Mendiamkan Ghouta adalah Sebuah Dosa

share on:
Masyarakat Gouta berlairan menghindari bom rezim Suriah

Istidlal.org – Apa persamaan antara kita dan muslim Ghouta? Iman, iya keimanan lah yang menyatukan kita dan mereka. Tak peduli batas-batas negara, tak peduli jarak ribuan kilometer, mereka adalah saudara kita. Karena kita semua bersaudara. Allah SWT berfirman :

إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

Artinya, “Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agaka kalian. Dan Akulah Rabb kalian, maka beribadahlah kepadaku.” (Al-Anbiya’ 92)

Ibnu Jarir Ath-Thobari menukil pendapat Ibnu Abbas dan Mujahid bahwa maksud dari umat yang satu adalah agama kalian agama yang satu (yaitu Islam).

Di dalam ayat lain Allah SWT berfirman :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya, “Hanya orang-orang berimanlah yang bersaudara. Maka perbaiki (perselisihan) di antara dua saudara kalian. Dan bertakwalah agar kalian mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat 10)

Imam Al-Qurtubi berkata, “Kalian bersaudara dalam agama dan kehormatan dan tidak karena nasab.” (Tafsir Al-Qurtubi 16/322)

Persaudaraan antara sesama muslim dalam banyak hadits diibaratkan bagaikan satu tubuh, di dalam hadits lain Rasulullah SAW menggambarkannya ibarat jari jemari yang ditautkan. Di antara hak muslim dengan yang lainnya adalah menolongnya ketika mereka butuh pertolongan. Hal ini sebagaimana disampaiakan oleh Rasulullah SAW :

المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يخذله ولا يحقره

Artinya, “Muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Tidak boleh menzaliminya, tidak menyia-nyiakannya dan tidak merendahkannya.” (HR. Bukhori Muslim)

Imam An-Nawawi mengomentari hadits di atas berkata :

وأما لا يخذله : فقال العلماء : الخذل ترك الإعانة والنصر ، ومعناه : إذا استعان به في دفع السوء ونحوه لزمه إعانته إذا أمكنه ولم يكن له عذر شرعي” .

Maksud dari “la yakhdzuluhu” (tidak menyia-nyiakannya) para ulama berkata, ‘makna dari khodzala adalah tidak menolong dan tidak membantunya’. Artinya, “Jika seorang muslim meminta bantuan muslim lainnya untuk menolak hal yang buruk, maka wajib baginya untuk menolongnya jika dia mampu dan tidak memiliki uzur syar’i.” (Syarh Shohih Muslim: 16/120)

Bukankah Rasul juga memerintahkan kita untuk menolong saudara kita yang terzalimi dengan menghindarkan dirinya dari kezaliman?

Merujuk kepada perkataan Imam An-Nawawi, jika seorang muslim memita tolong maka wajib bagi muslim lainnya untuk menolongnya selama dia mampu dan tidak memiliki udzur syar’i.

Pertanyaannya adalah, setiap hari, setiap jam bahkan setiap detik suara suara minta tolong terus mengalir dari Ghouta. Tidak hanya seorang muslim yang meminta tolong, tapi ratusan bahkan ribuan yang setiap hari berhadapan dengan kelaparan dan kematian.  Allah SWT berfirman :

وَإِنِ اسْتَنصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ

Artinya, “Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian (dalam urusan agama), maka wajib bagi kalian menolong, kecuali terhadap kaum yang kalian dan mereka terikat perjanjian.” (QS Al-Anfal : 72)

Imam Al-Qurtubi berkata, “Jika orang-orang yang belum hijrah dari darul harb meminta pertolongan kalian untuk berjihad atau mendonasikan harta, maka tolonglah mereka dan yang demikian itu wajib bagi kalian. Jangan kalian menelentarkan mereka.” (Tafsir Al-Qurtubi 8/56)

Sementara di sisi lain, bukankah Rasul juga memerintahkan kita untuk membebaskan muslim yang ditawan oleh musuh? Beliau SAW bersabda :

فكوا العاني وأطعموا الجائع ، وعودوا المريض

Artinya, “Bebaskanlah orang yang sedang kesusahan, berilah makan yang kelaparan dan jenguklah orang sakit.” (HR. Bukhori Muslim)

Maksud dari Fakkul ‘ani (Orang yang kesusahan) disebutkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari yaitu membebaskan orang yang sedang di penjara.

Ibnu Baththol berkata, “Membebaskan orang yang di penjara hukumnya fardhu kifayah. Inilah pendapat jumhur ulama.” (Fathul Bari: 6/205)

Lantas bagaimana dengan saudara kita yang hari ini berada di “penjara” besar bernama Ghouta? Tidak hanya terpenjara, mereka juga kelaparan dan dibombardir setiap harinya.

Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi berkata, “Siapa yang tidak membantu satu orang mukmin, maka Allah akan membiarkan dia (ketika dia butuh pertolongan). Lantas bagaimana nasib mereka yang membiarkan umat di Syam, agama mereka dihinakan, harta mereka ditumpahkan, kehormatan mereka dinodai dan harta mereka dirsmpas. Maka tolaklah hukuman Allah dengan membantu mereka yang terzalimi.”

Seluruh hadits dan ayat di atas bermuara kepada satu kesimpulan , yaitu kewajiban bagi seorang muslim untuk peduli dan tidak abai terhadap saudara muslim lainnya, tak peduli jarak dan batas negara.

Jika ada pepatah diam itu emas, maka diam terhadap tragedi Ghouta adalah sebuah dosa dan kezaliman. Karena membiarkan kezaliman adalah kezaliman tersendiri. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang melihat seorang muslim dihinakan, padahal dia mampu membantunya, maka Allah akan menghinakannya di hadapan seluruh manusia pada hari kiamat.” (HR Ahmad).  Wallahu a’lam bissowab

Dikutip dari situs kiblat.net

share on: