di setiap negeri dan juga di negeri-negeri Islam. Lalu siapakah yang berani mengatakan, ”Tutup bank-bank itu! Siapa? Kedai-kedai minuman keras berdiri di setiap tempat dan orang-orang  memasukinya serta minum minuman keras di hadapan khalayak ramai. Siapakah yang berani mencegahnya? Hotel-hotel hanya menjadi sarang kerusakan, kebejatan, dan kemesuman serta sarang wanita-wanita panggilan yang beroperasi siang dan malam. Sarang yang membakar akhlak manusia!

Demikianlah, apabila kekuatan Islam menghilang dan kelompok–kelompok yang hina terangkat posisinya dalam suatu masyarakat, maka apa kemudian yang terjadi?

Apabila tolak ukur dalam suatu masyarakat adalah Islam yakni Kitabullah dan Sunnah, maka keutamaan manusia akan diukur dengan hafalan Al-Qur`an mereka, dengan jihad mereka, dengan pengetahuan mereka terhadap Kitabullah dan Sunnah, dengan akhlak mereka, dengan pengorbanan mereka. Lain halnya dalam masyarakat jahiliyah, materilah yang menjadi tolok ukur mereka. Bagaimana mereka bersaing? Kadang mereka bersaing dengan banyaknya harta, kadang dengan perkara yang sangat remeh, sehingga persaingan ini tidak menambah apapun bagi mereka selain hanya kehilangan, kemerosotan dan kerusakan belaka.

Penulis: Putra Hanafi
Editor: Romidina

 

share on: